Sudah berapa kali aku berusaha untuk selalu sabar.
Bahkan tidak jarang aku harus berpura-pura tetap kuat dan tersenyum ketika suamiku selalu melontarkan kata-kata yang merusak mentalku.
Dengan keadaanku saat ini yang sedang mengandung anak pertama kami, tetapi dia tidak pernah memperlakukan ku seperti perempuan lain di luar sana.
"Mas, Sekarang kita harus lebih giat lagi bekerja mengumpulkan dana untuk biaya anak kita nanti yang sedang aku kandung ini". Ucap Fatima yang berjalan mendekati suaminya itu yang sedang berada di meja makan.
Namun, suaminya itu hanya melirik sebentar lalu melanjutkan menyantap makanan yang berada di depannya itu.
Karena sang suami tidak menggubris sedikit pun ucapan istrinya itu, lalu ia pun kembali melanjutkan perkataannya.
"Mas, aku harus banyak memakan buah, mengkonsumsi makanan-makanan yang sehat dan banyak vitaminnya. Karena itu sangat bagus untuk perkembangan janin yang ada di rahimku" ucap Fatima sembari duduk di samping suaminya yang tengah makan itu.
Lalu, tiba-tiba saja Suhendra suami dari Fatima menghentakkan sendok yang ada di tangganya itu ke piring yang berada di hadapannya itu.
Dengan nada kesal Suhendra berkata "Kamu bisa diam tidak sih. Dari tadi kamu hanya bisa ngoceh mulu. Kamu ga lihat aku sedang makan sekarang. Kalau kamu ingin makanan yang kamu inginkan, silahkan kamu bekerja sendiri. Jadi perempuan itu jangan manja deh".
Setelah Suhendra berbicara dengan nada tinggi, dengan wajah kesal dia pun pergi meninggalkan istrinya dan tidak melanjutkan makannya karena kesal selalu di pertanyakan istrinya tersebut.
Namun, Fatima tampak masih tetap berada di depan meja makan dengan wajah yang sangat teroihat menyedihkan dan menahan tangis. Walau sangat tampak terlihat jelas matanya sudah berkaca-kaca dan berlinang air mata.
Namun, dia tetap berusaha untuk menahan air matanya itu dan Tidak menangis.
Siapa sangka, Fatima yang terlihat sangat lemah ternyata masih mampu menahan amarah dan memendam semua perkataan suaminya itu.
Walau dengan usia pernikahannya yang masih sangat baru, tak sekalipun ia merasakan kebahagiaannya. Tetapi tidak pernah juga terlintas di benaknya untuk pergi meninggalkan suaminya itu.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Fatima pun merapikan meja makan itu dan bergegas meninggalkan ruang makan itu dan melihat kemana suaminya itu pergi.
Setelah mengelilingi rumah, Fatima tidak sama sekali menemukan suaminya itu dimana keberadaannya.
Namun, dia tetap berusaha tenang.
Fatima pun kembali masuk ke dalam rumah, dan melanjutkan pekerjaan rumahnya selayaknya ibu- ibu rumah tangga yang lain.
Tetapi, dengan keinginan yang ia miliki, Fatima pun sangat menginginkan vitamin untuk anak yang sedang ia kandung di dalam janinnya tersebut.
Setelah dia menyelesaikan pekerjaan rumah, dia pun pergi mencari pekerjaan sebagai cuci gosok di rumah keluarga yang mungkin membutuhkan (Pembantu) di rumahnya. Walau tinggal di Desa, ternyata niat baik Fatima tidak terbuang sia-sia.
Dia menemukan sebuah rumah yang pada saat itu sangat membutuhkan seorang pekerja untuk bekerja di rumahnya.
ya, tepat pada pukul 14:30 WIB di sebuah lorong desa. Lebih tepatnya di Rumah salah satu warga yang termasuk memiliki kelas ekonomi di atas di d Desa tersebut.
Hari demi hari berganti, Begitu juga Fatima.
Hari ke hari, dia slalu bekerja di salah datu rumah sebagai asisten rumah tangga (pembantu).
Seusai menyelesaikan segala pekerjaannya di rumah dia pun bergegas pergi meninggalkan rumah.
Ya, lagi dan lagi suaminya itu (Suhendra) selalu bangun kesiangan, sehingga ia tidak pernah tau kemana istrinya. Bahkan sangat terlihat jelas, bahwa dia sangat tidak peduli kepada istrinya itu.
Setiap harinya hanya makan tidur lalu pergi ke sebuah warung kopi di Desa nya tersebut.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bahkan sudah hampir di akhir bulan Suhendra tetap saja masih tidak peduli kemana istrinya tersebut.
Hingga pada akhir bulan, Suhendra pun terlilit utang.
