Egoislah jika dunia tak mau bersahabat lagi denganmu
Hari ini Dewa membawa kekesalannya keluar rumah. Mengelilingi jalanan tak tentu arah. berteriak pada semesta, menanyakan perihal mengapa ia terlahir ke dunia.
"Ahh," ujar Dewa kesal. Sebab hadiah hasil balapan semalam, belum juga diberikan oleh rivalnya. Sampai pada akhirnya langkah itu terhenti, di depan bangunan besar dengan corak Arab yang begitu kental.
Dulu Dewa sering ketempat seperti itu dengan Papanya. Tempat Papanya pergi beribadah. Melihat bangunan besar itu membuat hati Dewa kembali nyeri mengingat kenangannya dulu. Dewa marah pada dirinya sendiri, terutama ia marah dengan Papanya.
Dewa berdecih dalam hati mengingat hal itu. Masih berputar dalam otaknya tentang pertengkaran dahulu. Sesuatu yang menjadi tonggak kehidupan Dewa yang sekarang. Ya, tidak bisa dipungkiri melihat bangunan itu membuat ingatannya berotasi bagaikan kaset kusut. Di hari itu, hari yang sangat Dewa ingat...
Kehangatan tercipta lewat sebuah keluarga. Bagi Dewa, hal itu hanya sebuah mimpi di siang bolong. bagaimana tidak, lihatlah sekarang. Lagi-lagi pertengkaran itu terjadi.
Dewa menapaki lantai rumah, orang tuanya masih berseteru membahas hal yang sama.
mempertahankan apa yang mereka anggap benar, dan mematahkan argumen masing-masing.
Pada akhirnya Dewa menyadari, bahwa dua orang yang pada awalnya saling mencintai, tidak mampu menyatukan dua kepala dan dua pemikiran agar menjadi selaras. Apalagi dengan adanya dua perbedaan ini?.
Lantas apa lagi yang mereka pertahankan?. ternyata benar, sebuah perbedaan berpengaruh besar dalam ikatan keluarga.
"Tidak! Dewa dan Dewi harus sepertiku." pungkas Maria, Mama Dewa.
"Jangan seperti itu Maria! sejak awal kita sudah sepakat kalau Dewa dan Dewi harus sepertiku." Akbar, berusaha untuk tetap tenang meski apa yang ia rasa sebaliknya.
Dewa mendengus, berjalan melewati orang tuanya. Seakan tak terjadi apa-apa. "Dewa." langkah Dewa terhenti, saat Maria menginterupsi. "Kemana aja kamu? Mama menunggumu di tempat ibadah dari tadi. kenapa kamu tidak ke kembali?"
Cukup sudah! Dewa sudah tidak mau lagi di jadikan boneka yang harus mengikuti apa yang mereka mau, tanpa memikirkan perasaannya sama sekali.
Dewa berbalik, menghadap pasangan suami istri itu. "apa lagi yang kalian mau?" tanya Dewa dingin.
"Dewa, jangan menatap kami dengan tatapan yang seperti itu!"
Tangan Akbar sudah berada di udara. hampir saja, ya hampir saja ia menampar putranya.
Dewa tersenyum sarkas mendengar penuturan Papanya barusan. "Dengar! aku tidak akan mengikuti salah satu dari kalian! aku akan mengandalkan diriku sendiri, aku akan mempercayai diriku sendiri." Hardiknya kasar. Ia sudah tak bisa lagi yang harus mengikuti kemauan dari mereka.
Dewa pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang terdiam kaku dan gamang mendengar penuturan lantang dari putranya sendiri.
Dewa tersenyum miris mengingat itu. rasanya luka yang baru saja tergores masih begitu basah. jika Dewa mengingat sama saja ia menyiram luka itu dengan air garam.
Awalnya Dewa begitu bahagia terlahir di sebuah keluarga dengan perbedaan. Yang artinya Dewa menerima perbedaan. Menerima apa yang orang tua nya ajarkan padanya dan juga Dewi adiknya.
Meski ia sadari sejak awal. Bahwa orang tuanya mempunyai tembok pembatas yang begitu kuat. Bahkan cinta yang selama ini mereka bina tidak mampu meruntuhkan perbedaan itu.
Setiap seminggu sekali ia, Dewi dan juga Maria pergi untuk singgah di rumah neneknya, layaknya sebuah keluarga bahagia. Di didik selayaknya ajaran dari keluarga Maria. Dewa senang, Dewa bahagia menerimanya.
