"Adis, kamu kenapa?"
Langit khawatir melihat Adis yang mengemas barangnya dengan airmata yang mengalir ke pipinya. Gadis itu terisak, tetapi tetap melakukan aktivitas.
"Adis, are you O.K? Apa yang terjadi. Tell me, please?"
Langit memegang lengan Adis, agar gadis itu berhenti sejenak. Melihat yang menangis sambil mengemasi barang seperti ini membuat hatinya hancur. Apa yang terjadi? Dia terus bertanya-tanya dalam hati.
"Lepasin aku! Aku belum bisa cerita sekarang!" Adis berbicara dengan terbata-bata di sela Isak tangisnya. Dia mengibaskan tangannya, lalu segera mengemasi barangnya.
Rasanya sedih, belum ada 1 bulan dia berada di tempat baru, dia harus pergi. Dan ngenesnya, dia tidak tahu harus mencari pekerjaan ke mana lagi. Kalau benar Beno akan memblack list dia, apa yang harus dia lakukan?
"Oke. Aku bantuin ya?"
Langit membantu memasukkan memasukkan barang-barang Adis ke dalam kardus. Mungkin ini memang belum saatnya dia mengetahui semuanya. Artis terlihat sangat terpukul dan belum sanggup untuk bercerita.
"Langit, aku harus pergi," ucap Adis saat dia selesai mengemas barang barangnya. Dia memeluk kardus itu sambil menatap langit dengan pandangan kabur.
"Aku pengen tanya kenapa kamu pergi ke mana kamu akan pergi? Tetapi aku tahu ini bukan waktu yang pas. Nanti kalau kamu sudah tenang, kamu telepon aku ya? Kita ngobrol."
Adis mengangguk.
"Terima kasih selama ini kamu sudah sangat baik sama aku. Makasih kamu sudah menjadi salah satu orang yang membantu aku banyak hal di kantor ini. Aku tidak akan pernah melupakan jasa kamu, Langit. Aku harus pergi, kamu baik-baik ya di sini!"
Adis kembali terisak keras setelah mengucapkan itu. Bukan semata-mata karena dia akan berpisah dengan langit, tapi juga karena dia akan berpisah dengan kantor ini, juga dengan Beno.
Entah dia bego atau bagaimana. Bagaimana mungkin dia masih merasa kehilangan setelah apa yang dilakukan laki-laki itu terhadapnya.
Rasanya ingin meraih tubuhnya dan menenggelamkan Gadis itu dalam pelukannya. Namun, tidak etis rasanya jika berpelukan di kantor.
"Jangan gitu dong ngomongnya. Kayak kita mau berpisah selamanya aja. Udah nggak apa-apa. Kantor ini juga nggak bagus-bagus amat kok. Masih banyak perusahaan di luar sana yang membutuhkan tenaga kamu. Aku yakin di luar sana kamu pasti akan lebih sukses."
Langit menepuk-nepuk pundak Adis, dan hanya dijawab Adis dengan anggukan penuh derai air mata.
"Aku pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Dengan langkah pelan, Adis berjalan keluar dan menuju ke mobilnya. Yah, mungkin memang nasib nya harus seperti ini. Namun, dia harus selalu ingat apa kata Nana, sahabat terbaiknya yang konyol tetapi terkadang sangat bijak.
Dia selalu bilang kalau apa yang terjadi pada diri kita pasti yang terbaik. Kita punya rencana, tetapi kalau rencana kita tidak terlaksana, pasti yang terlaksana adalah rencana Allah, dan itu pasti yang terbaik.
Adis membuang nafas kasar saat dia sampai di mobilnya. Setelah dia yakin bahwa dirinya baik-baik saja, wanita itu segera meluncurkan mobilnya menuju ke kos. Mungkin lebih baik jika dia menumpahkan air matanya di sana. Supaya tak ada ada yang bisa melihat kesedihannya, supaya hanya dirinya saja yang merasakan rasa sedih ini.
'Allah, tolong tenangkan hatiku, tolong tenangkan hatiku.'
Adis terus membacanya sebagai mantra yang terus diulang-ulang agar hatinya bisa sedikit tapi tenang.
