Dekat
"Seorang yang jauh dari kata baik, seseorang yang kejam, seseorang yang bahkan menganggap dirinya Tuhan. Namun, berdampingan dengan. Wanita terbaik."
***
Ini konyo! Bagaimana mungkin hati Dewa seakan membuncah karena melihat Safiyya, yang tengah duduk di salah satu bangku Kantin. Perasaan yang tak pernah Dewa rasakan selama hidupnya. Rasanya aneh dan menggembirakan dalam waktu bersamaan.
Dewa baru menyadari, bahwa ia punya hobi baru saat ini. Mencari Tahu tentang gadis itu.
"Dewa, kamu punya tato?" Dewa menoleh kesamping. Ada seorang mahasiswi duduk di seberang tempat dewa duduk. Gadis itu terlihat berbinar kala melihat lengan Dewa.
Dewa tersenyum sebentar. "Kenapa emangnya?" Tanya Dewa seraya membenarkan kaos oblong yang tersingkap pada bagian lengan. Padahal, Dewa ingin menyembunyikan tato itu dari siapapun.
"Gak kenapa-kenapa, aku suka lho cowok tatoan," gadis itu terkekeh pelan, memperlihatkan lesung pada pipi kanannya.
"Oh..," haruskah memberitahu itu? Tanya Dewa dalam hati. Padahal di jalan banyak anak jalanan yang bertato, di pasar banyak preman yang bertato, tapi kenapa dia memberi tahu hal itu pada Dewa?. Inilah yang selalu Dewa hindari, perempuan yang memandang laki-laki hanya dari tampang .
Tetapi Safiyya berbeda, gadis itu malah menunduk ketika Dewa menatapnya.
Ah iya, dimana gadis itu? Dewa merutuk dalam hati, lagi-lagi ia gagal untuk bertegur sapa dengan gadis itu.
"Woy, Bro!" Seseorang menepuk bahu Dewa. Dia Jonathan. Laki-laki yang memberitahu Dewa kalau Rio sudah bebas dari penjara.
"Apa?" Jawab Dewa seadanya.
"Lo liat cewek itu?" Jonathan menunjuk gadis tadi. "Dia Melisa, masuk jajaran cewek cantik di Kampus ini."
"Terus?"
"Yaelah, Bro. Masa nggk ngerti maksud gue sih."
"Gak tertarik."
"Jangan-jangan lo gak suka cewek ya?" Kali ini Dewa menatap Jonathan dengan nyalang.
"Sekali lagi lo ngomong gitu, gue bikin nggak bisa ngomong lo!"
"Hehehe... bercanda, Wa. Sensi amat lo."
"Lo kenal Safiyya?" Tanya Dewa tiba-tiba.
"Safiyya mana nih? Nama Safiyya banyak."
"Safiyya yang selalu pakai jilbab gede."
"Bentar gue ingat-ingat dulu," dia hening sejenak. Lalu "Maksud lo Safiyya anak fakultas sastra?"
"Mungkin, gue juga gak tau."
"Jangan deh, Wa. Jangan dia."
"Kenapa?" Bukankah selama ini Jonathan selalu memojokkannya perihal wanita. Mengapa sekarang laki-laki itu malah melarang Dewa untuk mengenal Safiyya lebih dalam? Dewa penasaran.
"Wa lo tau 'kan dia perempuan baik-baik. Jangan dia, Wa."
"Maksud lo apa? Karena gue terus gue nggak boleh dekat sama perempuan baik-baik, gitu?"
"Buk--bukan begitu maksud gue. Duh.. bingung gue ngejelasinnya."
Dewa berdiri dari duduknya. Lantas meninggalkan Jonathan sendirian.
Dewa tahu apa yang dimaksud Jonathan. Mengerti, bahkan sangat mengerti. dia gadis baik-baik. Pastinya dia harus berdampingan dengan orang baik pula.
Tapi apakah Dewa salah?
Bukankah manusia harus saling melengkapi?.
Dewa jadi teringat tentang kisah Fir'aun. Kisah yang dulu sempat Papanya ceritakan, sebagai dongeng sebelum tidur.
Seorang yang jauh dari kata baik, seseorang yang kejam, seseorang yang bahkan menganggap dirinya Tuhan. Namun, berdampingan dengan Asiyah. Wanita shalehah.
Lantas, apakah boleh Dewa berharap, agar kisahnya seperti dan Asiyah?.
***
Baru kali ini Dewa merasa seperti orang bodoh, apalagi ada kaitannya dengan wanita. Sebenarnya ada apa dengan gadis bermata teduh itu? Mengapa Dewa selalu ingin menatapnya?.
