"Tunangan?"
"Iya." Aira mengangguk sembari menatap Keysheva yang cemberut.
"Tunangan sama siapa?"
"Mana gue tau, ntar gue bantu cari tau deh, btw, lo masih kagum sama dia?"
"Maybe"
"Dari dulu lo bilang lo itu cuman kagum sama dia, gak bakal ada perasaan. Gue tau lo bohong, lo udah naruh perasaan di dia, lo sebenernya udah jatuh hati sama dia dari dulu"
"Udah ah Ra gak usah dibahas," kesal Keysheva.
"Tapi btw... Angkasa emang ganteng loh"
"PUNYA GUE RA!"
"Haha iya iya"
Mereka pun memakan makan siang mereka. Setelah berbincang-bincang akhirnya Aira dan Keysheva pulang kerumah masing-masing.
Keysheva memarkirkan mobilnya di garasi, setelah itu ia masuk kedalam rumahnya itu. Ia hanya tinggal bersama seorang pembantunya, Ayahnya sudah tiada sejak ia SMA, sedangkan bundanya sedang kerumah Neneknya, jadi untuk saat ini ia hanya bersama pembantunya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsallam," Bi Erna, pembantu Keysheva itu menyambut dengan hangat, "Non mau makan apa?"
"Nanti malam aja Bi, tadi saya makan diluar, saya kekamar dulu ya mau istirahat,"
Bi Erna mengangguk sembari tersenyum tipis setelah itu Keysheva langsung menuju ke kamarnya yang terletak di lantai 2.
Keysheva membuka jas dokternya dan menggantungnya, setelah itu ia langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Beberapa menit kemudian ia telah selesai mandi dan mengenakan pakaian santai rumahan. Ia langsung berbaring diatas kasur sembari mengutak-atik handphone nya. Rebahan memanh sangat enak.
Ia membuka aplikasi w******p dan melihat sebuah pesan dari Aira. Ternyata Aira benar-benar mengirimkan alamat perusahaan Angkasa.
"Antares Corp? Kok gue gak pernah tau ya, segitu kudetnya kah gue? Padahal ini perusahaan lumayan terkenal dan sukses." Keysheva terus berbicara sendiri sembari melihat bagaimana perusahaan tersebut.
"OMG! Angkasa kenapa makin kesini makin ganteng sih! Kan aku makin sayang!," ia memandangi beberapa foto Angkasa yang dikirim oleh Aira.
"Tapi kan dia udah mau tunangan," setelah mengingat itu, Keysheva kembali tidak bersemangat, ia menaruh handphone nya disampingnya.
???
Keesokan harinya, seperti biasa, pagi-pagi Keysheva sudah harus berangkat ke Rumah Sakit tempat ia bekerja.
Ia memasuki ruang kerjanya dan terlihat Tika yang sudah menunggunya disana.
"Pagi Dok"
"Pagi Tika"
"Ada pasien baru Dok, baru tadi malam ia masuk UGD Dok katanya Dokter Clara sih sepertinya ia depresi ringan, dan pagi ini jadwal yang mengeceknya adalah Dokter Keysheva, dia sekarang sudah dipindahkan keruangan VIP No.146"
"Dia tadi malam pingsan?"
"Iya Dok"
Keysheva mengangguk, "Ayok kita kesana" ia berjalan mendahului Tika setelah itu Tika membuntutinya dari belakang.
Ceklekkk...
Keysheva membuka pintu tersebut dan... Apa ini yang ia lihat?
Seorang lelaki tampan berbaring disana dengan sebuah impusan ditangannya, dan tangan satunya digunakannya untuk memainkan handphone nya, saat mendengar suara pintu terbuka ia menatap kearah pintu.
"Angkasa" batin Keysheva dan ia sempat terdiam mematung didepan pintu dan akhirnya disadarkan oleh Tika.
"Dok?"
"Eh iya." Mau tidak mau Keysheva menghampiri lelaki idamannya itu dan mulai mengecek perkembangan kesehatannya.
