Yang di sana sibuk menyiapkan pernikahan, sedangkan yang di sini sibuk menyiapkan hati. Disiapkan betul-betul, supaya nggak oleng.
Kau tak bisa bilang bahwa menangis karena pernikahan mantan itu hal lebay. Tak bisa sebelum kau pernah mengalaminya sendiri. Kau tidak tahu mimpi-mimpi yang pernah dibangun berdua hingga akhirnya roboh mengenai tubuhnya. Dia ikut hancur lebur bersama mimpi-mimpi itu.
Waktu itu, Santi dan Langit sengaja mengajak Adis pergi ke mall. Mungkin dengan cara itu, Adis bisa sedikit melupakan mantan kekasihnya yang sebentar lagi akan menikah.
"Dut, laper."
Baru saja dia menginjakkan kaki ke mall, sudah mengeluh lapar. Santi tertawa mendengarnya. Ternyata sahabatnya yang satu itu tetap seperti dulu dan tidak berubah.
"Sekarang udah bisa ngerasain lapar? Ya udah ayo kita makan dulu. Mau makan apa?"
"Sea food."
"Oke. Di mall ini ada resto sea food yang enak. Ayo!"
"Asyeeek. Ayo!"
Adis mencubit lengan baju Langit, kemudian menariknya menuju ke resto seafood yang dimaksud Langit.
"Kebiasaan deh narik orang pakai lengan begini. Bajuku lusuh nanti," protes langit. Namun dia tetap menurut.
"Nggak apa-apa. Tetap cakep," ucap Adis Santai seolah dia tidak baru saja mengucapkan apa-apa. Padahal saat itu jantung langit berdetak dengan begitu kencang. Deg-degan tak karuan.
"Udah dari lahir," jawab Langit untuk menutupi rasa groginya.
"Woe kalian jangan asyik ngobrol dan menganggap aku makhluk astral ya?" Santi yang ada di belakang mereka langsung protes sambil menyunggingkan senyum. Ia pura-pura kesal, Padahal sebenarnya dia sangat bahagia melihat dua sahabatnya akur dan berharap kalau mereka berdua memang berjodoh.
"Sungguh gue nggak inget kalau di sini ada Lo," ucap Adis diselingi dengan gelak tawa. Santi hanya bisa mendengus kesal.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di resto seafood di mall tersebut. Seperti biasa, adis selalu pesan makanan yang nggak kira-kira. Ada cumi hitam, udang pedas manis, ada kepiting dan juga kerang.
"Ya Ampun kudis, Lo masih sebar-bar ini makannya."
"Mumpung ada pak Boss, nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan," ucap Adis, kemudian memasukkan cumi hitam ke mulutnya.
Langit hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Oh iya, Lo udah bertemu Jordan lagi?"
"No. Nggak pernah. Pokoknya setelah gue mengembalikan semua barang-barang yang sudah dia berikan ke gue, nggak pernah ketemu lagi."
Langit mengerutkan keningnya, Jordan? Oh … Mungkin Jordan yang lain.
"Lo nggak pernah ketemu di rumah langit? Jordan kan sepupunya Langit. Lo nggak tahu?"
Langit yang saat itu menelan kerang tiba-tiba tersedak. Dia langsung mengambil orange juice yang ada di sampingnya.
"Eh Dut, hati-hati dong!"
Adis menepuk-nepuk punggung Langit, supaya segera reda batuk-batuknya.
Tuh kan, punggungnya yang ditepuk, hatinya yang berantakan. Kebiasaan deh seperti itu.
Ya, tentu saja Langit kaget. Ternyata Adis pernah dekat dengan Jordan. Sepupunya. Dan dia … Dia sekarang dekat dengan Rossi. Ya, lebih tepatnya, Jordan adalah selingkuhan Rossi. Itu asumsinya berdasarkan foto yang dia dapat dari orang yang dia suruh.
Apakah dunia memang sesempit ini? Ataukah memang ada unsur kesengajaan di sini? Mungkinkah sekebetulan itu?
"Udah aku nggak apa-apa," ucap Langit setelah menenggak minumannya sampai tandas.
"Eh bentar deh. Jadi, Langit ini sepupunya Jordan? Serius Dut?"
"Iya. Dia sepupuku. Dan ternyata kau kenal. Aku pun tak tahu itu."
Langit menggaruk-garuk tengkuknya.
"Jadi kamu nggak tahu kalau Langit itu sepupunya Jordan?" Santi menatap mereka berdua bergantian.
