Ting....
"Benar sekali dugaanmu ternyata semua ini berkaitan dengan Adiguna dan keluarganya."
"Dan perlu kamu tau bahwa gadis pujaan hatimu itu adalah anak dari Adiguna, Devi itu anak kedua Adiguna."
Sialan ku lempar ponsel itu dengan kasar di atas kasur dan k*****a berulang ulang pesan yang baru saja masuk melalui aplikasi hijau itu.
"Apa dia anak dari Adiguna kenapa aku bisa bodoh tak menyeledikinya lebih dulu,Arrgghhh ku tarik rambut ini dengan kasar untunglah kini rasa cinta itu berubah menjadi benci setelah dia menghianatiku begitu saja."
Aku harus menyelamatkan Mayang beserta calon anaknya dari Adiguna tak habis pikir kenapa dia tega membunuh cucu cucunya hanya demi harta, Ayahnya pembunuh anaknya pun penipu isss sungguh keluarga yang buruk bagiku.
"Selidiki terus mereka dan cari tau apa undangan mereka untuk Bram juga mempunyai maksud tertentu?"
Ku balas pesan dari anak buahku yang aku tugaskan menyelidiki Adiguna,aku harus secepatnya bertindak sebelum perut mayang semakin membesar.
"Aduhhh...."
"Kenapa,apa perutmu sakit?apa perlu ke dokter agar mendapat resep obat untuk kehamilanmu ini?"
Aku sangat kawatir dengan keadaan mayang,tapi dia bersih keras tak ingin memeriksakan kandungan nya jika sudah tidak maka sampai kapan pun dia akan berkata tidak,sungguh keras kepalanya datang di saat kurang tepat.
"Gak perlu ke dokter,aku cuma merasa kram sedikit karena bangun terburu buru mas,maaf ya jika ku rasa keadaan cukup aman aku akan ke dokter kok."
Aku tau mas kamu sangat kawatir denganku,itu yang aku takutkan jika ada yang menyadari perubahan sikapmu ke aku dan aku tak sanggup kehilangan anak lagi mas,ku tatap lembut mata sayu milik suamiku itu dengan senyum aku mencoba memberikan pengertian padanya.
"Sayang,aku tau kamu sangat kawatir padaku tapi aku takut jika rasamu itu justru bisa membuat mereka menyadari kehamilanku sayang."
Kata kata mayang mampu membuat aku mematung,ya benar jika aku terlalu posesif padanya maka akan ada yang mencurigai ku kelak aku harus lebih hati hati lagi.ku belai wajah yang kini sedikit pucat itu.
"Kamu benar sayang maaf ya aku sangat posesif akhir akhir ini."
Pagi ini aku dan mayang bersiap untuk menghadiri undangan dari paman, ya kami hanya datang berdua saja sedang alisya di rumah di temani bibik dan erwin.semalam erwin berpesan padaku agar hati hati dan jangan sampai meninggalkan mayang seorang diri.
"Papa mama alisya tunggu di rumah ya kalian jangan lama pulangnya ya."
Dengan memeluk orang tuanya.
"Iya sayang papa dan mama akan cepat pulang ya,jangan bikin repot om erwin ya sayang."
Ku pamiti anakku dengan mencium kening dan pipinya tak lupa ku elus dengan lembut pucuk kepalanya.
Akhirnya kami sampai di kediaman paman adiguna,dari luar saja sepertinya pestanya terlihat mewah ah rupanya paman masih berjiwa muda ini.kekehku dalam hati melihat pemandangan ini.
"Sayang apa pamanmu dulu seroyal ini orangnya,lihat lah betapa megah dan meriahnya pesta di dalamnya."
"Iya sayang ya sudah lah ayo kita masuk ke dalam,selalu waspada jangan pernah lepas genggaman tangan ini ya."
"Iya sayang."Mas bram kamu selalu bisa buat aku yang rapuh ini menjadi kuat kembali semoga selamanya kamu seperti ini mas dengan senyum.
"Selamat datang Bramantyo dan Mayang rupanya tamu yang sedari tadi kita tunggu akhirnya datang juga."
Seru paman adiguna menyambut kedatangan kami,bukan kah ini pestanya lantas kenapa mereka menungguku membuatku semakin curiga atas gelagat nya,ku menoleh ke arah mayang dan pandangan kami bertemu tatapan mayang seolah bertanya padaku ku eratkan jemarinya agar dia tenang selama ada aku.
