Lembah itu telah kembali sunyi setelah monster raksasa tadi tumbang, tetapi keheningan yang tercipta bukanlah ketenangan.
Keheningan itu seperti tutup peti mati yang baru saja tertutup—dingin, berat, dan menyimpan sesuatu yang tidak ingin dibuka.
Arkan menatap sisa-sisa makhluk itu. Daging logamnya masih mengeluarkan uap, seakan ada api hidup yang mati perlahan di dalamnya.
Ia berlutut, menyentuh permukaan yang berkilat aneh.
“Bukan ciptaan dunia ini,” gumamnya. “Dan jelas bukan lahir dari alam mana pun yang kita kenal.”
Varro mendekat dengan langkah ragu. “Komandan… jika makhluk ini dipanggil dari dimensi lain, maka kita menghadapi sesuatu yang lebih besar dari perang antar-kerajaan.”
Arkan berdiri. Matanya tidak melepaskan sisa monster itu. Ada sesuatu pada tatapannya—sebuah memori gelap yang terseret dari masa lalu, muncul kembali ketika ia tidak siap.
“Semuanya mundur.”
Ia mengibaskan tangan, perintah tajam namun tenang.
Begitu pasukan bergerak mundur beberapa langkah, tanah di bawah tubuh monster itu berdenyut. Bukan gempa, bukan getaran… melainkan detak jantung.
Arkan sempat memicingkan mata. “Dia belum mati sepenuhnya.”
Retakan cahaya biru muncul dari dalam rongga bekas kepala monster itu. Cahaya itu bukan cahaya biasa—ia berdenyut bagaikan napas yang tidak seharusnya ada.
Beberapa prajurit mengangkat tombak, gemetar.
“Komandan… itu—”
“Jangan sentuh,” ujar Arkan tanpa menoleh.
Cahaya itu semakin terang. Arkan melangkah mendekat, namun ia tiba-tiba berhenti. Ada sesuatu yang melintas di benaknya, sesuatu yang sangat spesifik. Sebuah ingatan yang tidak seharusnya muncul:
Sebuah ruang gelap.
Seseorang tertawa pelan.
Dan suara yang pernah mengucapkan sumpah bersama… kini berubah menjadi ancaman.
“Arkan… jika kau menghalangi jalanku suatu hari nanti, aku akan memanggil kekuatan yang bahkan kau tidak bisa bunuh.”
Ia menggeleng, menepis bayangan itu.
Ini bukan saatnya.
Cahaya biru tiba-tiba memadat, membentuk lingkaran kecil bercahaya di udara—sebuah segmen teleportasi yang belum sempurna. Dari dalamnya terdengar suara—bukan suara monster, bukan suara manusia, tetapi… sesuatu di antara keduanya.
“—kaisar perang… masih hidup…”
Varro memegang gagang pedangnya erat-erat. “Komandan… itu memanggil Anda.”
Arkan tak menjawab.
Lingkaran cahaya itu mulai pecah. Dari dalam retakan cahaya, sesuatu menyerupai tangan kurus panjang bergerak keluar—bukan untuk menyerang, melainkan untuk meraih… seakan ingin menyentuh dunia ini.
Namun sebelum tangan itu sempat keluar sepenuhnya, Arkan bergerak.
Ia melesat ke depan, menebas udara. Pedangnya membelah cahaya itu, menyebabkan lingkaran teleportasi itu retak lalu meledak seperti kaca tipis yang dihantam badai.
Debu cahaya biru menyebar, menghilang perlahan di udara.
Prajurit-prajurit menatap.
Ada ketakutan, ada kekaguman, namun ada satu lagi—sesuatu yang tidak mereka pahami tentang komandan mereka.
Varro mendekat. “Komandan… siapa yang memanggil makhluk seperti itu?”
Arkan menatap bekas cahaya yang kini menghilang. Napasnya tertahan, bukan karena lelah… tetapi karena sesuatu yang jauh lebih berat.
Ia menjawab pelan, suaranya nyaris seperti gumaman:
“Orang yang dulu kusebut saudara.”
Angin mulai bertiup lagi. Seolah dunia baru berani bergerak setelah ancaman itu lenyap.
Namun sebelum mereka dapat melanjutkan perjalanan, prajurit penjaga depan berteriak:
“KOMANDAN! Ada seseorang datang!”
Arkan menoleh.
Di ujung lembah, sosok berjubah hitam berjalan tertatih, tubuhnya penuh luka. Cahaya bulan menyorot wajahnya… dan pasukan terdiam.
Itu adalah salah satu kapten elite dari Benteng Utara—Kainen—orang yang terkenal tidak pernah mundur dalam pertempuran. Namun malam itu ia berjalan sambil menyeret pedang patah, napasnya tersengal seperti seseorang yang baru saja lolos dari neraka.
“K… Ko… Komandan Arkan…”
Matanya melebar, takut… bukan karena Arkan, tetapi karena sesuatu yang mengejarnya.
Arkan bergerak lebih cepat daripada angin, menangkap tubuh Kainen sebelum ia jatuh.
“Apa yang terjadi?”
Suara Arkan rendah namun tegas, mencoba menahan nada cemas yang tersembunyi.
Kainen berusaha berbicara. Darah mengalir dari bibirnya.
“Tuan… Anda harus kembali ke ibu kota… Segera…”
Arkan menyipitkan mata. “Kenapa?”
Kainen memaksa membuka mata. Di dalamnya ada ketakutan yang belum pernah Arkan lihat.
“Di ibu kota… telah bangkit…”
Ia terbatuk keras, darah mengalir.
Arkan memegang bahunya, menstabilkan tubuh sang kapten.
“Katakan, Kainen.”
Dengan suara hampir tidak terdengar, Kainen berbisik:
“—musuh yang Anda bunuh lima tahun lalu… hidup kembali.”
Dan sebelum Arkan sempat merespons, tubuh Kainen terkulai… bukan mati—tetapi seperti sesuatu telah mengambil napas terakhirnya dari dalam.
Arkan menegang.
Tidak ada prajurit yang berani berkata apa pun. Karena mereka melihat sesuatu di mata Arkan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
Bukan marah.
Bukan takut.
Bukan terkejut.
Namun—
Kesadaran bahwa mimpi buruk masa lalunya… akhirnya kembali.