KEENAN POV
Aku beruntung karena percakapan barusan berakhir karena orang kepercayaanku, Marvel datang melaporkan pekerjaan. Aku sungguh tidak habis pikir dengan jalan pikiran Mommy yang selalu memintaku membawa pulang gadis dari mana saja untuk menjadi pasangan hidup.
Apa Mommy mengira mencari gadis yang tepat itu sangat mudah? Belum ada satu pun gadis yang berhasil mencuri hati dan pikiranku. Alasan lain, aku belum mempunyai keinginan untuk memiliki pasangan, apalagi mempunyai anak.
Merepotkan!
Itulah pemikiranku kalau sudah mendengar kata menikah dan berkeluarga memiliki anak. Waktuku akan habis hanya untuk mereka dan menelantarkan pekerjaan yang membuat nama Reymundo besar.
Melihat teman-temanku yang beberapa sudah menikah, pekerjaan mereka cukup berantakan karena pikirannya terbagi karena masalah yang terjadi di rumah. Masalah pribadi, merambah ke ranah pekerjaan dan merugikan beberapa peluang bisnis.
Sungguh, karena hal itu membuatku sedikit enggan untuk menikah atau setidaknya dekat dengan perempuan. Aku bahagia hidup sendiri seperti ini. Bekerja keras membanggakan orang tuaku, membahagiakan mereka tanpa harus ada kehadiran perempuan manapun.
Jangan katakan aku bujang lapuk atau pria yang tidak laku. Puluhan wanita mengantri untuk menjadi Nyonya Muda Reymundo. Baik itu yang masih gadis, yang sudah menjanda, atau yang sudah berkeluarga. Baik yang masih tersegel ataupun tidak.
Tidak ada satu pun makhluk hawa yang bisa memikatku. Meski hanya sekedar menghabiskan waktu satu malam, itu sangat membuang waktu berhargaku.
Tentu saja membuang waktuku yang mana lebih baik mengurus bisnis yang telah dirintis oleh ayahku di berbagai bidang. Sektor Horeca yaitu hotel, restoran, cafe. Kemudian real estate dan property termasuk property apartemen, property kondominium, property town house, tanah dan bangunan. Lalu perbankan, bar, dan club.
Jangan heran. Bukan perjalanan yang mudah untuk mengawali setiap bisnis hingga menjadi sukses besar seperti ini. Kerja keras, keringat dan air mata juga tidak terhingga jumlahnya dalam menjalankan bisnis. Waktu yang dikerahkan juga sangat luar biasa banyaknya.
Jadi dengan begitu, dengan banyaknya beban tanggung jawab yang kupegang, bagaimana aku bisa menyiakan waktuku hanya untuk bermain atau bersama dengan perempuan yang sama sekali tidak memberi keuntungan apapun untukku.
Tentu, setiap kali mommy memintaku untuk mencari wanita dan menikah dengan alasan tidak sabar lagi untuk mempunyai menantu dan cucu, aku pasti akan kepikiran dan sedih mendengar permintaan mommy yang belum bisa kupenuhi.
Jangan katakan aku gay. Aku pria normal yang tentu suka dengan wanita cantik, namun memang tidak ada yang memikat.
Tapi, sepertinya aku baru saja mengalami suatu kejadian yang seharusnya tidak aku sukai, tapi sepertinya aku menyukainya. Aku kembali membayangkan pelukan dan kecupan gadis kecil di tanganku tadi.
“Menggemaskan!”
AUTHOR POV
TOK… TOK… TOK…
“Masuk.”
“Permisi, Tuan. Ini berkas yang Tuan inginkan,” lapor Marvel menyerahkan sebuah map berisikan informasi mengenai wanita dan sepasanga kembar yang Ia jumpai tadi.
Setelah Marvel keluar dari ruangannya, Ken mulai membuka dan membaca berkas yang berisikan seluruh informasi terperinci bersama 2 anak yang dari kemarin membuat dirinya merasa aneh.
“Queenaia Roseanne,” gumam Ken mengusap bibir seksinya yang sedikit tertarik melihat kumpulan foto-foto wanita yang tersenyum cantik.
“Leonell Roseanne, Loreene Roseanne. Sepasang anak kembar yang berusia 4 tahun lebih.”
“Daddy?” Ken kembali bergumam mengusap foto kedua anak kecil yang memang mirip dengannya.
