Angin malam membawa bau besi terbakar ketika pasukan Arkan menyusuri lembah sempit itu. Tidak ada cahaya selain kilau redup bulan yang tertutup awan. Tanah bergetar pelan—pertanda bahwa sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pasukan manusia sedang bergerak.
“Komandan… jejaknya menghilang.”
Letnan Varro berhenti, matanya menatap titik gelap di antara dua tebing.
Arkan melangkah maju. Mantelnya berkibar pelan, dan setiap langkahnya membawa tekanan yang membuat anak buahnya secara insting memberi ruang.
Ia berjongkok, menyentuh tanah.
Masih hangat.
Masih berdenyut…
Seolah sesuatu yang hidup baru saja menyeret dirinya ke bawah permukaan.
“Dia tidak menghilang.” Arkan mendesis. “Dia ditarik.”
Varro menelan ludah. “Oleh apa, Komandan? Kita tidak sedang berada di wilayah iblis, ini masih perbatasan utara—”
“Diam.”
Satu kata lembut, namun membuat semua prajurit serempak terpaku.
Arkan menajamkan pendengaran. Lembah sunyi itu tiba-tiba terasa terlalu tenang. Tidak ada suara serangga. Tidak ada gemerisik dedaunan. Bahkan angin pun berhenti seperti menahan napas.
Semuanya salah.
Ia berdiri. “Formasi bulat. Tombak ke luar. Jangan buat suara.”
Para prajurit mematuhi tanpa bertanya. Mereka sudah lama mengetahui bahwa insting Komandan Arkan lebih tajam dari mata elang dan lebih cepat dari logika.
Namun bahkan mereka tak bisa menyembunyikan ketakutan ketika suara itu muncul.
Srek… srek… srek…
Seperti sesuatu yang merayap di bawah tanah, mendekat, memutari mereka. Tekanan di udara naik. Wajah para prajurit menegang. Varro membuka mulut untuk bertanya—
Dan tanah di bawah mereka meledak.
Makhluk setinggi lima meter keluar dari tanah, tubuhnya seperti gabungan baja dan daging yang dipaksa bersatu. Mata merah menyala menatap Arkan seakan mengenalinya. Tubuhnya menggeliat, memuntahkan suara geraman rendah yang membuat tulang para prajurit bergetar.
Varro panik. “Itu—itu bukan jenis binatang perang! Itu—”
“SILENCE.”
Perintah Arkan menggema seperti sabetan pedang.
Ia maju satu langkah. Satu langkah saja, namun seolah bumi ikut bergerak bersamanya.
“Dari mana kau berasal?” gumamnya pada monster itu. “Dan siapa yang mengirimmu ke wilayah manusia?”
Monster itu meraung, menggetarkan tebing kiri dan kanan. Beberapa prajurit terjatuh. Batu-batu runtuh dari atas.
Serangannya datang secepat kilat.
Cakar besar menghantam ke arah Arkan, memecah tanah mengikuti jalur serangannya. Beberapa prajurit berteriak—namun sebelum mereka sempat bergerak, Arkan sudah tidak ada di tempat.
Dalam satu kedipan mata… ia sudah berada di atas lengan monster itu.
Pedangnya menebas turun, tanpa sorak, tanpa gerakan berlebihan. Hanya tebasan bersih, dingin, dan mematikan.
CRAAACK!
Lengan monster itu terbelah dua dan jatuh ke tanah. Darah hitam memercik seperti hujan. Monster itu meraung begitu keras hingga udara bergetar.
Namun Arkan belum selesai.
Dengan gerakan yang mustahil ditangkap mata biasa, ia melompat ke kepala monster itu, menancapkan pedangnya sambil berbisik:
“Aku tidak punya waktu untuk bermain.”
Ia memutar pedangnya. Retakan putih muncul, menyebar seperti petir di permukaan tengkorak makhluk itu.
Suara ledakan kecil terdengar.
Kepala monster itu hancur seketika. Tubuh raksasanya jatuh ke tanah dengan dentuman yang mengguncang seluruh lembah.
Hening.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada suara selain desahan napas prajurit yang ketakutan sekaligus tak percaya.
Arkan menarik pedangnya yang berlumuran darah. Tanpa memperhatikannya, ia menatap ke arah kegelapan di ujung lembah. Matanya berubah tajam, seperti mata serigala yang mencium bau musuh.
“Komandan…” Varro berbisik. “Apa itu barusan?”
Arkan mengangkat kepalanya.
Tatapannya bukan lagi tatapan seorang manusia biasa.
Ada sesuatu yang gelap… kuno… dan berbahaya yang bergetar di balik sorot matanya.
“Musuh kita bukan lagi manusia.”
Ia menghela napas pendek, dingin.
“Seseorang sedang menarik makhluk dari dimensi terlarang.”
Varro menegang. “Si—siapa yang bisa melakukan itu?”
Arkan memasukkan pedangnya ke sarung.
Bahu dan langkahnya terasa lebih berat daripada sebelumnya—seolah bayang-bayang masa lalu ikut menempel padanya.
“Orang yang seharusnya sudah mati.”
Ia menatap ke langit yang diselimuti awan hitam.
Dan dalam bisikan yang hampir tidak terdengar, ia menambahkan:
“Orang yang sama yang dulu… mengkhianatiku.”