Malam semakin larut. Rintik hujan masih terdengar. Malam ini, Adis benar-benar tidur di rumah Langit. Perempuan itu tidur di samping seorang ibu yang benar-benar lembut sikapnya dan tutur katanya. Ah, tiba-tiba saja dia merindukan ibunya.
Langit. Adis tidak pernah menyangka kalau dirinya akan bisa sedekat ini sama laki-laki itu. Sejenak, laki-laki yang memiliki lesung pipit di pipi sebelah kanannya itu membuat adis lupa dengan masalah yang dideranya. Dia pandai membuat adis tertawa. Dia juga pandai menyadarkan Adis, agar dia tidak melakukan sesuatu yang kurang baik. Namun, sebaik apapun Langit. Dia hanyalah sahabat.
"Adis, aku antar pulang dulu ya?" ucap Langit pada Adis yang saat itu tengah memotong wortel di dapur. Langit tengah mengancingkan lengan bajunya, dan pura-pura terperanjat saat melihat adis memotong wortel.
"Eits, motong wortel, hati-hati saaay. Biasanya cuma motong kuku doang biasanya," ledek Langit.
"Mulut di jaga woi. Perasaan dari kemarin jatuhin wibawa Mulu." Adis melirik langit dengan bersungut-sungut.
"Aku berani bertaruh, ini pertama kalinya kamu motong wortel kan?"
"Ibu, anaknya ngeselin buk? Boleh digadain nggak buk?"
Adis merengek kepada Bu Ranti seolah tengah merengek kepada ibunya sendiri. Bu Ranti hanya tertawa. Dia seperti tengah melihat sepasang kekasih yang sedang saling menggoda.
"Kalau di gadaiin nggak boleh. Kalau di nikahin mah boleh aja." Bu Ranti berbicara dengan santai sambil mengupas bawang.
Sedangkan langit, dia langsung menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Salah tingkah. Sementara Adis, dia biasa aja. Malah geli mendengarnya. Geli campur pengen ngakak saat melihat langit yang salah tingkah.
"Cie … salah tingkah. Kenapa? Ngarep nikah sama gadis cantik yang baru pertama kali motong wortel. Hmmm?"
"Aduh kalian berdua ini cocok. Sama-sama ngelantur. Cepetan ganti baju. Aku anterin pulang sekalian berangkat ke kantor."
"Loh, nggak nunggu sarapan dulu? Kalau begitu Ibu bikin nasi goreng aja ya?" Bu Ranti meninggalkan bawangnya, dan bergegas mencuci tangan.
"Nggak usah, Bu. Kita sarapan di luar aja. Nggak apa-apa kan? Kan tiap hari Langit sudah sarapan di rumah. Tidak apa-apa kan kalau sekali-kali sarapan di luar?"
"Kamu sih udah tiap hari di rumah. Kalau Adis, Ibu pengen masakin buat Adis."
"Kapan-kapan lagi aja, Bu. Nanti langit terlambat ke kantor. Beberapa hari ini Bos langit sedang seperti singa. Gampang mengaung kalau ada yang membuat kesalahan sedikit saja."
"Ya sudah deh. Kalian berangkat aja kalau begitu kalau apa-apa."
"Yaaah, padahal aku pengen masak-masakan ibu. Kapan-kapan boleh ya Adis main ke sini, Bu?" Adis menghampiri Bu Ratih. Menggenggam tangannya. Entah kenapa, Adis merasa sangat nyaman berada di samping Bu Ranti. Berasa seperti di samping ibunya sendiri.
"Tentu saja boleh. Kamu boleh main kapanpun ke sini. Ibu bahagia karena ada orang yang tidak keberatan dengan fobia nya langit."
"Ibu … nggak usah dibahas."
Langit cemberut sambil duduk di kursi dapur mengenakan sepatunya. Dia memang selalu begitu. Mengenakan sepatu di dapur sambil menunggu ibunya yang tengah memasak. Meskipun ada ART, Bu Ranti selalu memilih untuk memasak sendiri. Karena masakan Bu Ranti adalah masakan terenak bagai Langit.
