Saat Langit sedang asyik melamun, Adis langsung bertindak dengan mengambil rantang yang berisi nasi dan rendang dari dekapan Langit.
"Kebiasaan banget sih merebut makanan orang."
"Habisnya kamu pelit sih."
"Ya udah sini kita makan berdua."
"Boleh?"
"Sebenarnya sih enggak boleh, tetapi kalau enggak dibolehin kamu pasti akan melahap habis rendang terenak buatan ibu, dan aku tak rela."
"Jelas itu. Ya udah, kita makan bareng."
Akhirnya, mereka berdua makan rendang terenak buatan Bu Ranti serantang berdua. Harus Adis akui, rendang buatan Ibu langit memang sangat enak, membuat adis tidak bisa berhenti mengunyah.
"Kebiasaan banget sih makanya belepotan begitu."
Langit mengambil tisu, lalu mengelap butir nasi dan noda coklat di bawah bibir Adis. Saat itu, Beno masuk ke dalam ruangan Langit dan langsung menghentikan langkahnya ketika dia melihat langit tengah asyik mengelap bibir Adis.
"Wid?"
Langit langsung salah tingkah dan segera menurunkan tangannya. Adis tahu yang datang adalah Beno. Dia pura-pura tidak tahu dan pura-pura tidak ada orang saja. Dia meneruskan makan rendang dan tidak mau pindah dari kursi itu.
"Kenapa penghianat ini ada disini?"
"Wid, jangan begitu. Dia bukan penghianat. Aku akan buktikan kalau memang dia tidak bersalah. Ada orang yang sengaja memfitnah dia. Aku yakin itu."
"Aku sudah hafal sama tingkahnya. Dia butuh banyak uang untuk membayar cicilan mobilnya. Jadi, dia memang sengaja melakukan itu untuk mendapatkan penghasilan yang sangat banyak. Seharusnya kalau kamu butuh uang, kau hanya bilang padaku. Atau kau bisa menjual cincin yang pernah aku berikan padamu dulu. Bisa lah untuk hidup kamu sehari-hari selama seminggu."
Adis yang dari tadi hanya diam dan pura-pura tidak dengar, kali ini mengepalkan tangannya kuat. Ternyata laki-laki itu semakin dibiarkan semakin tak punya akhlak. Tega-teganya dia sampai mengusik tentang cincin yang pernah diberikan kepadanya dulu. Aih, cincin itu sudah dijual lagi, dia harus bilang apa?
Adis segera berdiri dengan muka dan telinga yang memerah. Dia mendekat ke arah Beno, berdiri tepat dihadapannya dan menatapnya dengan tatapan yang menantang.
Langit langsung menghampirinya sebelum semuanya semakin ribet. Dia menepuk pundak Adis pelan.
"Sudah, tak ada gunanya lagi berdebat. Kalau kau memang ingin membuktikannya, kita buktikan dengan cara yang elegan."
Adis membuang nafas kasar, lalu dia berusaha untuk mengatur nafasnya. Setelah dia merasa tenang dan rahangnya yang mengeras telah mengendur, dia kembali menatap mata Beno. Benar, tidak ada gunanya berdebat sekarang. Yang ada ada semuanya akan semakin kacau.
"Bapak Beno Wijaya yang terhormat, terserah Bapak mau bilang apa. Sekarang bapak boleh mengatai aku apapun yang Bapak mau, tapi suatu saat ketika saya berhasil mengungkap semuanya, Bapak jangan mengemis-ngemis maaf sama saya ya? Ingat, jangan sampai Bapak malu dan mengemis maaf. Bye! Saya pulang dulu. Tunggu aja kejutan dari saya. Oh iya, soal cincin itu jangan khawatir, masih utuh di rumah saya. Bapak ingat kan dulu bapak sekoret apa? Jadi saya tahu cincin itu tak ada harganya. Tenang aja saya akan mengembalikannya segera, Bapak langit yang terhormat," ucap Adis diikuti oleh sebuah senyuman, kemudian dia melangkahkan kakinya hendak keluar. Baru saja beberapa langkah, dia tertarik untuk kembali dan mengeluarkan kata-kata yang lebih menohok untuk Beno.
