Rasa tak percaya masih terus menghantui pikiranku,apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang mereka cari dengan melakukan ini pada keluargaku bahkan orang yang sangat aku percaya ternyata menusukku dari belakang,sebenarnya apa salahku.segudang tanya kini ada dalam pikiranku dengan berteriak keras ku coba untuk ungkapkan rasa sesak dalam d**a ini.
"Apa....apa salahku....kenapa.....?"
berteriak keras menanyakan semuanya dan hanya gema an dari suaraku yang terdengar dalam ruangan ini,ku tarik kasar rambut ini ku tendang dan ku lempar semua benda yang ada di hadapan,kacau itulah gambaranku saat ini, wajah sedih mayang dan air matanya membuat hati ini perih pedih aku gagal menjaga orang yang aku sayang dan cintai.
"Aahhhhhhhh....."teriakku sekali lagi dan diri ini pun luruh di atas lantai,isak tangisku tak ku pedulikan.
"Ma..ma..maafkan a..aku ma..mayang aku janji a..kan menemukan a..anak kita."
lirihku.
Tok...tok...tok...
"Bram...bram kamu di dalam?"
Sialan di kunci ternyata,aku yakin bram ada di dalam karna sedari tadi aku mendengar suara keras dari dalam aku yakin kini dia sedang kacau,ku panggil tak ada sahutan lebih baik aku dobrak pintu ini.
Bruakkkk....
"Aduh...sakit juga ternyata."aku meringis dengan mengelus pundak yang ku pakai untung mendobrak pintu ini,betapa terkejutnya aku saat melihat kondisi bram yang sangat kacau dan dia menangis tersungkur di atas lantai.
"Woi,bram kamu nangis,payah cowok kok nangis."sengaja aku mengejeknya agar dia bisa balik membalas ejekanku.
"Terserah kamu win mau bilang apa yang jelas sekarang aku kacau dan aku tak sanggup melihat mayang menangis trus."
tuturku pasrah pada erwin biarlah dia mengejekku aku tak peduli.
"Hai,bangunlah jangan putus asa ayo kita cari keberadaan anak anakmu,mungkin mayang sudah sadar ayo kita lihat kasian dia."jawabku karna aku pun tak sanggup melihat bram yang putus asa ini,ku angkat perlahan badan kekar itu.
"Berat banget sih bram,apa yang kamu makan sampai badanmu berat seperti ini."
kekehku padanya tapi bram hanya mengangkat sebelah bibirnya saja.
"Lihatlah bram,kau menghancurkan rumah bik narti bram."sadarku saat melihat sekeliling ruangan semuanya pecah tak bersisa.
"Sudahlah jangan banyak omong nanti akan aku ganti semua kerugian yang aku ciptakan disini."kataku pada erwin.
"Mas,apa alisya di beri makan dan bayu apa dia di beri s**u aku kangen mereka mas."lirihku pada mas bram.
"Tenang ya,kita berdoa semoga polisi segera menemukan mereka."ku coba kuat di hadapan mayang,ku peluk dia dengan lembut agar rasa takut itu sedikit menghilang.
"Pak apa pak narwi sedang di ancam oleh seseorang atau sedang butuh uang untuk suatu keperluan mendadak." ku tatap dengan sinis pria malang ini,sengaja aku beri bertanya seperti itu karena gelagatnya pun seperti orang ketakutan.
"Bukankah sudah bertahun tahun pak narwi kerja dengan orang tua bram,bahkan semenjak bram masih kecil bapak sudah kerja disana bukan,tapi kenapa bapak sekarang tega menculik anak dari bram pak."cecarku tanpa henti.
Rasanya sudah capek mulut ini berkata sedang pak narwi hanya menundukan wajah saja,ku hembuskan nafas secara kasar menahan amarah yang ingin meledak dan ku putuskan untuk meninggalkan pak narwi saat langkah kaki sampai di ambang pintu ku dengar pak narwi memanggilku hingga ku hentikan langkah ini dan berbalik ke arah pak narwi berada.
"Nak erwin...?"memberanikan diri untuk menatap nak erwin,setelah berfikir ku putuskan untuk menceritakan semuanya.
