3 tahun kemudian.
Si kembar Leonell dan Loreene sudah berada di usia 3 tahun 2 bulan. Mereka sudah bisa berjalan dengan lancar sejak usia 10 bulan dan saat ini sudah bisa berbicara meski Loreene masih tidak selancar Leone.
“Mommy~ Mommy~” Loreene berlari menuju dapur dimana Quin berada menyiapkan sarapan.
“Jangan lari-lari, princess. Nanti jatuh seperti kemarin,” larang Quin menangkap tubuh kecil Loreene.
“Hihihihi...” Suara tawa lucu Loreene selalu menghiasi rumah minimalist berlantai 3 itu.
“Loreene mau jatuh lagi seperti kemarin, heum?” Loreene menggeleng dengan lucu.
“Lalu kenapa lari-lari? Dimana kakak Leone?”
“Leone di kamalnya, Mommy. Ileene panggil, tapi Leone tidak mau kelual suala. Jadi Ileene tulun sendili. Ileene lapal, Mommy. Ulatnya di pelut Ileene sudah mau makan,” jawab Loreene dengan polosnya yang selalu berhasil membuat Quin tersenyum gemas dengan suara dan gaya bahasa anaknya ini.
“Cacing, sayang. Bukan ulat,” koreksi Quin.
Loreene mengangguk santai. “Ulat cacing, Mommy. Lapal, Mommy. Ayo kita makan!”
Quin tertawa mencium gemas pipi tembem Loreene. “Iya, sayang. Iya. Ayo kita makan. Loreene duduk dulu, biar Mommy panggil kakak Leone, kita sarapan bersama. Okay?”
“Hu uh! Ndong, My!” Loreene mengangkat tangannya minta digendong untuk didudukkan di kursinya.
“Sebentar ya, sayang. Jangan asal pegang, cukup hanya duduk dengan baik bersama Coco,” kata Quin menunjuk Coco, boneka teddy bearnya Loreene warna putih dengan syal pink.
“Yes, Mommy.”
Sarapan simple dengan pancake dan s**u, Quin dan kedua anaknya makan dengan tenang.
“Mommy mau pergi ke rumah sakit?” tanya Leone yang baru menghabiskan pancake-nya.
“Tidak, boy. Hari ini Mommy tidak ada pasien di rumah sakit. Mommy hanya akan ke praktek bawah,” jawab Quin membantu Loreene makan yang masih sedikit berantakan.
“Leone dan Loreene di rumah dulu nanti bersama nenek Salma, lalu nanti Mommy kerja di praktek sampai jam 1, lalu kita tidur siang, okay?”
“Kita makan tidak sama, Mommy?” tanya Loreene memandang Quin dengan mata coklat polosnya.
Quin tersenyum membersihkan bibir putrinya. “Nanti kalau pasien Mommy tidak banyak, kita makan sama, sayang. Tapi kalau pasiennya ramai, Loreene dan kakak Leone makan sama nenek Salma ya.”
Keduanya mengangguk paham. Mereka memang ingin untuk selalu bersama sang ibu, melakukan semuanya bersama, tapi kalau sang ibu sudah berurusan dengan pasien yang membutuhkan ibu mereka, Leone dan Loreene dengan bijaknya tidak akan mengganggu Quin. Justru keduanya semakin mandiri untuk bisa melakukan segala sesuatu agar jangan lagi merepotkan mommy-nya.
Setiap harinya, pasien Quin selalu banyak. Ada banyak sekali anak-anak yang membutuhkan sentuhan tangan lembut si dokter anak ini.
Dulu sebelum Quin memiliki si kembar dimana dulu dia bekerja di rumah sakit International Reymundo, Quin sering sekali bekerja tidak ingat waktu. Jam praktek berakhir di pukul 6 sore, namun dia bisa memperpanjangnya jika sedang banyak pasien.
Namun tidak lagi dengan sekarang. Quin harus konsisten dan disiplin akan waktu. Dia harus membagi waktu yang adil untuk pasien dan juga untuk anak-anak kembarnya. Quin akan bukan praktek tepat di jamnya, dan tutup tepat di jam yang tertera.
“Mommy!” pekik Loreene yang melihat kedatangan ibunya, berlari memeluk Quin yang sudah merentangkan tangan.
