"Langit? Kamu ada di sini?"
Adis seketika kaget saat melihat langit yang ternyata ada di hadapannya. Dia memang sengaja berdiri tidak jauh dari toko itu untuk mengamati gerak-gerik Adis. Sekarang dia tahu, kenapa Adis terburu-buru pulang. Ternyata dia hanya ingin mengembalikan cincin pemberian dari Beno.
"Iya. Kenapa? Nggak boleh?"
"Ngapain? Mau beli anting? Kamu mau pakai anting? Hah?"
"Membuntuti kamu lah."
"ET dah, ini bocah. Ngeles kek, polos amat jadi makhluk."
"Kenapa kamu ingin kembali membeli cincinnya?"
"Ya kamu tahu sendiri kan seperti apa bos kamu? Aku terlanjur bilang kalau cincinnya masih ada. Padahal sebenarnya aku memang sudah menjualnya, untuk kebutuhan sehari-hari juga buat bayar cicilan mobil."
Adis menunduk. Sedih rasanya mengingat nasibnya sekarang ini. Kenapa dia harus terjebak dalam masalah seperti ini? Sekarang dia sudah 24 tahun. Tetapi dia tidak punya tabungan sedikitpun. Pekerjaan juga cuma sebagai admin. Apa yang harus dia banggakan dengan dirinya saat ini? Tak ada. Tak ada sama sekali yang bisa dibanggakan.
Sang ibu selalu menginginkan dia menjadi pekerja kantoran. Memakai pakaian rapi dan bersepatu setiap pagi. Itu yang diinginkan oleh ibunya, dan sekarang … dia harus bilang apa sama ibunya. Pekerjaan alakadarnya, tabungan tak punya, malah punya tanggungan cicilan mobil. Orang yang dia sayang juga sudah menjadi milik orang lain. Benar-benar lengkap penderitaannya.
"Enggak usah sedih. Nanti aku bantuin nyari. Nanti kasih tahu aku aja model cincinnya seperti apa. Temenku ada kok yang menerima request perhiasan emas. Kita bisa pesan sesuka hati kita. Gramnya juga bisa disesuaikan."
"Bisa?"
"Bisa lah. Sudah enggak usah manyun begitu. Hidup kamu sudah susah. Nggak usah dibikin susah lagi. Pulang ya sekarang?"
"Alhamdulillah. Syukur deh kalau ada yang bisa. Aku pengen cepat-cepat mengembalikan cincin itu. Aku nggak ingin ada sangkut-pautnya lagi diriku dengan dirinya. Dia sudah benar-benar sombong sekarang. Yuk, pulang!"
"Pulang ke mana?"
"Ke rumah lah."
"Rumah kita?"
"Rumah kita? Kita? Kapan kita punya rumah berdua. Jangan halu, Langit. Sono pulang. Lagian kurang kerjaan banget mengikutiku."
"Habisnya kamu menghawatirkan. Takutnya patah hati terlalu dalam karena sebentar lagi mantan mau menikah. Terus lompat deh or got. Aku nggak mau itu terjadi."
Ingin rasanya Adis mengumpat. Kenapa harus dipertegas kalau sebentar lagi Beno akan menikah? Huft … laki-laki di hadapannya itu memang sering menyebalkan.
"Males ah ngomong sama langit. Aku pergi dulu. Bye!"
"Kamu nggak mau lompat kan?"
"Bukan urusan kamu!"
"Kalau kamu lompat aku akan sedih."
"Karena nggak ada yang bikin toko kamu laris kan? Aku tahu!"
Adis berteriak, kemudian menjulurkan lidahnya dan segera masuk ke dalam mobil.
Langit tertawa. Jantungnya berpacu dengan cepat. Sungguh, dia merasa seperti anak SMP lagi. Rasanya bahagia melihat wanita 24 tahun itu menjulurkan lidahnya sambil tertawa. Tawa itu membuat dadanya berdesir.
"Kurasa ku benar-benar sudah gila. Cuma lihat dia menjulurkan lidahnya saja masa udah bahagia begini."
Langit mengusap rambutnya kasar, lalu dia segera masuk ke dalam mobilnya.
