Angin malam turun lebih awal hari itu, membawa dingin yang menusuk tulang. Biasanya, malam di Benteng Arval sunyi—prajurit beristirahat, senjata dibersihkan, dan patroli berjalan tenang. Tapi setelah serangan makhluk misterius siang tadi, udara berubah menjadi kencang dan gelisah.
Di menara pengawas, api obor berkedip-kedip seolah ketakutan oleh sesuatu yang belum terlihat.
Para prajurit berbisik di balik helm baja mereka.
“Jenderal Arkan tampak… berbeda.”
“Aku melihat matanya tadi… seperti melihat sesuatu yang jauh lebih menakutkan dari musuh itu.”
“Apakah akan ada perang lagi?”
Tak seorang pun benar-benar tahu.
Sosok yang tahu segalanya—yang seharusnya memberi kepastian—justru berdiri sendirian di balkon utama markas komando, memandang ke arah hutan gelap seperti seseorang yang sedang menunggu musuh lama muncul dari kegelapan.
Arkan berdiri tegap dengan tangan di belakang punggung, wajahnya keras seperti batu.
Namun matanya…
Itu bukan mata seorang jenderal biasa.
Itu mata seseorang yang tahu bahwa pengkhianatan tidak pernah benar-benar mati.
Retakan di Ingatan
Saat angin berdesir melewati dinding, Arkan memejamkan mata. Sekilas, bayangan masa lalu muncul—bukan dalam bentuk mimpi, tapi retakan ingatan yang terpaksa ia buka kembali.
Darah.
Api.
Jeritan pasukan terakhirnya.
Dan suara seseorang yang membisikkan janji kematian.
“Satu hari nanti… aku akan menjemputmu kembali, Arkan.”
Arkan mengerutkan kening.
Nama itu—yang terbungkus dalam kabut kenangan—masih belum jelas.
Namun suaranya… tak mungkin dilupakan.
Suara yang dulu memimpin pemberontakan, suara yang menjerat kejatuhan dunia, suara pengkhianat yang lahir dari dalam pasukannya sendiri.
Tiba-tiba suara langkah cepat terdengar di belakangnya.
“Jenderal.”
Arkan membuka mata. Komandan Leris berdiri dengan wajah pucat.
“Ada laporan baru,” katanya sedikit gemetar. “Dari unit pengintai yang kita kirim sore tadi…”
“Bicara.”
Leris menelan ludah. “Kami menemukan mayat tiga pasukan kita… tanpa luka eksternal. Seolah… jiwanya dicabut.”
Arkan membalikkan badan, matanya menajam.
“Kau yakin?”
“Kami pastikan. Tidak ada tanda perlawanan. Tidak ada tanda senjata. Mereka seperti mati… ketakutan.”
Keheningan menggantung beberapa detik.
Kemudian Arkan mengambil pedangnya dari rak—pedang hitam yang disegel—dan menggenggamnya seolah bersiap menghadapi sesuatu yang telah ia tunggu.
“Siapkan regu penyerbu,” ucap Arkan. “Kita turun ke sektor timur malam ini.”
Leris kaget. “Malam ini? Tapi kita tidak tahu—”
“Justru karena kita belum tahu.”
Arkan menatapnya.
“Terlambat satu langkah… kita kehilangan tiga prajurit. Terlambat dua langkah… kita kehilangan benteng.”
Leris terdiam.
Ia tahu Jenderal Arkan tidak pernah bergerak berdasarkan ketakutan—hanya berdasarkan kalkulasi perang.
Jika Arkan berkata bergerak sekarang, berarti ancaman yang datang bukan hanya musuh biasa.
Operasi Bayangan Malam
Tidak sampai satu jam kemudian, belasan pasukan elit berkumpul di halaman benteng. Mereka mengenakan armor ringan, membawa senjata yang dilatih bertahun-tahun untuk digunakan dalam operasi malam. Udara dingin membuat napas mereka tampak seperti asap.
Arkan berjalan melewati mereka, memberikan tatapan singkat yang cukup untuk membuat nyali menguat. Tidak ada pidato. Tidak ada seruan heroik. Hanya satu kalimat:
“Jangan mati sia-sia.”
Pasukan mengangguk serempak.
Mereka bergerak menembus hutan gelap, torci dimatikan, mengandalkan insting dan pelatihan keras untuk tetap diam. Cabang-cabang pohon bergetar seolah membisikkan sesuatu ketika Arkan lewat.