Jika dulu ia selalu pasrah akan keajaiban dunia. Kali ini Dewa ingin egois. Dewa ingin gadis itu menjadi bagian dari ceritanya kelak.
"Hey.. tunggu!" Kaki Dewa denga sigap berlari, mengejar gadis dengan penutup kepala berwarna marun.
Safiyya menoleh, "Ya?" Jawabnya.
"Kamu..hosh... hosh.." Dewa menumpukan kedua tangannya pada lutut.
"Nih," Gadis itu memberikan air mineral yang baru saja ia beli.
"Makasih," ucap Dewa, seraya menegakkan tubuhnya. lalu meminum air itu hingga isinya tersisa separuh. "Kamu, liat KTP aku gak waktu di Perpustakaan? Soalnya KTP aku hilang."
"Oh.. iya iya, tunggu sebentar." Safiyya merogoh tas sampir yang ia kenakan.
"Ah.. ini dia."
Dewa mengambil benda itu. Lagi, otaknya berotasi mencari cara agar mengenal gadis itu lebih dalam.
"Sebagai ucapan terimakasih, nanti siang aku traktir makan deh,"
"Ah.. gak usah. Makasih--"
"Kalo kata orang dulu ya, gak baik menolak rezeki." Potong Dewa. Kali ini Dewa bersorak dalam hati.
"Oke deh.."
Yes...
"Nanti pas jam makan siang, aku tunggu di Kantin." Katanya.
Safiyya tersenyum, "Kalo gitu aku duluan, Assalamualaikum.."
Dewa diam. Bibirnya mengatup rapat. Hingga punggung gadis itu menjauh pun ia tetap tak bergeming.
Bolehkah?
Bolehkah Dewa berharap?
Jika benar orang baik diperuntukkan untuk orang baik pula, lalu bagaimana nasib orang-orang seperti Dewa?.
Apakah ia akan mendapat pendamping buruk, lalu mempunyai keturunan yang buruk pula?.
Dewa rasa itu tidak adil. Seharusnya, orang baik berdampingan dengan sebaliknya. Agar menjadi selaras. Pikir Dewa.
***
Saat kakinya memasuki area Kantin. Dewa menyapu pandangan keseluruh penjuru sudut. Rasanya sungguh luar biasa, kala melihat Safiyya sedang duduk di salah satu bangku.
Daerah yang Safiyya duduki cukup ramai. Tapi Dewa faham, Safiyya adalah perempuan yang tidak mungkin mengijinkan dirinya berduaan dengan lawan jenis.
"Hai.. maaf, udah nunggu lama."
"Ah.. iya gak apa-apa." Senyuman mengembang dari bibir gadis itu, menular kepada Dewa.
Mereka memesan makanan. Dan memakan makanan dengan tenang.
Ada satu hal lagi yang membuat Dewa kagum dengan Safiyya. Gadis itu benar-benar makan dengan adab. Begitu kalem, juga... cantik?.
"Waktu di Perpustakaan kamu cari buku apa?" Tanya Dewa.
"Kumpulan puisi Kahlil Gibran," jawab Safiyya.
"Kamu suka Kahlil Gibran? Aku juga suka."
Safiyya mengangguk mantap. Ia memang suka sekali dengan karya-karya dari Kahlil Gibran.
"Eh.. maaf-maaf, kalo lagi makan 'kan gak boleh ngomong, ya." Dewa terkekeh pelan. Dulu, Papanya selalu melarangnya berbicara ketika makan.
"Kata siapa?" Alis Safiyya bertautan, "Justru berbicara ketika makan. Fungsinya untuk mencairkan suasana. Yang dilarang itu, berbicara ketika menelan." Jelas Safiyya.
"Keselek dong," sahut Dewa.
"Karena itu alasannya."
Dewa mengangguk-anggukkan kepala mendengar itu.
"Kapan-kapan kita ke Gramedia yuk,"
"Tapi--"
"Tenang aja, kamu boleh ajak teman, adik, saudara, se-RT juga boleh kok." Potong Dewa.
Safiyya terkekeh pelan. Pelan sekali. "Oke.."
"Jadi mulai sekarang kita teman 'kan?"
Hening..
Hingga, sebuah anggukan kecil dari Safiyya membuat Dewa seakan ingin menaiki tiang listrik detik itu juga.
Tidak sia-sia ia di ceramahi hampir 2 jam oleh Dosen pembimbingnya, waktu itu. Saat dimana ia sengaja mengulur waktu demi berbincang lama dengan Safiyya. Saat dengan sengaja Dewa menjatuhkan KTP nya sendiri.
Sebenarnya tidak ada yang kebetulan di dunia ini, Dewa. Sebab, suatu saat nanti, kamu akan memahami cara kerja takdir.