Beno terdiam saat mendengar kata-kata Adis. Mungkin kata-katanya memang terdengar sederhana, tapi bagi Beno memiliki makna yang begitu dalam.
Entah kenapa, dia merasa bahwa ucapan adis seperti ucapan perpisahan. Laki-laki itu tertunduk, bingung harus menanggapi apa.
"Em … sepertinya aku harus pergi. Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian benar-benar akan bahagia."
Adis berusaha untuk tegar saat mengucapkannya, tetapi ternyata dia gagal. Saat ini matanya telah basah, dan dia buru-buru pergi meninggalkan Beno sebelum air mata itu benar-benar lirih ke pipinya.
"Permisi, Assalamualaikum."
"Waalaikum Salam."
Adis telah pergi, meninggalkan apartmentnya, dan yang paling terasa adalah, Adis akan meninggalkannya. Meninggalkan raganya dan juga meninggalkan hatinya.
Bohong kalau di hatinya tidak ada Adis lagi. Tentu saja masih ada. Bagaimanapun dia mencoba untuk mengelak, tetap saja Adis menjadi penghuni tetap di sana sampai dia hampir resmi menjadi suami orang. Dia telah mencoba membunuh rasa itu berkali-kali. Namun faktanya, Zonk. Apalagi setelah kejadian dengan Zoyyas.
Beno membuang nafas kasar, lalu diambilnya cincin yang baru saja dikembalikan oleh Adis. Lalu dipandangnya sambil tersenyum.
"Aku pernah berjuang untuk mendapatkanmu demi untuk membahagiakan orang yang aku sayang. Tapi ternyata aku bukan satu-satunya waktu itu. Tapi, terima kasih sudah menjadi saksi perjalanan cintaku dengannya waktu itu. Mungkin memang berat, tapi aku harus melupakanmu, juga dia yang selama ini menyimpanmu."
Beno menatap kembali sejenak, lalu berjalan ke arah tempat sampah, dan membuang cincin itu di sana.
"Good bye, Everything about you, Adis."
***
H-4. Benar-benar H-4 pernikahan Beno. Adis semakin tidak bisa konsentrasi bekerja. Pikirannya mengembara ke mana-mana. Kenapa ikhlas itu rasanya sulit? Kenapa ikhlas itu tidak semudah mengucapkannya.
Andai saja ada penghapus yang bisa menghapuskan rasa cinta, pasti artis akan membelinya tanpa pikir panjang. Dia ingin menghapus rasa cinta yang tetap ada dari dulu sampai sekarang.
"Mikirin mantan Sampai bengong begitu. Makan dulu gih … tuh … nasi kuning sudah melambai-lambai."
Minggu pagi, langit sudah datang ke toko sambil membawa nasi kuning. Cuma dua bungkus saja, untuknya dan untuk Adis. Tidak peduli meskipun diprotes anak setoko. Yang penting dia bisa memastikan adis makan di saat-saat seperti ini. Lebih baik datang membawa makanan kan, daripada hanya bertanya sudah makan atau belum?
"Eh … enggak. Siapa yang mikirin mantan sih. Nggak sama sekali. Cuma mikirin konten aja. Enaknya bikin konten apa lagi yang bisa menarik penonton. Jangan sotoy deh jadi orang."
Adis mengerucutkan bibirnya. Pura-pura kesal. Padahal tebakan Langit selalu benar tak pernah meleset.
"Ya udah nggak usah sewot. Tapi harus makan. Ayo makan dulu. Nggak usah sok seperti cewek normal deh, Kalau makan harus ke bujuk-bujuk dulu."
Adis yang tadinya cemberut, langsung tertawa mendengar ucapan langit. Iya, ya. Kalau di bujuk-bujuk untuk makan begini seperti cewek-cewek normal. Padahal biasanya dia makan 2 bungkus aja hayuk.
"Kok tertawa?"
"Kau memang badut, jadi sering buat aku tertawa."
"Ya udah, karena aku sudah membuat kamu tertawa, sekarang aku mau minta hadiah."
"Hadiah? Apaan?"
"Makan! Hadiahnya kamu harus makan. cepetan!"
"Nggak mau."
"Makan, Tom."
"Nggak mau, Dut!"
"Kamu pilih makan atau aku cium. Ayo pilih."
"Cium aja, Nih."
Adis sengaja menyodorkan pipinya. Bukan, tentu saja bukan karena adis genit. Tapi karena Adis tahu laki-laki seperti apa Langit. Jadi dia berani melakukan itu.
