Hari ini adalah hari pernikahan Reva, mantan kekasih Angkasa.
Tentu saja Keysheva sudah siap dengan dress selutut berwarna navy miliknya, memakai sepatu berwarna senada dengan dressnya, lalu memakai tas mini berwarna hitam miliknya.
Keysheva duduk di sofa ruang tamunya, menunggu kedatangan Angkasa tentunya. Sedari tadi ia tak bisa menahan senyumnya, ia sangat senang, ia akan pergi ke pesta pernikahan Reva bersama Angkasa. Bukannya berniat memanas-manasi Reva, namun ia sangat senang bisa berada disisi Angkasa. Itu sesuatu yang sangat spesial bagi Keysheva.
"Anak Bunda mau kemana sih? Tumben banget rapi gini," ucap Emy yang tiba-tiba datang menghampiri Keysheva dan duduk disebelah Keysheva.
Keysheva tersenyum tipis, "Mau ke acara nikahan temen Bun," sahut Keysheva.
"Oh... terus kenapa belum pergi?"
"Nunggu orang bentar," sahut Keysheva sembari menahan senyumnya.
Emy yang sepertinya mengerti dengan keadaan langsung tersenyum kearah Keysheva lalu menggodanya, "Nunggu jemputan pacar ya?," tanya Emy langsung.
"Eh, enggak Bun bukan pacar kok—"
"Terus? Calon suami?"
"Aamiin," sahut Keysheva pelan, sangat pelan, Emy pun hanya mendengarnya dengan samar.
"Hah apa Key?"
"Gak papa Bun hehe,"
"Assalamualaikum," ucap seseorang yang kini bediri didepan pintu yang memang sudah terbuka itu sembari tersenyum ramah.
"Waalaikumsallam," sahut Keysheva dan Emy serempak.
Melihat orang itu membuat Keysheva langsung berdiri lalu hendak menghampiri Angkasa. Namun Angkasa memberikan kode menyuruh Keysheva agar tetap diam disana, dan ia yang akan menghampirinya.
Angkasa menghampiri Keysheva dan Emy, Angkasa mencium punggung tangan kanan Emy sembari berkata, "Siang Tante... apa kabar?," tanyanya ramah.
Emy tersenyum hangat kearah Angkasa, "Baik, kamu pacarnya Keysheva ya?," tanya Emy dengan semangat.
"Bunda, Angkasa itu—"
"Iya Tante saya pacar anak Tante," sahut Angkasa membuat Keysheva menatap Angkasa bingung, lalu Angkasa mengedipkan sebelah matanya kearah Keysheva.
Emy bahagia mendengarnya, "Key kenapa gak bilang sama Bunda kalau punya pacar?," kini Emy beralih berbicara kepada Keysheva.
Keysheva tersenyum gugup lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Emm anu Bun, lupa, hehe," mau tidak mau Keysheva mengikuti saja alurnya.
"Tante, saya boleh pinjem Keysheva nya bentar? Saya jamin saya antar balik gak lecet sedikitpun," ucap Angkasa membuat Keysheva menahan senyumnya mati-matian.
"Boleh, jaga anak saya," ucap Emg yang dibalas anggukan semangat oleh Angkasa, "Siap Tante," Angkasa pun mencium punggung tangan kanan Emy, "Pamit ya Tan."
Keysheva pun juga mencium punggung tangan kanan Emy, "Pamit Bun,"
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsallam..."
???
Angkasa dan Keysheva sudah sampai di sebuah gedung mewah tempat dimana Reva melaksanakan pesta pernikahannya.
Angkasa merangkul pinggang Keysheva posesif. Hal itu sedikit membuat Keysheva risih, tapi ia senang, jelas saja senang, orang yang merangkul pinggangnya itu adalah Angkasa, lelaki yang sangat dicintainya.
Keysheva menatap Angkasa yang lebih tinggi darinya itu. Angkasa menatap balik Keysheva lalu tersenyum tipis kearahnya.
Angkasa dan Keysheva pun memutuskan untuk menemui Reva terlebih dahulu, memberikan ucapan selamat kepada Reva dan pasangannya itu.
"Selamat ya Rev," Keysheva memberikan selamat kepada Reva sembari cipika-cipiki ala perempuan.
Reva tersenyum hangat kearah Keysheva, "Makasih Key."
"Semoga cepet punya dede bayi ya," ucap Keysheva menggoda Reva, hal itu membuat Reva terkekeh pelan.
