"Berkas kemarin sudah mempelajari kan? Materi kita untuk Snazzy?" tanya Beno yang saat itu sedang duduk di singgasananya.
"Sudah. Jadi kamu manggil aku ke ruangan kamu hanya untuk tanya ini? Bisa kali tanya lewat telepon. Ngeselin. Atau lagi rindu? Pengen lama-lama memandangku sebelum resmi jadi suami orang?"
Beno berdehem, lalu membenahi letak duduknya. Dia lebih memilih untuk tidak menanggapi itu. Karena takkan ada habisnya.
"15 menit lagi kita berangkat meeting. Nanti kamu tunggu di lobby."
"Aku mau berangkat sendiri. Kata langit aku nggak boleh centil."
Saat itu, Langit kebetulan datang mau konsultasi laporan ke Beno. Dia langsung menoleh kesal kearah Adis gara-gara kata-katanya.
"Ngapain bawa-bawa aku?" protes Langit.
"Yaaah … kenapa kau datang? Padahal aku sedang menggoda calon suami orang."
Buk.
Langit memukul kepala Adis dengan berkas yang dibawa.
"Awww … KDRT banget sih makhluk ini." Adis menggosok-gosok kepala yang sebenarnya tak sakit sama sekali.
"Sudah kubilang. Kalem dan jaga sikap di hadapan dia. Jangan centil, nggak etis. Dia bisa tambah ilfil sama kamu," ucap Langit lirih. Dia membungkuk dan mendekatkan mulutnya di telinga Adis.
"Kalian ini apa-apaan? Bisik-bisik di hadapan saya!"
Beno murka melihat pemandangan yang tidak seharusnya. Adis hanya tertawa kecil di dalam hati.
"Ini nih … si Langit. Ngeselin. Ya sudah, Aku mau balik ke singgasanaku dulu ya Pak Ben. Nanti enggak usah ditunggu, karena kata langit, saya nggak boleh centil dan nggak boleh menggoda kamu. Jadi aku harus naik mobil sendiri supaya bisa menahan diri. Bye!"
Sontak, langit menginjak lembut kaki Adis. Dasar, perempuan itu benar-benar membuat dia canggung di hadapan Beno.
"Awww … Langit Lo kdrt sekali lagi dapat piring cantik."
Adis melengos, lalu segera beranjak meninggalkan 2 cowok yang sama-sama ngeselin. Langit hanya tertawa kecil sepeninggal Adis.
"Duduk!"
"Oke. Ini, cek dulu!"
Beno membalik-balik kertas yang sudah diberikan padanya, lalu dia manggut-manggut.
"Lo suka sama Adis?" tanyanya dengan mata yang masih fokus pada berkas yang ada di tangannya.
"Memangnya di berkas itu ada adisnya ya?"
Beno membuang nafas kasar, lalu menutup map itu.
"Gue tanya serius. Apa lo suka sama dia?"
"Kita berteman. Dia anaknya aneh. Suka blak-blakan, nggak ada jaim-jaimnya sama sekali, kocak, selera humornya sama kayak gue. Asyik aja kalau sama gue."
"Gue nggak bermaksud untuk menghalangi hubungan kalian, tadi paling tidak lo bisa berkaca dari gue. Dia bukan wanita yang setia. Lo bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari dia."
"Gue cuma berteman sama dia. Saat ini nggak lebih dari itu. Tapi nggak tahu nanti. Beberapa hari bersama dia, gue ngerti kok dia wanita yang seperti apa. Lo tenang aja, gue bakal baik-baik aja sama siapapun gue nanti. Huft … Cepat periksa! Gue harus ngerjain yang lain."
"Ya terserah lo deh. Yang penting gue sudah ngingetin Lo."
Beno segera mengambil kembali berkas yang tadi dia cuekin. Entah kenapa dia kesel sama langit. Dia sendiri belum tahu pasti. Dia tidak suka mereka dekat karena takut langit tersakiti oleh Adis, atau karena cemburu? Entahlah, dia sendiri tidak mau mencari tahu lebih dalam soal ini.
***
Mereka akhirnya benar-benar berangkat meeting dengan mobil masing-masing. Adi sudah sampai lebih dulu, karena dia yang bertugas membawa berkasnya dan bertugas untuk presentasi. Jadi dia memilih untuk berangkat lebih awal sampai lebih awal juga.
Mereka berdua sudah sama-sama sampai di tempat meeting. Semuanya sudah lengkap, termasuk dari perusahaan advertising lain.
Zoyyas Advertising diberi kesempatan untuk mempresentasikan terlebih dahulu. Namun, betapa terperanjatnya Beno tahu apa yang dipresentasikan oleh pimpinan Zoyyaz Advertising sama persis dengan materi yang telah dipersiapkan. Beno dan Adis langsung saling menatap.
"Kok bisa sama?"
Adis mengendikkan bahunya. Dia juga bingung dan tak tahu menahu soal itu.
"Waaaw … ide dari Zoyyas sangat fresh. Benar-benar luar biasa." Klien bertepuk tangan puas dengan ide yang dipresentasikan oleh Zoyyas yang sebenarnya adalah ide dari Wijaya advertising.
"Terimakasih, Pak. Ide-ide dari kami sudah dipastikan fresh dan selalu mengikuti trend. Bapak tidak akan pernah rugi jika memiliki kami."
Sang pimpinan Zoyyas tersenyum penuh percaya diri. Beno menatapnya dengan tatapan muak.
"Bagus. Sekarang giliran Wijaya advertising. Silahkan dipresentasikan."