Langit langsung menggaruk tengkuknya, salah tingkah. Kemudian dia segera berdiri dari duduknya.
"Enggak mau makan ya sudah. Kalau laper, sakit, aku nggak mau tanggung."
Langit segera jalan terburu-buru menuju ke lantai atas.
"Oe, katanya mau cium. Nih … "
Adis berteriak sambil tertawa lebar. Langit … Langit … lucu banget sih dia. Dia selalu berhasil membuat adis tertawa dengan hal-hal kecil dan hal-hal konyol yang dia lakukan.
"Kok masih ada laki-laki seperti itu di dunia ini," ucap Adis sambil geleng-geleng kepala. Kemudian, dia menatap nasi kuning yang ada di hadapannya. Dia tersenyum. Ah … setelah melihat tingkah langit, tiba-tiba nafsu makannya muncul kembali. Dia segera cuci tangan dan melahap nasi kuning yang dibelikan oleh Langit, sampai habis tak tersisa. Diam-diam, langit mengamatinya dari atas dan tersenyum. Dia lega karena akhirnya adis mau makan.
Laki-laki itu mengambil handphonenya, tampak menghubungi seseorang.
"Halo, bisa ke toko gue nggak? Sekarang. Oke. Aku tunggu."
Klik. Sambungan telepon dimatikan. Langit segera masuk ke kamarnya. Siap-siap.
30 menit kemudian, Santi datang ke toko. Dia berteriak sambil berlari menghampiri Adis, seperti saat mereka masih kuliah dulu.
"Adiiiiiis."
"Oe Santo. Lo ngapain ke sini?"
Adis berdiri dari duduknya, menghampiri Santi, dan mereka saling berpelukan.
"Di telfon sama calon pacar Lo. Katanya lulo butuh hiburan."
"Calon pacar? Si badut?"
"Badut?"
"Hooh. Si badut Langit. Hahahaha." Adis tertawa.
"Yuk?"
Tiba-tiba Langit udah sangat rapi, memakai jeans hitam dan kaos putih oblong. Serta sneaker putih yang membuatnya tampak lebih keren.
"Yuk ke mana?" tanya Adis bingung.
"Calon pacar lo belum bilang kalau kita mau keluar?" tanya Santi. Sengaja menggoda. Dia tahu sekarang Adis belum ada perasaan apa-apa dengan Langit. Tapi itu tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat nanti mereka bisa bersama. Santi akan ikut senang kalau itu terjadi.
"Apaan calon pacar? Dia? Makhluk ini?"
Adis menatap langit yang akhirnya membuat laki-laki itu salah tingkah.
"Alah, aku tahu kau berharap. Udah sana ambil tas. Kita keluar bareng-bareng."
"Beneran kita mau keluar? Jadi aku libur nih pak Boss?"
"Iya. Cepetan!"
"Siaaap."
Adis segera melesat menuju ke loker, ganti baju, dan mengambil tasnya. Ah … liburan di saat suntuk bersama dengan sahabat lama memang seperti menemukan oase di tengah padang pasir. Segerrr.
"Lo suka sama dia kan?" tanya Santi saat dia menatap langit yang menatap Adis dengan tatapan yang berbeda.
"Hmmm … aku suka sama dia. Meskipun dia cengeng, meskipun dia ceroboh, meskipun dia suka berantakan, tapi dia adalah wanita tanpa kepura-puraan. Kecuali pura-pura bahagia, dia sering melakukan itu. Apalagi saat ini, mantannya mau menikah kan? Aku tahu dia sedih dan selalu menyembunyikan rasa sakitnya. Itulah kenapa aku manggil Lo. Supaya dia bisa sedikit terhibur."
Langit masih menatap tangga meskipun punggung adis sudah tidak lagi terlihat.
"Sebenarnya dia wanita baik, tapi dulu aku sempat membencinya karena dia mendua dari Beno. Tapi sekarang aku tahu kok, dia tidak berniat mendua waktu itu. Dia hanya ingin disepesialkan oleh orang yang dia sayang. Kalau lo memang pingin meraih hatinya, buatlah dia merasa spesial. Tidak harus selalu mewah, boleh lah sesekali. Itu sudah membuat wanita bahagia."
"Lo mau bantu gue?"
"Sure. Lo sama dia, sama-sama sahabat gue. Gue pasti bisa bantu."
Langit tersenyum, berharap Santi benar-benar bisa membantunya. Bukan hanya untuk mendekati Adis, tetapi juga mendapatkan hatinya, dan yang paling penting menghapus luka yang selama ini masih ada.