JEJAK PENGKHIANAT YANG KEMBALI MENYALAKAN API PERANG
Kabut belum sepenuhnya terangkat ketika matahari mulai merayap di balik punggung gunung. Namun Benteng Arval tidak pernah setegang ini. Prajurit berlari dari satu menara ke menara lain, para ahli taktik berkumpul di ruang pertemuan, dan suara lonceng pendek berkumandang—tanda bahwa ancaman kelas tinggi sedang dipersiapkan.
Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, hanya satu sosok yang tetap tenang.
Arkan.
Ia berdiri di ruang strategi, tangan bertumpu pada meja kayu besar yang penuh peta, catatan, dan pin logam tanda kekuatan musuh. Api obor di dinding memantulkan bayangannya ke dinding bata, membuatnya terlihat lebih besar, lebih gelap, dan lebih berbahaya.
Komandan Leris berdiri di samping, mencoba menyusun napas.
“Jenderal… apa maksud makhluk itu? Pengkhianatan lama? Siapa yang—”
“Jangan sebut namanya,” potong Arkan tajam tanpa menatap.
“Belum.”
Kata belum itu diucapkan seperti ancaman.
Atau janji.
Leris menelan ludah.
Ia tidak tahu banyak tentang masa lalu Jenderal Arkan—tidak ada yang tahu. Tapi semua prajurit Arval mengetahui satu hal:
Ada seseorang yang cukup kuat dan cukup kejam hingga mampu menjatuhkan Arkan sekali.
Seseorang yang keberadaannya menghilang dari sejarah karena satu alasan—Arkan sendiri menghapusnya.
Peta yang Tidak Pernah Diajarkan
Arkan menarik satu lembar peta dari tumpukan—kertas tua yang sangat usang, seolah berusia ratusan tahun. Bagian pinggirnya terbakar samar. Simbol-simbol rahasia memenuhi permukaannya, bukan bahasa Arval, bukan bahasa militer mana pun.
Leris tertegun. “Peta apa itu?”
Arkan memandangnya sebentar.
“Peta yang tidak boleh ada.”
Ia meletakkannya di atas meja.
“Peta yang aku kubur bersama orang yang mengkhianatiku.”
Leris mengerutkan kening, mencoba memahami. “Jadi… ini tentang masa lalu Anda, Jenderal?”
Arkan tidak menjawab langsung.
Ia mengepalkan tangan, menahan sesuatu yang lebih berat dari amarah—kenangan yang ia tutup rapat selama tiga abad.
“Dulu,” ujar Arkan perlahan, suaranya turun satu oktaf, “ada seorang pria… prajurit terbaikku. Saudara perangnya. Orang yang kupilih untuk memimpin pasukan ketika aku tiada.”
Leris menunggu kelanjutannya.
“Namanya…” Arkan berhenti, seolah lidahnya menolak mengucapkannya.
Akhirnya ia melanjutkan:
“Kaelis.”
Nama itu seperti mengguncang ruangan.
Atau mungkin hanya Leris yang merasakannya.
“Dia pengkhianat itu?”
Arkan mengangguk pelan.
“Kaelis adalah orang pertama yang bersumpah melindungi Arval.”
Tatapan Arkan menajam.
“Dan orang pertama yang menusukku dari belakang.”
Tanda yang Bangkit Lagi
Sebelum Leris sempat bertanya lebih jauh, pintu ruang strategi terbuka terbanting.
Seorang prajurit elit masuk dengan wajah pucat.
“Jenderal! Kami menemukan sesuatu—di gerbang utara!”
Arkan berbalik cepat. “Apa itu?”
Prajurit itu gemetar ketika menyerahkan sebuah benda kecil yang dibungkus kain.
Arkan mengambilnya.
Ketika kain itu terbuka…
ruangan seakan membeku.
Itu adalah medali perak berbentuk lingkaran dengan simbol mata terbuka di tengah—lencana khusus yang hanya dimiliki dua orang dalam sejarah Arval: Arkan dan Kaelis.
Namun lencana ini bukan milik Arkan.
Leris mundur setengah langkah. “Tidak mungkin… dia—dia masih hidup?”
Arkan menutup medali itu perlahan, matanya berubah dingin.
“Aku tidak peduli apakah ia hidup atau mati.”
Ia menggenggam medali itu hingga logamnya berderak.
“Yang kupedulikan hanyalah satu: dia menantangku.”
Tanda Serangan Besar
Tiba-tiba seluruh benteng bergetar.
Getaran pertama ringan, seperti gempa kecil.
Getaran kedua mengguncang rak senjata.
Getaran ketiga… membuat sebagian obor padam.
“Alarmkan seluruh unit!” teriak Leris.
Namun Arkan mengangkat tangan tanda diam.
Ia bisa merasakan sesuatu—auranya, sumbernya, nadinya.
Getaran itu bukan gempa.
Itu adalah derap langkah raksasa.
Dari kejauhan, suara terdengar seperti puluhan kaki besar menghantam tanah. Semakin mendekat. Semakin keras. Semakin menutup setiap ruang napas.
Prajurit berlari di luar ruangan.
“Makhluk besar mendekat dari arah timur!”
“Jumlahnya tak terhitung!”
“Semua bersiap di posisi!”
Leris menatap Arkan dengan ketakutan yang ia coba sembunyikan.
“Jenderal… apa yang harus kita lakukan?”
Arkan memasang sarung pedangnya ke pinggang, gerakan lambat namun mantap. Tatapannya tidak memancarkan rasa takut—hanya ketenangan seorang manusia yang sudah terlalu sering menatap kematian hingga tidak lagi peduli.
“Perang telah mengetuk pintu kita,” ucap Arkan.
Ia menatap seluruh benteng dari jendela besar seolah sedang menyapa medan perang yang sudah lama menunggunya.
“Dan aku…”
Arkan menarik napas dalam.
“…sudah terlalu lama tidak menyambutnya.”
Mata Lembah yang Terbuka
Benteng Arval bersiap di detik yang sama ketika hutan timur terbelah oleh cahaya merah. Kabut tersingkir paksa, dan makhluk-makhluk raksasa setinggi tiga kali menara penjaga berjalan keluar dari kegelapan.
Kulit mereka hitam seperti batu vulkanik, mata mereka menyala merah darah, dan simbol yang sama dengan medali Kaelis terukir di d**a raksasa itu.
Liris memucat. “Ini… ini pasukan pembantai dari legenda…”
Arkan menoleh.
“Salah.”
Ia menghunus pedangnya.
“Ini pesan dari Kaelis.”
Suara teriakan perang menggelora.
Benteng Arval berguncang.
Makhluk-makhluk itu meraung, memecahkan pohon seperti ranting.
Pasukan Arval bersiap mati-matian.
Namun Arkan melangkah maju ke depan gerbang, satu-satunya yang berjalan tenang ketika bencana mendekat.
Salah satu makhluk raksasa mengangkat lengannya yang besar, siap menghancurkan gerbang dengan sekali hantam.
Pada detik itu, Arkan berbicara pelan, hanya untuk dirinya sendiri:
“Kaelis… jika ini undangan untuk membangunkan luka lamaku—kau berhasil.”
Lalu ia mengangkat pedang.
Udara di sekitar bergetar.
Tanah retak di bawah kakinya.
Mata raksasa di depan membesar.
Dan Arkan berbisik:
“Sekarang… mari kita buka kembali perang yang kau tinggalkan.”
Pedang Arkan bergerak.
Dan dunia kembali meledak.