Lift naik. Hening.
Alea melirik pria di sebelahnya, lalu membuka suara dengan canggung tapi ramah.
"Eh... kamu juga interview di sini ya?" tanyanya dengan senyum kecil.
Pria itu menoleh sekilas, tapi tak menjawab.
"Aku Alea. Hari ini aku interview. Tempat ini jadi harapan terakhir aku, soalnya tadi udah gagal tiga tempat. Mereka cuma lihat penampilan aku, bukan kemampuan…" lanjutnya sambil menunduk sedikit, seperti malu telah berbicara terlalu banyak.
Pria itu tetap diam, menatap angka yang terus naik di layar lift.
"Eh, maaf ya, aku malah curhat. Boleh tahu nggak, ruang HRD-nya di lantai berapa?" tanyanya cepat-cepat, mencoba memperbaiki suasana.
Pria itu menjawab singkat tanpa menoleh, "Lantai 30."
"Wah, makasih! Eh, nama kamu siapa?" tanya Alea lagi, kali ini dengan suara lebih ceria.
"Nathan," jawab pria itu akhirnya, singkat dan datar.
"Oh… Nathan. Nama yang keren," gumam Alea, agak salah tingkah tapi tetap tersenyum.
Lift berhenti. Ting!
Pintu terbuka.
"Hah? Kamu nggak ikut keluar?" tanya Alea heran.
"Aku masih ada urusan," jawab Nathan sambil tetap berdiri di tempatnya.
Alea buru-buru mengeluarkan secarik kertas kecil dan menyodorkannya. "Eh, ini… kalau nanti kamu nyasar atau bingung cari ruangan, ini nomorku, ya. Gedungnya luas banget soalnya."
Nathan tidak merespons secara langsung, hanya memandangi kertas itu sebentar.
Pintu lift hampir menutup saat akhirnya Nathan berbicara.
"Tenang aja. Kita bakal ketemu lagi di dalam ruangan."
Alea mengernyit. "Hah? Maksudnya…"
Tapi pintu lift sudah tertutup. Alea berdiri di depan pintu yang tertutup rapat, bingung.
"Ketemu lagi di ruangan? Oh… mungkin maksudnya dia juga interview. Iya… pasti itu," gumamnya sambil melangkah pelan.
Alea pun berjalan menuju ruang HRD sambil masih mengingat aroma parfumnya dan sorot mata dinginnya yang entah kenapa membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Alea menarik napas dalam-dalam sebelum masuk ke ruang wawancara. Senyumnya terpasang rapi, langkahnya mantap. Tapi, begitu pintu terbuka dan pandangannya tertuju pada sosok pria yang duduk di belakang meja besar dengan tulisan CEO Zhang Corporation, langkahnya terhenti sejenak.
"Oh Tuhan... jangan bilang... itu Nathan?!" bisiknya dalam hati.
Nathan duduk tenang di balik meja besar. Wajahnya datar, dingin, dan tak menunjukkan sedikit pun ekspresi terkejut.
Alea menguatkan diri. Ia berdiri tegak dan berbicara dengan suara mantap.
"Perkenalkan, nama saya Azalea Lin."
Nathan melirik singkat, nadanya ringan dan datar. "Perkenalkan dirimu dan latar belakang pendidikanmu."
"Saya Azalea Lin. Lulusan Universitas Tsinghua dengan beasiswa penuh. Selama kuliah, saya aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan dan sempat menjabat sebagai Ketua Divisi Riset di Forum Ekonomi Kampus."
Nathan masih menatapnya tajam, tanpa mengangguk ataupun memberi reaksi. Alea melanjutkan dengan lebih tenang.
"Saya juga pernah magang selama enam bulan di perusahaan logistik, sebagai asisten analis data. Di sana saya belajar banyak tentang sistem distribusi dan bagaimana meningkatkan efisiensi kerja."
"Kenapa kamu memilih Zhang Corporation dibanding perusahaan lain?" tanya Nathan dengan nada datar.
Alea sedikit ragu, tapi segera mantap. "Karena saya percaya Zhang Corporation memiliki visi yang kuat dan reputasi yang luar biasa. Saya ingin berada di lingkungan yang menantang, agar saya bisa terus belajar dan memberikan kontribusi nyata."
"Apa kamu yakin cocok bekerja di bidang ini?"
"Ya, saya yakin. Saya memiliki kemampuan dan semangat yang kuat untuk terus berkembang di bidang ini. Saya percaya saya bisa tumbuh bersama perusahaan ini."