"Oh iya, satu lagi yang ketinggalan. Sekarang bapak enggak usah khawatir, karena saya sudah Totally move on dari bapak. Saya sudah menemukan orang yang jauh lebih baik dari bapak Beno Wijaya. Jadi jangan kepedean dan ke gr-an lagi ya. Permisi!"
Kali ini adis benar-benar pergi, meninggalkan Beno yang masih mematung di tempatnya.
Benarkah itu Adis? Kenapa tadi dia bisa tenang seperti itu. Padahal dia hanya di tepuk pundaknya saja sama langit, tetapi dia sudah berhasil bersikap tenang dan kata-katanya benar-benar menusuk, serta mengusik hati Beno. Kata-kata yang dilontarkan Adis barusan membuat dia berfikir, apakah memang benar bahwa selama ini dia salah orang?
Ah, nggak mungkin kan dia salah orang? Karena yang tahu soal materi itu hanya Beno dan Adis doang. Nggak ada yang lain. Lalu, benarkah Adis sudah benar-benar move on dari nya dan mendapatkan penggantinya? Apakah itu Langit?
"Duduk, Wid!"
"Ah, Iya, Oke."
Beno segera duduk dihadapan langit. Dia masih bertanya-tanya, siapakah pacar Adis yang baru
"Ada apa?"
"Laporan yang kuminta sudah ada?"
"Sudah, ini silahkan periksa!"
"Siap."
Beberapa menit kemudian mereka saling diam. Tak ada suara apapun, hanya terdengar suara pergerakan kertas saja.
"Kenapa Adis ke sini?"
"Nganterin makanan buat aku. Tidak masalah kan kalau dia mengantarkan makanan buatku?"
"Ya enggak masalah, tetapi tak seharusnya kamu mencampuradukkan masalah pribadi dan pekerjaan. Kalau kerja ya kerja, nggak usah sambil pacaran. Apalagi perempuannya Adis. Bukannya sudah aku bilang kalau dia itu hobi berkhianat. Jangan sampai kamu jatuh ke lubang yang sama denganku."
"Dia tidak seburuk yang kamu kira, Wid."
"Kamu hanya belum kenal dia saja."
"Kamu juga belum terlalu kenal Rossi, tapi kamu sudah berani untuk melamarnya dan menjadikan dia sebagai istri. Padahal, kamu baru beberapa bulan kenal dan tidak tahu seluk beluk dia seperti apa. Lalu apa bedanya aku sama kamu?"
"Terserah kamu lah kalau kamu memang ngeyel. Ini berkasnya aku bawa dulu ya? Nanti silahkan ke ruangan saya."
"Siap."
Beno kembali ke ruangannya dengan hati dongkol. Dia dongkol sekali sama sahabatnya sendiri. Harusnya laki-laki itu percaya, bahwa Adis bukanlah gadis yang baik. Tetapi Langit benar-benar batu. Tapi, benarkah Beno dongkol hanya gara-gara itu? Ataukah ada alasan lain?
***
Hari telah berlalu, tidak terasa adis sudah bekerja di tempat Langit selama 1 bulan. Selama 1 bulan itu omset penjualan langit benar-benar naik. Berkat Adis yang sering lembur live i********: di malam hari, juga karena ide Adis yang membuat konten-konten menarik, membuat baju-baju itu laris manis seperti kacang goreng.
Setiap hari mereka mengepack tidak kurang dari 300 paket. Mereka harus mengakui kalau ini memang karena Adis yang cukup piawai dalam marketing.
Tentu saja, dia adalah mantan dari sekretaris sebuah perusahaan advertising. Jadi tidak heran jika kemampuannya emang top.
"Hari ini kita bakalan makan rame-rame. Kita makan di warung seafood bareng-bareng ya? Jadi hari ini kalian boleh bekerja separuh hari saja sebagai apresiasi saya kepada kalian yang sudah sangat bekerja keras."
Langit berbicara di hadapan karyawannya yang berjumlah 7 orang. Mereka bertujuh tampak sangat bahagia, karena kapan lagi mereka bisa ditraktir sama bos.
"Emmm … maafkan Aku, Langit. Hari ini aku nggak bisa. Next time aja ya. Aku ada sesuatu yang harus aku kerjakan segera. Jadi aku mohon pamit dulu."
