Adis menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Dia memanjatkan doa sambil memejamkan mata, kemudian setelah merasa tenang, dia melangkahkan kaki masuk ke gedung di mana acara pernikahan Beno dan Rossi di adakan.
Ya, tidak apa-apa sendirian karena sebentar lagi Langit akan menyusul. Adis tersenyum kepada beberapa tamu yang kebetulan memandangnya. Lalu, matanya menatap ke arah Beno yang saat itu sudah duduk di depan meja untuk ijan Qabul.
Entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja matanya memanas. Saat ini Beno sedang duduk sendiri dengan memakai pakaian putih di depan penghulu. Beno tampak begitu tampan saat ini. Selama dia mengenal Beno, hari ini adalah Beno versi tertampan. Dia tampak begitu tampan dan tampak cerdas. Pasti dia adalah dambaan semua orang sekarang.
Beno sedang menunggu seseorang untuk mengikat janji selamanya. Ya, Beno sedang menunggu seseorang dan itu bukan dia. Bukan dia seperti apa yang dulu mereka bayangkan. Bukan dia seperti apa yang dulu mereka rencanakan. Ya, bukan dia.
Nyesek? Sakit? Tentu saja. Jangan bilang lebay kalau kau tak pernah merasakannya. Butuh keberanian ekstra untuk datang ke nikahan mantan yang masih kita sayang. Keringat dingin mengucur ke pelipisnya.
Adis memilih untuk duduk, di deretan tamu Yang sepertinya adalah rekan rekan bisnis Beno. Dia memandang laki-laki itu dari kejauhan. Laki-laki yang dulu sempat menyematkan cincin ke jari manisnya. Sebentar lagi dia akan mengucapkan janji di depan penghulu.
Huft …
'All is well, All is well, All is well.'
Adis terus mendengungkan itu di dalam hatinya. Dia yakin semuanya akan baik-baik saja. Dia tidak mau air mata keluar sedikit pun dari sudut matanya. Dia harus ingat apa kata Langit. dia tidak boleh terlihat lemah. Dia harus kuat sekolah dia benar-benar sudah move on dari laki-laki yang sudah memfitnahnya itu.
"Tomat."
Seseorang mencolek bahunya. Adis menoleh dan dia mendapati seorang laki-laki berdiri di sampingnya. Laki-laki dengan jambang tebal dan juga kumis yang tebal. Dipadu dengan kaca mata bulat membuat laki-laki itu benar-benar tampak berbeda. Rambutnya keriting tebal.
Adis tertawa terbahak-bahak karena dia tahu itu adalah Langit. Adis tidak bisa menahan tawanya sampai dia memegangi perutnya. laki-laki itu tidak tampan sama sekali dalam penyebarannya. Benar-benar terlihat aneh, tetapi tidak apa-apa. Asalkan dia bisa masuk, itu sudah bagus.
"Kenapa ketawa sih? Aku ganteng banget ya?" tanya Langit sambil menggaruk-garuk tengkuknya. Sebenarnya dia tidak nyaman dan tidak pede sama sekali, tetapi ya sudahlah. Itu satu-satunya cara supaya dia bisa masuk ke gedung ini, dan ternyata memang benar. Dia bisa lolos masuk dan lolos dari perhatian security itu.
"Hadirin sekalian, mohon perhatian. sebentar lagi ijab kabul akan dilaksanakan. Dimohon seluruh tamu undangan untuk duduk di tempat yang sudah disediakan."
Terdengar suara sang pembawa acara yang membuat hati adis semakin jedag jedug tak karuan. Ya, dalam hitungan menit dan mungkin dalam hitungan detik, Rossi akan datang ke samping Beno. Itu artinya, sebentar lagi mereka akan Fix jadi pasangan suami istri.
"Kamu tunggu di sini dulu ya?" ucap Langit sambil menepuk pundak Adis.
"Kamu mau ke mana?"
"Tenang aja. Aku mau bikin kejutan, buat kamu dan buat semuanya."
"Kejutan apaan sih. Langit, kamu jangan bikin yang aneh-aneh ya?"
"Nggak bakal aneh-aneh, cuma aneh doang. Udah, Kamu duduk di sini aja doain semoga lancar semua rencanaku. I do it for you."
"Langit, kamu mau ngapain?"
"Udah, jangan kepo dulu. See you."
Langit melenggang pergi yang semakin membuat Adis deg-degan tak karuan.
'Ngapain dia? Apa yang akan dia lakukan?'
Saat itu, Langit tersenyum ke arah operator dan mengedipkan sebelah matanya. Dia berjalan lurus menuju ke arah sang pembawa acara. Dia sedang mengobrol kan sesuatu entah apa. Adis hanya bisa mengamati dari jauh.
Disaat yang bersamaan, Rossi datang diiringi oleh dayang-dayangnya. Sungguh, dia tampak begitu cantik dengan balutan dress warna putih yang melantai.
Terlihat Beno yang memandangnya dengan pandangan takjub. Dia tersenyum penuh kekaguman pada wanita yang saat itu sedang berjalan ke arahnya.
Rossi mulai duduk dan saling pandang dengan Beno yang berhasil membuat d**a Adis bergejolak.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat sore semuanya. Oke, Sebelum acara dimulai saya akan memberi kejutan untuk kedua mempelai. Oke maaf, saya harus lepas wig dulu ya? Harus menyamar begini supaya diperbolehkan masuk tadi," ucap Langit sambil melepas semua atribut penyamarannya.