"Nggak, San. Baru tahu dari kamu."
"Andai kau tahu, dulu Jordan itu musuh bebuyutan Beno. Karena makhluk ini nih. Sepupu kamu itu pernah cinta mati sama Adis. Sudah tahu adik punya pacar, dia malah menjadi orang pertama yang ada saat makhluk ini sedih karena Beno yang terlalu koret waktu itu."
Santi tidak melebih-lebihkan. Dulu Jogja memang sesayang itu dengan Adis.
Adis tertawa saat mengingat itu semua. Ya, perjalanan cinta yang dulu memang mengsedih. Dapat cowok yang amat sangat baik, tetapi dia pelit. Giliran cowok itu udah nggak pelit lagi, eh … dia sudah milih yang lain dan nggak mau sama dia. Hidup kadang memang selucu itu jika dikenang.
"Apaan sih. Nggak usah mengungkit-ungkit masa lalu. Oh iya, bagaimana kabarnya sekarang?"
"Em … Baik. Dia baik. Dia memimpin salah satu perusahaan Bapaknya." Langit menjawab terburu-buru sambil tersenyum kaku.
Sebenarnya ada yang sedang dia pikirkan. Bagaimana kalau adis sampai tahu kalau ternyata Rossi itu selingkuh dengan Jordan? Sepupunya? Apakah itu akan merubah pandangan Adis terhadap dirinya?
'Aku harus segera menemukan titik terang ini semua. Benarkah Rossi selingkuh dengan Jordan? Benarkah Jordan pernah dekat dengan Adis? Berarti dulu ada sesuatu antara Jordan dan Beno. Mereka pernah bermusuhan? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi? Apakah Jordan ada di balik Rossi dan Beno?"
Langit menusuk-nusuk cuminya dengan garpu, tetapi pandangannya menerawang. Ah … dia benar-benar tidak bisa tenang karena hal ini.
"Dut, kamu kenapa sih? Kenapa tiba-tiba kamu diam kayak anak perawan yang ditawari untuk nikah?"
"Emang anak perawan kalau ditawarin untuk nikah diam ya?"
"Kata orang tua sih begitu."
"Aku mau tes kalau gitu," ucap Langit sambil memberanikan diri untuk menatap Adis.
"Tes apaan?"
"Tom, nikah yuk?"
Langit menatap Adis dengan tatapan yang dalam. Dia melawan dirinya sendiri dan melawan jantungnya yang berdetak dengan begitu kencang.
"Hah?" Adis terdiam sambil membuka mutnya lebar. Jantung Adis waktu itu ikut berdetak kencang. Dia deg degan hebat waktu itu. Sebenernya makhluk itu bercanda atau serius? Kenapa tatapannya dalam seolah dia serius mengatakannya dari hati? Adis bertanya-tanya dalam hati.
Beberapa detik kemudian, langit tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Ya, dia akan membuat kesan seolah-olah itu adalah sebuah candaan. Padahal, itu benar-benar datang dari hatinya. Dia ingin menikah dengan adis. Agar dia bisa mengobati luka hatinya pelan-pelan. Agar dia, bisa membantu mewujudkan mimpinya perlahan.
"Ih Dut, jantungku udah mau copot gara-gara kamu. Kirain serius?"
Adis memukul-mukulkan tangannya ke punggung Langit. Kesal.
Santi yang ada di hadapan mereka ikut tertawa lebar. Apalagi melihat raut muka Adis yang tadinya benar-benar terlihat shock. Tapi, menurut Santi mereka cocok. Tidak ada salahnya juga kalau dia membantu Langit untuk mendekati Adis. Lagi pula, dia juga menginginkan yang terbaik untuk sahabatnya. Sahabat yang dulu pernah terpisahkan karena dia yang juga terlalu mencintai Beno. Untunglah, Dia segera sadar kalau Beno memang tidak akan pernah bisa mencintainya. Hingga akhirnya sekarang tidak menemukan belahan hatinya, seseorang yang saat ini sudah menjadi suaminya.
"Ternyata benar apa yang kamu bilang. Anak perawan kalau ditawarin mau nikah itu diem. Kayak kamu tadi," ucap Langit masih diselingi dengan tawa.
"Ngeselin banget sih. Awas nanti aku aduin ke Bu Ranti." Adis cemberut. Dia masih berusaha untuk meredam jantungnya yang tetap berpacu dengan begitu cepat. Sudah tahu kalau Langit suka bercanda, kenapa kamu masih berisik begini, wahai d**a?