“Apa saja jadwalku hari ini?” tanya Ken yang baru tiba di kantor, duduk di kursi kebesaranku seperti biasa.
“Tidak banyak, Tuan. Anda hanya akan menghadiri 2 pertemuan dengan pihak perusahaan Steve Group dan Stone Corp,” lapor Marvel.
Ken hanya mengangguk dan mulai mengecek berkas yang sudah hadir di atas meja menunggu jam janji temu.
“Ada 1 lagi, Tuan. Saya baru mendapat pesan dari bawahannya Tuan besar kalau beliau dan Nyonya besar akan makan siang dengan Anda.”
“Kalau begitu tanyakan dimana tempat makan siangnya dan segara buat reservasi.”
“Baik, Tuan.”
Ken kembali lanjut memeriksa berkas dan meminta sekretaris nomor 2 nya, Geri untuk mengambil dan datang pula setumpuk berkas lagi. Habis satu, tumbuh seribu.
Waktu berlalu sampai jam makan siang tiba. Sedikit telat sebenarnya dari waktu makan karena Ken memiliki tugas yang tanggung untuk ditinggal. Restorannya sendiri pun tidak lagi banyak pengunjung. Hanya 2 meja yang terisi. Di ujung depan ada 2 orang, dan di meja barismpaling pinggir baris tengah ada 3 orang. 3 orang itu tentu saja Quin, Leone dan Loreene.
KEENAN POV
Aku tiba lebih awal di restoran tempat aku akan makan siang dengan kedua orang tuaku. Restoran western favoritnya mommy.
Ada untungnya juga kalau datang jam segini, sepi, tidak perlu ada banyak penjagaan di sekitar. Aku juga bisa leluasa melihat seisi restoran yang tak lain adalah milik kakak sepupuku, Laura.
“Maaf, Tuan. Saya akan menghubungi Kris untuk menanyakan posisi Tuan dan Nyonya besar,” kata Marvel menuju pada Kris, bawahan kepercayaanku yang lain yang kuletakkan di sisi kedua orang tuaku, Tuan dan Nyonya besar Reymundo.
Kuangkat tangan kiriku menandakan tidak perlu untuk menghubungi Kris. Meski aku benci untuk menunggu, tapi tidak untuk kedua orang paling berjasa di hidupku.
“Baik. Permisi, Tuan.” Marvel berlalu meninggalkanku yang fokus pada pekerjaan di I-pad.
Tidak terlalu fokus sebenarnya. Dari balik kacamata hitam yang bertengger di hidung, mataku terus melirik ke sisi kanan dimana 3 orang yang terdiri dari 1 orang dewasa dan 2 anak kecil terus menatapku.
Tidak. Kedua anak kecil itu terus menatapku.
Tidak mengherankan lagi untukku. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja ketakutan melihatku. Jadi tidak aneh kalau kedua bocah itu menatapku terus seperti itu.
Tapi ada yang aneh. Dari penglihatan mata tajamku, mereka tidak melihatku dengan pandangan ketakutan. Justru perempuan yang dewasa itu yang menatapku dengan takut-takut terkesan menghindar, menyembunyikan wajahnya.
“Itu big Leone, Mommy.” Terdengar suara anak kecil perempuan berkata.
“Kembarnya Leone.”
“Tu Daddy, Mom?”
Siapa? Aku? Kulihat mereka agar lebih jelas dan memang benar. Wajah anak laki-laki yang kuyakini namanya Leone itu cukup mirip denganku. Aku versi kecil.
Mataku bertatapan langsung dengan perempuan dewasa yang kupastikan adalah ibu sepasang anak ini. Perempuan ini, tidak asing. Aku pasti pernah melihatnya, tapi entah dimana. Ingin kupandang lebih lama, namun dia segera membuang tatapannya membuatku beralih pada anak kecil yang suaranya terus kedengaran sedari tadi dan anak laki-laki yang sama-sama menatapku intens.
Aku tahu gumaman anak laki-laki itu. Daddy. Apa mereka menganggapku daddy mereka? Kuakui, baik si anak laki-laki ataupun si anak perempuan, keduanya memiliki tekstur wajahku.
Kami bak kembar dibelah 3.
Aku tahu ibu mereka mengatakan untuk tidak lagi memperhatikanku karena tidak sopan, membuat kedua anaknya tidak lagi melihatku tapi masih mencuri-curi pandang.
Menggemaskan!
