Entah perekrutan karyawan seperti apa yang dilakukan oleh langit, tetapi dia senyum-senyum sendiri saat mengingatnya. Biarlah, tak apa-apa jika dia harus menjadi admin online shop. Ah, bukan, tim marketing. Anggap aja begitu. Meskipun tak sama, anggap saja sama.
Setelah dipikir-pikir, yang dikatakan oleh langit ada benarnya. Dalam keadaan seperti ini, kalau kita gengsi pasti nggak bisa makan. Lagipula dia juga masih memiliki tanggungan untuk membayar cicilan mobil. Mau dibayar pakai apa kalau dia nggak bekerjasama sekali. Lagi pula dia juga pernah jual barang online. Pasti ini menyenangkan juga.
Sementara langit, diam-diam dia bahagia karena Adis mau menerima penawarannya. Sebenarnya dia tidak membutuhkan admin online. Karena yang ada pun sudah mencukupi. Namun, dia tidak ingin membuat adis terlalu tenggelam dalam kesedihannya. Dia yakin Adis akan menyukai ini. Dunia baru yang akan dia geluti. Dan yang terpenting bagi langit, dia bisa memantau keadaan Adis.
Ia tak mau mau wanita itu terus tenggelam dalam kesedihannya.
Mereka baru saja keluar dari area kafe beberapa menit yang lalu. Mobil yang mereka tumpangi meluncur menuju ke kos Adis. Mereka tersenyum karena kebahagiaan mereka masing-masing.
Adis sudah pulang karena sudah menceritakan ini pada langit. Sedangkan Langit, dia sudah lega karena akhirnya tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Pukul 09.00 malam, mobil merayap pelan. Di luar hujan, jadi mereka harus ekstra hati-hati dan melambatkan laju mobil. Sebenarnya bukan itu alasan utama. Yang pernah jatuh cinta, pasti tahu kan apa alasan Langit memelankan laju mobil.
Duaaar … tiba-tiba terdengar suara petir yang menyambar begitu keras. Raut muka Langit langsung berubah. Dia segera meminggirkan mobilnya.
Wajah ceria itu tiba-tiba berubah pucat. Wajah pucat penuh ketakutan.
"Langit, kamu kenapa? Kamu pucat tiba-tiba? Ada apa? Apa perlu aku aja yang mengemudikan mobilnya?"
Adis panik melihat langit yang tiba-tiba pucat.
Laki-laki itu tak menjawab, hanya menaikkan kedua kakinya ke atas kursi. Lalu dia menunduk dan memejamkan matanya.
Sekali lagi suara petir menyambar. Langit semakin merapatkan kedua kakinya. Matanya semakin terpejam erat. Saat itu Adis tahu, langit takut petir. Mungkin fobia.
Dia segera mengambil jaket yang ada di kursi mobil bagian belakang. Dia mengambilnya dan mengirimkannya ke langit. Kemudian, Adis merapatkan duduknya ke langit. Dia merangkul bahu laki-laki itu, sambil menepuk-nepuknya lembut.
"Tenang, kamu Nggak sendirian. Ada aku. Nggak usah takut."
Adis berusaha untuk menenangkannya. Masalah phobia ini memang terlihat sepele. Tetapi sebenarnya tidak sesepele itu. Orang yang phobia terhadap sesuatu memang benar-benar ketakutan dan perlu untuk ditenangkan.
Ah … rasanya malu sekali kedapatan kalau dia fobia dengan petir. Namun, dia kagum sama Adis saat menghadapi dirinya. Dia tidak meledek dan tidak mengejek seperti teman-teman yang lain. Tetapi langsung menenangkannya.
"Tak ada yang perlu ditakutkan, Langit. Nggak akan terjadi apa-apa. Every thing Will be O.K."
Langit mengangguk, lalu petir itu menggelegar lagi. Ya Allah … hadits benar-benar tidak tega melihat langit ketakutan sampai pucat begitu. Apakah dia selalu seperti ini setiap mendengar petir? Bagaimana kalau dia berada di jalan sendirian?
"Em … biasanya kamu ngapain kalau ketakutan begini."
"Berdiam diri di dalam rumah. Asal di dalam rumah aku sudah merasa aman dan tidak berlebihan begini," ucapanya dengan bibir bergetar.
"O.K. aku antar kamu pulang ya? Sekarang pindah ke sini. Biar aku yang antar kamu pulang."
