Queenaia Roseanne, seorang dokter spesialis anak yang harus menerima kenyataan menjadi ibu tunggal untuk kedua anak kembar di usia ke 26-nya.
Quin sudah menjalani perannya sebagai ibu tunggal selama 3 bulan pertama ini. Karena pekerjaan yang masih Ia liburkan, Ia akan fokus merawat kembarnya yang saat ini hanya bisa tidur, menangis, berceloteh dan minum ASI.
Quin tidak ingin kedua bayinya kekurangan kasih sayang sejak kecil yang mana hanya bisa didapat darinya, si ibu tunggal.
AUTHOR POV
Oek… Oek… Oekk…
Si bungsu Loreene menangis terbangun dari tidurnya.
“Good morning, baby girl,” sapa Quin mengecup lembut kedua pipi Loreene yang mulai berhenti menangis sesudah digendong Quin dan mendapat asupan makannya.
“Anak Mommy janganlah menangis, sayang. Kalau menangis, merahlah pipinya,” nyanyi Quin mencolek pipi gembul Loreene yang sudah memerah saking putihnya kulit si manis.
“Um! Sudah ketawa rupanya anak Mommy! Cantiknya~”
Oekk… Oekk…
“Ssstt… ssstt… ssstt…” Quin menenangkan si sulung Leone yang baru bangun.
“Mmm… emma! Mmma!” Loreene berceloteh senang menggerakkan tangannya usai mengisi perut.
Quin segera mengganti Loreene dengan Leone untuk bergantian minum asi. Meletakkan Loreene dengan nyaman di sisinya agar tidak rewel saat menyusui Leone.
“Nah! Sekarang gantian. Putra tampan Mommy ini yang makan. Lapar, sayang?” Quin menghapus air mata Leone.
“Mamama! Ma! Eeeemmmmm! Em!” Loreene masih terus asyik berceloteh seakan mengajak Quin berbincang.
“Anak Mommy kenapa, heum? Mau bilang apa, sayang?” Quin bertanya mengelus genggaman tangan Loreene.
“Emmma! Emma!”
“Iya, sayang. Leone-nya lagi mimik s**u. Kan gantian sama Loreene kan tadi,” kata Quin lembut.
Seakan mengerti, Loreene memandang Leone yang digendong sang ibu. Diam, tenang meminum asupannya.
Quin terkekeh sendiri karena Loreene jadi mengikuti Leone untuk diam dengan terus memandangi kembarannya.
“Kenapa segitunya mandangin Leone minum, sayang?” tanya Quin yang tentu saja tidak mendapat jawaban.
“Mm! Mm! Em!” Gantian Leone yang berceloteh dan kemudian disambut pula oleh Loreene.
Quin tersenyum bahagia dengan perkembangan kedua bayinya yang sangat baik setiap harinya.
Hari ini adalah jadwalnya Leonell dan Loreene untuk imunisasi vaksin DPT-HB-HIB 2 dan imunisasi polio tetes ketiga kalinya di bulan ketiga ini.
“Ayo kita mandi dulu, sayang. Kita akan pergi menemui Aunty dan Uncle-mu di rumah sakit,” kata Quin yang akan memandikan Leone lebih dulu.
“Nah, Loreene sama Aunty Maura dulu ya, sayang. Nanti gantian Mommy mandiin usai Leone. Okay?” Loreene seakan tidak peduli saat Maura menemaninya.
“Okay, Mommy.”
Setengah jam habis untuk memandikan dan memakaikan baju si kembar. Dijemput oleh Bryan, mereka berangkat ke rumah sakit yang sudah membuat janji dengan Dr. Sella.
“Bayi-bayiku!” pekik Dr. Vivian dengan tidak sabaran menghampiri Leone dan Loreene yang berbaring nyaman di kursi stroller baby twin mereka. Di custom khusus oleh Uncle Bryan, untuk Leone yang warna biru dan untuk Loreene yang warna pink.
“Jangan memekik, Vi. Nanti mereka kaget dan menangis!” larang Khloe dengan tenang menggendong Loreene yang langsung anteng di gendongannya.
“Bagaimana kabarmu, Quin?” tanya Sella memeluk Quin yang sudah sebulan ini tidak ketemu.
“Baik, Sell. Bagaimana denganmu? Semoga baik dan pernikahanmu dengan Bryan juga baik semuanya,” balas Quin tersenyum.
“Tentu, Quin. Semuanya baik. Jadi kamu dan baby kembar juga harus baik.” Quin terus tersenyum dan mengangguk.