Hah?! Aku memuji seseorang dan itu hanyalah seorang bocah kecil? Aku pasti sudah gila!
“Daddy~!” Suara yang sedari awal terdengar menggemaskan bagiku itu terdengar semakin jelas mengarah padaku.
“Daddy~!” Sampai bocah itu berlari dan berhenti tepat di sisiku, memeluk kakiku.
“Daddy Ileene dan Leone!”
Kaget. Meski wajahku hanya datar, namun wajah dan badanku menegang kaku. Pertama kali dalam hidupku, ada yang berani-beraninya memelukku kecuali ayah dan ibuku. Dan ini seorang bocah lucu dan berani memeluk kakiku, meletakkan kepalanya di atas pangkuan.
“Napa Daddy tidak di lumah sama Ileene, Mommy dan Leone? Daddy sama Ileene tidak lindu ya?” Mata itu. Mata yang terlihat sangat familiar denganku. Mata ibunya. Matanya yang polos, suci nan bersih menatapku dengan manis.
Perasaanku bergeruh. Aku bukan p*****l! But I feel something bonds between me with this little girl. Aku merasa memiliki ikatan dengannya.
“Ileene lindu Daddy. Mau sama Daddy Ileene!” serunya dengan semangat. Senyum cerianya sungguh sangat menyejukkan hati. Pelukannya yang erat, tatapan mata polosnya yang tidak menunjukkan rasa takut membuatku terkesan dan terharu hampir mengangkatnya ke gendongan kalau tidak digagalin oleh ibunya yang tetiba datang, memeluk putrinya berusaha melepaskan tangan mungil yang memelukku.
“Tuan, maafkan putriku. Dia hanya salah mengenal orang,” ucap gadis, tidak. Wanita ini. Ucapnya pelan dengan kepala terus menunduk tidak mau menatapku.
Aku tahu aku memang mengerikan dan menakutkan. Tapi aku ingin wanita ini menatapku. Mata yang kupastikan sama indahnya dengan mata bocah kecil ini sangat menghindari tatapan mataku.
Wanita yang tidak kuketahui namanya ini berusaha untuk menggendong bocah kecilnya yang masih terus bertahan di posisi memelukku. “Ayo, sayang.”
“No, Mommy~ Ini Daddy! Ini Daddy Ileene sama Leone. Milip Daddy. 3 kembal.”
Meski anak kecil ini berbicara sedikit kurang jelas dan penyusunan kata yang berantakan, namin tidak membuatku susah paham. Aku bahkan paham betul semua yang Ia katakan.
“Bukan, sayang. Bukan Daddy. No Daddy. Hanya ada Mommy, sayang.”
Keningku sedikit mengerut. No daddy? Anak-anak ini tidak punya ayah?
“Daddy no?”
Sungguh! Wajah bocah ini mengundang untuk kugigit pipinya.
“Iya, sayang. Look! Uncle ini bukan daddynya Loreene dan kakak Leone. Kan Mommy sudah bilang kalau daddy kita itu lagi pergi bekerja. Daddy pergi kerja ke luar angkasa, sayang. He is an astronot. Daddy pergi untuk mengambilkan bintang untuk Loreene. Jadi Uncle ini bukanlah daddy Loreene.”
Bohong. Aku tahu wanita ini membohongi putrinya. Wanita ini seorang single parent. Semuda ini dan sudah menjadi janda?!
“Daddy di luar asangka, Mommy?”
“Iya, sayang.”
“Ini bukan Daddy belalti.” Aku memang bukan daddymu, gadis kecil. Kurasakan pelukan erat itu mengendur dan terlepas perlahan beralih menggenggam jariku.
“Maaf Ileene, Uncle. Ileene sudah tidak sopan dan buat malu Uncle. Solly, Uncle,” katanya tersenyum dan mencium manis punggung tanganku sebelum ikut ibunya pergi.
“Maafkan kami, Tuan.”
Kulihat wanita itu membawa kedua anaknya pergi dengan tergesa. Begitu membawa anak perempuannya pergi dariku, dia segera membayar tanpa menunggu sisa uang kembalian dan tidak lupa membawa anak laki-lakinya pulang.
‘Kenapa?’ pikirku aneh.
Memang benar hampir semua orang tidak ada yang berani mendekatiku atau sekedar menatapku. Tapi ‘takut’nya wanita ini berbeda. Seakan dia melakukan suatu kesalahan padaku.
‘Apa dia mengenalku? Atau dia pernah melihatku?’