Pun dengan Akbar. setiap hari ia di didik sebagai mana didikan keluarga Akbar. Setiap malam ia mengaji, belajar ilmu matematika, serta membaca buku- buku. Akbar juga selalu menceritakan kisah-kisah sebagai dongeng sebelum tidur.
Beranjak remaja Dewa kira ia masih seperti dulu, Masih menerima dua perbedaan tersebut. Tapi ternyata realita hidup tidak berjalan semestinya apa yang Dewa mau.
Dewa harus memilih salah satu dari kedua orang tuanya .
Tentu Dewa bimbang, sejak kecil Dewa mempelajari keduanya. Sampai akhirnya Dewa ingin memutuskan untuk memilih kedua ajaran tersebut.
Ia yakin kedua orang tuanya nya mampu bersatu kembali. atas kegamangan Akbar dan Maria yang setiap hari berseteru memperebutkan ia dan juga Dewi.
Namun ternyata Dewa harus menelan pil pahit. Menelan bulat-bulat rasa miris saat melihat kedua orang tuanya yang setiap hari bertengkar membahas hal yang sama.
Pada saat itu Dewa menyadari, perbedaan, berbeda prinsip, berbeda pemikiran, dan masih banyak perbedaan lain yang tak mampu terselesaikan. Bahwa Kedua tidak akan pernah bisa menjadi selaras. Mereka tetap pada jalannya masing-masing.
Karena itu, Dewa kehilangan jati diri, ia memilih untuk tidak memilih keduanya.
Daripada harus menjadi boneka Akbar dan Maria yang setiap waktu memaksa ia untuk mengikuti apa yang mereka mau.
Dewa memutuskan untuk mengandalkan dirinya sendiri, mempercayai dirinya sendiri. Sebab, meskipun mereka tinggal dalam atap yang sama. Kedua orang tuanya tidak mampu membuat masalah menjadi baik seperti sedia kala. Mereka tetap bersikukuh dengan apa yang mereka anggap benar.
Setelah memutuskan untuk tidak memilih diantara dua perbedaan tersebut, Dewa pergi dari rumah. Meninggalkan orang tua serta adiknya, Dewi. Mengarungi dunia tanpa campur tangan orang lain.
Dewa ingin menunjukan pada semesta, bahwa apa yang ia ucapkan mampu ia tanggung sendiri. Dewa mengandalkan dirinya, Dewa mempercayai dirinya.
Dan detik ini Dewa rasa ia mampu menunjukan itu semua. Ia mampu kuliah dan makan tanpa bantuan orang tua, pun orang lain. Dewa benar-benar mengandalkan dirinya sendiri.
Meski ia tak memungkiri, bahwa rasa sepi serta kosong seringkali menghampiri. Tapi tak apa, Dewa sudah terbiasa.
Untuk mengekspresikan kekesalan itu Dewa menendang botol yang berada di dekat kakinya. Lalu,
"Awh.." Pekikan itu membuat mata Dewa hampir lompat dari tempatnya.
Botol yang baru saja ia tendang malah mendarat mulus di kepala seorang gadis yang baru saja keluar dari bangunan itu.
Gadis dengan penutup kepala berwarna hitam itu meringis, mengelus kepala lalu memungut botol itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Dewa kira gadis dengan penutup kepala itu akan bersumpah serapah. Karena ia tahu itu cukup menyakitkan. Namun yang terjadi diluar dugaan Dewa. Gadis itu hanya menatap ia sekilas, lalu tersenyum manis.
Yang menjadi pertanyaan disini, dia tidak marah kah? suara hantaman itu lumayan terdengar kuat. Bagaimana mungkin dia tidak memaki Dewa?.
Dewa menatap lama punggung gadis itu. Kain berwarna hitam yang menutup kepalanya berkibar tertiup angin. Lama Dewa menatap, dan hal paling tidak terduga itu pun terjadi.
Ketika gadis itu menoleh, lalu dengan sangat anggun tersenyum manis kepadanya sekali lagi.
"Lain kali, coba buang sampah pada tempatnya." Perkataan itu mengalir dengan senyuman yang amat syahdu. rasanya ada sesuatu yang mulai mengisi kekosongan hati Dewa saat ini.
Entah, bagaimana akhirnya akan terjadi. Yang pasti rasa penasaran itu tumbuh dengan sangat lancang. sangat sulit dikendalikan. bagai panah cupid yang menusuk tetap pada jantungnya.
Untuk pertama kalinya, Dewa ingin mengetahui kehidupan orang lain. terutama gadis itu. gadis dengan penutup kepala berwarna hitam.