Saat itu, raut muka Rossi langsung berubah. Dia langsung diliputi ketakutan, kekhawatiran dan kepanikan.
'Kurang ajar si Langit. Dia sudah lolos dari pengawasan? Apa yang akan diperbuat? Aku tidak akan pernah memaafkan dan tidak akan pernah melepaskannya kalau sampai dia membuat kegaduhan.'
"Sayang, itu kenapa sih sahabat kamu berada di sana dan harus menyamar begitu? Feelingku nggak enak deh, Sayang. Jangan-jangan dia melakukan hal yang aneh-aneh. Pasti dia berniat untuk menghancurkan pesta pernikahan kita. Suruh dia pergi aja."
"Kenapa sih? Kamu kenapa panik begitu, Sayang. Langit itu orang baik dan tak mungkin melakukan hal-hal yang bisa menyakiti aku. Nggak mungkin. Jadi kamu jangan khawatir. Langit itu sebenarnya orang baik. Percaya sama aku."
'Iya, mungkin tidak akan menyakiti kamu, tapi bisa jadi dia akan melakukan hal yang membuat aku malu. Ya Tuhan, apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu?'
Keringat dingin mulai mengucur ke pelipis Rossi. Wajah cantiknya terlihat tak bersinar Karena rasa khawatir dan kepanikan.
Sementara Adis, dia masih mengamati apa yang akan dilakukan oleh langit serta terus berdoa supaya laki-laki itu tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Dia benar-benar takut kalau langit akan nekat melakukan hal buruk yang akhirnya berdampak kepada dirinya sendiri.
"Nah … Gini kan udah nggak gerah lagi. Oke. Hari ini aku akan mempersembahkan sebuah video yang pasti akan mencengangkan bagi kedua mempelai. Ini adalah hadiah saya untuk calon mempelai tersayang, Rossi dan Beno Wijaya. Monggo operator."
Feeling Rossi sudah tidak enak. Dia semakin takut luar biasa. Video? Video apa yang akan diputar oleh langit? Benarkah dia memiliki bukti tentang Rossi yang bersama dengan laki-laki lain? Ah, seharusnya dia tidak menganggap remeh langit. dia tahu kalau langit sedang jatuh cinta pada Adis. Bukankah orang yang sedang jatuh cinta selalu mempunyai energi lebih untuk melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati orang yang dia cintai?
Rencananya untuk menikah dengan Beno serta mengeruk seluruh hartanya beberapa detik lagi hampir berhasil, tetapi Dia sangat takut bahwa ini akan hancur dalam sekejap.
Sang operator mengacungkan jempolnya pada Langit, dan dia mulai memutar sebuah video.
Awalnya adalah sebuah video kompilasi, dari awal mereka bertemu, mereka jadian sampai mereka bertunangan. Tentu saja tidak sulit untuk memperoleh foto-foto itu karena langit bisa mendapatkannya dari akun i********: Rossi. Karena Gadis itu selalu membagikan semua momen kedekatannya dengan langit di i********:.
Para tamu bertepuk tangan meriah dan saling berbisik satu sama lain. Mereka kagum dengan hubungan mereka berdua yang benar-benar romantis. Couple goal banget lah pokoknya. Saat itu Rossi masih tetap saja deg-degan.
Dia yakin tidak mungkin akan menampakan video seperti itu terus sampai akhir.
Namun, di menit ke 4, terlihat sebuah foto yang memperlihatkan Rossi bersama dengan seorang laki-laki di sebuah resto, yang tak lain dan tak bukan adalah Jordan.
Tuh kan … kekhawatiran Rossi mulai terjadi. Rossi langsung menundukkan kepalanya saat itu. Sementara Beno, wajahnya langsung pucat pasi dan darahnya berdesir hebat.
"Ros, apa ini? Itu Jordan? Kamu kenal sama Jordan?"
Saat itu wajah Beno terlihat merah padam. Sementara Rossi hanya menutup mukanya dengan kedua telapak tangan dan tidak mau mengangkat kepalanya sedikit pun.
'Beno, ini belum seberapa,' ucap Langit dalam hati.
Sementara Adis, tentu saja dia kaget. Jordan dan Rossi? apa hubungan mereka?
Setelah itu, terlihat foto Rossi dengan petinggi Zoyyas, membuat Beno semakin tak sesak nafas. Tamu-tamu yang lain hanya saling berbisik karena tidak tahu apa yang terjadi.
Sampai … di menit berikutnya terdapat sebuah video yang membuat seluruh tamu undangan tercengang dan membuka mulutnya lebar-lebar. Ada yang menutup matanya, ada yang menutup mulut dengan kedua telapak tangan, dan Ada yang langsung menatap tajam kearah Rossi.
Sementara Beno, darahnya berdesir tak karuan. Rahangnya mengeras, dan muka dan matanya merah padam.
Saat itu, nafas Beno sampai tersengal karena emosi di dalam dadanya. kalau memukul tidak akan mendapatkan pasal, pasti dia sudah melayangkan pulangnya dengan keras saat ini juga. Untungnya saat ini dia masih memiliki kesadaran untuk menahan emosinya. Sementara Rossi, dia hanya menitikkan air mata. Tak tahan Lagi dipermalukan seperti ini.