Hari ini sangat melelahkan sekali apalagi di rumah hanya ada aku dan erwin saja,ya hingga kini dia masih setia menemaniku dan hanya memantau pekerjaannya dari jauh saja.
Saat sedang menatap layar laptop ku, ku lihat ponselku berdering berkali kali saat ku toleh nama bik narti terterah dalam layar segera ku angkat telfon itu.
"Halo tuan maaf saya menganggu tuan saya mau menyampaikan bahwa nyonya sekarang sudah melahirkan tuan anaknya laki laki sehat tuan."
Suara bik narti langsung mengagetkan ku, apa anakku sudah lahir bukannya masih seminggu lagi batinku.
"Iya bik...apa bik anakku sudah lahir bukan kah masih seminggu lagi bik?"
tanyaku seakan tak percaya karena semalam saat aku vidio call dengan mayang dia tak menunjukkan tanda tanda akan melahirkan.
"Iya tuan tadi pagi setelah sarapan nyonya merasa sakit perutnya mules tuan jadi saya langsung panggilkan bidan desa karna nyonya menolak ke rumah sakit."
Terang bik narti padaku.
"Baik bik segera saya akan kesana dengan erwin dan tolong siap kebutuhan anak saya ya bik,bilang ke mayang kalau saya akan naik pesawat saja biar cepet sampainya."
"Baik tuan.,akan saya sampaikan."
Saat ingin berjalan menuju kamar nyonya, ku dengar dari luar ada ribut ku putuskan untuk melihat ke depan dan kagetnya aku ternyata mereka orang suruhan pak adiguna.
"Haduh,bagaimana ini kenapa bisa tau kalau nyonya disini untuk aja ada anak buah mas erwin tapi bagaimana jika masuk."dengan mondar mandir aku bingung harus bagaimana dan baru sadar ternyata panggilan masih Terhubung ke tuan bram karna ku dengar tuan bram memanggil.
"Halo,bik bibik ada apa siapa yang datang bik halo bibik...??:"
Jelas sekali.aku dengar bibik menyebut nama paman dan anak buahnya ada apa ini sungguh membuat aku panik dan segera memanggil nindi untuk memesan tiket hari ini juga.
"Bibik apa bibik dengar...?"
Telfon masih terhubung tapi bibik belum merespon suaraku,dengan panik ku remas rambut ini,semoga tidak terjadi apa apa dengan mayangku dan anak anakku lagi.
"Maaf tuan maaf di depan ada orang suruhan pak adiguna yang biasa datang ke rumah itu tuan,saya harus bagaimana tuan mereka masih di halau sama anak buah mas erwin."terangku pada tuan bram.
"Bagaimana bisa bik?"tanyaku dengan sedikit emosi.
"Maaf tuan telfonnya saya tutup dulu tuan saya akan minta bantuan warga untuk mengusir mereka tuan."jelasku
"Iya bik,saya akan segera kesana."
Dengan menyambar kunci mobil di atas meja kerjaku segera ku keluar dari kantor menuju ke rumah,bagaimana bisa paman mengetahui keberadaan mayang apa dia juga tau kalau mayang melahirkan, tak kan ku biarkan kau menyentuh anak dan istriku lagi aku yang selalu nampak lemah ini akan menjadi kuat tanpa paman sadari.
Sesampai di rumah segera ku mengemas beberapa lembar pakaian dan mencari erwin dan yang ku cari sedang mengemas pakaian juga,mau kemana dia batinku bertanya.
"Erwin,mau kemana kau kenapa mengemas pakaian?"
"Gak ada waktu lagi bram segera kita akan brangkat tiket sudah ku pesan,adiguna sudah mengetahui semuanya bram anakmu dan mayang dalam bahaya."jelasku pada bram.
"Kau sudah tau erwin,aku juga sudah siap untuk berangkat,aku akan telfon nindi untuk membatalkan tiketku karena kau pun sudah memesan."
Dalam perjalanan menuju bandara aku berkali kali menelfon mayang tapi panggilanku tak kunjung di terima, dan itu sukses membuat aku semakin panik dan erwin pun ku lihat serius dengan ponsel di tangannya.
