"Aku nggak bilang apa-apa. Cuma menggerakkan bibir doang" jawab Langit pura-pura santai. Dia membenahi letak duduknya yang sebenarnya nyaman-nyaman saja.
"Nggak, kamu ngomong sesuatu tadi."
Adis terus mengejar Langit dengan pertanyaan. Karena dia dengar betul apa yang diucapkan oleh langit. Dia tidak mungkin salah dengar, kan? kebiasaan banget makhluk ini, membuat Adis baper kemudian pura-pura nggak ngomong.
"Katanya nggak mau denger apa-apa. Kok denger?"
"Aku tanya serius, Dut. Kamu ngomong apaan?"
"Nanti saja kalau waktunya sudah tepat, aku ulang lagi kata-kata Aku hari ini. Pulang yuk? Bukankah kamu harus mandi bunga 7 rupa dulu supaya shining shimmering Splendid."
"Kebiasaan banget sih anaknya Bu Ranti. Ngeselin, nyebelin, bikin Gedeg, bikin emosi," ucap Adis sambil memukul-mukul punggung Langit. Sontak, Langit berusaha melindungi punggungnya dengan kedua tangan. Kemudian, laki-laki berbelah dagu itu berdiri dan segera berlari. Sedangkan Adis, mengejarnya dan berusaha untuk memukul punggungnya.
Ya Ampun, bahkan umur mereka sekarang sudah 26 dan 24 tahun. Kenapa mereka bertindak seolah-olah mereka masih anak SMA? Kejar-kejaran nggak jelas sambil ketawa-ketiwi.
Sudahlah. Yang terpenting bagi Langit sekarang, perhatian Adis sedikit teralihkan.
Mereka tertawa lepas. Mereka berdua sama-sama sangat bahagia waktu itu. terkadang, kita harus menjadi orang yang sedikit aneh untuk bisa membahagiakan diri kita sendiri. Seperti saat ini. Pasti jika ada orang yang melihat, mereka berdua akan menjadi bahan gunjingan. Namun, peduli apa mereka? Yang penting mereka bisa bahagia.
"Stop! Capek … "
Langit langsung duduk di tepi danau dengan nafas ngos-ngosan. Begitu juga dengan Adis, Dia segera ambil posisi di samping Langit juga dengan nafas yang ngos-ngosan. setelah sekian lama tidak lari-larian, Ternyata lari-lari sedikit saja sudah membuat nafas mereka seakan habis.
"Pulang sekarang ya? Sudah sedikit lebih tenang kan?"
"Hmmm … "
Adis mengangguk dan tersenyum tipis meskipun saat itu nafasnya naik turun karena kecapean. Langit selalu berhasil menenangkan dirinya, sehancur apapun keadaannya saat itu.
"Janji sama aku kamu nggak akan menangis di sana nanti."
"Nggak bisa."
"Janji dulu. Aku nggak mau dampingi kalau kamu nggak janji."
"Apakah kau tahu, air mata itu tak bisa ditahan, Dut. Air mata itu tidak seperti kentut yang bisa ditahan. Aku enggak bisa janji, tapi kalau kamu terus mendampingi aku disana, aku bisa usahakan agar air mataku tidak keluar dan aku akan usahakan menjadi makhluk yang paling bahagia nanti."
"Bisa kalau kamu ikhlas. Bisa kalau kamu masa bodoh dengan hubungan mereka. Janji kamu bersikap seolah tegar, jangan sampai merendahkan harga dirimu sendiri disana."
Adis menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ucapan langit memang ada benarnya. Kalau dia mau datang ke sana, dia harus datang dengan elegan dan tidak boleh menunjukkan masih ada rasa di hatinya. Karena jika tidak begitu, pasti dia akan semakin diinjak-injak.
Adis tersenyum, kemudian menggenggam tangan langit yang saat itu menempel ke tanah.
"Temani aku ya? Aku yakin semuanya akan baik-baik saja jika ada kamu."
Langit ikut tersenyum, menutupi rasa groginya.
"Of course."
***
"Semua udah aman?" tanya Langit pada seseorang di handphonenya. Pukul 3 sore, langit sudah rapi memakai setelan jas abu-abu. Dia benar-benar tampak begitu tampan. Laki-laki itu bersandar di mobilnya yang sudah terparkir di depan kost Adis. Dia ingin tampak tampan dan sempurna. Bukan karena ingin menjadi pusat perhatian, tapi karena dia ingin Adis bangga sudah datang sama laki-laki ganteng dan keren seperti Langit.
"Aman, Pak Langit. Semuanya kan beres."
"Oke. Uang akan aku transfer nanti kalau semua udah terbukti beres ya."
"Siap, Jangan dipikirkan masalah itu."
"Kau memang best. Ya sudah, Aku lagi jemput calon. Sebentar lagi akan sampai."
"Baik, Pak."
Sambungan telepon segera dimatikan oleh Langit. Dia tersenyum, berharap semua berjalan sesuai dengan keinginannya.
Beberapa menit kemudian, Adis datang, membuat langit melongo. Sungguh, hari ini Adis tampak begitu cantik dengan mini dress brokat warna lilac yang menampakan kakinya yang jenjang. Riasan tipis di wajahnya membuat dia tampak ayu natural. Langit terdiam untuk beberapa saat. Dari beberapa bulan kenal wanita itu, hari ini adalah Adis versi tercantik menurutnya.
"Kebengonganmu menandakan bahwa kau tak takjub. Iya kan? Cantik banget ya aku hari ini? Terima kasih banyak."
Adis berdiri tepat di hadapan Langit. Dia menaik-turunkan alisnya yang semakin membuat d**a laki-laki itu berdebar. Adis memang sangat pandai memporak-porandakan hatinya.