***
Kata orang, orang jahat itu terbentuk dari orang baik yang tersakiti. Mungkinkah itu yang terjadi pada Beno? Laki-laki itu sudah berbeda 180 derajat dari 3 tahun yang lalu.
Dulu, Adis sama sekali tidak pernah dibentak. Jangankan dibentak, ngomong agak keras aja dia tidak pernah. Beno adalah laki-laki yang paling menyayangi Adis saat itu. Bahkan menurut Adis, laki-laki itu adalah cinta pertamanya yang memberi dia cinta yang tulus melebihi cinta bapaknya sendiri.
Namun sekarang, dia menjadi pribadi yang paling kasar pernah dia temui. Bahkan, Beno sampai tega menampar Adis di hadapan kekasihnya. Sakit, benar-benar sakit tak berdarah.
Adis memandang amplop yang ada di tangannya. Tinggal lima juta dua ratus ribu. Uang gaji dari Beno dan gaji dari Langit tinggal segitu setelah digunakan untuk kebutuhannya. Apakah ini cukup untuk membeli cincin lagi? Kalaupun itu cukup, bagaimana dia makan sehari-hari? Bagaimana dia membeli bahan bakar untuk mobilnya?
Adis ingin segera menemukan cincin itu, kalaupun tidak, semoga teman Langit bisa membuatkan yang sama persis. Kalau sudah, dia akan melemparkan cincin itu ke depan muka Beno. Ya, dia harus melemparkan cincin itu ke depan mukanya supaya dia tidak belagu lagi.
"Dis, Adis. Buka pintu! Lo belum tidur kan?"
Suara serak Nana yang disertai dengan gedoran pintu benar-benar mengganggu telinga Adis. Wanita itu segera menyimpan amplopnya di bawah tumpukan baju di dalam lemari, kemudian segera membuka pintu. Berisik.
"Apaan sih, Nano. Lo nggak bisa apa ngebiarin gue tenang sedikit!" Padahal baru saja membuka pintu, Adis sudah nyemprot penuh kekesalan.
"Ada nyari Lo."
"Siapa? Cowok?"
Nana menganggukkan kepalanya malas. Karena Sebenarnya dia sudah mengantuk padahal baru jam 7 malam. Maklum, hari ini dia lembur sampai jam 06.00 malam.
"Ganteng nggak?"
"Adis lo jangan banyak tanya deh kayak wartawan. Sono cepet temuin!"
"Siapa sih?"
"Mana gue tahu. Cepet temuin!"
"Oke."
Nana segera melesat pergi, sedangkan Adis segera keluar dan menemui tamu untuknya. Tamu itu menunggunya di teras yang sebenarnya jarak beberapa langkah saja dari kamar Adis.
Jantungnya berdetak dengan begitu kencang saat tahu siapa yang datang. Darahnya seakan mendidih. Laki-laki itu, orang yang tidak ingin ditemui lagi seumur hidupnya. Kenapa dia bisa ada di sini? Kenapa dia bisa tahu tempat di mana Adis tinggal.
Adis berniat untuk kembali ke kamarnya, tapi laki-laki paruh baya itu mencegahnya.
"Adis, tunggu! Jangan pergi! Papa hanya ingin bicara. Duduklah! Papa janji tidak akan lama."
Adis membuang nafas kasar. Yah, mungkin sekali-kali dia perlu berbicara dengan laki-laki itu. Dia membalikkan badannya, kemudian duduk di sampingnya dengan jarak.
"Adis, Papa_"
"Jangan sebut diri anda sebagai papa. Karena sejak anda meninggalkan Mama saya dan pergi dengan wanita lain, aku sudah tak punya Papa. Papaku sudah mati sejak itu."
Adis berbicara dengan suara bergetar. Masih teringat jelas di ingatannya saat sang Papa pulang dengan seorang wanita. Saat itu dia memang masih SMP waktu itu, tetapi dia sudah lebih dari tahu kalau itu menyakitkan. Apalagi saat dia melihat mamanya yang menangis dan menahan nya untuk tidak pergi, tapi laki-laki yang sudah tertutup mata hatinya itu tetap pergi meninggalkan mamanya, dirinya dan adiknya yang masih kecil tanpa belas kasihan.