"Bagaimana Ibu nggak bahas. Orang pacar kamu aneh. Eh, maksudnya mantan pacar kamu. Masa iya mutusin orang gara-gara phobia."
Seketika, tawa Adis meledak. Mohon maaf, saat itu dia benar-benar tidak bisa menahan tawanya. Jadi, langit ditinggalkan karena dia fobia sama petir? Ya Tuhan, apakah dia tidak pernah phobia sama apapun?
Tanpa menunggu lama, langit segera meraih lengan baju Adis, mencubitnya, dan menyeretnya keluar.
"Ayo pulang. Aku nggak suka kalian menjadi pasukan yang pas untuk ghibah."
"Eh, aku belum salim sama ibu," teriak Adis.
"Nggak perlu."
"Aku juga belum ganti baju."
"Nggak usah."
"Aku masih pengen ngeledekin kamu sama ibu." Adis masih berteriak.
"Nggak akan bisa saaaay."
Langit memasukkan Adis ke dalam mobil, dan perempuan itu hanya bisa cemberut kesal. Bu Ranti masih tertawa terbahak-bahak di dapur. Ya Tuhan. Mereka benar-benar seperti sepasang kekasih. Rasanya sangat senang melihat langit bisa kembali dekat dengan seorang wanita. Entah itu pacarnya atau bukan, yang jelas, Bu Ranti bahagia melihat mereka berdua dekat.
***
Mereka berdua sudah duduk di tukang bubur ayam di pinggir jalan. Adis melahapnya seperti seorang kuli yang baru saja pengaduk semen 1 sak.
"Woe. Hati-hati. Kalau makan kayak perempuan pada umumnya kenapa sih."
Eh, Jangan. Kalau kalem, namanya bukan Adis. Dia akan kalem hanya jika disandingkan dengan Bu Ranti. Itu aja.
"Aku laper. Boleh nambah lagi?"
"Aji mumpung banget ini bocah."
"Bang, satu lagi ya?" teriaknya pada abang-abang penjual sebelum langit mengiyakan.
"Dis, kalau dapat undangan di pernikahan Wijaya. Kamu datang?"
Tiba-tiba saja langit ngobrolin hal yang serius. Adis yang akan menyuapkan suapan terakhir bubur di mangkoknya, meletakkan sendok itu ke mangkuk.
"Kita bisa ngobrol yang lain nggak?" Muka Adis tiba-tiba berubah muram.
"Sorry. Tapi kamu memang dapat undangan. Ada di aku undangannya. Mau lihat?"
"Nggak perlu. Aku mencoba untuk tak peduli lagi sama dia."
Menunduk dengan mata basah. Begitulah. Ketika membicarakan tentang Beno, yang tadinya ceria langsung berubah muram dengan hitungan detik.
"Kau nggak ingin membuktikan padanya kalau kau sudah move on?"
"Apa yang mau dibuktikan kalau sampai sekarang saja aku belum move on. Hatiku bebal. Harusnya Aku membenci dia dan tidak mau mengingatnya dia lagi. Ah, nyatanya itu hanya ada di bibirku saja."
"Ya udah, kalau memang nggak mau datang nggak apa-apa. It's O.K."
"Ini buburnya mbak."
Si abang tukang bubur meletakkan semangkok lagi bubur ayam di hadapan Adis. Namun, dia terlanjur badmood gara-gara ngomongin Beno.
"Habisin tuh."
"Gara-gara kamu, nafsu makanku jadi hilang."
"Nafsu yang lain masih ada kan?"
Langit mencoba genit menaik turunkan alisnya seperti apa yang selalu dilakukan oleh Adis. Ah, tapi nyatanya dia sendiri yang deg-degan saat di tatap Adis.
"Nafsu apa nih maksudnya nih? Hmm … " Adis menyangga dagunya dengan tangan kiri. Memandang Langit yang seketika salah tingkah. Dia tahu kelemahan langit. Dia tak suka jika dipandang dengan intens, selalu kelucutan dan salah tingkah.
