Keajaiban
"Manusia memang kadang seperti itu. Takut kehilangan, pada sesuatu yang bahkan belum jadi miliknya"
***
Dewa bahagia bukan kepalang. Sudah beberapa minggu ini mereka berteman. Meskipun tiap kali bertemu, gadis itu selalu mengajak Kholipah, sahabatnya. Tapi tak apa, setidaknya ia bisa melihat Safiyya.
Seperti hari ini misalnya. Mereka bertiga pergi ke Perpustakaan bersama. Mencari buku karya-karya Kahlil Gibran.
Dewa menatap Safiyya dari jauh. Melihat seberapa antusiasnya gadis itu kala melihat jajaran buku pada rak.
Ia terkekeh pelan saat Safiyya mengambil asal sebuah buku, lalu memejamkan matanya. Dengan serius Safiyya membuka halaman tengah buku yang dia ambil tadi, lalu mata teduhnya berbinar. Lantas Safiyya dan Kholipah tertawa bersama.
"Kalian lagi ngapain sih?" Tanya Dewa penasaran.
Safiyya dan Kholipah saling menatap. "Mencari keajaiban." Jawab Safiyya.
"Keajaiban?" Dewa bertanya lagi.
"Iya, kami selalu melakukan ini sebelum membaca buku." Jelas Kholipah.
"Aku gak ngerti," Dewa menggaruk tengkuk, tanda tak mengerti.
"Coba kamu ambil sebuah buku," intrupsi Safiyya, lalu Dewa mengikuti.
"Terus pejamkan mata kamu," pinta Safiyya lagi. Lagi, Dewa mengikuti.
"Buka mata kamu," Dewa membuka mata, "Buka buku dengan halaman acak, lalu baca kalimat pertama yang kamu lihat."
Dewa membacanya. Dan kalimat pertama yang ia lihat adalah..
Sesungguhnya, Allah mengetahui kamu, dibandingkan dirimu sendiri.
Deg!
Jatung Dewa berdetak lebih keras ketika membaca kalimat itu. Ada apa ini?.
"Apa? Keajaiban apa yang kamu dapat?" Kata Safiyya antusias.
Dewa hanya tersenyum sekilas. Memberikan buku itu sebagai jawaban.
"Wah... ini baru namanya keajaiban. Masa tadi aku malah dapat cara mengecat kuku?" Gadis itu mendengus kesal.
"Apalagi aku, masa tadi aku malah dapat kalimat. 'Kamu harusnya seperti harimau' kesal 'ah." Sahut Kholipah.
Setelahnya, Dewa tak benar-benar mendengar apa yang mereka perbincangkan. Otak serta telinganya seakan berpusat pada kalimat yang ia lihat tadi.
Sesuatu yang tak mampu ia jabarkan, jantungnya berdetak dua kali, tak seperti biasa. Ada sesuatu yang mengganjal disana. Entah Dewa tak mengerti.
Setelah puas berkeliling Perpustakaan. Mereka berpisah di koridor Kampus, menuju fakultas masing-masing. Safiyya dan Kholipah ke arah barat sedangkan Dewa kearah timur.
***
Sekitar jam 5 sore Dewa baru selesai bimbingan. Tadi setelah dari Perpustakaan dia ikut nongkrong terlebih dahulu dengan Jonathan. Lagi-lagi temannya itu melarangnya untuk mengetahui Safiyya lebih dalam.
"Gue cuma takut, dia ninggalin lo setelah tau lo yang sebenarnya,"
Dan hal itulah yang ditakuti oleh Dewa. Ia takut, tatapan teduh Safiyya berubah menjadi tatapan intimidasi, ketika gadis itu tau dia yang sebenarnya.
Dewa hanya takut kehilangan tatapan teduh itu.
Bukankah manusia memang kadang seperti itu. Takut kehilangan, pada sesuatu yang bahkan belum jadi miliknya.
"Dia..." Dewa tercekat ketika ingin menjawab, "Dia gak tau kalo gue atheis."
"Sekarang nggak tahu, tapi suatu saat nanti dia pasti tahu hal itu, Wa." Dewa dapat melihat urat yang menonjol di leher Jonathan. Agaknya, temannya itu takut jika ia merasa sakit di kemudian hari.
"Gue cuma nggak mau lo sakit nantinya."
Dewa diam. Lalu, menghela nafas lelah. "Itu urusan gue, nanti. Lo gak usah ikut campur!"
Seharusnya Jonathan lebih memahami. Bahwa Dewa berwatak keras kepala.
Ia mendengus ketika mengingat itu. Ia hanya ingin hidup normal. Mempunyai seseorang yang dapat ia cintai. Hanya itu.
