"Halo segera cari info tentang keluarga Adiguna dan selidiki Adiguna itu dengan istri beserta anaknya apa mereka dalang dari musibah yang menimpa Bram beberapa tahun yang lalu,aku tunggu kabarmu dengan segera."
Segera aku menyuruh semua anak buahku untuk menyelediki keluarga Adiguna ya dia adalah paman dari sahabatku Bram,jika memang benar dia dalang dari semuanya maka aku pastikan dia akan membusuk ke jeruji besi itu.
Aku sangat senang sekali pulang ke negara ini,ya andai saja gadis sialan itu tak menyakitiku mungkin aku akan masih disini tapi nasi sudah menjadi bubur dia kini mantan gadisku.
Tok....tok...
Suara ketukan pintu menyadarkanku dari lamunan,berjalan dengan malas menuju pintu.
"Erwin,ayo kita sarapan bersama apa kau belum membersihkan badan atau kau sedang tak enak badan kenapa pagi ini wajahmu terlihat sangat kusut."
Ku telisik setiap inci wajahnya,terlihat dia sangat muram.
Segera ku tarik tangan Erwin agar keluar dari kamarnya dengan bibir yang terus bicara padanya.
"Baru juga semalam kamu disini masa iya langsung sakit sih Win kan nanti aku di marahi sama cewekmu di kiranya gak aku kasih makan kamu." Tegurku ke Erwin yang di tegur malah senyam senyum sendiri.
Ting...
Saat sedang asyik mengunyah makanan di mulut ku lihat ponselku bergetar ternyata satu pesan masuk dari aplikasi hijau itu,segera aku buka dan baca pesan tersebut.
"Bos,nampaknya keluarga besar Adiguna akan mengadakan pesta bos dari luar nampak ramai bos."
"Bagus,cari tau kapan pesta itu akan berlangsung.?"
Ku sunggingkan senyum pongahku dan kabar barusan membuat selera makanku bertambah,jika benar akan ada pesta pasti sebentar lagi Adiguna itu akan datang kemari untuk mengundang Bram dan Mayang.
Selesainya sarapan bersama kami melanjutkan obrolan di taman belakang di atas gazebo yang di kelilingi oleh kolam ikan dan tanaman yang indah membuat udara terasa sejuk sekali disini.saat sedang asyik bermain dengan Alisya bibik tergopoh gopoh berlari kecil ke arah kami.
"Tuan Nyonya maaf menganggu di depan ada Pak Adiguna bertamu mencari tuan dan nyonya."
"Iya bik,siapkan minuman untuk mereka kami akan segera menemuinya."
Jawabku dengan saling melempar pandang dengan Mayang dan Erwin.
"Tumben paman datang,mas??Alisya aku tak ingin kedatangannya kesini akan mengajak Alisya pergi lagi mas."
Ucapku dengan memeluk erat tubuh Alisya.
"Kenapa memangnya,apa pernah terjadi sesuatu dengan Alisya.?"
Sambungku dengan penasaran ke arah mereka.
"Iya,waktu itu mereka meminta izin untuk mengajak Alisya jalan jalan ke mall beserta cucu mereka dan Alisya mengalami kecelakaan saat bermain hingga dia di rawat selama sebulan di rumah sakit,kali ini aku tak akan mengizinkan Alisya dibawah mereka lagi karena aku rasa mereka teledor menjaga Alisya."terangku pada Erwin.
"Sudah jangan takut mas tak akan mengizinkan mereka untuk membawa pergi Alisya sayang,ayo kita temui mereka ya."
"Sudah temui saja mereka biar Alisya disini bersamaku Bram biar aku yang menjaganya."mintaku pada Bram.
"Apakah tidak akan merepotkanmu Win?"
"Tenang saja,dengan nona manis yang cantik ini aku tak akan merasa di repotkan."dengan senyum ku katakan itu.
"Baiklah kami akan keluar menemui mereka,Alisya jangan nakal ya sama om Erwin."
Aku dan Mayang berjalan menuju ruang tamu yang disana sudah ada paman Adiguna,setelah kejadian Alisya dulu sudah lama paman tak berkunjung ke mari kira kira ada apa ya??tanyaku pada diriku sendiri.
"Mas,apa nanti mereka akan mencurigai perubahan pada diriku ini,aku takut mereka menyadarinya mas bukannya aku curiga mas tapi entahlah hatiku berkata demikian mas."
Ku tatap mas bram dan ku genggam erat tangannya karena sungguh aku merasa takut kali ini.
Ku elus lembut tangan yang sedari tadi menggenggam erat tangan ini.
"Jangan takut aku selalu berada disisimu dan bersikaplah seolah tidak terjadi apa apa." dengan senyum ku coba mengkuatkan Mayang.
"Maaf om sudah lama menunggu kami,tumben kesini tanpa mengabari kami terlebih dahulu om kan kami bisa menyambut om dan keluarga."
Ku ulurkan tangan untuk berjabat dengan pamanku ini ku teliti satu persatu wajah mereka dengan seksama ya masih bimbang hati ini apakah paman ada kaitannya dengan kematian calon anak anakku dulu dan anakku yang baru lahir.
"Tidak apa apa bram,paman hanya ingin berkunjung dan maaf tanpa mengabari terlebih dahulu."
"Silahkan duduk om!!"
ucapku mempersilahkan paman Adiguna untuk duduk,entahlah rasa apa yang sedang aku rasakan ini semoga tidak terjadi apa apa.
"Iya makasih Mayang,bagaimana keadaanmu?"
