Gerbang Arval biasanya berdiri kokoh seperti rahang gunung.
Namun malam itu, ia bergetar seperti sedang menghadapi kiamatnya sendiri.
Makhluk-makhluk raksasa itu—dengan langkah berat bagaikan palu para dewa—mendekat satu per satu, membentuk barisan gelap yang mengurung lembah. Gemuruhnya tidak hanya terdengar, tapi terasa seperti hantaman ke d**a, membuat setiap prajurit sulit mengambil napas.
Arkan berdiri paling depan, sendirian.
Bukan karena sombong.
Tapi karena itulah tempat yang seharusnya ia tempati—tempat di mana ia selalu berada ketika kematian mengetuk.
Dari atas tembok, para prajurit menatap punggung Arkan dengan campuran rasa takut dan pengaguman.
“Dia… tidak bergerak sedikit pun…”
“Seolah hal sebesar itu bukan apa-apa baginya…”
“Apakah ini Jenderal kita… atau sesuatu yang lebih dari manusia?”
Leris, yang berdiri di samping meriam balista, menatap Arkan dengan wajah tegang.
“Jenderal… berikan perintah, dan kami akan—”
“Tidak,” potong Arkan, suaranya pelan namun jelas.
“Biarkan mereka datang.”
Leris menegang.
“Tapi—”
“Kaelis ingin kita bereaksi,” lanjut Arkan. “Ia ingin melihat ketakutan kita. Kita tidak memberi itu.”
Liris terdiam.
Arkan mengangkat pedang perlahan—gerakan sederhana tapi membuat angin berhenti sesaat, seolah dunia ikut menahan napas.
Kelahiran Bencana
Makhluk raksasa pertama meraung, membuka mulutnya yang dipenuhi gigi seperti batu tajam. Suaranya mengguncang tanah. Dengan lengan setebal menara kecil, ia mengangkat balok batu besar ke atas kepalanya dan menghantamkan ke arah gerbang.
DUUUAAAAR!!!
Benteng bergetar.
Serpihan batu beterbangan.
Beberapa prajurit terjatuh dari posisi mereka.
Namun sebelum makhluk itu sempat mengayunkan serangan kedua—
Arkan menghilang.
Tidak melompat.
Tidak berlari.
Tidak bergerak seperti manusia.
Ia lenyap dan muncul kembali tepat di depan wajah raksasa itu.
Seketika waktu terasa melambat bagi semua yang melihat kejadian tersebut.
Arkan mengangkat pedang hitamnya.
Bukan dengan kemarahan.
Bukan dengan putus asa.
Tetapi dengan ketenangan orang yang telah membunuh ratusan makhluk seperti ini sebelum fajar pertama dunia datang.
SWIISSHH—
Dalam satu gerakan, pedang Arkan membelah udara.
Dan raksasa itu tidak sempat mengerti apa yang terjadi ketika cahaya merah dari matanya padam.
Kepalanya jatuh dengan suara berat.
Tubuhnya menyusul, menabrak tanah seperti gunung runtuh.
Prajurit di tembok menjerit terkejut.
Beberapa terdiam, beberapa lupa bernapas.
“J… jenderal…”
Leris bahkan kehilangan kata-kata.
Tapi Arkan hanya menatap ke depan.
Karena setelah raksasa pertama tumbang, dua belas lainnya mengangkat kepala dan mengaum marah—lebih keras, lebih ganas, penuh kebencian terhadap manusia yang baru saja mempermalukan mereka.
Tanah berguncang lagi.
Malam seperti retak.
Dan perang dimulai.
Benteng Melawan Kegelapan
Makhluk berikutnya menerjang maju dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk tubuh sebesar itu. Ia mencakar tanah, melemparkan batu yang melesat seperti meteor ke arah Arkan.
Arkan memiringkan tubuh.
Hanya sedikit.
Batu itu melesat melewatinya, menghancurkan dinding belakang benteng.
“Api meriam! Sekarang!” teriak Leris.
Empat balista melepaskan anak panah raksasa yang ujungnya terbalut besi.
Empat kilatan logam melesat, menancap pada satu raksasa, membuat makhluk itu terundur, meraung kesakitan.
Namun itu tidak berhenti.
Justru semakin marah.
Prajurit memutar roda balista lagi, tapi mereka tahu, kecepatan raksasa itu jauh lebih cepat daripada waktu muat ulang mereka.
