Sudah hampir pukul delapan, beberapa karyawan dibawah sudah lama pulang, sementara Sisy menggerutu menatap tumpukan berkas di meja yang harus diselesaikan segera. Semenjak kandungan Dewi dan Rika membesar, pekerjaannya semakin menumpuk, belum lagi dua suami 'sok siaga' yang kerap kali cemas.
Tapi bagaimanapun ada bahagia yang menular padanya. Beberapa kali ia sempat mempertanyakan apakah Miftah akan secemas mereka kalau suatu saat .... Puk ! Ditepuknya kepala ... Jangan gila Sy , hanya karena kamu juga menginginkan keluarga lecil seperti mereka ... kamu mulai berpikir untuk memanfaatkan kedekatan dan hatinya ...
" Sudahlah, kalau capek istirahat. Jangan pukul kepala sendiri seperti itu. "
Sisy mengangkat kepala, tersenyum pada sosok dalam benaknya yang berdiri sambil membawa kantong , "