“Selamat siang, princess. Apa princess Mommy sudah makan?”
“Selamat siang, Mommy~” Datang Leone yang memberi kecupan manis di pipinya diikuti oleh Loreene.
“Selamat siang, boy. Jadi apa anak-anak Mommy sudah makan siang?”
Leone dan Loreene menggeleng serempak membuat Quin kaget.
“Kenapa belum makan, sayang?” tanya Quin khawatir.
“Si kembar ingin makan bersamamu, Quin.” Salma di belakang menjawab dan diangguki keduanya.
“Ileene mau makan sama Mommy,” kata Loreene memeluk leher Quin.
“Loreene tidak mau makan, jadi Leone juga tidak makan. Loreene mau makan sama Mommy, Leone ikut saja.” Leone menjawab.
“Mau sama Mommy makan. Makan di lual yuk, Mommy? Ileene mau makan lual lumah.”
“Ayo kita makan di luar, sayang. Kakak juga mau makan di luar kan?” Leone mengangguk tenang.
“Yeay! Ayo, Mommy! Ileene lapal!”
Akhirnya Quin, Leone dan Loreene makan siang di sebuah restoran. “Leone dan Loreene mau makan apa, heum?” Keduanya melihat menu makanan bergambar.
“Mau salmon?”
Loreene menggeleng. “Mommy punya salmon enak lebih banyak. Mommy’s salmon is the best. No lawan, Mommy.” Leone mengangguk setuju dengan kembarannya.
Akhirnya Quin memilihkan dori, chicken roll smoked beef, chicken katsu, sup bening dan pudding jeruk pepaya.
“Mommy, Ileene mau sosi skiwel,” cicit Loreene meminta.
“Sausages skewer?” Loreene mengangguk.
“Leone mau, sayang?” Leone turut mengangguk.
Mereka makan dengan tenang, sesekali ada saja celetukan Loreene yang menghibur.
“Enak, sayang-sayangnya Mommy?”
“Nak sekali, Mommy!”
“Enak, Mom.” Quin sendiri selalu senang asal melihat anak-anaknya makan banyak dan lahap.
“Mommy, look! See!” Loreene menunjuk diam-diam objek yang menarik perhatiannya. “Mommy eyes look thele!”
Quin dan Leone melihat arah tunjukkan jari kecil Loreene. Seorang pria berperawakan tinggi, tampan, seksi, aura seorang dominan dan tentu kharisma orang berdompet tebal.
Pria seksi dengan kulit eksotis, brewok di wajah menambah kesempurnaannya. Tato-tato yang terlihat di tangannya pun menambahkan kesan yang sangat seksi.
“Itu big Leone, Mommy,” seru Loreene dengan polosnya.
“Itu Leone! Kembarnya Leone.” Leone ikut bersuara setuju dengan perawakan pria yang mereka lihat.
Berbeda dengan si kembar, Quin justru terlihat sangat kaget. Tubuhnya sedikit bergetar bahkan matanya memanas sampai air matanya menetes tanpa sadar.
Pria itu. Pria yang mengingatkannya akan kejadian awal mula terciptanya si kembar. Pria itu...
“Tu Daddy, Mom?”
…Ayah anak-anaknya.
Suara Loreene tidaklah kuat, namun entah mengapa pria itu justru menoleh dan melihat mereka bertiga yang juga tengah memperhatikannya. Eye contact pun tak terhindari.
Quin segera membuang pandangannya menantap ke arah lain menghindari tatapan mata tajam pria yang pernah menghabiskan malam dengannya. Quin tidak ingin pria itu mengenalnya dan akhirnya tahu kalau Quin sudah melahirkan 2 anak untuknya.
Katakan Quin egois dan jahat untuk anak-anaknya, tapi sungguh dia tidak ingin pria itu mengetahuinya dan akhirnya hanya bisa mengatai hal buruk untuk anaknya.
‘Jangan. Jangan melihat ke arah kami, jangan memperhatikan kami seperti itu!’
“Daddy?” Leone turut bergumam melihat dengan jelas wajah pria dewasa yang benar-benar duplikatnya.
Di saat Leone dan Loreene memandang pria itu dengan tatapan kagumnya, berbeda dengan Quin yang terlihat takut, sedih, bahkan tubuhnya menegang sampai tanpa sadar meneteskan air matanya.
