Lembah telah sunyi, namun ketenangan itu terasa seperti perangkap yang menunggu untuk meledak. Arkan berdiri di puncak tebing kecil, memandangi lembah gelap di bawahnya. Angin membawa aroma darah monster yang mulai membusuk. Para prajuritnya memulihkan formasi, tapi jelas mereka terguncang.
“Komandan…” Varro mendekat, wajah pucat namun tetap berdiri tegak. “Perintah selanjutnya?”
Arkan tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada langit. Awan hitam menebal seperti kabut perang yang turun dari langit lain.
“Tak ada waktu untuk kembali ke markas utama,” gumamnya. “Kael tak akan memberi kita jeda.”
Ia menurunkan pandangannya ke arah Varro.
“Mereka semua harus siap bertempur sebelum matahari terbit.”
Varro terkejut. “Tapi pasukan kelelahan—”
Arkan memotongnya dengan anggukan ringan namun tegas.
“Aku tahu. Tapi Kael bukan musuh yang memberi waktu untuk bernapas.”
Di balik ketenangannya, sesuatu menghantam d**a Arkan—sebuah rasa yang tidak ia rasakan sejak bertahun-tahun lalu: ketidakyakinan. Ia membencinya. Ia membenci kenyataan bahwa seseorang seperti Kael, yang pernah berdiri di sampingnya, kini menjadi ancaman paling berbahaya yang pernah ada.
Namun sebelum ia bisa memikirkan lebih jauh—
Dentuman besar mengguncang lembah.
Tanah bergetar. Burung-burung dilempar keluar dari pepohonan. Debu naik seperti kabut tebal.
Arkan menoleh cepat ke arah timur.
“Benteng Utara…”
Asap hitam naik ke langit.
Varro tersentak. “Itu—itu sinyal darurat!”
Teriakan dari prajurit lain menyusul. “Komandan! Pesan sihir jarak jauh dari Benteng Utara!”
Prajurit muda membawakan gulungan kristal energi. Tangannya gemetar saat menyodorkannya.
Arkan mengaktifkannya.
Suara seorang kapten yang tersengal-sengal terdengar:
“Di—di sini Benteng Utara… kami diserang! Makhluk gelap menerobos gerbang timur! Mereka mem—AAAAGH—”
Suara terputus.
Kristal itu retak, lalu pecah.
Varro menutup mulutnya. “Komandan… kalau Benteng Utara jatuh…”
“Perbatasan kita terbuka.” Arkan menurunkan tangan, rahangnya mengeras.
“Dan dalam dua hari, dataran tengah akan menjadi kuburan massal.”
Tanpa menunggu, ia melompat turun dari tebing. Tanah retak di bawah kakinya saat ia mendarat.
“Semua pasukan! Bergerak menuju Benteng Utara!”
Para prajurit tak bersuara. Tak satu pun dari mereka berani mengeluh. Mereka berbaris, mengikuti Arkan yang berjalan di depan, langkahnya cepat dan penuh tujuan.
Namun di tengah perjalanan—
Suara dentuman kedua meledak. Kali ini lebih dekat.
Arkan berhenti. “Tidak. Ini terlalu cepat…”
Ia mempercepat langkah—hingga akhirnya, setelah menembus deretan pepohonan rimbun dan lembah sempit, mereka melihatnya.
Benteng Utara.
Atau lebih tepatnya…
Sisa-sisanya.
Gerbang besi raksasa itu telah sobek seperti kertas. Dinding luar retak, beberapa bagian runtuh. Api menyala di mana-mana. Suara ratapan dan jeritan bersahutan dari dalam.
Varro terbelalak. “Bagaimana… bisa secepat ini?”
Arkan menarik napas, lalu menghunus pedangnya tanpa berkata apa pun. Sorot matanya berubah. Bukan marah. Bukan panik.
Tapi… keputusan.
“Semua masuk formasi tempur,” perintahnya.
“Tidak ada yang bergerak tanpa aba-aba.”
Prajurit-prajurit berlari menempati posisi. Arkan melangkah masuk ke pintu gerbang yang hancur, diikuti Varro dan sepuluh prajurit elit.
Di dalam benteng…
bau darah begitu pekat hingga terasa menempel di tenggorokan.
Tubuh-tubuh prajurit benteng berserakan. Beberapa hancur tanpa bentuk, seolah dihantam kekuatan yang mustahil dimiliki makhluk bumi.
Varro berbisik tercekik, “Komandan… ini bukan serangan. Ini… pembantaian.”
Arkan berjongkok, memeriksa luka di salah satu mayat.
Tiga goresan panjang.
Rata.
Dalam.
Tidak seperti cakar monster dimensi biasa.
“Kael mengirim makhluk baru,” gumam Arkan. “Dan dia ingin kita melihatnya.”
Saat ia berdiri—
Sesuatu bergerak di ujung lorong benteng.
Suara berat, seperti seseorang menyeret besi melintasi batu. Cahaya api memantulkan bayangan besar di dinding—berbentuk humanoid, tapi ukurannya dua kali manusia normal. Geramannya rendah, bergetar, dan mengancam.
Varro mengangkat tombak. “Komandan, itu—”
“Tetap di belakangku.”
Bayangan itu mendekat… semakin dekat… hingga akhirnya muncul dari balik kegelapan.
Sosok besar itu berjalan tertatih, namun langkahnya berat. Kulitnya abu-abu retak, seperti batu pecah yang menyimpan bara di dalamnya. Matanya merah pekat, menatap Arkan seperti mengenali wajah lama.
“Ar… kan…”
Varro menelan keras. “Itu… bisa bicara?”
Arkan mengerutkan alis.
Ia mengenali suara itu.
Dan ketika cahaya api menyinari wajah makhluk itu, seluruh tubuh Arkan menegang.
Varro terdiam, mulut terbuka tanpa suara.
Makhluk itu bukan monster.
Bukan iblis.
Bukan tentara musuh.
Itu adalah seseorang yang pernah bertarung di samping Arkan.
Seorang prajuritnya.
Seorang yang ia kubur lima tahun lalu, tewas dalam perang besar.
“Ragnar…” Arkan berbisik.
Makhluk itu menggeram rendah, namun air mata hitam mengalir dari matanya.
“Ma… af… koman… dan…”
Dan dalam sekejap—
Makhluk lain menerjang dari belakang Ragnar.
Lebih besar. Lebih gelap. Lebih ganas.
Arkan mendorong Varro ke belakang.
“SEMUA SIAP!”
Ragnar mencoba menahan makhluk itu, tubuhnya bergetar sementara ia meraung seperti binatang tersiksa.
“PER… GI… !!!”
Makhluk itu menembus tubuh Ragnar dengan cakar, lalu mengangkatnya seperti kain compang-camping.
Ragnar menatap Arkan untuk terakhir kalinya.
“Ba… wa… h… kan… dia… kembali…”
Lalu tubuhnya hancur berantakan dalam satu hempasan.
Varro berteriak. Prajurit terpaku.
Arkan diam.
Diam… namun sorot matanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.
“Kael…”
Ia mengangkat pedang.
Suara pedangnya berbunyi nyaring, bergema di seluruh benteng yang terbakar.
“Kau akan menyesal mengubah prajuritku menjadi ini.”
Makhluk itu menggeram dan melompat ke arah mereka.
Dan bab selanjutnya…
akan dimulai dengan darah, amarah, dan kembalinya kekuatan Arkan yang selama ini dipasung.