Langit tertidur, dan bangun-bangun sudah jam 02.00 dini hari. Dia tergagap dan segera turun ke lantai 1. Bagaimana dengan Adis? Apakah dia sudah pulang? Dia pulang sama siapa dan naik apa? Dia benar-benar khawatir akan keadaan Adis.
Saat dia sampai di lantai satu, dia dapati Adis yang tidur di lantai dan berbantalkan tangan. Sementara tangan kirinya masih memegang pulpen. Sepertinya dia belum selesai rekapan tetapi sudah ngantuk. Langit memandangnya dengan pandangan penuh keprihatinan. Dia tahu, adis sangat kerja keras karena dia dikejar oleh cicilan mobil. Kalau hanya mengandalkan gaji pokok bekerja di toko baju ini, maka dia tidak akan sanggup membayar cicilan mobilnya. Itulah kenapa dia menerima tawaran langit untuk lembur setiap hari.
Begitu juga dengan Rina. Dia juga tidur tak jauh dari Adis, tetapi Rina sudah berbantal dan berselimut. Sepertinya dia memang sudah ingin tidur di situ sejak awal.
Langit segera naik ke atas lagi untuk mengambil kasur busa, bantal dan selimut. Dengan hati-hati, Langit mengangkat Adis dan membaringkannya di atas kasur busa yang ada di samping Adis tidur tadi. Lalu, dengan penuh kasih sayang, dia mengangkat kepala Adis, dan menempatkan kembali di atas bantal. Ah … memang dasar ribet. Kan harusnya bantalnya diletakkan dulu, Langiiiiit. Gemesh deh.
Kemudian, dia ambil selimut yang masih baru, belum pernah dia pakai sama sekali. Kebetulan selimut itu bermotif tomat. Lalu menyelimutkannya ke tubuh mungil Adis.
"Tom, ketika diam begini, kau tampak lebih anggun. Coba deh kamu diam sejenak aja, jangan suka nyerocos dan jangan suka jahil sama aku, pasti kau akan tampak lebih manis berlipat-lipat. Tuh kan? Kamu manis dan anggun banget."
Langit tersenyum, sambil menatap Adis yang terlelap. Perempuan 24 tahun itu benar-benar masih Baby face. Mana kadang-kadang tingkahnya masih kekanak-kanakan lagi. Benar-benar menggemaskan di mata Langit.
"Aku memang anggun manis dan kalem dari dulu kali!"
Adis melengkungkan senyumnya dengan mata yang masih terpejam dan dengan tubuh yang tidak bergerak sedikitpun. Hanya bibirnya saja yang bergerak.
Tentu saja langit langsung berjingkat kaget. Dia langsung mundur, dengan keringat dingin yang menetes ke pelipisnya. Ya Tuhan, apa yang dia lakukan ini. Dia benar-benar sudah ceroboh. Sudah tahu kalau Adis itu jahil. Bisa-bisanya bersikap seperti itu di hadapannya.
"Oe. Kau pura-pura tidur ya? Ngeselin banget sih."
Adis tertawa terpingkal-pingkal, Dia segera membuka matanya dan duduk dihadapan langit.
"Ya kali aku diangkat begitu dan nggak bangun. Kau pikir aku bocah SD yang digotong-gotong kemana-mana tetap terjaga? Ada-ada aja kau."
Adis masih tertawa terpingkal-pingkal. Langit benar-benar lucu. Dia benar-benar malu saat ketahuan memuji Adis. Padahal jika adis dalam keadaan sadar, laki-laki itu
selalu mengoloknya.
Dalam hati, Adis tersenyum. Laki-laki itu memujinya, belum pernah dia mendengar itu sebelumnya.
"Ya seharusnya kau bukan mata lah. Kenapa harus pura-pura tidur? Suka ya dibopong?"
"Jangan suka memutar balikan fakta kakanda. Bukankah engkau yang suka melihat aku saat sedang tertidur? Ya kan kan kan?"
"Udah sana tidur lagi. Aku mau naik ke atas. Bangunin Rina, ajak dia tidur di atas kasur. Kamu nggak usah pulang, besok langsung kerja. Untuk pakaian gantinya kamu bisa ambil sepasang. Ambil yang kamu mau. Udah, aku mau balik lagi. Ngantuk. Bye!"