"Nafsu pengen nyekek orang kali. Udah sini kalau nggak nafsu makan biar aku yang abisin."
Langit buru-buru mengambil mangkok itu, dan menyendoknya, untuk menghilangkan rasa grogi.
"Nafsu makannya udah ketemu. Kata makan semangkok berdua. Biar romantis ke di film-film."
"Kadang semangkok berdua bukan mengartikan romantis, tapi ngirit."
"Itu mah Beno jaman dulu."
Adis berkelekar. Tuh kan? Langit memang selalu pandai mengembalikan mood Adis. Dalam sekejap saja dia sudah bisa mengembalikan senyum Dan tawa wanita itu. Mungkin memang sudah takdir Tuhan.
Ketika satu orang membuat kita menangis, Tuhan akan mengirimkan satu orang lagi untuk menyembuhkan luka dan membuat kita tertawa.
Langit adalah bukti nyata bahwa Tuhan sangat menyayangi Adis. Laki-laki itu seperti sengaja dikirim untuk menghapus luka Dan air mata.
***
"Adiiiis. Lo kemana aja sih semalem nggak pulang. Gue panik nyariin Lo."
Nana teriak-teriak nggak jelas saat baru saja melihat adis keluar dari mobil. Namun, dia langsung kicep saat melihat langit juga keluar dari mobil itu.
"Tidur di rumah dia. Dia enggak ngebolehin aku pulang. Biar nggak rindu kali." Adis menunjuk atasan Nana dengan bibirnya yang sengaja dimonyongkan.
"Enak aja. Kalau bukan karena ibu yang minta, pasti sudah aku suruh pulang kau. Soalnya cuma ngabis-ngabisin jatah makan doang di rumah."
Nana terdiam melihat mereka berdua yang berdebat asik. Dia tersenyum kaku, dengan hati yang nyeri. Adis dan Langit. Mereka tampak begitu dekat. Padahal mereka baru kenal dalam hitungan hari. Namun, mereka sudah seakrab itu. Dia, yang menyukai langit sejak lama dalam diam, tak pernah bisa sedekat itu.
"Aish, harusnya lo kasih tau gue. Udah tahu gue kayak mak Lo yang selalu nungguin lo pulang."
"Sorry sorry. Sini aku peluk biar nggak marah-marah."
Adis menghampirinya dan memeluknya. Nana terdiam sambil menatap langit yang saat itu tengah menatap Adis. Langit, Nana dapat merasakan kalau Langit tertarik pada Adis. Dia pun juga melihat kalau Adis bisa lebih berbinar dan tertawa lepas saat bersama langit. Ah … kenapa hidup harus seperti ini. Terlalu rumit jika dijelaskan.
"Ya udah aku berangkat dulu kalau kalian masih pelukan kayak teletabis. Bye!"
"Oe Langit. Nggak ada simpatinya sedikit sama anak buah. Kalian kan satu kantor. Lihat Nana udah siap kayak gini. Basa-basi kek nawarin tumpangan."
"Ah, iya. Lupa. Ayo Na. Bareng aku aja."
"Emmm … Nggak usah Pak. Sudah biasa naik taksi online kok. Duluan aja nggak apa-apa."
Adis tak suka yang basa-basi begini. Dia langsung saja menggelandang tangan Nana, membukakan pintu, dan memaksa sahabatnya untuk masuk ke mobil Langit.
"Nah gini. Gosah gengsi. Bye!"
"Adis lo apaan sih. Kan gue malu satu mobil sama Pak Langit."
Nana bisik-bisik pada Adis yang saat itu berada di luar mobil.
"Pak, Nananya malu. Nanti jangan tatap dia ya?" teriak Adis yang membuat Nana langsung membekap mulut lemesnya.
Langit yang masih berada di luar mobil hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia tahu, pasti Nana sangat malu punya sahabat yang ceplas-ceplos seperti dia.