Dewa rasa itu bukanlah keinginan tinggi. Hanya saja, Dewa menyadari, bahwa seseorang yang ia inginkan sangatlah sulit untuk digapai.
Dewa memicingkan mata ketika melihat Halte. Ada gadis bergamis merah jambu dengan khimar putih. Pakaian itu persis yang dipakai Safiyya tadi.
Dewa melihat jam tangannya lagi, sudah jam 5 lewat 15 menit. Sedang apa gadis itu disana? Mengapa belum pulang?. Tanya Dewa dalam hati. Bergegas ia menghampiri Safiyya.
"Kamu, belum pulang?"
Safiyya menoleh, lalu menjawab dengan gelengan kepala.
"Kholipah kemana? Kok gak sama dia?"
"Kholipah di jemput sama Kakaknya."
"Terus kenapa kamu belum pulang?"
"menunggu angkutan, tapi belum lewat-lewat." Gadis itu menggerak-gerakkan kakinya ke kiri dan ke kanan. Terlihat seperti bocah lima tahun yang hilang dari Ibunya.
Dia lucu.
"Mau aku antar pulang?" Ucapan Dewa membuat Safiyya mendongak. Tidak lama, karena beberapa detik berikutnya gadis itu menunduk kembali.
"Kebetulan aku bawa motor," lanjut Dewa.
Safiyya menggeleng, "Nggak deh, makasih."
Dugaan Dewa tidak meleset. Sudah pasti Safiyya menolaknya. Mana mau dia berboncengan dengan lawan jenis.
"Terus gimana dong? Bentar lagi mau malam."
"Ya gak gimana-gimana. Aku bakalan nunggu angkot disini. Kamu kalo mau pulang, duluan aja."
"Aku temenin kamu, terus anterin kamu sampe Rumah. Gak baik perempuan pulang malam-malam sendirian." Putus Dewa. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Safiyya.
"Motor kamu?"
"Nanti diambil sama teman."
"Alhamdulillah.. itu angkutan nya." Pekik Safiyya kegirangan.
Dewa tersenyum tipis. Safiyya bersorak heboh ketika melihat angkot yang tengah ia tunggu sedari tadi. Dan untungnya, di dalam angkutan umum itu bukan hanya mereka berdua saja. Ada beberapa orang dengan seragam kerja. Mungkin baru pulang kerja.
Letak Rumah Safiyya memang cukup jauh. Berada di ujung jalan perumahan sederhana.
Mereka sampai di Rumah Safiyya ketika kumandang Adzan pada Ponsel Safiyya berbunyi. Karena letak Masjid memang cukup jauh.
"Assalamualaikum, Abah. Fiyya pulang."
Pintu terbuka, "Uhuk... waalaikumussalam."
Laki-laki paruh baya, memakai sarung serta peci putih terlihat diambang pintu.
Safiyya mencium punggung tangannya. Merasa tidak enak hati, Dewa ikut serta mencium punggung tangan laki-laki itu.
"Kenapa baru pulang, Neng? Sore pisan." Tanya Abah.
"Angkutan nya nggak lewat-lewat, Abah." Jawab Safiyya.
"Saha ieu, Neng?" Tanya Abah dengan logat sundanya.
"Ini téh temen Neng, Bah. Dia gak tega liat Neng pulang sendiri. Makanya di anterin." Jelasnya.
"Kalo gitu saya pulang, Pak. Permisi." Baru Saja kaki Dewa hendak melangkah, suara Abah Safiyya menghentikan.
"Sebentar, Dek. Berhubung udah Magrib. Sholat disini aja dulu."
Dewa mematung.
"Masjidnya téh jauh pisan. Di dalam aja, Abah juga lagi gak enak badan. Masuk angin." ujar Abah parau,
Ayah dan anak itu asyik berbincang. Sedang Dewa mematung, memikirkan cara untuk menghindar dari situasi ini.
"Hayu atuh," Ajak Abah.
Dewa masih diam. Gamang dan bimbang. Harus mengelak dengan alasan seperti apa.
"Mmmh..."
Detik berikutnya Dewa menarik napas dalam. "mmmh..."
Semoga, semoga saja.... hal yang ia katakan sekarang. Tidak membuat Safiyya menjauhinya nanti.
"Iya, Pak. Saya sholat disini." Parau Dewa. Jantungnya bergemuruh. Rasa takut seketika hinggap dalam dadanya.
Bukan, ia tidak takut dengan apapun. Ia hanya takut ketika gadis itu tahu siapa ia yang sebenarnya.