"Selamat ya," ucap Angkasa singkat.
Reva beralih menatap Angkasa yang sedang menatapnya dengan tatapan datar, Reva memberanikan diri tersenyum kearah lelaki itu.
"Makasih Sa, semoga cepet nyusul ya... sama Keysheva kan?"
Angkasa menatap Keysheva sekilas lalu kembali menatap Reva, "Tunggu aja undangannya,"
Ucapan Angkasa membuat jantung Keysheva dag dig dug.
"Yok Key," ajak Angkasa, Keysheva mengangguk singkat.
"Ya udah kita duluan ya, sekali lagi congrats Rev," ucap Keysheva sembari tersenyum manis. Setelah itu Angkasa dan Keysheva pun turun dari pelaminan.
Keysheva mengambil dessert, sedangkan Angkasa hanya mengikuti Keysheva.
"Mau?" Tanya Keysheva kepada Angkasa.
Angkasa menggeleng pelan, "Gak, lo aja," sahutnya.
Keysheva pun duduk disebuah kursi lalu memakan dessert tersebut.
Beberapa saat kemudian, Angkasa dan Keysheva memutuskan untuk pulang. Angkasa akan mengantarkan Keysheva terlebih dahulu pastinya. Namun entah mengapa Angkasa malah mengajak Keysheva singgah terlebih dahulu ke Taman.
Keysheva yang tipe orangnya menurut saja, jadi ia mengiyakan saja ajakan Angkasa.
Mereka bedua pun duduk di salah satu bangku taman, duduk bersebelahan menikmati sejuknya semilir angin.
"... Key?"
Keysheva menatap kearah Angkasa yang duduk disebelahnya, Angkasa tak menatapnya, melainkan menatap lurus kedepan. Namun Keysheva tetap menatap Angkasa.
"Kenapa?"
Barulah Angkasa menatap Keysheva, "Soal ucapan gue tadi gue—"
Belum selesai Angkasa menyelesaikan perkataannya, Keysheva sudah lebih dulu memotong perkataan Angkasa.
"Bercanda kan? Gue tau kok, gak papa santai aja kali...," sahut Keysheva sembari terkekeh pelan.
"Gue serius Key," ucap Angkasa dengan nada serius.
Keysheva mengedipkan matanya berkali-kali, sepertinya ia salah dengar.
"Hah?"
"Gue serius Key, gue serius, gak bercanda," ulang Angkasa.
Tidak.
Keysheva tidak salah dengar.
Lalu? Apakah ini mimpi?
"Se—serius? Apanya?"
Angkasa menggenggam kedua tangan Keysheva, "Gue serius sama lo, gue mau lo jadi pendamping hidup gue, jadi ibu dari anak-anak gue, kita lewatin susah senang ini bareng-bareng, gue serius dengan perkataan gue kali ini. So, will you marry me Keysheva?"
Keysheva merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, Angkasa benar-benar membuatnya bingung sekaligus senang.
Keysheva melepaskan tangan Angkasa yang menggenggam tangannya.
"Tapi— kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kenapa lo ngajak gue nikah? Ini semua tiba-tiba banget tau gak," sahut Keysheva.
"Gue juga gak tau, intinya gue mau lo—"
Keysheva yang tadinya duduk pun berdiri lalu menatap Angkasa.
"Gue tau lo ngajak gue nikah itu bukan karena cinta Sa! Bukan karena sayang! Bukan juga karena suka! Lo ngajak gue nikah, agar lo bisa terlihat udah move on. Gak gitu caranya Sa agarterlihat udah move on! Gak gitu caranya agar terlihat lo gak kalah dari Reva!. Gue gak mau nikah sama orang yang hatinya bukan untuk gue, tapi untuk orang lain!"
Angkasa ikut berdiri, menatap Keysheva dalam, "Gue bakal coba buka hati gue untuk lo, gue bakal berusaha Key,"
"Iya kalau berhasil, kalau enggak?"
"Pasti berhasil," sahut Angkasa yakin.
Keysheva hanya diam, tak lagi menjawab ucapan Angkasa. Ia juga memalingkan wajahnya, malas menatap Angkasa.
"Jadi gimana?"
Keysheva kembali menatap Angkasa dengan tatapan malas, "Apanya yang gimana?,"
Angkasa menghela nafasnya lalu mengulang lagi perkataannya.
"Will you marry me?"