Sejak saat itu, dia membenci papanya sampai saat ini. Dia sudah menganggap laki-laki itu mati.
"Adis, sampai kapan pun kamu tetap anak Papa. Kamu tinggal di kos an ini?"
"Kenapa? Panas? Terlalu kotor? Terlalu kecil? Ini lebih baik daripada aku tinggal di rumah mewah Anda. Sampai kapanpun aku takkan sudi."
Adis menunduk dengan kedua tangan mengepal. Rasanya dia ingin melayangkan kepalan tangan itu ke mukanya. Tapi entahlah. Rasa benci yang mendalam bercampur dengan rasa rindu dekapan seorang papa, membuat dia sakit.
"Sampai kapan kamu akan membenci Papa seperti ini?"
"Selama aku masih bernafas, Aku akan terus membenci Anda. Karena anda sudah menyakiti hati ibu saya dan meninggalkan kami tanpa belas kasihan. Tidak salah kan kalau saya benci terhadap Anda?"
"Maafkan Papa, Nak."
"Stop panggil diri anda sendiri dengan sebutan papa!"
Adis masih menatap ke depan dengan mata berkaca-kaca. Dia berteriak. Dia tak mau lagi mendengar kata-kata itu. Karena itu sangat menyakitkan baginya.
Bertahun-tahun Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia sudah tidak memiliki papa. Dia selalu berusaha untuk menghindari laki-laki itu, tetapi kali ini dia datang begitu saja.
"Baiklah. Saya ke sini ini hanya untuk memberikan kamu ini. Semoga ini bisa bermanfaat untuk kehidupan kamu beberapa bulan kedepan. Saya dengar, kamu menyerahkan materi ke saingan bisnis Beno karena uang. Adis, kamu tidak perlu melakukan itu. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu tinggal menghubungi saya dan saya akan berikan berapapun yang kamu mau. Kamu juga tidak perlu capek-capek bekerja. Kamu bisa bekerja di perusahaan saya."
Saat itu, darah Adis mendidih. Darahnya seakan naik ke ubun-ubun. Wanita itu mengatupkan bibirnya sehingga menimbulkan bunyi gemeletuk.
Adis mengambil uang yang disodorkan oleh Pak Herman dengan kasar, lalu membantingnya dengan keras ke lantai.
"Bapak Herman yang terhormat, Saya tidak memerlukan uang dari anda. Saya masih bisa bekerja dengan tangan saya sendiri. Soal materi itu, apakah Anda masih bisa menyebut diri sendiri sebagai Papa saya, kalau sama saya saja tidak percaya. Kalau Anda benar-benar Papa saya, pasti tahu saya seperti apa. Pergi dan jangan pernah menampakan diri di depan saya lagi. Karena saya tidak akan pernah mau bertemu dengan anda sampai kapanpun! Jangan urusi kehidupan saya, adik saya dan ibu saya. Cukup urus wanita jalang itu!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Adis, membuat perempuan itu hampir terhuyung. Air mata tumpah begitu saja membanjiri pipinya. Adis memegangi pipinya dengan air mata yang mengalir.
"Woe, jangan kurang ajar ya tampar orang seenaknya!"
Tiba-tiba, Langit datang dan hendak melayangkan pukulannya ke muka Pak Herman, tetapi Adis langsung mencegahnya.
"Udah, biarin aja. Mungkin dia puas dengan melakukan itu. Sekarang bawa aku pergi dari sini," ucap Adis masih dengan air mata yang terus mengalir.
Adis segera menggelandang lengan Langit menuju ke mobil. Sampai saat itu, air matanya belum berhenti mengalir.
"Kita mau ke mana?"
"Kemanapun. Terserah kamu asal nggak ada disini."
Langit mengangguk, lalu segera meluncurkan mobilnya, entah kemana.
Sementara di depan kos Adis, Pak Herman masih menatap telapak tangannya sendiri dengan mata nanar.
"Apa yang sudah aku perbuat ini? Aku ingin membantunya dan ingin kembali akrab seperti dulu, seperti layaknya hubungan ayah dan anak. Tetapi kenapa berakhir seperti ini? Maafkan Papa, Nak. Maafkan, Papa," ucap Pak Herman yang saat itu masih memandang telapak tangannya.
