Begitu turun dari bus, Alea menarik napas panjang dan menatap sekeliling terminal yang ramai.
“Yancheng,” gumamnya pelan sambil mengeluarkan secarik kertas dari tasnya. Ia menatap tulisan alamat yang direkomendasikan Vera. “Sepertinya ini tempatnya. Katanya penginapan ini murah dan cocok buat perantau baru kayak aku.”
Alea tersenyum kecil. “Vera emang sahabat terbaik.”
Ia melangkah mengikuti arah yang ditulis di kertas. Tak lama, ia sampai di depan rumah sederhana dua lantai dengan papan kecil bertuliskan Kos Harian & Bulanan – Ibu Rini.
Ia mengetuk pintu. Seorang wanita muda dengan rambut dikuncir satu dan baju merah menyambutnya.
“Permisi… perkenalkan saya Azalea. Tapi panggil saja Lea. Saya dapat info penginapan ini dari teman saya, Vera. Kira-kira, benar ini tempatnya?”
Wanita itu membaca kertas yang Alea sodorkan, lalu tersenyum ramah.
“Oh, iya iya. Kamu temannya Vera? Dia ponakan saya, loh. Saya Rini—panggil saja Mbak Rini.”
Alea terkejut. “Wah, serius, Mbak? Dunia sempit, ya.”
Mbak Rini terkekeh. “Iya, Vera sudah cerita banyak tentang kamu. Katanya kamu baru lulus dan lagi cari kerja. Ini penginapannya, memang nggak mewah, tapi cukup nyaman. Ada tempat tidur, lemari, kipas kecil, dan kamar mandi bersama. Kalau kamu butuh apa-apa, bilang saja ke saya.”
Alea menunduk sopan. “Makasih banyak, Mbak. Aku benar-benar terbantu banget.”
“Oh ya, soal bayaran… nggak usah buru-buru. Nanti aja kalau kamu udah dapat kerja. Anggap aja di sini kamu punya keluarga,” ujar Mbak Rini tulus.
Alea terharu. “Ya ampun… makasih banget. Mbak Rini bener-bener mirip Vera. Sama-sama baiknya.”
Setelah masuk kamar, Alea menaruh tasnya, menepuk kasur kecil yang sudah tersedia, lalu mulai merapikan barang-barangnya satu per satu.
Malam harinya, ia duduk di depan laptop tuanya yang mulai panas saat menyala. Ia membuka folder berisi surat lamaran kerja yang sudah ia siapkan sejak dari rumah.
“Baiklah. Waktunya memulai.”
Dengan penuh semangat, ia mulai mengirim satu per satu lamaran ke empat perusahaan yang sudah ia incar sejak lama.
Sambil menatap layar, ia tersenyum yakin.
“Lihat saja… aku yakin, dari keempat perusahaan ini, pasti ada yang nyangkut satu. Pasti!”
Tawanya pecah sendiri di tengah malam Yancheng yang mulai tenang.
Pagi itu, Alea dikejutkan oleh ketukan lembut di pintu.
“Lea… pagi. Ini, aku bawain makanan,” seru Mbak Rini dari luar.
Alea buru-buru membuka pintu dengan rambut masih awut-awutan.
“Eh, Mbak! Ya ampun… beneran? Makasih banget. Aku jadi nggak enak. Aku aja belum kerja, belum bayar kosan juga.”
Mbak Rini tersenyum sambil menyerahkan piring kecil berisi nasi goreng hangat.
“Nggak usah mikir macam-macam. Kamu temannya Vera, sahabatnya Vera juga sahabat aku. Santai aja, yang penting kamu semangat cari kerja.”
Alea terharu. “Makasih ya, Mbak… bener-bener kayak keluarga sendiri.”
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Bip-bip-bip-bip.
Alea meraih ponsel di meja dan melihat notifikasi dari email. Matanya langsung membesar.
“Eh, Mbak! Aku dipanggil interview! Empat tempat sekaligus hari ini!” serunya kegirangan.
