"Braaaak!"
Mungkin lebih baik dia mencurahkan kekesalannya pada objek lain. Ya, Beno menggebrak meja dengan sangat keras sampai tangannya memerah. Rossi langsung berjingkat dengan air mata yang menetes di pipi. Dia memejamkan matanya erat, dan tak sanggup untuk membuka mata sedikit pun.
"Apa maksud semua ini? Apa Rosi? Lo emang ular! b******n Lo!"
Beno berteriak keras. Tidak peduli meskipun di dekatnya ada penghulu. susah sekali untuk menahan emosinya sekarang. Sementara Rossi, dia segera bangkit dari duduknya, dan menghampiri Langit meskipun saat itu air matanya sedang menetes deras. Dia tidak sanggup melihat video selanjutnya yang tidak yakin pasti lebih buruk dari ini.
"Hentikan! Lo benar-benar enggak punya otak. Lo udah menghancurkan pernikahan gue. Hentikan, Langit!"
"Hentikan? Enak aja. Gue udah susah payah mencari bukti ini. Bukannya gue sudah pernah bilang sama lo. Lo yang mengaku sendiri pada Beno sebelum pernikahan, atau aku sendiri yang akan bongkar. Tapi lu lebih suka main-main sama gue kan?"
"Hentikan, Langit b*****h!"
Rossi berteriak. Sungguh malu ketika adegannya berciuman mesra dengan Jordan terpampang nyata di hadapannya. Disaksikan oleh ratusan tamu undangan termasuk orang tuanya sendiri. Dia benar-benar sudah tak punya muka saat itu.
"Nggak akan gue hentikan karena ada hal yang harus diketahui oleh orang lain."
Sejenak kemudian, diputar lah video percakapan tentang Zoyyas. Dalam percakapan itu terekam bahwa mereka mengakui bahwa Jordan dan Rossi lah orang yang sudah memberikan materi itu kepada zoyyas, dan Video itu diakhiri kembali dengan ciuman mesra yang benar-benar membuat Rossi merasa hancur sehancur hancurnya sekarang.
Saat ini, semua orang memandang Rossi dengan pandangan jijik. Mereka saling berbisik sambil menatap Rossi. Hal itu benar-benar membuat Rossi merasa terinjak-injak dan tak dihargai sama sekali.
Sementara Beno, dia mengusap rambutnya kasar ke belakang, lalu berteriak dan kembali menggebrak meja. Bisa-bisanya dia dijebak orang perempuan seperti itu. Bisa-bisanya dia percaya dan tidak curiga sama sekali padahal dia diperdaya.
Beno mengatur nafasnya, kemudian menghampiri Rossi yang sedang terduduk hina dilantai sambil terisak.
"Berdiri!" perintah Beno.
Rossi tak bergerak dan masih terisak.
"Berdiri gue bilang!"
Kali ini suara Beno lebih keras. Dia tidak peduli meskipun para tamu undangan sedang menyaksikan mereka berdua bak menonton sebuah film. Dia tak peduli sama sekali sekarang. Karena semuanya sudah hancur dan dia sudah malu.
Rossi tetap diam dan tak mau berdiri. Beno segera mencengkeram lengan Rossi dan memaksanya untuk berdiri meskipun masih lemah dan menunduk. Tentu saja dia tidak kuasa untuk mendongakkan kepala.
"Apa salahku sama Kamu, Ros? Apa dosaku sehingga kamu melakukan ini padaku? Kenapa kamu mau diperalat sama Jordan dan menghancurkan aku seperti ini. Semua sudah aku berikan padamu. Semua. Sudah ratusan juta yang aku keluarkan untuk kamu tanpa perhitungan sedikitpun. jadi ini balasan kamu?"
"Maafin aku, Sayang. Maafin aku. Aku menyesal. Aku akan memperbaiki ini semua. Aku akan putuskan hubunganku dengan Jordan dan kita bisa kembali meneruskan pernikahan ini."
"Apa? Meneruskan pernikahan? Itu tidak mungkin Rossi. Kau sudah membuat aku memecat Adis dan membuat aku berprasangka buruk pada orang yang aku sayang. Kau benar-benar sudah menghancurkan semuanya. Pernikahan kita batal! Tak kan lagi ada pernikahan di antara kita. Batal! dan kamu tahu, saat ini kau jauh lebih menjijikan dari belatung. KAU LEBIH MENJIJIKAN DARI BELATUNG," ucapnya lirih dengan penekanan di setiap katanya. Rahangnya yang menegang mulai mengendur.
Bukan Rossi saja yang hancur saat itu. Tentu saja Beno lebih hancur. Dia lebih malu. Dia sudah kehilangan banyak. Tapi yang lebih membuatnya hancur, adalah tentang Zoyyas. Dia sudah menuduh Adis menghianatinya, memecatnya dan memblack list dia, tetapi ternyata dia salah orang. Ternyata kekasihnya sendiri lah yang melakukan semuanya dengan keji.
"Tolong, Sayang. Beri aku kesempatan. Aku tidak akan melakukan itu lagi. Oke. Aku mengaku kalau awalnya aku memang disuruh sama Jordan untuk melakukan ini, tapi sekarang aku benar-benar sayang sama kamu dan ingin menjalin hubungan pernikahan sama kamu. Tolong beri aku kesempatan!"
