Keyakinan
Dalam keheningan malam yang kian menggelap. Batin Dewa bergejolak dengan pikiran. Tentang langkah yang beberapa tahun ini ia ambil.Tentang ketenangan, juga kelegaan batin, namun sulit berhadapan dengan tekanan sosial di lingkungan sekitar.
Tentang orang-orang yang tiap kali menatap Dewa dengan intimidasi ketika tahu ia yang sebenarnya. Menganggapnya manusia paling hina di muka bumi. Seperti orang yang tidak mempunyai etika dan moral. Dan harus dibuang jauh-jauh.
Dewa bukanlah manusia yang tidak beretika dan tak memiliki moral. Hanya saja tidak berdasarkan moralitas dan aturan Tuhan.
Apa karena Dewa tidak percaya adanya keyakinan? dan memutuskan untuk menjadi seseorang tidak punya keyakinan? lantas dia harus mendapat sikap diskriminatif seperti ini?
Untuk sampai pada fase ini, bukan berarti Dewa langsung memutuskan begitu saja. Tetapi melalui pergulatan panjang mencari keyakinan, Apalagi dengan keadaan orang tuanya yang bercerai berbedaan. Namun, yang Dewa temukan hanya dilema. Sampai pada akhirnya Dewa berpikir, tak ada yang dapat ia percayai kecuali dirinya sendiri.
Tentang Surga dan Neraka?. Dewa percaya, mungkin saja tempat itu memang ada. Meski tak ada satupun ilmuwan yang dapat menjamin keberadaan tentang dua tempat tersebut.
Entahlah, Dewa rasa ia hanya perlu melakukan apa yang ia anggap benar, dan menjauhi apa yang ia anggap salah. Toh, tidak ada jaminan bahwa orang yang baik akan masuk Surga 'kan?.
Getaran ponsel membuat Dewa terperanjat kaget. Ada nama Jonathan tertera di layar ponselnya.
"Kenapa?" tanya Dewa.
"Rio sudah bebas, sekarang lagi di basecamp."
"Gue, otw." Setelah berkata begitu, Dewa bergegas pergi menemui kedua sahabatnya itu.
"Lo, nyesel?" tanya Dewa pada Rio. Sedangkan Rio hanya terkekeh pelan. "Nggak sama sekali" kata Rio dengan mantap.
"Gila." Dewa benar-benar tak habis pikir dengan temannya yang satu ini. Namanya Rio. Dia baru saja bebas setelah 4 tahun dalam penjara, karena kedapatan membunuh ayahnya sendiri.
"Lo orang yang ke seribu satu nanya kayak gitu ke gue," lagi-lagi Rio terkekeh pelan. Sesekali menghisap rokok yang terselip diantara bibirnya. "Dan jawaban gua tetap sama. nggak nyesel sama sekali." Tegas Rio.
Dewa menggelengkan kepala mendengar penuturan Rio. Satu hal yang membuat Dewa bingung, Rio merupakan manusia terlurus yang Dewa temui setelah dia memutuskan keluar dari Rumah. Rio tipe orang yang pendiam.
Bahkan ia bisa dikatakan anak yang tidak bisa membentak ibunya. Rio sangat menyayangi ibunya.
Sampai sekarangpun Dewa tidak tahu apa yang membuat Rio tega membunuh ayahnya sendiri.
"Lo tau, Wa? di dalam penjara banyak banget pelajaran yang bisa gue ambil. dan setelah gue teliti... ternyata dalam penjara nggak buruk juga."
"Oh, ya? contohnya?" Tanya Dewa penasaran.
"Contohnya..." Rio berhenti sebentar, lalu kekehan halus terdengar dari bibirnya. "dengan gue nggak nyesel pernah berbuat dosa." Ia nyengir kuda memperlihatkan deretan giginya.
"Itu salah satu jawaban yang nggak masuk akal, Yo!" Dewa kesal dengan jawaban itu. Ia benar-benar tak habis pikir dengan apa yang ada di otak Rio.
"Saat ribuan manusia menyesal atas dosa-dosa yang mereka perbuat di masa lalu, dan lo nggak nyesel?" Dewa mendengus.
"Itu kan mereka, bukan gue." Jawab Rio santai. Detik berikutnya ia membuang puntung rokok lalu menginjaknya hingga mati.