"Bye Langit! Aku nggak pengen lihat aku yang anggun kalem dan manis?" Adis berteriak seolah tak ada kehidupan di sekitarnya. Untung Rina tidak mudah bangun orangnya. Jadi dia tetap saja terhadap. Langit tidak menoleh sedikitpun. Dia meneruskan langkahnya ke lantai atas dengan menahan malu.
'Bodoh banget sih kamu, Langit! Malu kan Lo sekarang?' Langit tidak berhenti merutuki dirinya sendiri.
***
"Pak Langit. Kami sudah berhasil mengantongi orang-orang yang akhir-akhir ini berhubungan erat dengan Rossi. Tapi sementara ini kami hanya bisa mengirimkan bukti foto saja. Kami belum sempat mendapatkan video apapun karena saat itu tidak ada tempat bersembunyi yang dekat dan strategis. Tetapi foto-foto ini semoga membantu."
Seseorang di seberang sana memberikan informasi penting untuk Langit. Laki-laki itu sedang menggenggam handphone-nya dan mendekatkan ke telinga dan mulutnya.
"Nggak masalah. Kirimkan aja gambar-gambarnya. Siapa tahu memberi petunjuk. Tetap pantau ya?"
"Siap, Pak Langit. Kalau ada perkembangan, nanti saya kabarkan lagi."
"Baik, terima kasih."
Klik. Sambungan telepon segera dimatikan oleh Langit. Dia mencoba untuk fokus lagi ke pekerjaannya, tetapi bayangan Adis selalu datang. Sekelebat dihadapannya. Ah, tidak di dunia nyata dan dunia halu, perempuan itu sama-sama ngeselinnya.
Tring tring tring.
Pesan masuk ke handphone Langit. Laki-laki itu segera membukanya saking penasaran. Apakah foto-foto yang didapat bisa Memberikan titik terang tentang fitnah yang diterima oleh Adis?
Dari foto-foto itu terlihat Rossi bersama dengan seorang laki-laki. Mereka berdua terlihat begitu mesra. Tidak seperti hubungan kakak adik dan tidak seperti hubungan dengan saudara. Namun, di foto terakhir, mata Langit langsung terbelalak saat dia melihat wajah laki-laki itu.
Nafasnya seketika tersengal tak beraturan. Langit segera meletakkan kembali handphone di atas meja. Langit segera menyangga dahinya dengan kedua tangan. Kepala langit tiba-tiba terasa nyut nyutan tak karuan. Jadi Rossi benar-benar mendua? Sebenarnya langit tidak masalah kalau Rossi mau mendua dengan siapapun karena itu bukan urusannya, tetapi kalau dia selingkuh dengan laki-laki itu, rasanya langit tak rela.
Ah … bukan ini yang dia inginkan sebenarnya. Yang dia inginkan adalah bukti tentang Zoyyas. Apakah sebaiknya langit langsung datang ke Zoyyas dan memaksa dia untuk mengaku mereka mendapatkan materi itu dari mana?
Tapi … bukankah itu sama aja dengan bunuh diri. Karena Zoyyas juga termasuk perusahaan besar yang berpower. Mana mungkin langit berani melawannya.
***
"Hai Nak Adis. Kamu sudah bekerja di sini?"
Siang itu Bu Ranti datang ke toko. Dia membawa 1 rantang makanan. Entah untuk apa.
"Iya, Bu. Mari Bu masuk."
"Ibu nggak bisa lama, Nak. Sebenarnya Ibu mau minta tolong mengantarkan makanan ini ke Langit. Dia sudah minta dimasakin rendang, tapi semalam malah nggak pulang. Jadi niatnya mau Ibu antarkan aja ke kantornya, tapi Ibu buru-buru mau bertemu sama teman-teman. Apa Nak Adis mau membantu ibu mengantarkan makanan ini ke Langit?"
Adis terdiam sejenak. Sebenarnya dia tidak mau menginjakkan kaki ke kantor Beno. Tetapi dia juga tidak bisa menolak permintaan Bu Ranti? Bagaimana mungkin dia tega menolak permintaan seorang ibu yang repot-repot memasakkan makanan untuk anaknya, tetapi anaknya malah tidak pulang, gara-gara menemani dirinya. Akan jahat sekali dia kalau sampai menolak permintaan itu.