“Hari ini kita lanjut imunisasinya si kembar ya, Mommy,” kata Sella menyiapkan perlengkapannya.
Tidak. Bukan menyiapkan perlengkapannya, karena seluruh perlengkapannya adalah milik Quin. Quin memang seorang dokter spesialis anak, tapi dia takut untuk melakukannya sendiri, sehingga dia meminta bantuan Sella untuk menyuntikkan anaknya.
“Imunisasi polio dan vaksinnya hari ini langsung disuntik keduanya?” tanya Vivian resah. Vivian bukan ibunya, tapi dia yang ketakutan.
Seperti bulan-bulan yang lalu, seperti anak bayi pada umumnya, si kembar akan menjerit menangis usai merasakan suntikan untuk kekebalan tubuh.
Quin terkekeh kecil. “Jangan risau, Aunty. Hari ini kami hanya akan suntik imunisasi polio, lalu nanti minggu depan kami suntik vaksinnya. Bagaimana, Aunty?”
Tadinya wajah Vivian yang sempat sedikit pucat, akhirnya mulai berubah normal seperti biasa.
“Siap, Mommy Dokter Quin! Tapi, sebenarnya untuk apa suntik vaksin DPT-HB-HIB ini?” tanyanya lagi sembari membuka kain yang membungkus kaki para bayi.
“Ini gunanya supaya Leone dan Loreene tidak kena penyakit hepatitis B, lalu pneumonia. meningitis, tetanus, difteri sama pertusis. Anak bayi sejak dini harus diberi pertahanan ini supaya bisa kebal, kuat dan tidak mudah diserang penyakit,” jelas Quin memposisikan Loreene untuk segera disuntik.
Loreene adalah orang yang pertama disuntik. Ada alasannya. Saat pertama kali suntik sejak kelahiran, Leone yang pertama kali disuntik memberi ketakutan tersendiri untuk Loreene usai mendengar suara tangis kembarannya. Loreene enggan untuk disuntik, bergerak lasak tidak mau disentuh oleh siapapun kecuali ibunya.
“Ayo, sayang. Kita suntik sehat ya.” Quin mengambil alih Loreene dari Khloe.
Loreene tertawa kesenangan kembali digendong Quin. “Hihihi... Emm! Mm! Aaaa. Ooaaa!”
“Iya, sayang. Anak cantik Mommy ini biar semakin cantik, semakin sehat dan kuat.” Disaat itu pulalah tangis Loreene terdengar menggelegar karena Sella menyuntikkannya saat Quin mengajak Quin berbicara.
“Ssstt... anak Mommy jangan menangis, sayang.” Tanpa menunggu lama Quin mengeluarkan asupan makanan bayinya untuk meredakan tangis dan rasa sakit yang dirasakan Loreene di paha kirinya.
Tangis Loreene dalam sekejap pun menghilang meski masih tersisa isakan kecil. Saat ini Loreene fokus pada makannya. Quin tersenyum mengusap air mata Loreene, mengusap paha Loreene yang memerah dengan minyak. Hampir 15 menit Loreene meminum asi-nya dan baru bisa tenang sampai ke gendongan Bryan.
“Sekarang gantian si anak tampannya Aunty ini yang suntik,” kata Sella menyiapkan suntikannya.
“Ayo, sayang Mommy.”
Sama seperti Loreene tadi, begitu pulalah reaksi Leone yanh baru siap disuntik. Hanya asi yang bisa menenangkannya dan olesan minyak di paha yang bisa meredakan rasa sakitnya.
“Anak-anaknya Mommy Quin benar-benar pintar dan baik!”
“Kalian tidak akan langsung kembali kan?” tanya Vivian yang belum puas bersama si kembar.
“Kami maunya,-”
“Mereka masih akan di sini. Aku sebagai sopir nona dan tuan manis ini akan membawa mereka pulang usai kita makan malam bersama nanti.” Bryan menyela Quin yang akan menjawab.
“Itu bagus, Bry.” Ketiga perempuan itu dengan setuju dengan Bryan tidak ingin mendengar pendapat Quin lebih lanjut dan itu membuat Quin tertawa sendiri.
“Tidak ada yang ingin mendengarkanku?” Semuanya pura-pura tidak mendengar dan bermain dengan si kembar.
“Padahal aku mau bilang kalau kami akan tetap di sini sampai nanti kita pulang bersama,” kata Quin santai dan baru mendapat atensi dari keempat dokter di sana.
“Bagus, Quin! Itu baru adikku!”
“Memang seharusnya begitu. Sudah laa kita tidak ketemu. Biasanya setiap hari, sekarang hanya sekali seminggu.”