Siapa sangka, dia tidak bekerja tetapi setiap harinya selalu berada di warung entah apa yang di lakukannya Sang istrinya pun tidak mengetahuinya.
Hingga pada suatu hari, Fatima tampak kelelahan dan bangun larut siang.
Tiba-tiba saja Suhendra bangun dan bergegas masuk ke dalam toilet dan berpakaian rapi.
Setelah selesai, ia pun berjalan menuju meja makan. Namun, suhendra tidak melihat ada sedikitpun makanan.
Sehingga ia merasa marah kepada sang istrinya itu yang masih tertidur lelap di kasur.
"Fatimaaaaaaaaaaaaa..."
"Fatimaaaaaaa.... "
"Kurang ajar, berani-berani nya dia tidak menjawab panggilanku." ucap Suhendra dengan wajah kesal dan berjalan menuju kamar.
Gubraaak,,,,,.
Suara pintu yang di buka keras oleh suhendra dan menemui istrinya tersebut.
"Fatima,,."
"Kamu lupa ya, kalau kamu itu punya suami yang harus kamu layani setiap hari nya. Seenaknya saja kamu jam segini masih tidur" ucap Suhendra marah.
"Ma,,,, maaa maaaf mas"
"Aku sangat lelah mas, aku sangat membutuhkan istrirahat yang cukup sekarang." Ucap Fatima yang masih tetap terbaring di atas ranjang dengan raut wajah yang terlihat sangat pucat.
"Halah, banyak alasan kamu. Bilang aja kalau kamu sekarang sudah berani ngebantah dan tidak hormat dengan ku lagi." Ucap Suhendra kesal keoada istrinya tersebut.
"Lama-lama aku muak sama kamu. Sejak kamu ada dalam hidupku, aku selalu merasa sial. Aku nyesal menikahimu" ucap Suhendra kasar kepada istrinya itu.
Lalu, Fatima bergegas bergerak dan berusaha bangkit dari atas tempat tidur. Fatima pun merasa bahwa perkataan suaminya itu sudah sangat kelewatan batas dan benar-benar membuat hati Fatima tersakiti.
Fatima pun mengangis tak sanggup menahan sesaknya di d**a karena perkataan suaminya itu.
"Sudah cukup ya mas kamu berkata kasar terus kepada ku. Selama ini aku selalu berusaha memendam dan menahan setiap perkataan yang keluar dari mulutmu itu". Ucap fatima kepada suaminya yang berada berdiri di sudut pintu kamarnya.
Fatima pun menangis sejadi jadinya, karena dia merasa dia tidak pernah merasakan kebahagiaan bahkan tidak pernah sama sekali di perlakukan baik oleh suaminya itu. Tetapi tidak pernah sekalipun terlintas di pikiran Fatima untuk pergi meninggalkan suaminya itu.
Hingga pada akhirnya, Fatima pun bangkit dari tempat tidur dan pergi meninggalkan suaminya yang berada di kamar itu.
Cepat-cepat dia bergegas ke dapur, menyediakan segala sesuatunya. Seteleh semua pekerjaannya beres, Fatima pun masuk ke dalam sebuah kamar. Dimana kamar tersebut adalah kamar tamu yang mereka sediakan.
Waktu terus berputar, Fatima tetap berada di dalam kamar itu.
Hingga pada saat larut malam, Fatima tidak menyadari karena dia tertidur di dalam kamar tersebut, Namun suaminya itu tidak sama sekali peduli dengannya.
Fatima memutuskan untuk tetap berada di dalam kamar itu, agar dia dapat beristirahat dan menenangkan hati pikirannya.
Fatima sangat khawatir akan kandungannya itu, sehingga ia berusaha untuk tetap terlihat kuat.
Setelah beberapa hari tidak tidur satu ranjang dengan suaminya itu, Fatima sudah terlihat membaik.
Dia pun kembali bekerja ke rumah warga yang berada di Desa tersebut sebagai pekerja harian.
Dengan pekerjaannya sebagai tukang cuci gosok, dia tidak pernah merasa minder dan patah semangat.
Justru dia semakin giat bekerja, karena mengingat suaminya yang tidak bekerja dan kebutuhan janinnya juga yang harus di persiapkan.
5 bulan sudah berlalu, usia bayi yang ada di kandungan Fatima pun sudah memasuki minggu ke delapan, Fatima sangat menginginkan di temani suaminya untuk USG.
"Mas, hari ini sudah genap minggu ke delapan usia bayi kita yang ada di kandunganku, boleh kah kamu memberikan sebentar saja waktumu untuk menemaniku periksa ke Dokter?" . Ucap Fatima meminta kepada suaminya yang sedang duduk di ruang tengah dengan sibuk memainkan ponsel yang ada di tangannya.
"Mas, aku mohon berilah waktumu sebentar saja. Ini demi bayi kita" kembali Fatima mengucapkan kalimat kepada suaminya.
