Quin POV
Aku, Queenaia Roseanne.
Di usiaku yang cukup matang untuk seorang perempuan yaitu 30 tahun, aku baru menyelesaikan study dokter dan spesialis yang sudah kucita-citakan dari dulu usai melewati segala macam pendidikan, ujian dan pelatihan.
Berbekalkan beasiswa dari sponsor dan penyumbang utama panti asuhanku, aku bisa mendapatkan pendidikan yang bagus.
Ya, panti asuhan. Aku adalah anak yatim piatu yang hidup sebatang kara dan besar di panti asuhan. Merasakan kerasnya hidup, hidup mandiri menghidupi diri sendiri tanpa berpangku tangan pada orang lain.
Meski dari dulu bersekolah di tempat yang tidak sebagus sekolah swasta, kuemban pendidikanku sebaik mungkin. Bukan perjuangan mudah bagiku menghabiskan waktu 9 tahun, kerja kerasku terbayar dengan aku sukses menjadi dokter muda dan bekerja di rumah sakit sponsorku, rumah sakit ternama dan terbaik, Reymundo International Hospital.
“Selamat pagi, Dr. Quin!” sapa para perawat yang kulewati sepanjang jalan menuju ruangan.
“Halo~ Selamat pagi!” sapaku balik tidak kalah ramah.
“Selamat pagi, Dr. Mommy Quin,” sapa 2 orang perawat yang berjaga di bagian depan, yang membantu dan mendampingiku selama praktek di rumah sakit.
Quin tersenyum lebar mendengar sapaan memuaskan itu. “Selamat pagi juga, kakak-kakak manis.”
Quin memasuki ruangan dengan penanda Dr. Queenaia Roseanne, Sp. A diikuti oleh seorang perawat yang akan memberikan informasi pasiennya hari ini.
“Selamat pagi, Dokter. Untuk hari ini, para pasien yang sudah mendaftarkan diri sebelumnya itu ada 12 orang dan seperti biasa, kita tetap membuka list pendaftaran sampai 25 orang.”
Quin mengangguk paham menerima lembar data informasi pasiennya. “Semoga tidak ada yang mendaftar lagi,” harap Quin setiap hari.
“Amin, Dokter.”
Kalau ada yang mendaftar lagi, tandanya banyak anak-anak yang sakit dan dia tidak suka itu. Namun kalaupun banyak, dia akan dengan sigap dan senang hati membantu menyembuhkan anak-anak manisnya nanti.
QUIN POV
Kesukaanku terhadap anak-anak apalagi aku yang dulu hidup bersama anak-anak dari berbagai tempat dengan berbagai usia, mendorongku untuk menjadi seorang dokter spesialis anak. Aku jadi merasa tidak sendiri dan serasa punya banyak anak yang manis dan mereka membutuhkanku untuk menyembuhkan sakit mereka. Aku merasa hidupku berguna untuk banyak orang.
Aku senang setiap harinya bisa bertemu dengan anak-anak meski mereka dalam kondisi yang kurang baik. Aku akan dengan senang hati membantu mereka menghilangkan sakit yang mereka derita.
Meski hidup susah sejak dulu, Aku tetap senang dan tidak pernah menyesal, marah, ataupun mengeluh tentang segala sesuatu yang terjadi sampai aku sebesar ini. Namun, kejadian malam itu mampu mengubah segala sesuatu.
Aku, Queenaia, kehilangan mahkota berharganya di tangan pria asing yang tidak kukenal, menghabiskan malam bersama tanpa ada yang merasa terpaksa meski kami belum pernah bertemu, kenalan atau bertegur sapa.
Kejadian malam itu benar-benar membekas sempurna di ingatanku meski saat itu aku dalam pengaruh obat perangsang. Aku mengakui kalau kejadian itu bisa terjadi karena kesalahanku. Kalau bukan karena aku salah minum, aku tidak akan kepanasan, tidak akan merasakan gerah dan gatal yang membutuhkan belaian laki-laki, aku tidak akan berada di posisi sekarang.
Menjadi calon ibu karena kesalahan 1 malam. Kesenanganku akan anak-anak membuatku dipercaya Tuhan memiliki anak kandung sendiri meski dalam kondisi yang seperti ini. Kesalahan 1 malam.
Namun 1 yang selalu kuingat.