“Kami tidak merepotkan kalian kan, dokter-dokter sibuk?”
“Tentu saja tidak, Quin. Kami selalu ada waktu untuk mu dan bayi kembar manis kami ini.”
♥♥♥
Di jam 7 malam, keempat orang dewasa dan 2 batita itu sudah tiba di restoran steak. Keinginan Quin untuk makan steak.
“Quin, makan yang banyak. Biar anak-anak bisa dapat protein yang bagus dari asi-nya. Apalagi anak-anak baru disuntik. Butuh banyak asi. Badan si kembar sudah hangat, obatnya sudah bereaksi.”
Quin mengangguk dan bergerak mengecek kedua anaknya yang mulai demam.
“Mereka baik-baik saja, Mommy Dokter?” tanya Sella khawatir.
2 bulan yang lalu, melewati 4 kali suntikan, Leone dan Loreene memang akan demam malamnya, namun mereka selalu menangis menandakan kalau memang tubuhnya sedang beradaptasi dengan obat yang masuk, namun malam ini tidak. Keduanya anteng saja di gendongan aunty-aunty-nya. Sedikit mengkhawatirkan mereka yang bukan dokter anak.
Quin tersenyum mengangguk. “Baby Quin aman, Sell. Mereka baik, tubuhnya juga baik meski sedikit hangat. Tubuhnya sudah beradaptasi dengan baik dengan obatnya, tapi memang tetap harus demam,” jelas Quin menenangkan.
“Tapi meski begitu, kamu harus makan banyak, Quin.” Khloe berkata.
Quin mengangguk yakin. “Hari ini giliran siapa membayar? Quin mau makan banyak. I want a sirloin steak and a rack of ribs,” kata Quin yang lapar menelan air liurnya.
“Oh My God! Itu terlalu enak!”
Mereka tertawa mendengarnya. Mau bagaimanapun kondisi dan situasinya, porsi makan Quin tetap akan sama besar juga banyaknya.
“Kakak yang bayar, Quin. Makan yang banyak. Pesan yang lebih banyak lagi. Kamu tidak hanya makan sendiri. Ada Leone dan Loreene juga,” kata Bryan yang diangguki Quin dengan semangat.
Jam 9 malam baru Quin dan anak-anak tiba di rumah. Seperti biasa, Ia akan mengelap kedua anaknya dengan air hangat, memakaikan pakaian hangat dan menitipkan mereka pada Maura, perawatnya yang jadwal menginap di rumah Quin selagi dia membersihkan diri.
Loreene yang terlihat sudah terkantuk pun lebih dulu disusui Quin dan dalam hitungan detik, Loreene terlelap dengan nyenyaknya.
“Good night Mommy’s little princess. Have a sweet dreams and Mommy love you, baby girl,” bisik Quin memberikan kecupan selamat malam untuk Loreene.
Oekk... Terdengar rengekan Leone yang juga sudah minta tidur.
“Ssstt... Tenang, baby boy. Mommy is here. Sini, sayang.” Quin menggendong Leone yang memberi asi-nya.
Quin dan Leone hanya saling pandang tanpa bersuara. Quin tidak ingin mengganggu putranya fokus minum dan alasan lainnya, baby Leone belum bisa berbicara.
“Hehehe...” Suara tawa kecil Leone yang hanya menyunggingkan sudut bibirnya terdengar lucu mengundang senyum Quin semakin lebar.
“Ei? Pangeran tampannya Mommy ini ketawa, heum? Kenapa tertawa, sayang? Ada yang lucu? Muka Mommy lucu?” Quin mulai menoel pipi Leone yang tembem, bermain dengan putranya yang belum terlelap.
Leone mulai berceloteh dengan pintarnya sembari memainkan rambut sang ibu, menepuk lembut pipi ibunya.
Quin sendiri juga tersenyum melihat putranya hingga tetiba saja pikirannya tertuju untuk seorang pria yang baru Ia jumpai sekali, di hari bersejarahnya yang memberikannya Leone dan Loreene. Pria yang menghamilinya dan ayah dari anak kembarnya.
Bagaimana wajah ayah mereka, begitulah wajah di kecil Leone. Duplikat ayahnya versi kecil.
“Maafkan Mommy, sayang. Maafkan Mommy harus menyembunyikan kalian dari Daddy, dan kalian hanya akan memiliki Mommy tanpa Daddy. Tapi Mommy akan berdoa, suatu saat nanti meski Mommy sendiri tidak tahu kapan, kita akan bertemu Daddy dan Daddy akan bersama kita, sayang. Bersama Leone dan Loreene.”