"Adakalanya kita harus bersyukur pernah berbuat dosa, Wa. sebab karena dosa menjadikan kita pribadi yang lebih dewasa." Lanjut Rio.
Rio berdiri dari duduknya. "Udah pagi, berangkat, yuk" ajak Rio dengan senyum jenaka di bibirnya. Membuat Dewa berdecak kesal dan memalingkan wajah.
"Lo kan tau, Yo." Dewa melirik. Membuat Rio menghela nafas pelan. "Masih enggak percaya? gue aja yang b***t begini . Masih percaya jalan yang benar, lo yang lurus begini masih enggak percaya aja," gelak tawa seketika terdengar dalam pendengaran Dewa.
"Itu kan lo, bukan gue!" Hardik Dewa. Jujur saja, dia kesal jika harus membahas hal seperti ini.
"Hahaha... oke, oke." Rio memukul bahu Dewa pelan lalu pergi melanjutkan aktivitasnya.
Dewa menggerutu dalam hati. Rintik air yang jatuh kian deras. Membuat ia harus menepikan motor--hasil balapan--nya ke sebuah bangunan besar. Tempat yang selalu Dewa hindari.
Ya, tetapi tak apa, hanya untuk kali ini saja. Pikir Dewa.
Tadi saat Rio meninggalkannya, ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Mengistirahatkan tubuh nya yang terasa begitu lelah.
Apalagi saat mendengar cerita Rio yang katanya membunuh ayahnya dengan samurai yang ia temukan di gudang, membuat Dewa cukup berpikir begitu keras perihal penyebab hal itu terjadi.
Hampir 10 menit Dewa menunggu hujan reda. Namun rupanya semesta masih ingin mengguyur bumi lebih lama. Membuat Dewa mendengkur berkali-kali. Padahal udara sudah cukup dingin disini. Dewa yakin jika ia masih berlama-lama disini ia akan mati kedinginan.
Dalam derasnya gemericik air hujan yang kian deras. sayup-sayup Dewa mendengar lantunan suara dengan menggunakan bahasa Arab. Begitu syahdu dan menyejukkan. Hingga Dewa sempat lupa bahwa dia pernah berkata, tak mau mendengar hal seperti itu lagi.
dia mengintip lewat jendela. Sosok itu tengah khusyuk dengan dunianya. Dan saat itu Dewa baru menyadari, bahwa gadis yang tengah khusyuk itu adalah gadis yang sama. Gadis yang tempo hari tidak sengaja Dewa lempar dengan botol.
Keheningan membuat suara gadis itu terdengar jelas. Bahkan gemericik serta gemuruh guntur seakan lenyap dalam pendengaran Dewa. Sosok itu menguasai isi kepala serta telinganya.
Dewa tersenyum kala gadis itu menyadari keberadaan nya. Gadis itu menunduk malu.
Hanya beberapa detik Dewa menangkap tatapan teduh tersebut. Karena gadis itu lebih dulu mengalihkan ke arah lain. mungkin merasa tidak nyaman. Dewa terkekeh dalam hati.
Tidak lama kemudian sosok bermata teduh itu keluar dari dalam. Dengan erat menghimpit sesuatu dalam dekapannya.
"Jangan pergi dulu. disini masih hujan." Kata Dewa. Gadis itu tetap diam. Dia malah menjulurkan tangan pada air yang jatuh dari pinggir genteng masjid.
"Masih hujan, nanti malah sakit." ujar Dewa sekali lagi.
"Iya." Suara itu kecil sekali. Bahkan terdengar seperti cicitan seekor burung.
Hujan ternyata masih belum reda. Dewa lihat gadis itu mulai resah. Terlihat ia menengok jam yang melingkar pada tangan kecilnya itu.
"Ahhh... Saya harus cepat pergi dari sini." Kata gadis itu.
"Saya duluan, Assalamualaikum." Lalu dengan berani dia menerobos hujan.
Dewa diam terpaku. Hingga tanpa sadar bibirnya mengucap kalimat yang sudah lama ia lupakan.
Entahlah, dia tahu hal ini salah. Namun dalam hati kecil Dewa hanya tak ingin gadis itu mengetahui dirinya yang sebenarnya. yang kenyataannya seorang yang tidak mempunyai keyakinan.
Seseorang yang dipandang rendah karena tidak memiliki kepercayaan. Dewa menghela napas mengingat itu.