Drttt...drttt...
Suara ponsel erwin berbunyi.
"Bagaimana apa sudah aman?"
cecarku langsung pada salah satu anak buahku.
"untuk sementara aman bos,tapi lebih baik secepatnya untuk pergi dari sini sangat bahaya jika terus disini bos?"
"Akan aku hubungi jika sudah sampai sana tetaplah berjaga di seluruh area rumah bibik."
"Erwin,bagaimana bisa paman mengetahui keberadaan mayang aku tak ingin kehilangan anakku lagi win."
Lirihku ke erwin.
"Ini juga masih ku selidiki bram,tenang lah semua akan baik baik saja."ku tepuk bahunya dan berusaha menenangkan bram yang terlihat gugup ini.
Kurang ajar bagaimana bisa adiguna mengetahui nya,apa dia mengirim mata mata untuk berjaga di rumah,akan aku selidiki dengan teliti aku janji kali ini semua kejahatanmu akan terungkap tua bangka.
"Mama,apa sudah punya nama buat adik hhmmm kira kira di kasih nama siapa ya ma?"Tanyaku ke mama
Ku lihat alisya nampak berfikir siapa nama adiknya nanti.
"Mama,belum tau sayang oh ya mama lupa mengabari ayahmu kalau adik sudah lahir,tolong ambilkan ponsel mama di atas nakas itu sayang."mintaku pada alisya aku lupa untuk memberi kabar bahagia ini pada mas bram dan juga erwin.
Saat melihat ponsel ternyata mas bram menghubungiku lebih dari 10 kali kenapa aku tadi tak mendengar suara ponselku ya ku telfon balik mas bram.
Tut...tut...tut...
Kemana mas bram kenapa kok gak di angkat biasa nya sekali telfon langsung di angkat,coba sekali lagi mungkin mas bram lagi mandi atau gak lagi makan ya.
Sudah panggilan yang kesekian kalinya tapi mas bram tak juga mengangkat panggilanku ku tarik kasar nafas ini.
"Huusfff... kemana dia?"
Ku coba berfikir positif tentang mas bram aku tak ingin berfikir aneh aneh karena nanti akan berpengaruh pada bayiku.
Ku baringkan badan di samping bayi yang baru ku lahirkan ini karena fisikku masih lemah untuk beraktifitas perlahan rasa ngantuk menguasai ku dan mataku mulai terpejam.
"Halo jemput kami bandara sekarang?"
Titahku pada salah satu anak buahku, ya aku dan bram sudah berada di Kota Surabaya saat kami menuju ke ruang tunggu aku melihat ada orang yang seperti mengawasiku dan bram ku colek lengan bram.
"Bram,coba lihat dua orang di belakang kita seperti mereka sedang mengawasi kita apa kau merasakan nya."
Ku tolehkan sedikit kepalaku untuk melihat orang yang di maksud erwin, dan aku tak asing dengan salah satu orang itu.
"Win,salah satu dari mereka sepertinya aku kenal tapi aku lupa siapa dan dimana aku bertemu?"tuturku pada erwin.
"Coba kau ingat ingat lagi bram,apa ada hubungannya dengan pamanmu."
"Entahlah aku masih lupa,win."
*****
Hari sudah hampir sore ku pandangi wajah mungil ini gemas sekali rasanya, rasa bahagia rasa senang dan rasa kawatir kini menjadi satu di benakku.
"Malaikat kecilku mama ingin beri kamu nama Bayu sepertinya namanya cocok buat kamu deh,tapi nunggu ayah maen sini dulu ya sayang."
Aku akan menyiapkan air hangat untuk mandi alisya dan bayu,nampaknya alisya sangat nyenyak tidurnya sudahlah biar aku tinggal sebentar,ku lihat keadaan rumah sedang sepi kemana semua ya.
"Bibik bik bibik.... " ku panggil beberapa kali tapi tak ada jawaban dari bibik ku tengok sebentar anak anakku lalu berjalan menuju dapur untuk merebus air,saat sedang menunggu air mendidih ku dengar alisya berteriak memanggilku segera ku matikan kompor dan berlari kembali ke kamar.