‘Meski anakku hadir karena kesalahan, namun dia bukanlah sebuah kesalahan. Kehadirannya yang tetiba juga bukanlah sebuah kesialan. Anakku hadir karena anugerah Tuhan dan aku diberi kepercayaan penuh untuk mendapatkan anakku. Hadiah terbesar Tuhan yang diberikan untuk menemaniku, menyemangatiku.’
Selain itu, bukannya dipercaya mendapat 1 anak, aku justru mendapatkan 2 anak. Anak kembar. Sepasang anak kembar.
Sebenarnya, kurang sempurna apalagi hidupku kalau saja aku mempunyai suami di sisiku. Nyatanya tidak ada yang sempurna. Yang sempurna hanya milik-Nya. Itu sebabnya Tuhan memberiku celah agar aku tidak sombong. Mengalami malam bersejarah yang tidak akan bisa diubah dan dilupakan sampai akhir hayat.
Tapi menyesal pun tiada guna. Yang harus kulakukan adalah semnagat melanjutkan hidup, menerima dengan lapang d**a dan senang hati akan kehamilanku ini, menjaga kandunganku dengan baik selama 9 bulan sampai anak-anakku lahir ke dunia yang mana terjadi tepat pada hati Kamis di waktu sore, anak pertama di jam 16.12 dan yang kedua di jam 16.16.
Welcome to the world, my twin babies. Leonell Roseanne, putra pertamaku dan Loreene Roseanne, putri pertamaku.
1 hal yang langsung terpintas di pikiranku. Anakku, aku tidak menyangka kalau nasibku yang yatim piatu, ikut turun ke kedua anakku.
Namun... TIDAK! Tidak ada yang menuruni nasibku. Putra putri kembarku mempunyai ayah dan ibu yang jelas. Hanya saja ayah mereka yang tidak dan belum mengetahui kelahiran anak kembarnya. Aku ingin menyematkan marga pria itu pada kedua ‘anak kami’. Namun aku tidak berani. Aku takut. Takut pria itu tidak menyukainya, takut pria itu mengetahui eksistensi si kembar dengan kemungkinan memakiku dan anak-anakku, atau dengan kemungkinan terburuk membawa kembarku pergi menjauh dariku.
Lebih baik tidak.
Benar memang jika aku sudah mengetahui siapa pria yang ‘membantuku’ saat aku berantakan malam itu.
Seorang pria sukses dengan paras tampan dan kehidupan yang sempurna dengan beberapa gelar tersematkan. Pria yang mempunyai nama besar, mempunyai reputasi bagus, orang ternama dan terkaya dengan bisnis yang tersebar di seluruh negara di berbagai bidang bisnis.
WOW! Ayah anak-anakku benar-benar orang hebat mengalahin selebritis papan atas dan para pejabat negara.
Aku berharap kedua anak kembarku bisa sesukses ayah mereka dan bisa merasakan hidup enak seperti ayah mereka. Memotivasiku untuk bekerja lebih baik lagi untuk kebahagiaan anak-anak agar tidak kesusahan sepertiku dulu.
Menjadi dokter agar aku bisa menjaga anakku dengan baik dan bisa mengubah kehidupan yang lebih dan semakin baik untuk anakku.
♥♥♥
Memang benar kalau aku anak yatim piatu, namun menjadi yatim piatu bukanlah keinginanku dan aku tidak menyebutnya sebuah kesialan. Dalam kesendirianku di dunia ini, nyatanya Tuhan menyayangiku dengan memberiku keluarga yang merupakan keempat sahabat yang menyayangiku dan menjagaku, memperlakukanku dengan sangat baik bagaimana aku ini adalah adik kecil mereka dari orang tua yang sama. Mereka memberiku kehangatan keluarga, mengajariku apa itu keluarga dan apa itu arti keluarga. kehadiran mereka memberi pengaruh yang luar biasa hebat di hidupku yang sendiri ini.
Keempat orang berjasa di hidupku itu juga merupakan orang pertama yang mengetahui kehamilanku, yang menjaga kehamilanku sampai aku berhasil melahirkan kembarku, sampai sekarang sangat menjaga dan menyayangi kembarku. Mereka adalah Dr, Bryan dan istrinya Dr. Sella, lalu ada 'duo cerewet' aku menyebutnya begitu yaitu Dr. Khloe dan Dr. Vivian.