"Ya pak,apa bapak berubah pikiran."
tanyaku dengan antusias.
Akhirnya pak narwi menceritakan semuanya padaku termasuk keberadaan alisya dan adiknya,ku dengarkan dengan seksama dan tak lupa ku rekam semua pengakuan dari pak narwi,sungguh miris sekali sampai orang setua pak narwi di ikut sertakan.
"Begitulah nak erwin ceritanya,tapi izinkan saya tetap tinggal disini saya janji tak akan keluar dari tempat ini nak."
"Terima kasih pak atas kejujuran pak narwi,bapak jangan takut semua keluarga bapak akan saya amankan pak dan bapak akan aman berada disini."janjiku pada pak narwi.
Tanpa basa basi lagi segera aku hubungi bram tak lama suara dering itu pun berganti dengan suara berat si bram, segera ku beri tahu dimana anaknya berada.
"Oke,cepatlah kesini kasian anakku dia pasti sudah sangat haus dan lapar."
Aku sangat bersyukur dengan kabar baik yang erwin berikan.
"Sayang,aku akan menjemput alisya dan bayu semoga tidak ada halangan lagi untuk membawa mereka pulang."pamitku pada mayang yang sudah tertidur.
"Bram,nampaknya sepi dari luar." dengan melihat keadaan sekitar. "lebih baik kita panggil bantuan untuk berjaga jaga."
merogoh ponsel dalam saku ku panggil beberapa anak buahku untuk menuju ke tempatku berada kini.
Saat mata ini kembali menatap rumah kosong itu kulihat bram hampir masuk ke dalam pagar rumah itu.
"Ya ampun,kapan dia keluar tiba tiba uda di luar,ceroboh..." teriakku kesal pada bram dan segera keluar mengejar dia.
Sebelum bram masuk kedalam rumah, ku tarik kasar bajunya dan ku bekap mulutnya.
"Dasar ceroboh,tu lihat kalau masuk sama aja kamu mengantar nyawa."bisikku pada bram karna di dalam rumah ini begitu banyak penjaga.
"Erwin,aku tak sabar melihat kedua anakku win."
"Ya aku tau tapi lihat dulu keadaannya gimana,uda kita diam disini dulu tunggu sampai mereka lengah untuk sementara matikan ponselmu takutnya nanti dering dari ponselmu membahayakan kita."
ketusku
Sudah lebih dari 2 jam aku dan bram berdiam disini,rasanya kaki ini sudah kesemutan ku edarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan dan saat aku fokus pada satu kamar perlahan pintu kamar itu terbuka,ku lihat dengan seksama siapa yang keluar dari pintu itu betapa kagetnya aku ternyata devi dan ku dengar suara tangis bayi yang begitu keras.
"Apa,dia disini?" tangan ini menepuk kasar pundak bram berharap dia mengikuti arah pandangku.
"Win,bukankah itu devi anak pamanku dan apa itu suara tangis anakku."
ku tatap mata erwin dengan penuh tanya ku lihat erwin hanya menganggukkan kepalanya saja..
"Jangan gegabah dan ceroboh kita tidak tau di dalam ada siapa saja bukan,tak mungkin devi disini tanpa penjagaan."
"Ayo kita sedikit mendekat ke kamar itu, kita cari tempat yang aman dulu."ajakku ke bram.
"Win,"ku tunjuk tempat yang menurutku aman dan dapat mendengar pembicaraan mereka. "Apa,disitu saja kita sembunyi sepertinya aman dan kita dapat mendengar pembicaraan mereka kan."
terangku.
"Oke."dengan membentuk jari bulat.
Perlahan aku dan erwin mendekat ke arah kamar itu,perlahan dan pasti akhirnya aku bisa mendengar dengan jelas suara tangis anakku.
Ingin sekali ku masuk dan mengambil kedua buah hatiku,saat kaki ingin melangkah.
"Mau kemana,jangan gegabah uda ku bilang dari tadi kan,sabar kita tunggu waktu yang tepat."ku tarik kemeja bram dengan cepat dan tersungkur lah dia.
"Sampai kapan win,kasian meraka ka...hmmmmpp.."
Ku bekap mulut bram agar berhenti bicara
"Ssssttttttt dengarkan....?"
