Sisy menggigil saat berdiri di depan jendela lebar yang terbuka. Bukan karena udara Cipanas yang dingin menggigit dipagi hari begini, tapi lebih pada kenyataan ia akan menyaksikan Iskandar dan Rika menikah beberapa jam lagi.
Masih terselip suasana muram saat ia tiba disini tadi malam, menemani Miftah dan Rika. Sementara Ito dan Dewi memilih menemani Iskandar dan keluarganya di hotel.
Diedarkannya pandangan ke sekeliling kamar luas yang ditempatinya. Kamar luas, tua dan tetap menyimpan keanggunan pemiliknya berpuluh mungkin beratus tahun yang lalu. Kamar yang mirip kamar Rika, tempat ia menangis tanpa suara di dalam pelukannya diatas tempat tidur yang sudah dipasang penutup putih dengan sulaman benang emas.
Mereka semua menyadari butuh waktu untuk menerima kekecewaan kendati dengan berbe