“Tuan, apa Anda baik-baik saja?” tanya Marvel baru mendekatiku setelah tadinya kutahan ingin mendekatiku sejak anak perempuan itu berlari memelukku.
“Apa saya perlu mengurus mereka, Tuan?” Aku langsung menggeleng dan membuat Marvel lebih kaget dibanding kagetnya aku saat dipeluk tadi.
“Maaf, Tuan?”
Ada perasaan aneh di diriku.
“Jangan sentuh mereka. Cukup carikan informasi tentang wanita itu dan kedua anaknya.”
“Baik, Tuan.”
Marvel segera menjalankan perintahku bertepatan dengan kedatangan 2 orang penting di hidupku.
♥♥♥
“Kamu sudah menunggu lama, Ken?” Ken menggeleng menjawab sang ibu.
Makan siang ini hanya ada mereka bertiga karena kedua putri Reymundo memiliki urusan kampus masing-masing.
“Perusahaan aman, Ken?” tanya Jayden memakan memotong salmonnya.
Keenan mengangguk ringan. “Aman, Dad.”
“Tadi kamu ke perusahaan?” tanya Jayden yang diangguki Ken.
“Sudah 2 hari aku tidak ke perusahaan, Dad. Hari kemarin aku kunjungan ke hotel, bar, restoran dan casino kita.” Keenan menjawab runtutan kegiatannya kemarin pada sang ayah.
Jayden mengangguk puas. “Selalu lakukan kunjungan rutin. Jangan lupa juga dengan property dan real estate kita. Lihat manajemennya dan perawatan bangunan. Jangan sampai ada masalah.”
“Baik, Dad.”
“Sudah sempurna belum putra kita, Dad?” Bella turut bersuara bangga akan kerja putranya.
Jayden mengangguk puas. “Tidak salah aku membesarkannya,” jawab Jayden dihadiahi pukulan di lengannya dan ancaman garpu.
“Apa!?” Bella berang dengan jawaban suaminya.
“Bercanda, Darling.” Jayden menyengir mengusap tangannya yang cukup sakit akibat pukulan sayang istrinya.
“Ken, Agatha dan Alodie itu bibit unggulnya kita. Kesayangannya kita. Jadi sudah pasti mereka sempurna, membanggakan dan memuaskan. Terutama putra kita”
Bella akhirnya tersenyum puas dengan jawaban sang suami. Dia tidak rela kalau ada yang menjatuhkan putra putrinya, termasuk suaminya.
“Ken, perusahaan aman, semua bisnis aman. Terus dirimu, aman?” tanya Bella ikut nimbrung.
“Kenapa jadi aku, Mom?” tanya Keenan enggan meneruskan pertanyaan tentang dirinya. Arah tujuan percakapan ini hanya 1.
“Cari pacar.” Nah! Ini tujuannya.
“Cari pasangan hidup, Ken. Kamu sudah dewasa. Sudah 32. Mommy dan Daddy juga sudah semakin tua. Kamu tidak ingin punya anak? Mommy dan Daddy sudah sangat ingin punya cucu, gendong cucu seperti aunty uncle-mu yang lain.” Bella kembali untuk terus menerus mendorong putranya mencari pasangan hidup.
Dan akhirnya, Ken kembali mendengar ceramahan ibu tercinta mengenai pasangan hidup.
“Nanti, Mom.”
“Kapan?” tanya Bella menuntut.
“Tidak lama lagi.” Ken menjawab dengan asal.
“Bawakan Mommy gadis darimana saja, entah dari manapun itu. Mommy akan menerimanya dengan senang hati.”
Keenan hanya mengangguk takut salah menjawab yang akan membuatnya disindir ibunya lagi.
Menghabiskan waktu sekitar 30 menit, Ken harus kembali karena memiliki urusan perusahaan yang lebih penting.
“Mom, Dad, Ken pergi dulu. Sekembalinya nanti, hati-hati. Kalau mau pergi lagi, tetap bawa bodyguard. Kalau di rumah saja, jangan terus berduaan. Kami sudah terlalu tua untuk punya adik bayi.”
Bella tersenyum miring mendengarnya. “Tentu saja, boy. Tidak ada adik bayi karena yang cocok itu, kamu yang punya anak bayi. Mommy menunggu menantu dan cucu. Jangan lupa.”
Ken berlalu enggan menjawab. Akhirnya dia juga yang kena sindiran ibunya. Senjata makan tuan.