Pagi itu, di kamar kos Alea...
Suasana masih sepi. Matahari baru saja naik, sinarnya mengintip malu-malu dari sela tirai jendela. Alea masih menggulung diri di bawah selimut tipisnya ketika tiba-tiba—
Kring… kring…
Suara ponsel berdering nyaring di meja kecilnya. Dengan mata masih setengah terbuka, Alea meraih ponsel itu dan menjawab dengan suara serak setengah mengantuk.
Alea:
“Halo…”
Suara di telepon:
“Halo, Azalea Lin. Apakah kamu masih ingat aku? Ini Nathan.”
Alea mengerjapkan mata. Nama itu terdengar familiar. Seketika ia duduk tegak.
Alea:
“Nathan? Astaga… oh iya! Aku ingat! CEO Zhang Corporation, kan?”
Nathan (tenang):
“Betul. Posisi kamu sudah disetujui. Aku ingin kamu mulai bekerja hari ini. Bisa datang pukul 10 pagi?”
Alea (bergegas bangkit):
“Bisa, bisa! Tentu saja, saya akan datang tepat waktu.”
Nathan:
“Bagus. Jangan terlambat. Sampai jumpa di kantor.”
Alea:
“Siap, Pak Nathan. Terima kasih banyak!”
Telepon ditutup. Alea tersenyum lebar, matanya berbinar penuh semangat.
Tiba-tiba, terdengar ketukan pintu.
Tok tok tok!
Alea membuka pintu. Ternyata Mbak Reni, ibu kosnya, berdiri sambil membawa sapu.
Alea (antusias):
“Mbak! Aku mulai kerja hari ini! Aku diterima! Aku seneng banget!”
Mbak Reni (tersenyum lebar):
“Ya ampun, akhirnya! Selamat ya, Le! Akhirnya rezekimu datang juga.”
Alea (bersemangat):
“Aku rasa, interview gagal kemarin tuh ternyata awal dari sesuatu yang lebih baik. Hari ini aku resmi jadi karyawan!”
Tanpa menunda, Alea langsung mandi kilat, memilih pakaian terbaik yang ia punya, menyemprotkan parfum murah andalannya, dan menyisir rambut secepat kilat. Ia bahkan lupa sarapan karena takut terlambat.
Saat hendak melangkah keluar dari kosan, matanya terpaku pada sebuah mobil hitam mewah yang terparkir di depan. Seorang pria berpakaian formal dengan kacamata hitam turun dan mendekatinya.
Pria itu:
“Permisi, apakah Anda Azalea Lin?”
Alea (bingung):
“Iya, saya. Tapi saya mau berangkat kerja nih. Takut terlambat.”
Pria itu (sopan):
“Kami dari Zhang Corporation. Tuan Nathan menginstruksikan untuk menjemput Anda.”
Alea (melongo):
“Menjemput? Baru juga hari pertama saya kerja…”
Pria itu:
“Maaf, ini perintah langsung dari Tuan Nathan.”
Alea (menelan ludah, lalu mengangguk pelan):
“Baiklah… kalau begitu.”
Alea masuk ke mobil dengan hati campur aduk antara bingung dan gugup.
Alea (berbisik dalam hati):
“Kamu harus kelihatan percaya diri, Alea. Jangan kayak anak kampung baru pertama kerja. Kamu bisa, ini langkah awal. Jangan sia-siain kepercayaan ini.”
Tiba-tiba—
Kruk… kruk…
Bunyi perutnya terdengar jelas.
Alea (memegang perut, berbisik):
“Astaga, perutku keroncongan. Tolong kerja sama ya. Uang kita Cuma cukup buat makan beberapa hari lagi. Nanti sore kita makan enak deh… kalau perlu minta tambahan lauk dari Mbak Rini… hehehe.”
Mobil pun melaju, membawa Alea menuju hari pertama kerjanya—yang tanpa ia sadari, akan mengubah seluruh jalan hidupnya.
Pagi itu di kantor Zhang Corporation.
Nathan duduk di ruang kerjanya, matanya menatap layar laptop—namun pikirannya justru melayang jauh. Tanpa sadar, ia memandangi wajah Alea yang terpampang di profil data karyawan. Ada sesuatu yang familiar di wajah itu.
Nathan (dalam hati):
“Rambutnya masih sama… Dia memang banyak berubah, tapi… mata dan senyumnya tetap seperti dulu…”
Lamunan Nathan buyar ketika pintu diketuk.