Nathan membuka berkas di depannya, membalik halaman, lalu menatap Alea kembali.
"Pertanyaan berikut ini agak pribadi."
Alea menegakkan tubuhnya. Ia siap.
"Di data yang kamu isi, tertulis hanya dua anggota keluarga. Apakah kamu dibesarkan seorang diri?"
Alea menelan ludah, lalu menjawab pelan tapi tegas. "Iya. Kedua orang tua saya meninggal dalam kecelakaan mobil lima belas tahun yang lalu. Sejak itu, saya dibesarkan oleh ibu angkat saya."
Nathan tidak menunjukkan empati atau emosi apapun. Ia hanya menutup berkas di depannya dan berkata, "Selesai. Silakan keluar. Hasil wawancara akan kami kabarkan melalui email atau telepon."
Alea bangkit dari duduknya, menunduk sopan, dan keluar dari ruangan dengan d**a yang sesak.
Saat sudah berada di dalam lift, ia bersandar pada dinding dan menatap ke cermin.
"Oh Tuhan… bisa nggak sih aku hapus semua percakapan tadi?" gerutunya sendiri.
Ia mengacak rambutnya dengan frustrasi.
"Aku kenapa sih tadi kayak orang bego banget? Ngapain juga aku sok akrab di lift?! Ya ampun…"
Namun perlahan ia menatap bayangannya sendiri dan menarik napas.
"Tapi… ya sudah lah. Yang penting aku udah berusaha. Aku udah kasih yang terbaik."
Pintu lift terbuka.
"Aku nggak akan menyerah. Meskipun harapannya kecil, aku percaya... masih ada kemungkinan."
Ia pun melangkah keluar dari gedung Zhang Corporation, dengan langkah yang lebih ringan daripada saat ia datang.
Di ruang kerjanya yang elegan dan sunyi, Nathan duduk sambil membolak-balik tumpukan CV para kandidat sekretaris. Pandangannya tertahan pada satu berkas.
"Azalea Lin… 23 tahun…" Nathan membaca pelan.
Ia menyipitkan mata, menatap foto di pojok CV itu.
"Wajah ini… kenapa terlihat begitu familiar? Aku pernah melihatnya. Tapi di mana?"
Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Halo, Ibu? Ada apa?"
"Halo, Nathan. Ibu baru saja mendapat balasan dari pihak desa King Yuan," jawab suara dari seberang.
"Desa Qinguan?"
"Iya. Kita akhirnya tahu di mana Lea berada. Dia memang pernah tinggal di sana. Tapi waktu orang suruhan Ibu datang, bibinya bilang Lea sudah merantau ke Yancheng, mencari pekerjaan."
"Sendirian?"
"Iya, Nak. Katanya dia hanya membawa selembar kertas berisi alamat kos yang dituliskan oleh temannya. Bibinya bilang Lea itu anak yang kuat, tidak banyak mengeluh. Dia mandiri, bahkan sejak kecil."
"Siapa nama lengkapnya, Bu?"
"Azalea Lin. Umurnya 23 tahun sekarang. Posturnya tinggi, rambut panjang, wajah cantik. Ibu dikirimi fotonya, walau agak buram. Tapi… dia sangat mirip dengan ibunya. Cantik dan anggun. Pintar juga. Ya, karena orang tuanya dulu guru."
Seketika Nathan membeku. Matanya melebar.
"Azalea Lin…" bisiknya pelan.
Ia langsung melihat kembali CV di tangannya. Tangannya gemetar. Di layar ponselnya, muncul foto yang dikirim ibunya.
"Astaga… dia Alea-ku yang hilang…" batinnya.
Ia tertegun, menatap foto itu lama, lalu tersenyum getir.
"Jadi ini kamu, Alea… Tuhan benar-benar membawamu kembali padaku."
Tangannya menyentuh layar ponsel, seakan bisa menyentuh wajah gadis itu.
"Dulu kau imut dengan pipi bulat dan rambut yang selalu dikuncir dua… Sekarang kau tumbuh secantik ini. Tapi… apakah perasaanmu masih sama?"
Ia berdiri, mantap.
"Tidak peduli bagaimana masa lalumu atau masa laluku. Aku akan membuatmu mencintaiku kembali. Hari ini, esok, dan seterusnya."
Layar hitam. Musik latar lembut mengalun. Babak baru pun dimulai.