Rossi memohon sambil memegang lengan Beno, tetapi laki-laki itu mengibaskan tangan begitu saja sampai membuat rossi hampir terjengkang.
"Katakan di mana Jordan!"
"Aku nggak tahu."
"Katakan di mana dia sekarang!" Beno menambah volume suaranya.
"Aku nggak tahu, Sayang!"
"Katakan Dia di mana!"
Kali ini suaranya benar-benar lantang sampai menggema di seluruh ruangan. Banyak dari mereka yang merekam adegan itu. Entahlah, mungkin menurut mereka lucu dan menarik.
Akhirnya Rossi mengarahkan telunjuknya pada seorang waiter yang memakai pakaian Hitam putih yang saat itu sedang meletakkan makanan ke meja. Waiter itu memakai masker.
Saat itu orang yang ditunjuk hendak kabur, tetapi langit bergerak cepat, menahan lengannya dan menyeret laki-laki itu ke hadapan Beno. Dia tahu, tahu betul bahwa itu sepupunya. Tapi dia tidak memandang itu sekarang. Yang dia lakukan saat ini hanyalah membela orang yang dia sayang dan membersihkan namanya. Adis Adena. Ya, langit sampai melangkah sejauh ini hanya gara-gara adis Adena.
Laki-laki itu mencoba untuk kabur tetapi cengkraman tangan langit benar-benar kuat.
"Lo pasti tahu kalau ini gue. tolong biarkan gue pergi Kalau lo emang sepupu gue yang baik," ucap Jordan lirih.
"Nggak akan. Lo sudah bermain api Jadi lo harus siap terbakar."
Langit segera membawa laki-laki itu mendekat ke arah Beno.
Beno membuka masker itu paksa, dan terlihatlah wajah seorang laki-laki yang 3 tahun lalu berhasil membuat dia amat sangat sakit. Itulah wajah laki-laki yang sudah memberikan kalung mewah untuk kekasihnya tepat di hari ulang tahunnya. Itulah wajah laki-laki yang sampai saat ini masih Dia benci.
Ya, harusnya Beno yang menyimpan dendam sampai sekarang, tapi kenapa malah laki-laki itu yang menghancurkannya? Seharusnya Beno yang menghancurkan hidup Jordan, Kenapa sebaliknya?
"Lo … Kurang ajar Lo!"
Beno melayangkan tangannya yang keras ke pipi Jordan. Namun, bukan Jordan jika hanya diam. Dia balik menampar mantan calon mempelai pria.
"Gue nggak akan tinggal diam, Mantan calon pengantin," ucapnya diiringi oleh tawa mengejek.
"Lo puas sudah melakukan ini semua?"
"Puas. Gue sangat puas udah membuat lo hancur dan malu. Gue sangat puas karena gadis ini sudah memoroti lo habis-habisan. Gue sangat puas karena lu udah terlihat begitu bodoh percaya aja sama makhluk suruhan gue ini."
"b******n lo. Ngapain lo habisin energi melakukan ini semua?"
"Menghabiskan energi? Tentu saja tidak. Apa lo lupa kalau gue pernah sangat menyayangi Adis. gue mencintainya, dan kedatangan lo dimalam ulang tahunnya itu menghancurkan semuanya. Kau membuat Adis mengacuhkan gue. Dia lebih memilih lo meskipun lo tidak memilhnya lagi. Lo udah bikin Dia menjauhi gue. Salah nggak kalau gue sakit hati sampai sekarang? Gue sakit hati sama lo. Hingga akhirnya gue bertemu dengan gadis ini yang bisa gue peralat. And that's it. Gue udah puas, karena sudah melihat lo hancur seperti ini."
Plak … bug … dem …
Beno melayangkan pukulannya ke wajah, ke perut, dan ke d**a Jordan bertubi-tubi. Orang-orang hanya berteriak. Sebagian berusaha untuk melerai, tetapi emosi Beno yang memuncak memberi dia kekuatan lebih untuk membuat Jordan babak belur.
"Cukup, Wid. Cukup! Dia sepupu gue. Sudah. Dia sudah mendapatkan ganjarannya kok. Cukup ya!"
Beno menghentikan hantamannya dengan nafas tersengal.
Sementara Adis. Dia masih terpaku di tempatnya dengan air mata yang menetes perlahan ke pipi. Semua ini benar-benar kejutan. Semua ini bagaikan mimpi baginya. Entah ini mimpi baik atau mimpi buruk. Jangan tanya bagaimana perasaan adis sekarang? Yang jelas campur aduk dan tidak bisa dideskripsikan. Semuanya benar-benar di luar dugaannya.
Adis memandang mereka dari kejauhan dan tidak berani mendekat. Namun satu yang membekas di hatinya saat ini. Langit. Ini perjuangan langit. Ini perjuangan langit untuk membersihkan namanya. Ini perjuangan langit untuk membelanya. Adis menunduk dan meneteskan air mata.
Kenapa ada orang yang sebaik itu padanya? Harus dengan cara apa dia membalas kebaikan Langit. Dia merasa kebaikan Langit begitu besar kepadanya, tapi dia bertindak sejauh ini.