Makhluk itu menerjang seperti kilat hitam. Suara anginnya saja cukup untuk merobek gendang telinga prajurit yang berdiri paling depan. Dinding-dinding benteng seolah ikut merintih ketika tubuh raksasa itu menghantam udara.
Arkan tidak mundur.
Ia mengangkat pedang, tapi bukan untuk menangkis—melainkan untuk memotong laju serangan makhluk itu.
BRRAAAK!
Benturan pertama saja sudah cukup untuk mengguncang lorong batu. Pecahan dinding beterbangan. Varro dan prajurit lain terhempas mundur oleh tekanan udara.
“Komandan!” Varro berteriak.
Tapi Arkan sudah bergerak—dengan kecepatan yang tidak seharusnya dimiliki manusia.
Makhluk itu mengayunkan cakar tegapnya, menciptakan retakan panjang di tanah. Arkan melompat ke atas lengan makhluk tersebut, menendang wajahnya hingga terdorong ke belakang.
Namun makhluk itu tidak mundur. Tidak merintih. Tidak merasa sakit.
Ia hanya menatap Arkan… dengan mata merah pekat yang hampa.
Dan dalam sekejap—makhluk itu menghilang dari pandangan normal.
Varro memekik. “Komandan, di—”
DUARRR!
Makhluk itu muncul tepat di sisi Arkan, mencakar dari arah buta. Arkan berhasil menangkis, tapi kekuatannya membuat lengannya mati rasa sejenak. Ia mundur beberapa langkah, pedang bergetar di tangannya.
“Dia… cepat,” gumam Arkan.
Tidak.
Bukan cepat.
Kecepatannya tidak wajar.
Seolah makhluk ini bergerak di antara retakan-retakan ruang seperti penyeru dimensi.
“Komandan! Apa yang harus kami lakukan?” seru Varro.
“JANGAN masuk dalam jangkauannya! Tetap mundur!”
Arkan merendahkan tubuh, bersiap.
Makhluk itu mencondongkan tubuh, mengerang seperti serigala raksasa yang kehilangan jiwa. Lalu ia menghilang lagi. Udara di sekitar Arkan bergetar.
Arkan menutup matanya.
Ia mendengar.
Dia tidak mengikuti ruang—dia mengikuti denyar energi, sisa kutukan dimensi yang masih melekat di tubuhnya. Itu pola yang pernah Arkan pelajari. Pola yang ia kenal dari medan perang lama…
Lalu dalam sepersekian detik, Arkan membalikkan tubuh dan menebas.
BRAAASHH!
Pedangnya mengenai sesuatu—namun tidak cukup dalam. Makhluk itu meraung dan terdorong mundur, tapi tidak roboh. Darah hitam menyembur dari pundaknya.
Varro terpana. “Komandan… apa dia… bereaksi pada tebasan itu?”
Arkan mengencangkan genggaman.
“Dia bereaksi pada… aku.”
Makhluk itu berhenti sejenak. Lalu kepalanya menengadah, seolah mencium sesuatu.
Kemudian ia mengeluarkan suara… bukan geraman, bukan raungan.
Suara itu seperti… kalimat yang rusak.
“De… wa… Perang…”
Arkan merasakan sesuatu menusuk dadanya.
Makhluk itu mengenalinya.
Atau lebih tepatnya—
Kael memberinya perintah untuk membunuh Arkan secara khusus.
Sebelum Arkan bisa bergerak lagi…
Tubuh makhluk itu bergetar keras. Otot-ototnya menggembung, kulitnya pecah muncul garis-garis cahaya gelap dari dalam. Suhu udara turun drastis. Dinding-dinding bergetar seperti hendak runtuh.
Varro menjerit. “Komandan! Dia… dia akan meledak!”
Arkan tahu.
Ia pernah melihat ritual ini.
Makhluk dimensi yang dipasung dalam tubuh manusia, dipaksa pecah dari dalam.
Ragnar dipaksa menjadi senjata bunuh diri.
Kael tidak hanya melanggar batas moral perang… ia menghancurkannya.
Makhluk itu mengangkat tubuhnya yang membengkak, suara retakan tulang menggema di seluruh ruangan. Kabut gelap melingkari tubuhnya, semakin pekat… semakin padat…
Lalu Arkan memutuskan.
“SEMUA mundur!” teriak Arkan. “LARI!”
Prajurit langsung berpencar keluar lorong.
Varro tetap terpaku. “Komandan! Kau tidak bisa—”
Arkan mengangkat pedangnya, aura dingin mengitari tubuhnya.
“Aku bisa.”
“Komandan—!”
“Aku harus menghentikannya. Kau pimpin pasukan keluar!”
Varro menggenggam tombaknya keras.
“JANGAN MEMPERINTAHKU begitu! Kau bukan hanya komandan! Kau—”
Arkan menatap Varro. Sorot mata itu tenang, namun ada kilatan gelap terbuka di dalamnya.
“Kau ingin prajuritmu punya kesempatan hidup?”
Suaranya rendah… namun tak terbantahkan.
“Pergi.”
Varro terdiam. Lalu mengatupkan giginya.
“…Baik.”
Ia berlari, memerintah pasukan mundur.
Arkan kini berdiri sendirian, menghadapi makhluk yang tubuhnya mulai mengembung, retak, dan memuntahkan cahaya hitam dari segala arah.
Lorong itu seakan berubah menjadi pusaran kegelapan.
Pedang Arkan bergetar.
Bukan karena ia takut.
Tapi karena sesuatu yang lama… sesuatu yang ia kunci di dalam tubuhnya bertahun-tahun… mulai menggeliat.
Bisikan itu muncul di dalam kepala.
Kau tahu… tanpa kekuatan lamamu… kau tidak akan selamat.
Arkan mengatupkan gigi.
“Aku tidak butuh kau.”
Bisikan itu tertawa pelan.
Kalau begitu… kita mati bersama.
Makhluk itu mengaum—suara yang menggetarkan seluruh benteng.
Tubuhnya siap meledak.
Arkan menarik napas. Dalam ketenangan itu, dunia seolah memudar. Suara-suara lenyap. Hanya ada ia, pedangnya, dan api yang selama ini ia kubur.
Ia membuka matanya.
Dan sesuatu yang sangat lama…
yang dipasung…
yang ditakuti Kael…
bangkit.
Udara di sekeliling Arkan pecah, seperti kaca yang dipukul dari dalam.
Tanah retak radial.
Api biru pucat menyala di belakang punggungnya—bukan api biasa, melainkan energi perang yang dulu ia gunakan untuk menantang setengah dunia.
Makhluk itu berhenti.
Ia merasakan ancaman itu.
Untuk pertama kalinya… ia mundur satu langkah.
Arkan mengangkat pedangnya perlahan.
“Kael…”
Tiga kata berikutnya keluar seperti kutukan kuno.
“Ini… untuk Ragnar.”
Ia menghilang.
Satu kedipan.
Dan dunia meledak.