"Kenapa paman menunggu kami datang bukankah ini pesta paman?"tanyaku langsung ke paman tingkahnya sungguh aneh menurutku.
"Karena kalian adalah tamu istimewa untuk kami bram,ayo masuk dan kita akan memulai pestanya."
Ku lihat sekeliling semua tamu mereka semua para kolega di perusahaan paman dan ada beberapa di antara mereka dari perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaanku.kini salah satu pemilik perusahaan yang bekerja sama denganku datang menghampiriku.
"Pak bramantyo apa kabar,pesta yang membosankan bukan hhmmm ku kira undangan yang bermanfaat tapi sepertinya tidak bukan kah kau keponakan dari adiguna,apa kau tau tujuan pesta ini.?
Sapa Ricky padaku dan pertanyaan yang membuat aku mengeryitkan alisku.
"Kabar baik ricky,bagaimana kabarmu dan orang tuamu."balik sapamu ke ricky.
"Iya,benar dia pamanku tapi sepertinya kamu salah bertanya padaku tentang ini karena aku pun tak tau pesta apa ini?"
Jawabku dengan mengangkat kedua bahuku.
"Hampir lupa ada pesan dari ayahku untukmu,kata ayah hati hati dan jangan sampai kau dan istrimu memakan atau meminum apapun yang disini."
Aku tertegun dan menatap ricky atas apa yang dia bisikkan ke telinga ini,kenapa ayahnya sampai memberi pesan tersebut untukku.
"Apa maksudmu?"ku tanya itu padanya.
Ting....
Saat sedang menyimak obrolan mas bram dan ricky aku merasakan jika ponselku bergetar,segera ku ambil ponsel itu dari dalam tas yang ku bawa,betapa kagetnya aku membaca pesan dari erwin tersebut.
"Mayang tolong kamu bilang pada bram agar kalian segera pulang,jangan sampai kalian memakan atau meminum dari pemberian mereka yang di kirimkan melalui pelayan,semoga kalian belum memakan apapun dari sana."
"Mas,lihatlah ini" ku perlihatkan isi pesan itu pada mas bram.
Kami saling pandang dan memutuskan untuk segera pulang,saat kami akan berpamitan ricky mencegah kami.
"Apa kalian ingin pulang,jika iya langsung pulanglah tanpa berpamitan aku akan membantumu untuk mengalihkan pandangan mereka dari kalian,ingatlah bram ayahku sabahat ayahmu dan kita pun selalu berteman sejak kecil bukan walau kita lebih sering bertengkarnya."
"Mas,bagaimana?"
Tanya mayang menyadarkan ku akhirnya ku putuskan untuk menuruti ricky,kami pun mencoba mengecoh perhatian paman dan keluarganya yang sedari tadi mengamati gerak gerik kami.
"Dengan perlahan ayo melangkah ke depan pintu,disana kebetulan ada kolega kita berpuralah untuk menyapanya dan bercengkrama dengan mereka,jalanlah dulu aku akan kesana setelah kau sampai kesana."
"Oke,," Sayang,disana ada kolegaku ayo kita hampiri mereka."
Tanpa melepaskan gandengan aku mengajak mayang ke arah kolegaku berada,aku mencoba biasa saja agar mereka tak curiga padaku,dengan menyapa semua yang ada disana akhirnya aku berdiri di dekat pintu ku posisikan diri ini tepat di muka pintu dan berbisik pada mayang agar membalas balik pesan erwin dan menanyakan apa langkah selanjutnya.
"Sayang,kamu bilang ke erwin bahwa kita akan pulang tanpa berpamitan ya?"
"Iya mas."jawabku pada mas bram.
"Erwin,kita akan pulang tanpa berpamitan tapi ku lihat di gerbang banyak sekali anak buah paman berjaga.?
Selesai mengirim pesan pada erwin ku lihat ricky sudah bergabung dengan kami kembali,ku eratkan tangan ini memegang lengan mas bram aku sangat takut dan gugup tapi ku coba untuk bersikap biasa saja.
"Oke aku akan mengecoh mereka jika sudah aman akan aku kabari."