Tok tok!
Alea masuk dengan rapi dan percaya diri, namun pandangannya tak sengaja terpaku pada sosok pria di hadapannya. Nathan terlihat begitu maskulin dan berwibawa dengan jasnya yang pas, membuat Alea terpaksa menggeleng pelan untuk mengusir pikirannya sendiri.
Alea (dalam hati):
“Fokus, Alea. Fokus. Ternyata wajah atasan ini… agak berbahaya juga buatku.”
Nathan (tenang):
“Kamu akan mencetak semua dokumen kegiatanku, menyiapkan ruang meeting, dan mengatur seluruh perlengkapanku, baik untuk perjalanan ke luar negeri, luar kota, maupun dalam negeri. Sampai sini paham?”
Alea (sedikit buyar, namun mencoba fokus):
“Baik, Pak. Saya paham.”
Tapi pikirannya tetap sedikit terganggu. Ia kembali mencuri pandang ke arah Nathan.
Alea (dalam hati):
“Kenapa wajahnya terasa begitu familiar ya? Aku merasa pernah melihat dia… tapi di mana?”
Nathan:
“Hari ini, kita akan visit ke salah satu pabrik tekstil milik Zhang Corporation. Kamu ikut. Catat hal-hal penting yang menurutmu perlu.”
Alea (mengangguk):
“Baik, Pak. Saya siap.”
Di dalam mobil menuju pabrik…
Alea duduk di kursi penumpang depan, sesekali melirik ke arah Nathan. Ia tampak ragu, namun akhirnya memberanikan diri untuk bicara.
Alea:
“Pak Nathan, boleh saya bicara sebentar?”
Nathan (tetap fokus menyetir):
“Tentu. Ada apa?”
Alea (pelan):
“Saya mau minta maaf. Waktu itu, di lift... saya banyak bicara yang nggak penting. Sebenarnya saya Cuma gugup, Pak. Hari itu saya gagal interview di tiga tempat. Saya udah hampir nyerah… jadi waktu ketemu Bapak, saya Cuma berusaha menenangkan diri. Maaf kalau jadi terlihat nggak profesional.”
Nathan meliriknya sekilas. Tak ada amarah di wajahnya—hanya tatapan tajam yang penuh ketenangan.
Nathan:
“Aku mendengarkan. Dan tidak, aku tidak marah.”
Alea (lega):
“Terima kasih, Pak…”
Ia tersenyum kecil, lalu menatap keluar jendela dengan semangat baru. Namun beberapa menit kemudian—
Kruk… kruk…
Suara perutnya berbunyi keras dan memecah keheningan di mobil. Alea membeku. Wajahnya langsung merah padam.
Nathan (tanpa menoleh):
“Kamu belum sarapan ya?”
Alea (panik):
“Eh… m-maaf, Pak. Mungkin karena buru-buru, jadi belum sempat. Tapi tadi udah minum air banyak kok, jadi nggak lapar-lapar banget. Beneran, nggak apa-apa...”
Suara dan senyumnya canggung. Tapi Nathan tetap menatap lurus ke depan, tak tertipu.
Nathan:
“Bagaimana bisa orang yang lapar Cuma mengisi perut dengan air putih?”
Alea (gelagapan):
“Saya... saya nggak mau repotin, Pak. Ini hari pertama saya kerja. Saya sungguh nggak apa-apa…”
Nathan (tegas) Memyuruh supirnya membelikan makanan
“Berhenti di depan toko kue. Belikan makanan untuknya.”
Alea (panik):
“Pak, beneran nggak usah! Saya baik-baik aja! Jangan repot-repot...”
Nathan (dingin namun tegas):
“Karyawan yang kelaparan tidak akan bekerja dengan baik. Ini bukan soal repot atau tidak, tapi soal efisiensi kerja.”
Alea (berusaha tersenyum, tapi perutnya kembali berbunyi):
“Kruuuk…”
Alea (dalam hati, pasrah):
“Ya Tuhan… kenapa perut ini nggak bisa diajak kompromi sih?”
Nathan (menoleh sekilas):
“Dengarkan tubuhmu. Kalau sudah bilang lapar, artinya kamu harus makan. Ngerti?”
Alea hanya mengangguk pelan, malu setengah mati… tapi diam-diam merasa diperhatikan.
Masih di dalam mobil menuju pabrik tekstil milik Zhang Corporation.