"Iya. Cantik. Jadi pengen nikahin," ucap Langit asal ceplos aja.
Tangan Adis langsung melayang ke d**a bidang itu. Ini saat yang paling Adis nggak suka. Di mana langit selalu mengucapkan kata itu. Apa tidak cukup dia membuatnya baper bertubi-tubi tadi pagi?
"Kebiasaan banget sih. Ngomong nggak pernah di filter."
"Hei, jangan gemesin gitu dong. Pipinya memerah banget kaya tomat. Jadi pengen segera bawa ke KUA nih."
Deg deg deg deg … selalu begitu, dan tidak bisa dikontrol. Emang dasar Langit. Mungkin dia tidak mau hatinya porak-poranda sendirian.
"Aish, udah ah … nggak mau denger."
Seperti biasa, Adis segera menutup telinganya dengan kedua telapak tangan, dan segera masuk ke mobil. Sementara langit hanya tertawa melihat tingkah Adis.
'Aku tidak akan berhenti bikin kamu baper, hingga akhirnya kamu memberikan hatimu untukku dan menghilangkan Beno dari hatimu, My Tomato.'
Mereka segera meluncur ke gedung di mana acara pernikahan Beno dan Rossi diadakan. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai. Deg-degan yang tadinya deg-degan karena baper, kali ini berganti menjadi deg degan campur aduk tak karuan. Termasuk deg-degan karena Adis tahu, ini adalah detik-detik di mana Beno akan resmi menjadi milik orang lain dan tidak akan pernah lagi bisa dia harapkan untuk hadir di kehidupannya.
Dia benar-benar harus mengubur impian mereka berdua dulu. Tidak akan ada kata mereka. Yang ada hanya Adis dan Langit yang berjalan sendiri-sendiri
Mereka turun dari mobil, dan Langit sengaja menggenggam erat tangan Adis. Dia tahu wanita itu perlu pegangan. Dia tahu wanita itu perlu seseorang untuk mendampingi dia. Wanita itu … tidak sekuat kelihatannya, dan tidak setegar yang tampak.
"Siap?" tanya Langit. Dia menoleh sambil menyunggingkan senyum terbaik.
"Of course."
"Ayo."
Mereka bergandengan tangan, benar-benar seperti couple beneran. mereka berdua benar-benar serasi. sama-sama good-looking.
Mereka melangkah dengan pasti dan mengisi buku tamu. Namun, saat itu salah satu petugas keamanan menghadang Langit.
"Dengan Pak Langit?" tanyanya.
"Iya, Betul."
"Maaf, Bapak tidak diperkenankan untuk masuk."
Langit dan Adis langsung berhadapan. Mereka sama-sama mengerutkan keningnya. Apa maksudnya? langit sudah mulai bisa mencium bau bau tidak beres, tetapi dia akan terus berusaha untuk mengikuti alurnya.
"Pak, saya tamu undangan dan saya diundang eksklusif sama pak Beno Wijaya. Bagaimana mungkin saya tidak diperbolehkan untuk masuk? saya sahabat Beno Wijaya. Kalau bapak tidak percaya, bapak bisa memanggil kan beno kesini. "
"Saya tidak mungkin membawa mempelai ke sini, Pak. Mohon maaf. Ini perintah langsung dari ibu Rossi, bahwa Bapak langit tidak diperkenankan untuk masuk. Saya hanya bertugas, Pak. Tolong jangan persulit pekerjaan kami."
Langit tertawa, sebuah tawa dari keadaan yang tidak bisa dimengerti. Seharusnya dia tahu bahwa Rossi tidak akan sepasrah itu. Seharusnya dia tahu kalau rosi ketakutan dan akan melakukan segala cara agar pernikahannya berjalan dengan lancar. Namanya ular kan, pasti dia akan mengeluarkan bisanya ketika merasa terancam.
"Pak, tidak bisa begitu dong. Langit ini salah satu manajer di perusahaan Pak beno Wijaya. Dia juga sahabat dekat Beno. Masa tidak boleh masuk?"
"Mohon maaf. Itu sudah perintah dari mbak Rossi. Saya cuma bekerja. Kalau mbaknya boleh masuk, silahkan."
"Pak, kita_"
"Sssstttt … udah. Ikuti aja. Udah."
Adis menarik tangan Langit, membawanya sedikit menjauh dari kerumunan itu.
"Bagaimana aku bisa mengikuti? Aku tidak boleh masuk, Tom. Bagaimana kamu bisa berada di dalam tanpa aku. Aku nggak yakin kamu akan kuat melihat pernikahan mereka."
"Ish, manajer keuangan Kenapa nggak pinter sih. Siapa yang nggak masuk? Kamu tetap akan masuk ke dalam. Tapi aku duluan. Sekarang kamu pergi beli rambut palsu, kumis palsu dan pakai kacamata. Jangan lupa ganti pakaian juga biar tidak terlihat kalau itu kamu."
"Maksudnya?"
"Ya kamu menyamar. Udah, sekarang cepetan kamu ke toko atau mall dekat sini."
Langit tersenyum, lalu menatap Adis dengan tatapan yang takjub. Perempuan pujaan hatinya ini memang benar-benar luar biasa. Dia masih bisa berfikir jernih meskipun dalam keadaan genting. Perempuan yang seperti ini nih yang dia butuhkan.
"Dalam keadaan genting, kamu masih bisa berpikir normal. Thank you, Tom. Ya udah kalau begitu kamu masuk dulu dan aku akan pergi menyempurnakan penyamaran. Nanti jangan kaget ya kalau lihat aku ganteng banget maksimal."
"Yang ada Aku pengen muntah kayaknya. Ya udah sana, jangan lama-lama."
"Oke."