Ken lanjut membaca data informasi tentang Quin. Queenaia Roseanne yang akrab dipanggil Quin merupakan seorang dokter spesialis anak berusia 30 tahun, ibu tunggal dari kedua anak kembar Leone dan Loreene. Tidak pernah dekat dengan peia manapun kecuali sahabat yang sudah dianggap kakak, Bryan, Sella, Khloe dan Vivian. Pernah bekerja di Reymundo Internasional Hospital dan mendapat predikat dokter spesialis termuda, tercantik dan terpandai. Mengundurkan diri setelah 4 bulan mengandung dan membuka praktik sendiri di rumah pribadi namun masih menjadi dokter mandiri di rumah sakit Reymundo.
“Wanita ini sahabatnya Bryan dan juga ternyata menjadi dokter karena beasiswaku dan bekerja di rumah sakitku.”
Lama Ia pandangi foto Quin, merasa tidak asing dengan wajah memikat Quin.
“Sepertinya aku pernah melihatnya.” Ia lihati semakin dalam beberapa lembar foto Quin sampai ke sebuah foto dimana Quin mengenakan gaun sexy berwarna sage green.
“Dia...” Ken kembali memutar memorinya yang tetiba tidak berfungsi.
“Dia perempuan di pesta Bryan. Aku melihatnya!” seru Ken tertahan. Tapi dia hanya mengingat sampai di situ. Dia tidak mengingat hal lain selain dia pernah tersenyum karena seorang Queenaia.
Tidak heran kalau tadi siang dia bisa terpukau dengan ibu 2 anak itu karena dia juga pernah terpukau di saat dia melihat Quin pertama kalinya.
“Berpikir, Ken! Gunakan otakmu!”
Flashback:
Saat pesta pernikahan sahabat Ken, Bryan dengan kekasihnya Sella, di sana dia menemukan seorang gadis yang luar biasa cantik, manis, menggemaskan namun juga seksi. Melihat betapa sempurnanya gadis itu. Begitulah pemikiran Ken saat itu.
Hotel tempat acara nikahan Bryan dan Sella digelar di hotel milik keluarga Reymundo, milik Ken. Jadi seluruh keluarga Reymundo memiliki lantai khusus dan tentu saja memiliki kamar khusus termasuk semua keluarga terutama Keenan.
“Siapkan kamarku. Aku tidak akan pulang.” Ken berencana untuk menginap di sini, mengejakan beberapa berkas dan besok akan meninjau hotel ini.
Ken tidak pernah mau datang ke pesta bosan seperti ini kalau tidak karena Bryan, sahabatnya. Ken hanya duduk di tempat VIP yang disiapkan si pengantin dan melihat tamu yang hadir sampai matanya terpaku ke satu objek yang sangat memikat.
Seketika Ken terdiam tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis yang mengenakan gaun satin manis nan sexy berwarna sage green bertali spaghetti dan ada belahan manis sepanjang pahanya. Memandangnya dengan intens sambil sesekali kembali menyesap minumannya dan sebuah senyum terbit di sudut bibir seorang Keenan. Sangat tipis.
‘Kuakui, aku terpesona.’
Ken merasa sedikit tidak menyesal untuk menghadiri pesta sahabatnya ini karena bisa melihat pemandangan indah yang belum pernah Ia lihat sebelumnya.
Flashback off.
Tapi, mengingat pesta itu, Keenan kembali mengingat pagi kelabu yang dialaminya pada saat itu. Sesuatu aneh yang dirasakan namun tidak bisa dibuktikan.
Sudah 1 bulan berlalu sejak hari itu dan kamar hotelnya masih tidak berubah. Tetap seperti dimana pagi itu. Ken sudah sedikit melupakannya, namun tidak mungkin bisa melupakannya begitu saja. Dalam pikiran Ken setiap harinya, siapa pemilik darah itu.
Ada sedikit ketakutan dalam diri Keenan, bagaimana kalau tiba-tiba ada perempuan datang dan mengaku hamil anaknya. Bagaimana Ia membuktikan kalau benar perempuan itu sementara tak ada bukti. Namun dia tidak menjadikan hal itu menjadi masalah yang bisa menghancurkan atau mengacaukan pekerjaannya.
“Tidak ada yang mengetahui hal ini. Hanya Aku. Tidak. Atau mungkin juga perempuan itu dan Tuhan.”
Harapan Ken tidak banyak.
“Semoga malam itu tidak menghasilkan apapun sehingga tidak ada perempuan asing yang bisa datang menemuiku mengaku hamil anakku. Akan ada banyak yang hancur. Tidak hanya aku sendiri, seluruh keluarga Reymundo termasuk bisnis-bisnisnya akan ikut terkena imbas akan hal ini. Sesuatu yang sangat memalukanku, orang tuaku, dan keluarga Reymundo.”