Perpustakaan
"Maaf, saat melihatmu aku sempat berharap menua bersama." ungkap Dewa dalam hati.
"Kita memang manusia yang tidak berkeyakinan. Tetapi kita tetap manusia yang mempunyai moral dan etika. Biarkan orang diluar sana melihat kita seperti apa, yang kita lakukan cukuplah berbuat apa yang menurut kita baik. Dan jauhi apa yang menurut kita patut untuk di jauhi." Dewa berpanjang lebar.
"Tapi, mereka menghardik kita." sahut seorang laki-laki berambut panjang hampir menutupi bahu nya, .
"Ya, mereka menganggap kita makhluk yang harus dijauhi," seka yang lain.
"Kita juga punya perasaan." Sahutan demi sahutan menuai. Dewa bingung untuk menjawab. diskriminasi terhadap orang orang tetentu memang begitu mengerikan. menganggap mereka sebagai manusia yang harus dijauhi.
Padahal bukankah sebagai manusia yang 'katanya' memiliki aturan yang jelas, seharusnya lebih paham tentang sikap toleransi dan menghargai. "ahhh, sudahlah," ungkap Dewa dalam hati, Dewa tidak ingin mendebat hal itu.
"Justru karena itu," jawab Dewa dengan tenang. "Tetaplah berbuat baik. jangan biarkan mereka menganggap kita semakin buruk atas apa yang kita lakukan." ujar Dewa.
"Buktikan pada mereka bahwa kita mempunyai moral yang baik sama seperti mereka" pungkas Dewa, membuat ruangan itu senyap atas penuturan Dewa..
Namun, detik berikutnya di penuhi dengan gemuruh tepuk tangan. Membuat senyuman mengamblang di bibir Dewa. "Untuk hari ini cukup. sampai bertemu kembali bulan depan." ujar Dewa menutup diskusi.
Ya, hari ini Dewa lah yang menjadi pembicara di sebuah perkumpulan.
memberi motivasi agar mereka tetap kuat meskipun mendapat tekanan dari luar. Tak banyak yang disampaikan oleh Dewa, hanya point-point penting saja.
Setelah Dewa menutup pembahasan, semua orang yang berada di ruangan itu berhamburan keluar.
Dewa turut tersenyum tiap kali orang-orang menyapanya.
Lantas dia duduk di sofa yang berada di tepi ruangan.
Dewa menghembuskan napas, mendongakkan kepala seraya menutup mata.
Nyatanya kelegaan batin serta ketenangan yang selama ini ia rasakan terasa hampa.
Seperti ada sesuatu yang hilang, tapi Dewa tak tahu itu apa.
"Aku bangga sama kamu," Mendengar itu, Dewa menoleh. Sebuah senyuman mengembang dari bibir Dewa.
"Agatha, kamu belum pulang?" Wanita yang dipanggil Agatha itu menggeleng-geleng kan kepala nya, lalu ikut duduk disamping Dewa.
Memeluk tangan Dewa, lalu menyandarkan kepalanya disana.
"Kenapa belum pulang?" Tanya Dewa.
"Aku nungguin kamu, kamu malah duduk dulu disini." Jawab Agatha. Gadis itu semakin nyaman menyandarkan kepalanya di bahu Dewa.
"Nungguin aku?" Tanya Dewa lagi, kali ini ia menunjuk dirinya sendiri.
"Tapi aku mau!"
"Wa," potong Agatha, "kita ini apa?" Agatha menengadah, menatap laki-laki itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Maksud kamu?" Dahi Dewa mengerut.
"Aku bingung sama sikap kamu, Wa. Kamu selalu perhatian seolah-olah memberi harapan." Agatha menunduk dalam.
"Akan tetapi ketika ditanya soal kejelasan kamu selalu menghindar." Desahan frustasi terdengar oleh Dewa.
"Kita ini apa, Wa?" Yang membuat Dewa semakin merasa bersalah, ada butiran kristal jatuh dari mata Agatha.
Cepat-cepat Dewa menghapus aliran sungai kecil itu.
"Ssst... aku memang jahat. Aku minta maaf,"
Dari awal Dewa tahu tentang ini. Tentang perasaan Agatha terhadapnya. Hanya saja,
Dewa tak ingin Agatha kecewa dengan kata penolakan yang akan didapat nanti. cara satu-satunya agar gadis itu baik-baik saja, hanya menghindar.
Ya, Dewa tahu ia jahat. Namun cara itu adalah jalan keluar yang paling baik untuk saat ini.
Entahlah, Dewa bimbang. Ia hanya perlu seseorang untuk menjadi tempatnya pulang. Tempat ia mengadu dan tersedu. Tetapi ia tak memiliki seseorang itu. Ia hanya punya Agatha, teman sekaligus adik baginya.
Namun, Agatha malah menyalah artikan hal itu. Kasih sayang serta perhatian yang selama ini Dewa berikan ia anggap sebagai perasaan antara laki-laki dan perempuan. Bukan sebagai adik dan kakak.
Nyatanya, Dewa hanya menganggap Agatha sebagai adik yang harus ia lindungi.