"Mama....mama....mama.... tolong ma..."
Saat sampai di ambang pintu kamar ku lihat mereka membawa kedua anak ku melewati jendela,segera ku berlari dan menarik salah satu dari mereka.
"Alisya bayu..."dengan sekuat tenaga aku menarik dan menahan orang bertopeng itu dan berteriak meminta tolong.
"Tolong...tolong...bibik tolong bik alisya bayu.. bibik..."berteriak dengan isakan melihat kedua anakku yang pergi bersama mobil hitam itu lalu ku pukuli penculik yang berhasil aku tahan dengan membabi buta.
"Kau bawa kemana kedua anakku,bibik Ya Tuhan kemana bibik dan semua yang ada di rumah ini,cepat beri tau aku di mana kedua anakku atau aku bunuh kau sekarang juga."
Aku sangat kacau,ku lihat sekeliling kamar ini dan ya aku ambil vas bunga di dekat nakas dengan cepat dan ku hantamkan ke kepala penculik itu.
"Sekali lagi jawab aku,dimana kedua anakku kalian bawa atau aku akan benar benar membunuhmu,cepat."
Akhirnya aku dan erwin sampai di rumah bik narti,segera ku turun dari mobil dan ku dengar mayang berteriak segera ku berlari masuk ke dalam rumah yang pintunya terbuka itu.
"Mayang jangan.."segera ku tahan tangan mayang yang hampir saja memukul orang bertopeng itu.
"Mas,biarkan aku membunuhnya mas mereka sudah menculik anak kita mas.."
Dengan air mata mengalir deras saat mas bram memelukku.
"Anak kita di culik mas...mereka mengambil anak kita mas..."dengan isakan aku mengulangi perkataanku.
"Apa...apa anak kita di culik dan dia salah satu penculiknya."Ucapku dengan mengoyangkan bahu mayang.
Aku hanya dapat mengangguk pelan ke mas bram,sungguh kenapa kejadian itu terulang kembali bahkan aku sudah berusaha menyembunyikan semua ini kenapa mereka tak inginkan aku dan mas bram bahagia,apa salah kami Ya Tuhan.
"Ada apa bram.." saat turun dari mobil tadi aku melihat keadaan rumah sepi kemana anak buahku ku dengar suara teriakan mayang dari dalam ku biarkan bram berlari menghampiri mayang sedang aku mencari kemana anak buahku berada setelah berkeliling rumah ternyata mereka semua ada di belakang rumah dengan duduk melingkar dan tangan di ikat sialnya lagi mereka dalam pengaruh bius.
"Kurang ajar..."teriakku saat melihat kondisi mereka.aku pun langsung berlari menuju bram dan mayang berada.
"Bram,anak buahku dan keluarga bik narti ada di belakang rumah tapi mereka di bius dan di sekap bram."terangku dengan mengatur nafas yang tersenggal karena berlari.
"Kedua anakku di bawa mereka win.." ucapku lirih ke arah erwin dan menunjuk penculik itu.
"Dan dia salah satu dari mereka."
"Mari kita lihat siapa dia?"
dengan berjalan menuju jendela ku buka topeng penculik itu,betapa terkejutnya aku mendapati siapa di balik topeng itu.
"Kau...kau kenapa kau lakukan itu padaku apa salahku padamu,he jawab aku jangan hanya diam saja."ucapku padanya dan rasa tak percayaku.
"Pak narwi,kenapa... apa yang bapak lakukan terhadap kami pak,,,kenapa bapak menusuk kami dari belakang seperti ini kasih tau bram pak apa salah bram." rasanya lutut ini tak dapat menompang berat badanku,ya aku sangat terkejut dan tak percaya dengan semua ini.
"Maaf maafkan saya tuan nyonya, maafkan saya tapi saya tak bisa memberi tau keberadaan non alisya dan adiknya."
Dengan menundukkan kepala pak narwi berucap,ku lihat dia seperti terpaksa melakukan ini.
"Oke pak narwi,untuk sementara bapak akan kami sandra sampai anak anak bram pulang kembali."dengan berjalan dan ku angkat badan lelaki separuh baya ini.