Alea duduk dengan tenang, tapi hatinya campur aduk. Di tangannya, sebuah kotak makan kecil berisi sandwich dan s**u kotak yang tadi diberikan sopir Nathan atas perintah langsung dari sang CEO.
Sambil mengunyah pelan, ia menunduk sedikit dan berkata lirih.
Alea:
"Maafkan saya, Pak Nathan. Sepertinya hari pertama saya kerja sangat buruk..."
Nathan meliriknya sekilas, lalu menjawab tenang.
Nathan:
"Siapa yang bilang hari pertamamu buruk? Aku hanya menyuruh sopirku memberikanmu makanan. Apa itu terlihat buruk di mataku? Tentu tidak."
Alea menggigit bibirnya, merasa malu.
Alea:
"Sejujurnya… saya memang baru beberapa hari di Yancheng. Saya belum punya cukup uang untuk sarapan. Kadang saya makan dari pemberian ibu kos. Bahkan... saya belum bayar kos sampai sekarang. Tapi beliau baik, katanya saya boleh bayar kalau sudah dapat pekerjaan."
Nathan terdiam. Matanya menatap ke depan, tapi pikirannya sibuk. Ada desir hangat dalam dadanya, campuran antara iba, simpati, dan… rasa yang lebih dalam.
Nathan (dalam hati):
"Ya Tuhan… istriku… bahkan makan pun ia kesulitan. Haruskah aku memberinya uang? Tapi… jika aku langsung memberinya, bukankah akan terasa aneh? Ini pertemuan pertama kami setelah bertahun-tahun…"
Tanpa berkata sepatah kata pun, Nathan mengambil ponselnya. Ia mengetik sebuah pesan singkat:
> "Transfer 50 juta yuan ke rekening atas nama Azalea Lynn. Jangan gunakan namaku. Kirim atas nama Zhang Corporation. Segera."
Beberapa menit kemudian—
Pip! Pip!
Alea melihat layar ponselnya. Matanya membelalak. Sebuah notifikasi transfer masuk: 50.000.000 yuan dari Zhang Corporation.
Alea (kaget):
"Astaga... apa ini? Uang sebanyak ini? Kenapa? Dari siapa?"
Ia refleks menoleh pada Nathan, suara nadanya meninggi karena panik.
Alea:
"Pak Nathan! Ini... ini kenapa perusahaan mengirimkan saya uang sebanyak ini? Ini tidak masuk akal. Saya bahkan belum bekerja seharian penuh!"
Nathan menjawab tenang, seperti sudah menyiapkan jawabannya.
Nathan:
"Itu adalah fasilitas karyawan untuk kebutuhan dasar hidup beberapa hari ke depan. Gunakan dengan bijak."
Alea (bingung):
"Tapi ini hari pertama saya, Pak. Saya belum melakukan apa pun. Saya belum pantas menerima uang sebanyak ini. Saya tidak mau menerimanya."
Nathan (tegas):
"Kalau kamu tidak menerimanya, maka kamu tidak bisa bekerja di Zhang Corporation. Karena uang itu bagian dari sistem perusahaan, dan kamu adalah sekretarisku sekarang."
Alea:
"Tapi... ini terlalu besar, Pak. Saya... saya bahkan belum tahu akan seperti apa pekerjaan saya ke depan..."
Nathan (menatap lurus ke depan, nada suaranya kuat dan meyakinkan):
"Kalau aku tidak yakin padamu, perusahaan tidak akan mengirim uang itu. Kamu sudah menandatangani kontrak. Kamu adalah sekretarisku sekarang. Semua yang kamu butuhkan untuk bekerja—pakaian, transportasi, makan—itu tanggung jawab perusahaan. Dan juga... tanggung jawabku."
Alea terdiam. Kata-kata Nathan terasa berat tapi tulus. Ia menunduk, mencoba mencerna semuanya.
Alea (dalam hati):
"Mungkin... ini memang rezekiku. Mungkin inilah awal baru yang selama ini aku tunggu…"
Ia menarik napas dalam, menggenggam ponselnya erat, lalu berkata pelan.
Alea:
"Baik, Pak. Saya akan gunakan uang ini sebaik mungkin… dan saya akan bekerja sebaik mungkin."
Nathan hanya mengangguk kecil, tanpa senyum. Tapi dari sorot matanya, terlihat kepuasan tersendiri.
Tak lama kemudian, mobil mereka berhenti di depan gerbang besar bertuliskan:
ZHANG TEXTILE FACTORY.