Setelah berbagai cara yang telah di lakukan kedua orang tua dari pengantin baru tersebut, hasil pun tetap Nihil.
Justru mereka semakin berada di rundung masalah yang kian memanas.
Tidak jarang pak Suhendra berkata "Kamu itu perempuan sial. Seandainya saja aku tidak mengenal dirimu, aku pasti tidak akan merasakan seperti ini. Aku pasti akan jauh lebih tenang dan hidup bahagia dengan wanita lain di luar sana".
Namun, tidak terima dengan perkataan sang suami, ibu Fatima pun berkata dengan nada keras.
"Diam kamu mas, itu semua hanya karena kamu.
kamu yang sudah membuat aku hancur dan rendah di hadapanmu. Seandai saja kamu tidak melakukan seperti itu, aku rasa ini semua tidak akan terjadi".
Dengan percakapan mereka yang membuat suasana semakin panas, sehingga kedua orang tua mereka pun pergi meninggalkan tempat mereka.
karena memang, siapapun tidak akan ada yang bisa bertahan jika setiap hari hanya di bumbui dengan keributan saja.
Warga yang berada di Desa tersebut pun kian merasa ada yang tidak beres dan takut akan menimbulkan kekacauan dengan yang lainnya.
Apa lagi, orang tua yang berada di Desa tersebut membiarkan anak anak mereka bermain bebas dengan menikmati masa kanak-kanaknya. Mereka khawatir, kelak anak mereka juga akan mengikuti keburukan tersebut dan merusak mental nya.
Tentu saja, semua orang tua akan merasa khawatir, jika anak mereka bertumbuh dengan lingkungan mereka yang tidak baik.
Namun, setelah beberapa waktu, salah seorang datang menemui rumah yang di tempati pengantin yang baru itu.
Ia, Dia adalah Bapak RT di Desa tersebut. Bapak itu bernama Paijo.
Warga di Desa tersebut sangat mengenal pak Paijo ini, dan bahkan warga di sana sangat mempecayai kinerja bapak tersebut.
Mereka memutuskan meminta bantua kepada pak Paijo, agar dapat membantu merelai keributan yang kerap terjadi di rumah pak Suhendra dan Ibu Fatima, dimana mereka adalah keluarga kecil yang baru saja memulai membangun bahterai rumah tangga