"Perkembangan kesehatannya sudah mulai bagus, tapi sepertinya besok baru bisa pulang," ucap Keysheva ramah.
"Maaf Dok saya keluar dulu ya mau angkat telpon," ucap Tika dibalas anggukan Keysheva setelah itu ia keluar.
"Kayak kenal," gumam Angkasa yang terdengar jelas di indra pendengaran Keysheva.
Namun Keysheva bertindak seperti ia tidak mendengar apa-apa, "Obatnya jangan lupa ya, terus itu istirahat juga yang cukup," ucap Keysheva sembari tersenyum tipis, sangat tipis.
"Ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Kita kayak pernah ketemu sebelumnya, pernah kah? Atau lo alumni SMA Budi Bakti?"
"Iya, saya alumni sana," sahut Keysheva, sepertinya Angkasa mengenalnya.
"Pantes, gak asing mukanya"
Keysheva terkekeh pelan, "Ada lagi?"
"Gak bisa pulang hari ini?"
"Besok ya, dipulihkan dulu"
"Bosen disini"
"Tv ada, handphone ada, apa yang mau dibosankan? Atau kamu--"
"Lo gue aja, kita dulu satu SMA"
"Atau lo bisa ajak pacar lo kesini buat nemenin lo," ucap Keysheva ramah.
Seketika Angkasa menatapnya datar, "Gue gak ada pacar"
"Tunangan? Oh atau istri?"
"Gak ada, gue putus sama dia semalem, makanya gue tiba-tiba pusing dan pingsan. Selain itu dikantor juga ada sedikit masalah," ucap Angkasa menceritakan sedikit bebannya.
Keysheva mengangguk paham, "Gak usah dipikirin lagi, sekarang istirahat, fokus sama kesehatan lo," ucapnya.
"Nama lo siapa?," tanya Angkasa. Oh, ternyata Angkasa mengingat wajahnya namun tidak dengan namanya.
"Keysheva"
"Bisa gak lo aja yang meriksa gue?"
Keysheva terdiam mematung, jantungnya berdetak lebih cepat, "Kenapa?"
"Enak aja gitu kalau sama orang yang dikenal, gak canggung," ucap Angkasa santai.
"Diusahain, soalnya kalau malam bukan jadwal gue hehe"
"Oke, berapa nomor wa lo?"
Bahkan Keysheva tidak menduga ini semua. Ini semua diluar ekspetasi, dulu Angkasa bahkan tidak pernah menegurnya. Baru kali ini ia berbicara langsung dengan Angkasa dan sekarang Angkasa menanyakan nomor w******p nya. Sungguh ini diluar dugaan Keysheva.
"Siniin hp lo." Angkasa pun memberikan ponselnya kepada Keysheva dan Keysheva mengetik nomor whatsappnya disana setelah itu ia mengembalikan handphone teresebut kepada Angkasa.
"Gue keluar dulu ya, masih banyak pasien lainnya"
Angkasa mengangguk singkat, "Oke"
Keysheva keluar dari ruang rawat inap Angkasa dengan senyum yang tak tertahankan, sementara diluar Tika sudah menunggunya.
"Kenapa tadi kamu gak masuk lagi?" tanya Keysheva saat melihat Tika diluar.
"Tadi saya mau masuk, dan sepertinya dokter sedang asyik ngobrol dengan pasien itu, jadi saya tidak mau mengganggu"
"Ah kamu pengertian banget." Keysheva mencubit pipi kanan Tika membuat Tika terkekeh pelan, "Cocok kan saya sama dia?" tanya Keysheva meminta pendapat.
"Cocok kok. Kalau gak salah itu CEO ya?"
"Kamu tau? Jangan bilang fans juga ya sama dia?"
Tika menggeleng "Enggak lah Dok. Ya tau lah siapa yang gak kenal CEO muda itu sih"
"Kok saya baru kenal ya," heran Keysheva.
"Dokter aja yang kudet. Dia terkenal banget loh Dok"
"Masa iya? Udah ah yok lanjut ke pasien lain"