"Nggak usah, Dis. Aku sebentar lagi tenang kok."
"Bagaimana kamu bisa tenang kalau petir terus menyambar. Nggak apa-apa. Aku antar pulang. Ayo pindah!"
"Beneran nggak apa-apa, Dis. Nggak usah."
"Ya Allah, Bapak manager ini benar-benar keras kepala. Pindah nggak? Kalau nggak pindah aku marah nih."
Adis mulai tegas, karena dia tidak tega melihat langit ketakutan sampai menggigil begitu.
Mau tak mau, Langit menurut. Dia pindah ke samping, dan Adis segera melajukan mobil ke rumah langit sesuai instruksi.
Setelah sampai di sana, Ibu Langit sudah menunggu di teras rumah dengan cemas.
Setelah melihat mobil putranya masuk ke halaman, Bu Ranti, ibu langit, langsung datang menghampiri.
Adis segera membuka pintu mobilnya.
"Loh kok bukan langit?" Ibu langit terkejut.
"Assalamualaikum, Ibu."
Adis menghampiri Bu Ranti, dan mencium punggung tangannya dengan takzim.
"Eh, Maaf. Sampai lupa. Waalaikum salam."
"Langit ada di dalam, Ibu. Jadi saya antar ke sini."
"Ya Allah, jadi kamu mengantar putra ibu pulang? Terimakasih ya Nak."
Saat itu, langit ikut turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah dengan segera, membiarkan Adis dan Ibunya berbincang.
"Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya permisi ya, Bu."
"Eh mau ke mana? Masuk dulu … kamu belum istirahat. Lagipula kamu mau pulang naik apa? Ini sudah malam, Nak."
" taxi online masih ada, Bu. Nggak apa-apa."
"Nggak boleh. Pokoknya kamu nggak boleh pulang. Masuk dulu. Ayo, nanti kami fikirkan bagaimana kamu akan pulang."
Sepertinya bu ranti benar-benar mengkhawatirkan dirinya. Adis tidak enak untuk menolak permintaannya. Akhirnya Adis mengangguk dan mengikuti Bu Ranti masuk ke dalam rumah.
Saat itu, dia melihat Langit meringkuk di atas sofa sambil memejamkan mata. Dia tidak merapatkan tubuh seperti tadi. Berarti dia sudah sedikit tapi tenang.
Bu ranti mempersilahkan adis duduk, menenangkan putranya sejenak, kemudian beliau segera pergi ke dapur untuk membuat kan minuman untuk Adis. Diam-diam, Adis benar-benar mengagumi Bu Ranti. Seorang ibu memang luar biasa. Langit sudah 26 tahun. Tetapi Bu Ranti masih mengkhawatirkannya Langit saat petir menyambar seperti ini. Beliau sampai rela menunggu di teras meskipun saat itu sudah larut malam.
Adis benar-benar kagum dengan sosok lembut Bu Ranti. Pantas saja, langit adalah orang yang sangat santun dan berhati lembut. Pasti itu karena didikan orang tua yang sangat baik.
Tak lama kemudian, Bu Ranti kembali datang dengan 3 cangkir teh hangat. Tuh kan? Betapa baiknya beliau. Padahal mereka memiliki asisten rumah tangga, tetapi Bu Ranti membeli untuk membuat sendiri teh untuk tamunya.
"Nak, ayo di minum dulu tehnya."
"Terimakasih, Ibu."
Adis tersenyum, kemudian menyesap teh hangat buatan Bu Ratih. Enak, wangi dan manisnya pas di lidah Adis.
"Terima kasih ya kamu sudah mengantar langit. Dia memang seperti itu. Diminta terapi beberapa kali tetapi tetap tidak mau. Maaf ya Nak. Jadi merepotkan kamu seperti ini. Oh iya, Ibu sampai lupa menanyakan nama. Nama kamu siapa, Nak?"
"Saya Adis, Ibu. Tapi saya sama sekali tidak merasa direpotkan. Langit sangat baik sama saya. Jadi, kalau hanya mengantarkan ke rumah saja bukan hal besar, Ibu."
Adis mendadak jadi sosok wanita yang manis dan sangat kalem. Langit yang sedang meringkuk di sofa tiba-tiba merasa geli. Sungguh, itu bukan Adis yang biasanya.
"Adis, nama yang cantik, seperti orangnya."
Bu Ranti tersenyum lebar. Dia terlihat sangat bersyukur karena ada yang mengantarkan Langit pulang. Apalagi yang mengantarkan adalah seorang perempuan.