***
Lollipop coklat, pizza, dan coklat panas. Selalu menjadi sahabat terbaik saat dia galau. Selalu seperti itu. Apalagi hari ini spesial. Nana yang menyiapkan itu semua. Dia mengajak Adis untuk nongkrong malam di teras kost an. Dia tahu kasak-kusuk dari teman-teman kantor, kalau sekretaris baru Pak Wijaya yang tak lain adalah mantan pacarnya sendiri, sudah dipecat karena berbuat curang.
Entah siapa yang menyebarkannya pertama kali, tetapi kabarnya seperti itu cepat sekali menyebar seperti api pada kertas.
Apalagi diperkuat dengan pesangon Adis yang dititipkan oleh Beno kepada Nana. Nana tahu, sahabatnya tidak sedang baik-baik saja.
"Kenapa lo baik banget hari ini? Kesambet apa?" tanya Adis dengan mata sembab. Dia duduk di kursi sambil memeluk kedua lututnya. Menikmati angin malam yang bertiup lembut, meniup anak rambutnya yang kelayapan ke depan.
"Gue tahu muka lo lagi bengeb. Pasti butuh asupan kan? Ayo makan!"
Adis hanya diam. Lalu menundukkan kepalanya hingga menindih tangan yang diposisikan di atas lutut. Kemudian, terdengar suara isakan. Ya, Adis kembali terisak. Sulit baginya untuk menahan tangis. Setiap mengingat kejadian tadi siang, air matanya turun tak terbendung.
Nana terdiam. Yang bisa dia lakukan hanya mengusap punggung Adis lembut. Dia tidak mau memaksa Adis untuk bercerita sekarang. Karena dia paham betul, ketika dalam keadaan seperti ini, yang dibutuhkan dia hanyalah orang yang menenangkannya dan mendengarkan suara tangisnya. Itu saja.
"Semuanya pasti akan baik-baik saja. Apapun yang terjadi."
Artis menganggukkan kepalanya, sebagai bentuk bahwa dia mengaminkan ucapan Nana. Semoga benar. Apapun yang terjadi, pasti semuanya akan baik-baik saja.
"Gue dipecat, dan gue bakal di blacklist di semua perusahaan sama Bos Lo yang nggak punya perasaan itu," ucap Adis terbata-bata di sela Isak tangisnya.
Deg. Jantung Nana rasanya seperti berhenti berdetak. Dipecat dan akan di blacklist dari semua perusahaan? Nana tahu apa yang dimaksud dengan Adis. Pasti Beno akan memberi cap hitam pada Adis dan disebarkan ke seluruh rekan-rekan kerjanya. Tentu saja yang seperti itu mudah sekali menyebar. Setelah itu, pasti tak akan ada perusahaan yang mau menerima adis lagi.
Nana mengepalkan kedua tangannya kuat. Dia sangat geram kepada bosnya saat itu. Bagaimana bisa dia memperlakukan mantan kekasihnya sendiri seperti itu? Memangnya seberapa besar kesalahan Adis sampai dia berhak mendapatkan perlakuan seperti itu?
"It's O.K. Nggak masalah. Kalau lo nggak diterima sebagai karyawan di manapun kamu berada, Lo nggak perlu menjadi karyawan. Lo bisa mendirikan perusahaan sendiri suatu saat nanti. Sekarang doa yang banyak. Orang yang terdzolimi itu insya Allah doanya maqbul."
Nana tidak tahan lagi, dia menghampiri Adis, lalu memeluknya dari samping. Selama 3 tahun terakhir ini, mereka banyak menghabiskan waktunya sama-sama. Mereka saling berbagi suka dan duka. Saat Adis mengalami hal buruk seperti ini, rasanya seperti dia juga ikut mengalami hal buruk tersebut.
"Kamu tenang aja. Suatu saat kamu akan bersinar kok."
"Gue … gue … untuk saat ini nggak punya pekerjaan dan gue nggak tahu harus hidup dari apa? Enggak mungkin gue minta sama ibu, gue juga nggak bakal sudi minta sama Papa. Hidup gue berantakan, Na. Berantakan!"
"Masih ada aku. Tenang, aku akan selalu membantumu."