***
Adis dan Langit duduk di bangku taman yang ada di trotoar. Adis sengaja ingin turun di sana. Karena dia tidak tahu harus pergi ke mana sebenarnya.
Langit memberikan minuman kaleng ke Adis. Mungkin minuman dingin itu bisa mendinginkan kepalanya.
"Terimakasih," ucap Adis lembut. Air matanya sudah mengering, tetapi masih terlihat sembab.
"Are you O.K?"
"Pengennya bohong dengan bilang aku baik-baik saja, tetapi aku sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak pernah baik-baik saja setelah bertemu dengan laki-laki itu. Aku nggak bisa baik-baik aja, Langit. Nggak bisa."
Baru saja mengering, kini air mata itu kembali turun ke pipinya. Dia menunduk, dan benar-benar tidak mampu menahan air matanya.
"Boleh aku tahu siapa dia?"
"Dia itu … dia itu … mantan suami Mama aku."
"Mantan suami Mama kamu? Berarti dia ayah kamu?"
"Sejak kejadian belasan tahun yang lalu, Aku tidak mau menganggap dia sebagai ayah. Aku menganggap dia sudah mati, tapi tiba-tiba dia muncul di hadapanku. Aku tidak mau lagi bertemu dengannya. Dia orang jahat, dia benar-benar jahat."
Langit meraih bahu Adis, dia merangkulnya, dan menepuk-nepuknya perlahan bentuk kasih sayang.
Langit seolah bisa merasakan rasa sakit hati Adis. Bagaimana tidak. Seorang ayah tega melempar anak perempuannya sendiri dengan begitu keras seperti apa yang dia lihat. Dia yakin, Adis tidak mungkin membenci ayahnya sebesar itu jika kesalahan yang dilakukan oleh ayahnya tidak fatal.
Meskipun hanya karena beberapa bulan, langit tahu seperti apa karakter adis. Saat ini, dia tahu kalau Adis sedang rapuh. Dia bahagia, karena berada di samping Adis saat perempuan itu butuh teman.
"It's O.K. kamu boleh membenci siapapun yang berbuat jahat kepadamu, tetapi jangan sampai rasa benci itu merusak dari kamu sendiri. Jangan sampai rasa benci itu merusak mood-mu. Jangan sampai rasa benci itu mengubah kamu menjadi wanita yang berbeda."
"Aku tahu batasan kok. Tenang aja."
"Kau boleh kok menyadarkan kepalamu di bahuku, nggak usah malu dan gengsi. Lakukan saja jika itu membuatmu nyaman."
Adis tidak menyahut apa-apa. Dia malah terisak semakin keras. Ditutupnya wajah yang basah itu dengan kedua telapak tangan. Rasanya masih sakit saat dia tahu bahwa Pak Herman yang masih mengaku sebagai ayahnya, percaya bahwa Adis memang berhianat dengan perusahaan Wijaya Advertising demi uang. Kekecewaannya benar-benar berlipat sekarang.
Langit kembali meraih punggung Adis, dan mendekap wanita mungil itu dalam pelukan hangatnya. Adis menangis sesenggukan dalam pelukan itu. Pelukan yang sebenarnya benar-benar membuat dia nyaman.
"Langit, kau tahu. Dia datang hanya untuk menunjukkan padaku bahwa dia percaya dengan fitnah itu. Dia percaya kalau aku rela menjadi penghianat perusahaan karena uang. Dia menamparku karena aku menyebut selingkuhannya dengan sebutan wanita jalang. Apakah aku salah? Apa sebutan yang pantas untuk wanita yang sudah merebut suami orang? Apa salah jika aku marah padanya?"
Adis berbicara dengan terbata-bata disela Isak tangisnya. Isak tangis itu benar-benar membuat hati langit ikut pilu. Dia mengelus pelembut rambut wanita yang saat ini sangat dicintainya.
Entahlah, setiap dia bertemu dengan adis, perempuan itu selalu mengalirkan air matanya. Dia selalu dalam keadaan sedih. Hal itu membuat langit berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa dia akan membahagiakan Adis, dan tidak akan membiarkan air mata duka dan kesedihan mengalir lagi ke pipi mulusnya.