"Sudah jangan nangis lagi. aku antar pulang sekarang." Ucap Dewa dengan lembut. Merangkum wajah yang penuh air mata itu dalam tangannya.
Maaf untuk hal ini. Aku hanya tidak ingin menyakitimu. Ujar Dewa dalam hati.
Dewa memutuskan untuk pergi kembali ke Kampus setelah memastikan Agatha aman. Tidak bisa dipungkiri ia khawatir dengan Agatha. Karena gadis itu sedikit pemurung dan mudah depresi.
Setelah sampai, Dewa langsung ke perpustakaan. Untuk mencari buku referensi. Tekadnya sudah bulat, ia harus lulus tahun ini!!
Banyaknya hardikan dari sosial membuat Dewa telat wisuda, sehingga ia membutuhkan waktu sampai lima tahun untuk sampai di semester terakhir.
Lorong demi lorong Dewa telusuri. Tapi buku yang ia cari tak kunjung dapat. hingga pada saat di ujung lorong terakhir Dewa mendapati seorang gadis yang tengah kesulitan menggapai sebuah buku.
Dewa mendekat, "ada yang bisa saya bantu?" Kata Dewa menawarkan.
Gadis yang tengah kesulitan itu menoleh. Sepersekian detik mereka saling menatap.
"Kamu?" Ucap mereka berbarengan, membuat mereka sama-sama tertawa karena hal itu.
"Jadi, ada yang bisa di bantu?" Kata Dewa sekali lagi.
"Ahhh iya, buku yang covernya ada Kahlil Gibran." Jawab gadis itu.
Dewa mengambil buku itu dengan mudah. Membolak-balik buku itu sebentar. "Puisi?" Gadis itu mengangguk sebagai jawaban.
Mereka satu kampus? "Astaga ini sungguhan," ungkap Dewa dalam hati. Mengapa Dewa baru menyadari?
"Maaf, bukunya." Pinta gadis itu dengan lembut.
"Eh, iya.." Dewa menyodorkan buku tersebut. Saat gadis itu hendak mengambil, tiba-tiba Dewa menariknya kembali dan malah mengulurkan tangan.
"Dewa." katanya. Sedangkan gadis itu hanya menunduk dalam.
"Dewa." Ulangnya sambil menggoyangkan tangan karena tak kunjung disambut.
Gadis itu diam melihat tangan Dewa. Detik berikutnya ia tersenyum. "Safiyya."
Jawabnya lembut, tidak menyambut uluran tangan Dewa.
Dewa malu, buru-buru ia menarik uluran tangannya. Dan menggaruk tengkuk.
"Maaf, bukunya." Pinta Safiyya sekali lagi. Ia tak mendongak sedikitpun.
Dewa menilik Safiyya. Ketika dilihat secara dekat begini, ternyata gadis itu begitu cantik. Bahkan sangat cantik. Entah, Dewa tak sanggup mengutarakan dengan kata.
Deringan ponsel membuat Dewa melepaskan pandangan dari Safiyya. Ketika itu ia baru menyadari kalau dosen pembimbingnya pasti tengah mengumpat, karena menunggu terlalu lama.
Dalam waktu yang sama, Dewa juga memikirkan bagaimana caranya agar bisa berjumpa kembali dengan Safiyya.
Sebuah ide konyol terlintas. Dewa rasanya ingin tertawa saja detik ini. Gila, ia merasa gila. Kala dengan sengaja menjatuhkan KTP yang ia punya.
"Oke, Pak. Saya kesana sekarang!" Dengan terburu-buru Dewa memberikan buku tersebut kepada Safiyya. Dan melesat tanpa permisi.
"Hei tunggu!! KTP kamu..." Ucapan Safiyya terhenti. "Jatuh.." Lanjutnya. Tapi Dewa sudah tidak terlihat lagi.
Safiyya menggelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan laki-laki yang baru saja ia temui. Lalu detik kemudian dia memungut benda itu.
"Dewa Bagaskara Akbar..." ucapnya pelan.
"Lahir tahun 1996,"
"Dan beragama Islam.." Safiyya tersenyum ketika mengucap kata terakhir.
Ternyata laki-laki itu seniornya di kampus ini. Atau bisa dibilang kelewat senior. Safiyya tertawa pelan. Di Umur segitu seharusnya sudah saatnya untuk Wisuda. Dan apa ini? Ahh siapa tadi namanya.
Ya, namanya Dewa.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari Safiyya memasukkan buku serta KTP Dewa dalam tas. Lalu bergegas pergi dari sana.
Di depan perpustakaan Safiyya melambaikan tangan pada seseorang. Gadis itu berlari kecil ke seberang jalan.
"Kholipah kamu kenal Dewa gak?" Kata Safiyya.
"Dewa apa? Dewa Zeus?" Jawab kholipah sambil mengernyitkan dahi nya.
"Ihhh bukan,"
"Lah terus apaan?"
"Gak tau. Udah ahh.... Buruan jalannya Pak Aripin bentar lagi mulai." Setelah berkata begitu Safiyya berjalan mendahului Kholipah yang masih mencerna kata-kata gadis itu.