Dalam Isak tangisnya, diam-diam Adis bersyukur. Dia bersyukur memiliki Nana dalam hidupnya. Nana dan Langit. Dua sahabat yang saat ini sangat berarti untuk dirinya.
***
Setelah hampir 1 jam dia menangis, akhirnya Adis bisa sedikit lebih tenang. Coklat panas itu sudah tak panas lagi. Tapi tak apa, adis tetap menyukainya. Sama seperti Beno, meskipun tak hangat lagi sikapnya, tapi dia tetap mencintai. Ah … rasanya dia ingin pergi ke tukang hipnotis. Supaya rasa cintanya saat ini berubah menjadi rasa benci terhadap laki-laki itu. Adis merasa laki-laki itu tak patut di cinta. Hanya saja, saat ini dirinya begitu bodoh.
"Habisin aja coklat panasnya. Nanti aku bikinin lagi."
Nana memang selalu sweet begini ketika Adis sedang sedih. Dia paling tidak tega melihat adis kesakitan baik fisik maupun mentalnya.
"Ini udah nggak panas, Nano."
"Oh iya. Pasti udah dingin. Ya udah, pizzanya aja di makan."
Adis tak menyahut. Dia sibuk meminum coklat itu sedikit demi sedikit meskipun sudah tak panas lagi.
"Oh nggak mau? Ya udah gue makan aja sendiri. Kebetulan ini favorit gue. Pizza Mozarella premium, topingnya melimpah dan enggak pelit. Kebetulan ini varian sausnya macam-macam. Dahlah, aku makan sendiri aja."
Nana bersiap untuk mengambil kotak pizza yang belum dibuka itu, tetapi Adis buru-buru memukul tangan mulus Nana dengan telapak tangannya.
"Ih, kata ibuku kalau ngasih sesuatu sama orang lain terus diminta lagi, bakalan bintitan. Jangan sentuh pizza gue."
Adis segera membawa kotak pizza itu ke pangkuannya. Diambil satu potong, dan dimakannya sedikit demi sedikit.
Nana tertawa. Kalau adis sudah mulai lahap makan, berarti dia sudah tenang. Nana senang melihatnya.
"Nih, bisa buat beli pizza sekarung!"
Nana memberikan sebuah amplop warna coklat panjang pada Adis.
"Apa itu?"
"Gaji bulan ini kata Pak Beno."
"Balikin aja. Gue nggak sudi menerima uang dari dia."
"Jangan begitu. Ini uang kerja keras kamu. Jadi kamu berhak untuk mendapatkannya. Kamu sudah melaksanakan kewajibanmu. Jadi sudah sepantasnya kamu mendapatkan gaji."
Adis menoleh dengan mulut yang masih penuh dengan pizza. Dikunyahnya cepat dan segera dia telan.
"Iya ya? Itukan gajiku? Aku sudah kerja sama dia. Masa iya aku cuma kerja bakti di kantornya. Kamu bener. Aku berhak menerimanya. Siniin!"
Adis mengambil amplop dari tangan Nana cepat.
"Lumayanlah. Mungkin bisa jadi modal buat dagang cilok. Sarjana dagang cilok nggak apa-apa kan?"
"Dagang cilok nya sih nggak apa-apa dan nggak masalah, tetapi yang jadi masalah sekarang adalah, memangnya kamu bisa bikin cilok? Hmmm?"
Adis tersenyum sambil menggaruk-garuk tengkuknya.
"Nggak sih. Aku memang gak bisa bikin cilok. Tapi kamu kan pintar bikin apapun. Tinggal nyuruh kamu bikinin aja, beres!"
Adis kembali melahap pizzanya. Ternyata menangis sepanjang siang benar-benar menguras energi nya. Dia bahkan hampir habis separuh lingkaran pizza yang diperankan oleh Nana.
"Enak aja, kau pikir aku babu." Nana cemberut sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Persis seperti anak SD yang minta jajan kepada temannya tapi enggak dikasih.
Cemberutnya Nana tidak pernah membuat Adis khawatir, tetapi justru membuat adis tertawa terbahak-bahak.
Saat melihat adis tertawa, Nana langsung melengkungkan sebuah senyuman. Dia bahagia kembali melihat sawah itu hari ini.
'Akhirnya kau tertawa lagi, Adis.'