"Pa,kenapa sih pa harus devi yang mengurus bayi ini aku gak tau apa maunya pa sedari tadi di kasih minum s**u nih bayi tetep nangis pa."
"Sudahlah devi turutilah saja papamu ini toh nanti yang enak kan kamu dev?"
"Kenapa papa dan mbak devi sangat senang membenci mas bramdan mbak mayang sih,mereka salah apa sebenarnya.?"
"Uda lah kamu anak kecil diam saja ikuti aja aku sama papa."
"Tapi mbak kasian bayinya mas bram dia butuh asi mbak."
"Oh adikku fajar apakah kamu mau jadi pahlawan kesiangan untuk mas bram mu itu,perlu kau ingat dengan kita menyingkirkan bayi ini otomatis perusahaan mas bram akan turun ke tangan papa dan kita juga akan menikmatinya bukan."
"Jadi semua ini karna harta,sungguh memalukan kalian,pa bukan kah om sudah memberikan sebagian perusahaannya untuk papa kenapa masih berbuat sepicik ini."
"Kamu bilang papa picik."
"Diam....kalian,fajar sebaiknya kamu pulang dan papa tak mau melihat kamu ikut urusan papa lagi,pergi sekarang.?
"Oke pa aku akan pulang tapi bersama alisya dan adiknya,akan ku kembalikan mereka ke orang tuanya."
"Berani kamu ya... jangan coba coba kamu bawa mereka atau kamu sendiri yang akan aku ikat bersama mereka disini."
"Bawa fajar keluar."
"Pa,lebih baik papa kurung saja fajar sebelum dia menghancurkan semua rencana kita pa."
"Ya,biar papa yang urus adikmu sekarang diamkan bayi itu telingaku berasa panas dengarnya."
"Iya ya pa,oia kapan papa lenyapkan bayi ini dan alisya pa."
"Tak perlu susah kita lenyapkan cukup tak beri dia s**u bayi ini pun akan mati dengan sendirinya."
Mata ini berasa panas saat mendengar percakapan itu.
"Apa,mereka mau melenyapkan kedua anakku win aku tak bisa menunggu lagi win akan ku bunuh mereka sendiri jika berani melukai kedua anakku."
"Bram,tahan sebentar sampai bantuan kita datang."
"Lalu kapan win..."lirihku dengan tegas menatap erwin.
Ting....
"Bos,kita sudah mengepung rumah ini."
"Tetap berjaga dan jangan sampai lengah."balasku
"Bram,adiguna sudah keluar dari kamar itu berarti di dalam hanya tinggal anaknya."berat rasanya menyebut nama itu lagi,lebih baik bram saja yang kesana aku akan tetap di sini.
"Hhhmmm bram kamu kesana dulu beri dia kejutan nanti aku akan menyusulmu."kataku pada bram aku akan menyiapkan hati ini dulu sebelum bertemu dengannya aku takut jika hati ini akan goyah.
Prokk...prokk...prokkk
Sengaja ku berikan devi tepuk tangan karena berhasil membuat drama seperti ini.
"Kenapa kaget ya,apa karna aku ada disini."perlahan aku berjalan mendekat dimana anakku di tidurkan mungkin terlaku terkejut hingga devi hanya diam di tempat dan lihatlah wajah terkejutnya begitu lucu sekaligus memuakkan kini bagiku dan dengan sigap aku gendong bayi mungil ini.
"Stop mas atau aku akan menembakmu dan kedua anakmu,jangan berani melangkah walau selangkah saja tanpa aku susah payah akhirnya mas datang juga kesini,papa pasti senang melihat ini mas."
"Apa mau kalian akan aku berikan tapi sebelum itu lepaskan kami dulu."mencoba menawar pada devi yang sedang mengacungkan pistol ke arah kami.
"Kami mau kamu dan keluargamu mati mas."
"Apa...apa maksudmu,salahku apa pada kalian hingga kalian berbuat sekeji ini."
"Salahmu adalah karena kau menjadi pewaris tunggal."
Apa dia kata ini semua salahku, ku lihat ke luar belum ada tanda akan muncul tu si erwin sedangkan aku merasa takut dengan pistol itu.
Doooorrrrr..........