"Terimakasih, Bu."
'sok-sokan banget kalem. Kalau orang lain yang memuji, pasti dia akan bilang kalau sudah cantik sejak lahir.'
Hujan sudah reda. Petir sudah tidak menyambar lagi. Langit sudah kembali tenang. Dia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Kemudian, dia duduk di sofa dan sudah mengulum senyum lebar.
"Hmmm … cepet banget sumringahnya."
"Baru saja dengar orang kalem banget ngomongnya, Jadi langsung seger buger sekarang."
"Buk, anak ibu satu itu kenapa suka nyindir orang? Apa dia tidak tahu azab orang yang suka menyindir, Bu?"
Adis menoleh ke arah Langit kesal.
"Siapa yang menyindir? Itu sama sekali bukan sindiran. Tapi ngomong langsung di depan."
Kemudian, Langit menghadap ke arah Ibunya.
"Beneran deh bu. Dia biasanya nggak kayak gini. Dia itu orangnya cerewet, blak-blakan, suka jahil, Suka makan banyak, dan nggak kalem kayak gini. Kenapa tiba-tiba kalem bak Putri solo?"
Dengan tanpa dosanya, Langit membeberkan kelakuan asli Adis. Membuat Adis merengut kesal ke laki-laki itu. Dasar! Kan jadi malu sama ibu langit kalau seperti ini.
"Iya kah?"
Bu Ranti malah tertawa. Sepertinya dia tidak ilfil sama sekali dengan adis.
"Jangan dengerin dia Bu. Eh, tapi kan dia anak ibu ya. Sudah pasti ibu dengerin."
Adis garuk-garuk tengkuknya.
"Nggak apa-apa. Kalau ibu datang ke rumah calon mertua dulu, pasti juga seperti itu. Ibu mendadak menjadi kalem dan diam. Tenang saja, nggak apa-apa."
"Ah … Ibu. Adis Jadi malu kan?"
Adis benar-benar malu. Dia menunnduk dengan kedua belah pipi yang memerah. Adis memang selalu blak-blakan dan apa adanya, tetapi bukan berarti dia tidak punya tata krama. Tentu saja dia akan bersikap kalem dengan orang tua. Dasar Langit! Bisa banget bikin adis kelabakan.
Eh tapi tapi tapi … Bu Ranti menyamakan dengan dirinya saat bertandang ke rumah calon mertua dulu? Apa maksudnya? Ah sudahlah. Lebih baik memang Adis pura-pura bodoh seperti itu.
Langit tertawa terbahak-bahak. Sungguh jauh berbeda dengan langit beberapa menit yang lalu yang ketakutan sambil memeluk lutut.
"Makanya, biasa aja jangan sok sok kalem. Nggak pantes."
"Awas ya kau."
Adis mendelik sebal.
"Kalian ini lucu sekali sih. Ibu jadi merasa muda. Oh iya, Adis tidur sini saja ya? Soalnya ini sudah larut malam. Bahaya bagi perempuan. Jangan-jangan mendapatkan taksi online gadungan. Kan ngeri. Kamu kabari dulu orang rumah. Jangan khawatir, Adis bisa tidur sama ibu kalau takut."
"Kebetulan saya kost Bu. Jadi pulang atau tidak, tidak ada yang mencari."
"Ya sudah, bagus. Kamu nginep di sini aja. Nanti kamu bisa pakai baju tidur ibu yang masih baru. Tenang, baju tidur Ibu kekinian kok. Tuh tersangkanya, masa Ibu dibelikan pakaian untuk anak muda. Ada-ada saja."
Bu Ranti menunjuk anaknya dengan dagu.
Adis tertawa. Ternyata, Bu Ranti sangat ramah dan hangat. Sepertinya Adis kerasan tinggal di rumah ini. Dia sedang menatap Bu Ratih. Kelihatannya Bu Ratih juga tipe mertua yang sabar dan tidak jahat seperti yang ada di novel novel.
Mertua? Ah, Adis segera menepis pikiran itu.
"Ya sudah, Ayo ibu antar ke kamar."
Adis mengekor Bu Ranti ke kamarnya. Terus terang, dia juga takut pulang sendirian kalau sudah larut malam begini.
Sementara Langit, dia menatap kedua wanita itu dengan senyum lebar. Seperti sedang menatap seorang ibu dan menantu. Eh,