Setelah perjalanan singkat, mereka menemukan tempat yang dilaporkan unit pengintai:
sebuah celah hitam di tanah, terbuka seperti luka purba.
Di sekelilingnya terdapat tanda bekas ritual—lingkaran, simbol asing, dan darah yang belum kering.
“Kita masuk ke sini?” gumam salah satu prajurit.
Arkan berlutut, menyentuh tanah, lalu menatap dalam pada celah itu.
“Tidak,” katanya.
“Kita sudah di dalam wilayah musuh sejak kita melangkah ke hutan.”
Dan seakan membenarkan kata-kata Arkan, udara tiba-tiba mendingin. Embun beku muncul di daun-daun sekitar. Bayangan gelap perlahan merayap keluar dari celah.
Lalu…
sebuah suara menggema dari dalam lubang itu.
“Sampai akhirnya… kau datang juga, Arkan.”
Semua prajurit spontan memutar arah, menyiapkan senjata.
Arkan berdiri perlahan, tatapannya berubah seperti seseorang yang akhirnya melihat wajah musuh lamanya.
“Keluar,” katanya tegas.
Hening beberapa detik.
Kemudian sebuah siluet tinggi, kurus, dan tidak wajar naik dari celah itu—kulit kelabu, mata merah menyala, dan tanduk hitam pendek di kepalanya.
Makhluk itu menatap Arkan seperti menatap hadiah yang sudah lama ditunggu.
“Aku dikirim untuk menguji… apakah Dewa Perang yang mereka katakan benar-benar bangkit kembali.”
Arkan menghela napas pelan.
“Jika tuanmu ingin menguji kekuatanku,” katanya, “kau pulang membawa pesan yang salah.”
Makhluk itu menyeringai.
“Pesan?”
Arkan memiringkan pedangnya.
“Pesan bahwa aku tidak membutuhkan kekuatan lamaku untuk membunuhmu.”
Pertarungan yang Membuka Rahasia
Makhluk itu melompat dengan kecepatan yang mustahil bagi mata manusia biasa. Namun Arkan sudah bergerak sebelum bayangan itu tiba.
DENTUM!
Benturan pertama membuat tanah bergetar.
Makhluk itu mengayunkan cakar panjang, Arkan memblokir dengan pedang hitamnya. Percikan energi memancar, memotong pohon di sekitar menjadi dua.
Pasukan elit hanya bisa mundur, menjaga jarak, tak mampu ikut campur.
Serangan demi serangan, kecepatan yang manusia lain takkan sanggup lakukan, saling beradu.
“Manusia…” makhluk itu menggeram. “Kau seharusnya tidak sekuat ini!”
Arkan memutar tubuh, menebas diagonal—gerakan cepat namun sempurna. Darah gelap makhluk itu memercik ke tanah.
“Aku kuat,” jawab Arkan, “bukan karena aku manusia.”
Ia menghantam d**a makhluk itu dengan lutut, membuatnya terhempas.
“Tapi karena perang mengajariku cara tidak mati.”
Makhluk itu menjerit marah, tubuhnya berubah menjadi kabut hitam, lalu kembali berwujud dalam jarak dekat. Ia berbisik:
“Kalau begitu… mari lihat apakah Dewa Perang bisa bertahan kedua kalinya dari pengkhianatan yang sama.”
Arkan terhenti sepersekian detik.
Pengkhianatan.
Kata itu seperti pisau yang menusuk ingatannya.
“Siapa menyuruhmu?” Arkan menatap tajam.
Makhluk itu tersenyum.
“Orang yang dulu menusuk punggungmu… dan membuatmu mati pertama kalinya.”
Sebelum Arkan sempat bereaksi, makhluk itu hancur menjadi kabut gelap dan menghilang, meninggalkan tawa mengerikan yang menggema di seluruh hutan.
Pasukan berlari mendekat.
“Jenderal! Apakah Anda baik-baik saja?”
Arkan berdiri diam.
Matanya memandang celah ritual itu.
Di dalam tatapan itu, ada sesuatu yang sudah lama hilang kini kembali:
Amarah.
Dendam.
Dan kebenaran yang siap diseret keluar dari kegelapan.
“Siapkan semuanya,” ucap Arkan.
“Siapkan apa, Jenderal?”
Arkan menutup pedangnya.
“Perang lama… bangkit kembali.”