Namun, Suhendra menjawab dengan marah.
"Apa kamu gak lihat aku sedang sibuk sekarang. Lagian ngapain juga kamu pergi-pergi ke dokter segala, emang kamu punya duit. Kamu pikir ke Dokter gak butuh uang". Ucapnya dengan kasar.
Fatima pun merasa semakin tidak di hargai, akhirnya dia pergi meninggalkan suaminya itu yang masih saja sibuk memainkan ponselnya.
Usia kehamilan Fatima sudah terhitung bulan terakhir, tapi sama saja tak sekalipun Fatima mendapatkan perhatian dari suaminya itu.
Tiba-tiba Fatima merasa tidak enak, dia pun meminta suaminya itu untuk menemaninya ke Rumah sakit.
"Mas, perutku terasa sangat sakit", ucap Fatima. Hanya saja suaminya itu hanya melihat sekilas dan membuang muka tanpa merespon istrinya yang berada di depannya.
"Mas, aku mohon temani aku sekarang ke Rumah sakit. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk pergi sendirian sekarang".
Kembali Fatima mengucapkan sepenggal kata keada suaminya.
Hanya saja suaminya itu tetap sama sekali tidak merespon.
"Mas....."
"Mas......."
"Maaaa... (Ucap Fatima terhenti)."
"Kamu berisik banget tau gak sih. Aku sedang tidak ingin di ganggu. Pergi saja sana sendiri, kan kamu bisa naik ojek yang berada di simpang jalan".
Ucap Suhendra kepada istrinya itu yang tengah merasakan sakit.
Fatima pun menangis pergi meninggalkan suaminya itu.
Dia merasa kesal keapada suaminya itu, dan tidak henti-hentinya hanya berdoa memohon bantuan dan pertolongan dari yang Maha Kuasa.
Di tengah jalan, ketika Fatima sedang berjalan menuju persimpangan jalan, ia terhenti di depan sebuah rumah karena sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan.
Setelah beberapa lama ia terhenti, akhirnya ada seseorang yang datang menemui Fatima dan berhenti karena melihat kondisi dan keadaannya yang tengah merasakan kesakitan.
"Kamu ngapain di sini Fatima. Dengan kondisi keadaanmu seperti ini?"
Ucap seorang ibu tengah baya yang baru saja turun dari mobil yang ia naiki.
"Iya bu, saya mau ke Rumah sakit. Jadi saya ingin ke simpang jalan untuk naik ojek buk, hanya saja perut saya terasa semakin sakit dan saya tidak kuat lagi untuk jalan. Sehingga saya memutuskan untuk berhenti sejenak di sini".
Ucap Fatima kepada ibu tengah baya itu.
Lalu, ibu tengah baya itu menyuruh Fatima untuk masuk dan naik kedalam mobil nya.
"Ayo Fatima, kamu naik saja kedalam mobil saya.
Biar kami yang mengantarkan kamu ke Rumah sakit. Ketepatan kami juga nanti akan lewat dari sana. Benar kan pa".
Ucap seseorang ibu itu meminta agar ia tidak menolak tawaran itu.
"Tapi bu, saya jadi merepotkan orang ibu" Ucap Fatima yang merasa ia menjadi merepotkan.
"Aduh, sudahlah Fatima. Sekarang kesehatan mu dan bayi yang ada di kandungan kamu itu sangat penting. Ayolah segera naik".
Kembali ibu itu menawarkana agar Fatima tidak menolak ajakan mereka lagi.
Dan pada akhirnya, Fatima pun menuruti tawaran itu dan mereka langsung bergegas meninggalkan tempat dan menuju ke Rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, sesampainya di Rumah Sakit, Fatima pun berjalan menuju sebuah ruangan untuk mengambil nomor antrian, sedangkan sepasang suami istri yang membantu Fatima tadi pergi meninggalkan Rumah Sakit dan melanjutkan perjalanan mereka.
"Trima kasih ya bu, pak sudah membantu saya menghantarkan saya ke Rumah sakit. Mungkin kalau tidak ada ibu dan bapak, saya tidak akan sampai sekarang".
Ucap Fatima kepada ibu tengah paru baya tadi.
Waktu pun tetap berputar dan berganti, nomor antrian pun masih banyak lagi.
Fatima mendapatkan nomor antrian ke 97, padahal pada saat itu masih pukul 09:25 Wib.
Tetapi nomor antrian sudah sangat banyak di depannya.
Fatima tetap sabar menunggu antrian, walau pun terkadang ia harus menahan sakit cemburu di d**a nya karena melihat ibu-ibu yang lain datang ke Rumah sakit memeriksa kandungannya bersama dengan pasangannya, sedangkan ia datang dengan sendirinya.