Ku lihat bibi datang dengan nampan berisi minuman dan cemilan untuk suguhan para tamuku ini.
"Sini bik biar saya aja!!"
Ucapku pada bibik dengan senyum.
"Silahkan di minum om, tante dan devi maaf hanya ini yang tersedia coba kalau tadi kasih kabar Mayang akan masakin buat kalian."Dengan senyum sangat ramah ku berikan.
"Syukurlah om keadaan kami baik baik saja om,bagaimana dengan keadaan om sendiri dan keluarga."tanyaku
"Sebenarnya kedatangan om kesini ingin mengundang kalian di acara syukuran hari pernikahan om dan jika kalian ada waktu datanglah ke kediaman om disana nanti akan berkumpul semua keluarga kita Bram,ya hitung hitung nostalgia lah."
"Tentu saja kami akan datang om, kapan pesta itu akan di laksanakan om??"
"Ini undangan buat kalian."
Ku terima undangan yang di sodorkan om Adiguna ke arahku,ku lihat foto yang ada disana seperti anak muda yang mau melakukan ijab kabul saja.
"Alisya dimana kok gak keliatan,Bram?"
Kini suara tante dan devi secara bersamaan menanyakan Alisya.
"Oh Alisya dia sedang bermain di taman belakang,"Jawabku dengan menoleh ke pintu belakang.
"Dengan siapa dia bermain,bukankah hanya ada kalian bertiga di rumah ini, atau dengan bibik Alisya bermain?"
Ku kerutkan kedua alis menatap Devi ,kenapa dia seperti tidak suka anakku bermain dengan bibik semakin membuat aku penasaran saja ni anak,bagiku lebih aman Alisya bermain di rumah bersama bibik dari pada harus pergi dengan dia bukan,ah sungguh sakit jika mengingatnya.
"Erwin....!!!"
Hmm apa dia,apa aku salah dengar Devi menyebut nama Erwin,apa mereka saling kenal,ku ikuti arah pandangnya dan benar disana nampak Erwin dan Alisya yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Apa kau mengenalnya,Devi?ku dengar barusan kau menyebutkan namanya?"
tanyaku dengan menatap lekat mata Devi,karena setau aku umur Devi dan Erwin selisih lumayan gak mungkin kan kalau mereka se angkatan.
"Eh eng engak kok mbak,mbak salah denger kali tu aku kan manggil Alisya mbak."
Oh rupanya ada yang di tutupi oleh Devi oke aku ikuti permainanmu,jelas sekali aku mendengarnya tadi di kira aku tuli apa.
Kulihat mas bram dan paman sedang asyik mengobrol,karena sibuknya dengan Devi akhirnya aku tak begitu mendengarkan percakapan antara paman dan mas bram.
"Baiklah kalau begitu Bram paman dan keluarga pamit pulang dulu ya, kebetulan masih banyak undangan yang belum di antarkan."
"Kenapa paman tidak menyuruh orang lain saja buat antar undangan itu,kan biar paman tidak terlalu lelah untuk berkeliling paman?"
"Tidak apa Bram,paman kan belum terlalu tua juga."
"Ya baiklah paman kalau begitu."
Ku antar mereka sampai di depan pintu utama ku pandangi mobil itu hingga menghilang di balik pagar.
"Ayo sayang masuk,"
Ajakku pada Mayang dengan merangkul pundaknya berjalan dimana Alisya dan Erwin bermain.
"Sayang apa Devi dan Erwin saling kenal tadi aku dengar Devi menyebut nama Erwin saat melihatnya masuk ke dalam rumah.?"
"Aku juga tidak tau,kita tanyakan saja pada Erwin mungkin dia tau.?"
Ku anggukan kepala ini mencerna tiap kata mas bram,aku penasaran deh tapi untunglah mereka tidak menyadari perutku.
Saat ingin menanyakan kembali pada Erwin ku lihat dia sedang asyik bermain gak tega kalau harus mengganggunya lebih baik esok hari aku tanyakan saja.
Rasanya sangat lelah hari ini ,apa karena aku sedang hamil ya jadi bawaan nya ngeluh trus deh.
"Kamu kenapa,capek ya sana gih istirahat nanti aku menyusul."
Perintahku pada Mayang yang terlihat sangat lelah itu.
Ku hembuskan nafas kasar ini,padahal aku masih penasaran banget lo eh malah di suruh istirahat dengan bibir yang mengerucut akhirnya aku iya kan perintah suamiku itu.
"Baiklah aku ke kamar dulu."
Aku dan Erwin terlibat obrolan mengenai rencana kami ke depan tentang kehamilan Mayang tak mungkin dapat terus menerus di rahasiakan,lambat laun perut ramping itu akan membesar bukan.
"Erwin,ada yang ingin aku tanyakan kepadamu,ini bukan masalah mayang tapi..?"
Sengaja ku gantungkan kalimatku dan menelisik wajahnya.
"Tanya soal apa..?"jawabnya dengan menatap ponselnya.
"Soal devi,apa kau mengenalnya?"
"Devi..?"berasa keluh lidah ini saat mengucap namanya lagi,kenapa tiba tiba bram bertanya soal devi.
"Iya,devi semalam saat mereka berkunjung kesini mayang mendengar kalau dia menyebut namamu saat dia melihatmu bermain sama alisya."
Apa devi melihatku,ku kira dia sudah lupa dengan wajahku.
"Dia hanya masa lalu yang menyakitkan dan aku tak ingin memgingatnya lagi,nanti aku akan cerita ke mayang soal dia."