Langit pagi di Benteng Arval tidak pernah benar-benar cerah. Kabut gunung menggantung rendah seperti seprai kelabu yang enggan pergi, membawa aroma besi, tanah basah, dan sedikit bau mesiu yang tak pernah hilang dari udara. Di tengah sunyi yang menegang itu, derap sepatu pasukan bergema beraturan, menghormati satu sosok yang melangkah perlahan di lorong barisan.
Arkan.
Nama yang di bisikkan tentara dengan hormat, takut, dan… kekaguman.
Seragam hitam baja yang ia kenakan tanpa lencana pangkat—karena pangkat tak pernah mampu menggambarkan dirinya—kini tersapu angin dingin gunung. Rambutnya yang hitam kelam menyentuh kerah, matanya tajam seperti bilah pedang yang baru diasah. Setiap langkahnya bukan hanya menciptakan suara, tetapi ketegangan. Udara seolah menahan napas ketika ia lewat.
Para komandan muda berdiri kaku di sisi lapangan latihan, mengamati sosok yang dijuluki Dewa Perang—bukan karena ia dewa, namun karena kedisiplinan dan kemampuan tempurnya membuat para dewa pun iri.
Tapi hari ini berbeda.
Arkan tidak sedang berpatroli. Tidak sedang mengawasi latihan. Tidak sedang memeriksa kesiapan perang.
Ia sedang mencari sesuatu.
Atau seseorang.
Dan semua pasukan tahu: bila Arkan mencari seseorang, itu selalu berarti bahaya akan jatuh tepat di atas kepala yang salah.
Bayangan di Balik Laporan
“Jenderal,” ujar Komandan Leris, berusaha menyembunyikan gugup. “Informasi baru dari unit pengintai. Ada aktivitas tak dikenal di sektor timur. Kami menduga penyusup—”
“Tidak menduga,” potong Arkan tanpa menoleh. “Pastikan.”
Suara itu rendah, datar, tanpa emosi, tapi setiap kata mengandung tekanan yang memaksa siapa pun menelan ludah.
Leris mengangguk cepat, berlari untuk memberi perintah.
Arkan berhenti di tengah lapangan latihan. Matanya memandang jauh melewati dinding benteng, seolah menembus kabut gunung dan melihat sesuatu yang tak dilihat manusia lain. Ia tahu pola pergerakan musuh, tahu celah, tahu waktu serangan bahkan sebelum para pengintai menyadarinya.
Instingnya bukan bawaan lahir—itu ditempa oleh ribuan perang, luka yang tak terhitung, dan malam-malam panjang di mana ia bertahan hanya dengan tekad, bukan keberuntungan.
Beberapa prajurit muda baru menyadari kehadirannya. Mereka pun segera menegakkan badan.
"Jenderal—!"
“Teruskan latihan kalian,” ucap Arkan. “Musuh tidak akan menunggu kalian selesai memberi hormat.”
Nada dinginnya membuat beberapa dari mereka menelan ludah, lalu kembali mengetatkan pegangan pada tombak. Bentangan kesunyian menyelimuti benteng ketika suara dentam latihan kembali mengisi udara.
Namun, sebelum mereka sempat memulai, suara dentuman keras menghantam dari arah gerbang timur.
BOOM!
Debu berhamburan.
Teriakan penjaga terdengar.
Arkan membuka mata yang sedari tadi terpejam setengah.
“Mulai,” gumamnya pelan.
Serangan Tanpa Nama
Arkan bergerak sebelum dentuman kedua terjadi. Tubuhnya melesat seperti bayangan hitam yang terpotong dari dunia. Prajurit tak bisa menangkap waktu ia berakselerasi—yang mereka lihat hanya after-image yang tertinggal di sepanjang jalur larinya.
Di gerbang timur, tembok yang biasanya kokoh kini retak. Sebuah sosok bertudung gelap berdiri di antara serpihan batu. Aura asing, dingin, dan ganas menyelubungi tubuhnya.
Prajurit yang menjaga gerbang terlempar beberapa meter, sebagian terbatuk darah.
Arkan muncul tepat saat sosok bertudung mengangkat tangan.
