Mayat monster itu belum sepenuhnya dingin ketika angin berubah arah. Udara seperti menarik napas dalam, menahan sesuatu yang hendak pecah.
Arkan merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Semua mundur tiga langkah,” perintahnya. Suaranya rendah, tetapi tegas.
Para prajurit mematuhi meski mereka tidak tahu apa yang hendak terjadi.
Ia sendiri tidak mundur. Ia berdiri tepat di depan tubuh monster yang hancur, menatap sesuatu yang tidak terlihat orang lain. Ada getaran halus di udara—suatu residu energi yang ia kenali, energi yang tidak mungkin ada di dunia manusia.
“Komandan…” Varro berbisik. “Apa ada lagi?”
Arkan tidak menjawab.
Karena ia sudah merasakannya.
Seseorang sedang mengawasi mereka.
Bukan dari balik bayang-bayang atau dari atas tebing.
Tidak. Jauh lebih berbahaya dari itu.
Arkan menghunus pedangnya perlahan—bukan karena ia hendak menyerang, tetapi karena pedang itu bereaksi sendiri. Bilahnya bergetar seolah ada kekuatan asing yang sedang menyentuh permukaannya.
Dan kemudian… suara itu terdengar.
Lembut. Berbisik. Dan terlalu dingin untuk berasal dari manusia.
“Aku melihatmu… Arkan.”
Semua prajurit menegang. Sebagian menoleh, mencari sumber suara. Tapi tidak ada satu pun yang bisa menemukan asalnya.
Arkan menatap lurus ke ruang kosong di depannya. “Keluar.”
Bayangan tipis terbentuk—sebuah retakan hitam, seperti goresan tinta di udara. Retakan itu terbuka perlahan, mengalirkan kabut pekat. Dari dalam kabut, muncul sosok berjubah gelap. Ia tidak berjalan, tapi meluncur pelan, seolah gravitasi tidak menyentuhnya.
Parasnya tertutup topeng hitam tanpa ekspresi. Hanya dua lubang mata merah menyala dari baliknya.
Varro tersentak. “I-Itu… penyeru dimensi?”
Arkan menggeleng. “Bukan. Ini lebih buruk.”
Sosok itu berhenti beberapa langkah di depan Arkan. Udara di sekitarnya menghitam, seperti cahaya menolak mendekat.
“Sudah lama…” suara sosok itu terdengar patah-patah, seolah berasal dari tenggorokan yang tidak lagi hidup.
“Dewa perang yang dibuang langit… akhirnya bangkit lagi.”
Arkan tidak bergeming. Matanya dingin, bukan karena ketakutan, tetapi karena mengenal sesuatu yang seharusnya tidak mungkin ada.
“Kau seharusnya tidak bisa masuk ke dimensi ini,” kata Arkan pelan. “Kecuali seseorang membukakan pintu.”
“Benar.”
Sosok itu tertawa kecil, suara patah seperti kaca retak.
“Dan kau pasti tahu siapa yang melakukannya.”
Tangan prajurit gemetar.
Suasana menjadi mencekam.
Varro menatap Arkan, bingung dan takut sekaligus.
Arkan merasakan jantungnya berdetak lebih keras, bukan karena gentar, tetapi karena amarah lama yang kembali bangkit.
“Jadi dia masih hidup…” bisiknya.
“Orang itu benar-benar tidak tahu kapan harus mati.”
Wajah sosok bertopeng itu bergerak mendekat, jaraknya hanya beberapa langkah dari Arkan.
Perawan udara di antara mereka bergetar, seolah tidak mampu menahan benturan dua kekuatan yang saling menolak.
“Dia menunggumu, Arkan.”
Nada suara sosok itu berubah, semakin dalam.
“Dan kalau aku jadi kau… aku tidak akan membuang waktu. Karena kali ini… tidak hanya dunia manusia yang akan jatuh.”
Awan hitam di langit tiba-tiba pecah. Suara gemuruh mengguncang lembah.
“Dimensi kegelapan sudah pecah.”
Sosok itu mengulurkan tangannya.
Dan serangan datang tanpa peringatan.
Kabut hitam meledak, membentuk pusaran yang menyedot tanah, batu, bahkan udara. Prajurit terpental seperti boneka, berteriak saat tubuh mereka terbanting ke tanah. Varro nyaris tersedot jika Arkan tidak bergerak secepat kilat menariknya.
“Pegang garis!” teriak Arkan.
Tapi tanah mulai retak, membentuk lingkaran di kaki sosok bertopeng itu.
“Ini peringatan,” ujar sosok itu, suaranya bergema ribuan kali lipat. “Lain kali… aku tak datang sendirian.”
Retakan di tanah menutup.
Kabut tersedot kembali ke tubuh makhluk itu.
Dan dalam sekejap—
Ia hilang.
Menyisakan lembah penuh debu, prajurit tergeletak, dan hawa dingin yang menusuk sampai tulang.
Varro terengah. “Komandan… siapa sebenarnya orang itu? Siapa yang bisa menggerakkan monster dimensi… dan mengirim makhluk seperti itu hanya untuk peringatan?”
Arkan tidak langsung menjawab.
Ia menatap langit yang hitam, lalu menunduk, mengusap darah hitam yang menempel di pedangnya.
“Ada nama yang harus kau ingat,” katanya akhirnya, suaranya serak namun jelas.
Nama yang pernah ia kubur jauh dalam neraka perang.
“Kael Draven.”
Varro membelalak. “T-Tapi… bukankah dia—”
“Ya.”
Arkan menatap lurus ke depan.
“Mantan jenderalku. Saudara angkatku. Dan pengkhianat yang menusukku dari belakang.”
Angin membawa suara gemuruh jauh di kejauhan.
“Dia kembali.”
Arkan menutup mata sesaat.
“Dan jika dia memegang kendali dimensi gelap… perang kali ini bukan hanya antar manusia.”
Ia membuka mata—sorotnya tajam, seperti mata binatang yang kembali dihidupkan untuk berburu.
“Ini perang untuk dunia.”