"Bagaimana Nak Adis? Bisa?"
"Eh, Iya Bu. Bisa. Nanti akan saya antarkan ke kantor Pak langit."
"Waaah … Terima kasih banyak ya, Nak. Ibu lega akhirnya. Ini ya rantangnya. Ibu pergi dulu. Terima kasih banyak sekali lagi."
"Sama-sama, Ibu."
Bu Ranti segera pergi meninggalkan Adis. Sementara Adis, hanya membuang nafas kasar.
Huft … mau tak mau Adis harus menginjakkan kaki di kantornya Beno.
Dia segera pamit sama Rina untuk mengantarkan makanan ke kantor. Kemudian dia segera naik taksi ke sana. Saat dia baru saja turun dari taksi, ia melihat Rossi masuk ke dalam mobil mini Cooper merah yang dulu. Ya, tidak salah lagi itu adalah mobil mini Cooper yang dia lihat beberapa kali.
Adis berniat untuk menghampiri Rossi, tetapi dia urungkan niatnya. Biarlah. Biarlah dia dengan siapapun yang dia mau. Biarlah dia menghianati Beno sesuka hatinya. Biarlah dia memoroti harta Beno sesuka hatinya. Dia berusaha untuk tidak peduli lagi.
Adis segera melangkah menuju ke ruangan Bapak manajer keuangan, Langit.
"Selamat pagi, Bapak manajer yang terhormat."
Adis tidak mengetuk pintu tetapi langsung masuk ke ruangan Langit begitu saja.
"Adis! Ngapain kamu kesini? Bawa rantang lagi. Kamu mau piknik?"
Tentu saja langit terkejut saat melihat Adis berada di hadapannya. Padahal beberapa menit yang lalu dia masih terbayang-bayang sosoknya yang berseliweran di hadapannya. Sekarang sosok aslinya sudah nyengir duduk di hadapannya meskipun belum dipersilakan.
"Mau apa nggak? Kalau nggak mau ya udah aku makan sendiri. Aku mau makan di sini aja."
"Eh tapi, itu kayak rantangnya Ibu deh. Kau nyuri ya?"
"Sembarangan aja. Ini memang rantang ibu. Tadi Ibu minta aku untuk mengantarkan makanan ini ke sini. Karena semalam anaknya nggak pulang, sibuk memandang gadis manis nan anggun."
Adis tertawa kecil. Langit langsung saja merampas rantang itu. Ah, kesal sekali jika dia diingatkan akan hal itu.
"Ngomong dong kalau ini dari ibu. Masakan Ibu memang ter the best."
"Mau dong?"
"Nggak."
Langit membuka rantang itu dan terlihat rendang yang montok-montok membuat air liur Adis rasanya mau menetes.
"Langit, mau dong. Dikit aja."
"Nggak, kamu makannya barbar kayak kuli."
"Ish, kamu nggak kasihan banget sih. Aku ke sini capek capek membujuk hati yang trauma akan tempat ini. Aku udah memaksakan diri lo ini. Hanya untuk mengantarkan rendang itu padamu. Eh, dimintain dikit aja nggak boleh. Pelit."
"Biarin!" langit langsung menyendok makanan terenak di dunia versi dia sendiri.
"Semoga tersedak semoga tersedak semoga tersedak."
Kata itu diulang berkali-kali oleh Adis yang membuat langit ingin tertawa.
"Aiiih … tahu di sini dicuekin begini, mending tadi aku nyamperin Rossi aja yang naik mobil sama selingkuhannya. Itu, selingkuhan Rossi yang pernah aku bilang, yang mobilnya mini Cooper warna merah. Aku yakin banget deh kalau itu selingkuhannya."
Saat itu, langit langsung tersedak. Dia terbatuk-batuk tanpa bisa dikontrol. Sementara Adis, bukannya membantu langit atau mencarikan minum tetapi malah tertawa terbahak-bahak. Gadis jahil itu tertawa penuh kemenangan dan merasa bahwa langit tersedak karena doanya.
Padahal bukan karena itu. Dia tersedak karena mendengar berita tentang Rossi dan lelaki yang mengendarai mini Cooper merah.
'Jadi dia berani menjemput Rossi sampai kantor. Sepertinya aku harus ngobrol sama dia,' ucap Langit dalam hati.