“Terlambat…” suara dalam itu bergetar.
Tidak ada percakapan lebih lanjut.
Tidak ada peringatan.
Hanya ketegangan.
Sosok itu menyerang duluan, tangannya berubah menjadi cakar bayangan yang memanjang, siap mencabik kepala Arkan. Namun jenderal itu menunduk sedikit, menghindari serangan itu dengan gerakan yang bahkan sulit diikuti mata terlatih.
Loncatan kecil ke samping.
Balik kaki.
Dorongan maju.
Arkan menghantam d**a penyusup itu dengan siku baja.
DUAK!
Sosok bertudung terpental mundur menabrak dinding, meninggalkan cekungan besar. Tapi makhluk itu tidak roboh. Ia tertawa pelan, suara yang membuat kulit merinding.
“Manusia yang disebut… Dewa Perang.”
Nada itu seperti mengejek.
“Dunia di luar bentengmu sudah berubah. Apa kau pikir kekuatan lamamu masih berharga?”
Arkan tidak menjawab.
Ia hanya melangkah maju.
Satu langkah.
Lantai bergema.
Dua langkah.
udara berguncang.
Tiga langkah…
Bayangan Arkan hilang.
Dalam sepersekian detik, ia muncul tepat di depan si penyusup. Pukulan cepat melayang—bukan pukulan biasa, tapi teknik militer rahasia Arval: Patah-Jiwa, sebuah teknik yang menarget syaraf vital musuh tanpa ampun.
Makhluk itu merasakan seluruh tubuhnya lumpuh sesaat. Tak sempat menghindar, Arkan menendangnya keluar dari dinding, membuat sosok itu terlempar jauh ke kabut.
Arkan melompat ke luar, turun dari tembok tanpa suara.
Sang penyusup bangkit tertatih, mantel hitamnya robek. Di balik tudung, tampak mata gelap berkilat.
“Kau manusia…” bisiknya gemetar sekaligus penuh amarah. “Kau tidak seharusnya punya kekuatan seperti ini.”
Arkan menatapnya tajam.
“Aku tidak mendapatkan kekuatanku dari dunia,” ucapnya dingin.
“Aku mendapatkannya dari perang.”
Pengakuan Darah
Pertarungan singkat terus berlanjut—pukulan, bayangan, ledakan kecil, tanah bergetar, udara tercabik. Pasukan yang mulai berdatangan hanya dapat menyaksikan pertarungan itu dengan mulut menganga. Bagi mereka, duel itu bukan pertarungan dua makhluk hidup—melainkan dua bencana alam yang bertubrukan.
Akhirnya, dengan satu pukulan penutup yang menghancurkan tulang, Arkan menahan leher si penyusup dan menekannya ke tanah.
“Siapa mengirimmu?” tanyanya.
Makhluk itu tersenyum, darah hitam menetes dari bibirnya.
“Ada yang kembali mencarimu, Jenderal Arkan… seseorang yang tidak pernah melupakanmu.”
Arkan menyipitkan mata.
“Dia tidak ingin membunuhmu,” lanjut makhluk itu. “Hanya ingin memastikan bahwa legenda Dewa Perang… benar-benar bangkit kembali.”
Arkan mengencangkan cengkeraman.
Namun sebelum ia bisa memaksa jawaban lebih, tubuh penyusup itu meledak menjadi kabut gelap.
Raungan angin menggema, membawa pesan terakhir yang bergetar:
“Pertempuranmu baru dimulai.”
Ketika kabut menghilang, Arkan berdiri diam. Pasukan menunggu perintah, namun ia belum bicara. Hanya matanya yang berubah—lebih tajam, lebih gelap, seolah ia menemukan kembali sesuatu yang telah lama ia kubur.
“Perkuat seluruh sektor,” ucapnya akhirnya.
“Dan bersiap.”
“Untuk apa, Jenderal?” tanya Leris dengan suara bergetar.
Arkan menatap ke kejauhan. Kabut berputar seperti mata badai.
“Untuk perang yang seharusnya sudah berakhir tiga ratus tahun lalu.”