Beno hanya celingak-celinguk sambil menggaruk tengkuknya. Dia benar-benar seperti orang bodoh yang tak tahu apa yang harus dikerjakan. Beno mengepalkan tangannya sambil menatap pimpinan Zoyyas dengan rahang mengeras. Kalau saja Dia tidak sedang menjaga attitudenya, dia akan menghabisinya.
***
"Bagaimana bisa materi kita sampai di Zoya? Bagaimana bisa?"
Beno menyeret Adis ke mobilnya, dia teriak-teriak di sana.
"Aku nggak tahu." Adis ikut berbicara dengan suara keras dan tegas. Dia merasa seolah-olah Beno menuduh dia sebagai pihak yang membocorkan materi mereka ke Zoyyas Advertising.
"Bagaimana bisa kamu tidak tahu, Adis. Materi yang sudah matang hanya kamu dan aku yang tahu. Hanya kamu dan aku yang pegang, nggak ada yang lain. Nggak mungkin kan aku sendiri yang membocorkan materi ini? Gila aja kamu."
Beno berteriak keras di hadapan Adis. Dia sangat marah, dia benar-benar seperti orang bego di dalam tadi. Dia juga harus rela kehilangan klien sebelum berperang karena kecurangan yang dilakukan oleh Zoyyas yang tentunya dengan ikut campur orang dalam.
"Tapi gue bener-bener nggak ngebocorin ini ke siapa-siapa. Lu tahu siapa gue kan? Seperti baru kenal kemarin sore aja Lo. Gue nggak bakalan mungkin melakukan hal serendah itu, Ben. Gue juga enggak mau kehilangan pekerjaan."
"Karena aku tahu siapa kamu, karena aku tahu sematre apa kamu, dan senekat apa kalau nggak suka akan sesuatu, jadi aku yakin kalau memang ini kami yang bocorin. Kamu selalu melakukan hal apapun yang kamu suka tanpa memikirkan penilaian orang lain kan? Aku tahu kalau kamu nggak suka dengan pertunanganku sama Rossi, sehingga kamu bikin ulah. Iya kan? Kamu tahu enggak kalau ini bukan hanya merugikan aku tetapi juga merugikan perusahaan dan juga orang-orang yang ada di dalamnya. Mikir panjang kalau mau melakukan sesuatu, Adis! Kamu dibayar berapa sama Zoyyas? Berapa?"
Beno berteriak tepat dihadapan Adis. Saat itu, rasa sakit menelusup ke hati Adis yang terdalam. Apakah sudah serendah itu dirinya dihadapan Beno sampai Beno menuduh Adis melakukan hal serendah itu?
"Kamu mau percaya aku atau tidak, terserah. Yang jelas, Aku tidak akan pernah melakukan hal serendah yang kamu pikirkan. Aku nggak mungkin menghianati perusahaan tempat Aku mencari hidup. Lagipula kenapa kau tidak tanya langsung pada pihak Zoyyas? Hah?"
"Nggak mungkin berhianat kau bilang? Kamu tidak sadar kalau kau pernah berkhianat padaku. Kau nggak sadar? Sekarang kamu dipecat. Aku dipecat dari perusahaan dan akan di blacklist dari perusahaan manapun. Ngerti? Aku tidak perlu bertanya kepada mereka karena aku sudah tahu dengan jelas siapa pelakunya."
Adis mematung sejenak sambil menatap Beno dengan tatapan tidak percaya. Hatinya benar-benar hancur saat itu. Dia bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi dia juga akan di blacklist dari semua perusahaan. Dia bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi dia juga kehilangan kepercayaan. Parahnya lagi, ini semua bukan ulah nya. Kenapa dia harus mendapatkan hukuman atas apa yang tidak diperbuat oleh dirinya?
"Pecat aja! Black list aja sesuka hati kamu! Suatu saat nanti aku akan datang membawa bukti bahwa bukanlah aku yang membocorkan materi kita. Saat aku tahu itu semua, Aku tak akan pernah memaafkan kamu. Mulai saat ini, aku akan membuang semua perasaanku sama orang yang tidak bisa percaya padaku Dan menganggap aku rendah. Terima kasih sudah menerima aku selama ini, dan terima kasih atas tuduhan yang tak berdasar ini. Aku tidak akan pernah melupakan ini, Beno."
Dia berbicara di sela air mata yang berderai. Adis turun, membanting pintu mobil dengan kasar, lalu segera berlari ke mobilnya masih dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Adis duduk di depan kemudi mobilnya. Dia menyandarkan kepalanya di atas setir. Air mata masih mengalir bak hujan. Mimpi apa dia semalam sehingga dia harus mengalami hal seperti ini? Siapa yang tega memfitnahnya? Siapa yang tega membocorkan ini semua? Pasti orang itu berusaha untuk mendepak Adis dari perusahaan. Pasti orang yang melakukan itu adalah orang yang tidak suka sama adis.
Saat itu, Adis teringat sesuatu. Rossi berusaha membujuk Beno untuk memecat Adis, tetapi Beno selalu menolaknya. Apakah mungkin ini adalah rencana Rossi? Apa mungkin Rossi melakukan ini semuanya? Adis menyeka air matanya dengan kedua tangan. Lalu entah kenapa dia merasa ada titik terang.
Perempuan itu menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dilakukannya berkali-kali untuk membuat dirinya sendiri tenang. Setelah ia merasa tenang, Gadis itu segera luncurkan mobilnya menuju ke kantor. Dia harus segera mengambil barang-barangnya dan pergi dari tempat yang sudah tidak menginginkannya lagi. Namun, dia tidak akan tinggal diam. Dia akan menyelidiki siapa dalang dibalik ini semua.