Dengan bantuan ricky dan erwin aku dan mayang berhasil keluar dari rumah paman,tak salah aku meminta bantuan pada erwin untuk ricky aku akan menunggu dia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,tak lama kami pun sampai di rumah dan kagetnya aku saat ku lihat erwin dan ricky sedang ngobrol dengan asyiknya,cepat sekali ricky sampai.batinku
"Kalian baru tiba kenapa aku duluan ya sampainya."
"Tumben kamu disini,apa kalian sedang janjian."tegurku pada mereka yang sedang asyik menikmati secangkir kopi.
"Iyalah pengen dong kita berkumpul seperti dulu lagi,ya gak win?"
"Berarti kalian sudah tau akan rencana paman untukku?"
Ku tunjuk mereka bergantian dengan mimik wajah yang serius tapi mereka malah tertawa terbahak tanpa menjawab.
"Tolong jelaskan lah padaku kenapa bisa si ricky ini mengetahui tentang masalahku bukankah aku hanya bercerita padamu erwin?"tanyaku tanpa basa basi ke mereka.
"Rupanya ada yang masih menyimpan rasa penasaran yang sangat besar,ceritakan lah agar teman kita ini tak mati penasaran."kekehku ke erwin.
Ya akhirnya aku menceritakan semua pada bram,bagaimana sampai ricky mengetahui semua ini.
"Waktu itu saat aku sedang ada janji dengan salah satu anak buahku di cafe aku bertemu dengan rikcy dan om marwan dan kita makan bersama,di saat itu om marwan menceritakan semua kebusukan adiguna."terangku pada bram.
"Lah saat itu juga aku di utus oleh ayahku untuk menghadiri undangan dari om adiguna ya gunanya untuk mengawasi mu beserta istrimu,karena ayah tak ingin melihat kesedihan darimu lagi sudah cukup kejahatan adiguna,begitu bram."jelasku pada bram agar dia tak berfikir jika erwin membohonginya.
"Kejahatan paman adiguna,kejahatan apa yang kalian maksud?"dengan mengeryitkan dahi aku mencari penjelasan pada mereka.
"Bram,keguguran dan kematian anakmu yang baru lahir itu semua ulah pamanmu itu karen jika kamu mempunyai keturunan anak laki laki dia takut perusahaan itu akan kamu wariskan pada anakmu, sedang saat mengandung alisya dia pun ingin membunuhnya tapi karena dia tau kalau anakmu seorang cewek maka di biarkan."Jelasku panjang pada bram berharap dia pun memahaminya.
Apa,ku dengarkan dengan seksama penjelasan dari erwin rasa percaya dan tak percaya aku rasakan,kenapa dia tega padaku diakan pamanku sendiri saudara kandung dari ayahku.
"Kenapa dia tega terhadapku,bukan kah aku masih keluarganya?"dengan suara lirih ku bertanya pada mereka.
"Karena harta dan tahta telah membutakan mata hatinya,ia ingin memgusai perusahaan mendiang ayahmu."dengan serempak aku dan ricky menjawab pertanyaan bram,aku tau ada rasa kecewa dan sedoh yang kini di rasakan oleh bram.dengan berjalan ke arah bram ku tepuk pelan pundah kokohnya itu.
"Sabar ya,semoga kelahiran anakmu ini akan menjadi bumerang untuk keluarga pamanmu yang gila harta itu,aku dan ricky akan terus membantumu."senyum tulus ku berikan pada bram.
"Terima kasih kawan atas bantuan dan dukungannya,aku sangat bangga mempunyai kawan seperti kalian."
Dan kami bertiga berpelukan seperti serial tv anak anak,tertawa bersama untuk melepaskan beban ini.
"Erwin,tu si devi sepertinya masih menunggumu loh,apa kau tak ingin menemuinya gitu sepertinya doi sangat merindukanmu."dengan tertawa ku goda erwin.
Sialan si ricky ngapain juga dia ingatkan aku pada gadis licik itu.
"Ambillah jika kau mau,uangku sudah di kuras olehnya untuk bersenang senang dengan pacarnya." dengan tatapan sinis ku katakan itu pada ricky.
"Aku turut sedih atas apa yang menimpamu erwin."dengan senyum mengejek dan memeletkan lidah ke arah erwin.
Begitulah kami jika masalah serius maka kami pun serius dan jika sedang santai beginilah saling sindir.