Mbak Rini ikut bersorak. “Wah, selamat ya! Eh, tunggu deh. Aku masih punya kemeja sama rok yang bisa kamu pakai. Kayaknya masih pas badannya. Soalnya, jujur aja… sekarang rok itu udah ngamuk kalau aku pakai, hahaha.”
Alea tertawa geli. “Ya ampun, makasih, Mbak. Nanti aku pakai deh.”
Sambil bersiap, Alea berdiri di depan kaca kecil di kamarnya. “Makeup dikit aja kali ya… jangan menor-menor, takut dikira mau casting sinetron.”
---
Tempat Pertama: Velove Corporation
Alea berdiri gugup di depan resepsionis. “Selamat pagi. Saya ada jadwal interview hari ini.”
“Silakan tunggu sebentar, Mbak,” jawab resepsionis ramah.
Tak lama, suara dari speaker memanggil, “Azalea Lin, silakan masuk.”
Alea membuka pintu ruang interview dan memperkenalkan diri, “Selamat pagi. Saya Azalea Lin—”
Namun belum sempat selesai, seorang pria tua botak dengan wajah sinis menyela sambil menatapnya dari atas ke bawah.
“Kamu bisa kerja hari ini. Lihat dari tampang dan bodimu, sudah cukup oke.”
Alea membeku. Perlahan matanya menyipit. “Maaf, Pak. Saya datang untuk kerja, bukan menjual diri.”
Ia membalik badan dan keluar dengan langkah cepat. Dadanya sesak.
---
Tempat Kedua: Didi Corporation
Alea menatap gedung tinggi itu dengan napas berat. “Semoga yang ini nggak separah tadi…”
Ia masuk dan menyapa resepsionis. “Saya ada interview hari ini.”
“Silakan duduk, nanti dipanggil.”
Beberapa menit kemudian, “Azalea Lin, silakan masuk.”
Alea masuk dengan tenang. “Nama saya Azalea Lin, umur 23 tahun. Saya melamar untuk posisi sekretaris—”
Belum selesai bicara, seorang pria menyentuh bahunya dari belakang dan berbisik,
“Kamu bisa langsung kerja. Tapi kamu harus tahu, dunia kerja itu keras. Kalau kamu nggak ‘berani sedikit’, kamu bakal susah naik.”
Alea melirik tajam, lalu plak!—tamparan mendarat di pipi pria itu.
“Maaf, saya rasa tempat ini nggak cocok untuk saya.”
Dan ia pergi, lagi.
---
Tempat Ketiga: KK Corporation
Alea berdiri lesu di depan gedung berikutnya. “Sungguh… kalau ini juga zonk, mungkin aku bakal nyerah hari ini.”
Ia dipanggil masuk ke ruang interview. Tapi belum sempat duduk, dua pria di ruangan itu menatapnya dengan pandangan tak senonoh, dari kepala sampai kaki.
Alea langsung tahu: tidak ada yang perlu ditunggu.
Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan keluar dari ruangan itu. Matanya panas, tapi ia tahan air mata.
---
Tempat Keempat…?
Alea berdiri di depan gedung tinggi bertuliskan Zhang Corporation. Ia menghela napas panjang, menyandarkan diri di tiang gedung dengan tubuh lelah.
Alea:
(berbisik)
"Ini tempat terakhir... Kalau ini juga gagal, sepertinya aku akan pulang saja."
Ia menunduk, memejamkan mata.
Alea:
"Tuhan... kalau memang rezekiku ada di sini, tolong permudahlah. Aku cuma mau kerja dengan tenang…"
Alea membuka matanya beberapa detik kemudian, hanya melihat punggung pria tinggi yang menghilang di balik pintu kaca otomatis. Ia tidak menyadari bahwa takdir sedang mengatur pertemuan yang lebih dari sekadar kebetulan.
Alea masuk, berdiri dengan canggung di samping pria itu. Di dalam pikirannya, ia menebak-nebak, “Jangan-jangan dia juga pelamar kerja?” Karena penampilannya sangat rapi, tapi belum tentu seorang petinggi—bisa saja seorang kandidat manajer atau semacamnya.