“Uncle itu juga mirip Loreene, Mommy,” kata Leone yang juga masih menatap pria itu bersama Loreene.
“Sstt... ssstt... sudah, sayang. Jangan dilihatin lagi Unclenya. Tidak sopan, sayang. Nanti Unclenya marah loh,” kata Quin menyibukkan diri dengan makanan anaknya agar tidak mengundang kecurigaan untuk pria itu.
“Tidak boleh lihat-lihat ya, Mommy?” tanya Loreene ingin tahu.
Quin mengangguk menyuapkan sepotong chicken roll. Quin baru bisa menghela nafas lega ketika Leone dan Loreene sudah kembali fokus untuk makan.
Namun namanya juga anak-anak. Rasa penasaran mereka untuk mengetahui sesuatu itu sangat tinggi. Leone dan Loreene sesekali akan mencuri pandang pria yang mereka lihat duplikat mereka versi dewasa dan dalam hati masing-masing menyatakan mereka mempunyai hubungan dengan pria itu.
‘Uncle itu mirip sekali denganku dan Loreene. Apa Uncle itu Daddy kami? Tapi kenapa tidak bersama kami? Tidak bersama Mommy, tidak bersamaku dan Loreene dalam 1 rumah?’ batin Leone yang terus bertanya-tanya. Matanya yang dari usia dini ini terlihat tajam, terus memicing ke arah pria yang baru Ia lihat untuk pertama kalinya.
‘Itu pasti Daddy. Tidak mungkin aku dan Loreene bisa sama-sama merasa memiliki hubungan dengan Uncle itu. Benar-benar mirip denganku dan Loreene.’
“Daddy~!”
Dengan tiba-tiba Loreene melompat turun dari kursinya dan berlari ke arah pria yang sedari tadi menarik perhatiannya.
“Loreene!” pekik Quin tidak sempat mengejar Loreene.
“Daddy~!” Loreene terkikik lucu memeluk kaki pria itu. “Daddy Ileene dan Leone!”
“Napa Daddy tidak di lumah sama Ileene, Mommy dan Leone? Daddy sama Ileene tidak lindu ya?” Loreene menatap pria itu dengan mata polosnya yang suci nan bersih.
“Ileene lindu Daddy. Mau sama Daddy Ileene!”
Loreene berseru dengan semangatnya, dengan senyum cerianya sembari terus menatap ‘daddynya’ dan memeluknya dengan sangat erat.
“Leone di sini dulu ya, sayang.” Quin segera menyusul Loreene yang sungguh tidak Ia duga bisa berlari memeluk pria yang menarik perhatian putrinya.
“Daddy!”
“Tuan, maafkan putriku. Dia hanya salah mengenal orang.” Quin berusaha menggendong Loreene yang masih terus bertahan di posisi tadi. “Ayo, sayang.”
“No, Mommy~ Daddy! Ini Daddy Ileene sama Leone. Milip Daddy. 3 kembal.” Loreene terus berceloteh meyakini mommynya tentang daddynya.
“Bukan, sayang. Bukan Daddy. No Daddy. Hanya ada Mommy, sayang.” Quin berusaha untuk terus meyakini anaknya.
“Daddy no?” Loreene masih tidak percaya dengan kata-kata ibunya.
“Iya, sayang. Look! Uncle ini bukan daddynya Loreene dan kakak Leone. Kan Mommy sudah bilang kalau daddy kita itu lagi pergi bekerja. Daddy pergi kerja ke luar angkasa, sayang. He is an astronot. Daddy pergi untuk mengambilkan bintang untuk Loreene. Jadi Uncle ini bukanlah daddy Loreene.”
Loreene terlihat berpikir kembali mengendurkan pelukannya.
“Daddy di luar asangka, Mommy?” tanya Loreene kembali memastikan pada ibunya yang menunduk sejajar dengannya.
“Iya, sayang.”
“Ini bukan Daddy belalti.” Quin kembali mengangguk.
Loreene akhirnya mau melepas pelukannya menggenggam jemari pria itu.
“Maaf Ileene, Uncle. Ileene sudah tidak sopan dan buat malu Uncle. Solly, Uncle,” kata Loreene tersenyum dan mencium tangan pria itu sebelum ikut ibunya pergi.
“Maafkan kami, Tuan.”