“Kita tidak akan sempat—!”
Suara teriakan itu terpotong oleh suara gedebuk keras.
Arkan mendarat di atas bahu raksasa, menancapkan pedang langsung ke lehernya. Makhluk tersebut mengamuk, mencakar bahunya sendiri, tapi Arkan tidak bergerak sedikit pun.
Ia menarik pedang, kemudian memotong tulang tengkuk raksasa itu.
Tubuh besar itu jatuh dengan hantaman memekakkan telinga.
Dua makhluk tumbang.
Sepuluh tersisa.
Dan semua menyerang sekaligus.
Gelombang yang Tak Seharusnya Diatasi Manusia
Untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, prajurit Arval melihat Arkan benar-benar bergerak.
Ia melompat di antara lengan-lengan raksasa yang menghantam, berputar, menendang, memotong tendon mereka, mematahkan sendi, memecahkan lutut, menusuk leher. Aksinya bukan sekadar kemampuan seorang jenderal—tapi pengalaman ratusan tahun bertahan hidup dari kekuatan yang seharusnya tidak dapat dilawan manusia.
Setiap kali pedangnya bergerak, satu makhluk tumbang.
Setiap kali ia berpindah tempat, tanah merekah.
Setiap serangannya membawa jejak cahaya gelap yang mengiris udara.
Prajurit yang menonton dari tembok tampak seperti melihat legenda terlahir di depan mata mereka.
“Dewa Perang…” bisik salah satu dari mereka.
“…benar-benar kembali.”
Tanda yang Tidak Salah Lagi
Setelah raksasa kesembilan jatuh dengan raungan panjang, Arkan mendarat di tanah, bahunya sedikit menurun—bukan karena lelah, tetapi karena ia menyadari sesuatu.
Makhluk raksasa terakhir tidak menyerang.
Ia berhenti pada jarak cukup jauh dari Arkan.
Tubuhnya lebih besar, lebih gelap, dan lebih stabil dibanding yang lain. Matanya tidak merah—tapi ungu.
Simbol di dadanya bukan sekadar tanda.
Itu adalah lambang kepemimpinan.
Raksasa itu menatap Arkan, lalu membuka mulutnya perlahan.
Dari dalam suaranya yang bergemuruh, terdengar kata-kata yang bukan berasal dari makhluk itu sendiri…
melainkan suara seseorang yang sangat Arkan kenal.
Suara yang membuat bulu kuduk setiap prajurit merinding.
“Arkan…”
Suara itu lembut, namun menggema seperti kutukan.
“Sudah terlalu lama, saudara lamaku.”
Mata Arkan melebar.
Leris menatapnya tak percaya.
“Jenderal… suara itu… apakah…?”
Arkan tidak menjawab.
Namun jantungnya berdebar—untuk pertama kalinya sejak ratusan tahun lalu.
Sebab suara itu…
adalah suara orang yang seharusnya sudah mati.
Kaelis.
Undangan Dari Kegelapan
Raksasa terakhir menancapkan tangannya ke tanah.
Energi ungu menyembur dari tubuhnya, membuka retakan besar di permukaan bumi. Cahaya gelap muncul dari dalam retakan, memancarkan aura dingin yang membuat para prajurit mundur.
Lalu suara Kaelis kembali terdengar—lebih jelas, lebih dekat, seolah ia berdiri tepat di belakang Arkan.
“Jika kau ingin jawabannya…”
“datanglah menemuiku.”
Retakan itu melebar.
Angin hitam berputar.
Dan kemudian—
BOOM!!!
Raksasa tersebut meledak menjadi debu hitam yang terseret masuk ke dalam celah.
Retakan itu menutup perlahan, menyisakan tanah yang gosong dan aroma kematian.
Seluruh benteng terdiam.
Lalu, perlahan, Arkan memasukkan pedangnya ke sarung.
Liris mendekat dengan suara gemetar.
“Jenderal… apakah itu… benar-benar dia?”
Arkan menatap tanah yang baru saja terbuka itu.
“Ya.”
Suaranya dingin.
Tegas.
“Kaelis memanggilku.”
Ia memalingkan tubuh, menatap seluruh benteng yang kini hancur setengahnya.
“Dan aku…”
matanya menyala seperti bara api lama yang disentuh angin,
“…akan menjawab panggilannya.”