Adis? Kenapa Dia pamit? Bahkan langit melakukan ini hanya untuk dirinya. Teman-teman Adis hanya sebagai alasan saja supaya tidak kentara kalau dia ingin berduaan dengan Adis.
"Ke mana?"
"Ada deh. Kamu nggak perlu tahu untuk urusan aku yang satu ini. Jadi kamu pergi saja sama yang lain ya."
"Kenapa? Kamu mau ke mana?"
"Kamu tidak perlu tahu, Langit. Oh iya. Terima kasih banyak ya gajinya. Aku harus pergi dulu."
Adis segera berlari menuju ke mobilnya, dan melajukan mobilnya dengan kencang ke tempat yang dituju.
"Emmm … teman-teman semuanya. Maafkan aku ya karena ternyata nggak bisa pergi sekarang karena ada salah satu karyawan yang gak bisa ikut. Jadi makan-makannya kita tunda sampai besok ya? Tetapi tenang saja, kalian bisa pulang sekarang."
"Yaaah … Pak Langit. Mentang-mentang mbak Adis enggak ada jadi di-cancel, tapi enggak apa-apa ding, emang lebih seru kalau ada Mbak adis sih."
"Iya kan? Ya sudah aku keluar dulu."
Langit segera berlari menuju ke mobilnya, lalu dia segera mengencangkan laju mobilnya mengikuti mobil Adis yang ternyata masih bisa terlihat.
Langit benar-benar curiga, kemana perginya perempuan itu? Kenapa dia begitu aneh. Tidak biasa biasanya dia menolak ketika diajak makan. Apa lagi makan seafood, makanan kesukaannya.
Dia melihat Adis belok ke sebuah toko emas. Langit mengerutkan keningnya. Dia datang ke toko emas? Dia mau beli perhiasan?
"Mbak, emmm … saya mau membeli lagi cincin yang sudah saya jual beberapa bulan yang lalu. Contoh cincinnya seperti ini, mbak. Ini cincin saya. Apakah masih ada?"
"Oh … cincin polos ini ya? Yaaah, kebetulan sekali Mbak. Cincin yang Mbak maksud ini baru saja dibeli oleh seorang perempuan. Baru saja belum ada 5 menit mbak."
'sudah ada yang beli? 5 menit yang lalu? Adis langsung lemas mendengarnya. Padahal dia ingin membelinya kembali dan ingin segera mengembalikan pada Beno. Dia tidak mau memiliki utang apapun kepada laki-laki yang sudah merendahkan dirinya. Dia sudah terlanjur bilang kalau cincin itu masih ada. Kalau cincin itu sudah dibeli sama orang, dia harus apa sekarang?
Pasti mantan pacarnya itu akan semakin menginjak-injak dia dan akan semakin menghina dia ketika laki-laki itu kalau adis memang sudah menjualnya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
"Mbak, tapi Mbak jangan khawatir, masih ada banyak sekali model cincin yang ada di sini. Dijamin semuanya bagus-bagus."
"Emmm …. Nggak, Mbak. Saya hanya menginginkan cincin itu. Cincin dari mantan pacar saya. Saya sangat membeli kembali cincin itu, Mbak. Apakah Mbak masih hafal seperti apa orangnya atau mungkin Mbak kenal sama pembelinya?"
"Waaah … saya sama sekali tidak mengenalnya, Mbak. Tetapi kalau wajahnya saya masih ingat. Kalau suatu saat si mbak pembeli itu datang kemari, saya masih hafal kok Mbak. Nanti saya akan hubungi Mbak ketika orang itu datang kemari," ucap karyawan toko itu yang membuat Adis seolah memiliki sedikit harapan.
"Oooh … kalau begitu ini saya kasih nomor saya ya mbak. Kalau sewaktu-waktu Mbak melihat orang itu lagi tolong kasih tau saya segera ya, Mbak. Karena cincin itu amat sangat berarti untuk saya. Kemarin terpaksa saya jual karena untuk kebutuhan mendesak."
Adis memberikan kertas yang sudah bertuliskan nomornya. Setelah itu dia segera pamit dari tempat itu dengan hati yang perih. Dia harus bilang apa ketika suatu saat Beno meminta kembali cincinnya?
.