Tertawan Gelap.
Dewa lalu berpamitan untuk kembali dan berkata, "sampai besok lagi."
Dewa yang berjalan ditemani sunyi, di tepian malam yang larut menyisir jalan pinggiran kota,
Terhentak saat melihat seorang menoreh sebilah golok yang tajam tersangkut di leher seorang gadis di tepi halte yang gelap.
Terperanjat malam ditemani sepi, yang hanya tampak segerombolan para pemuda jalanan dengan puluhan motor yang tengah mengelilingi gadis berbusana ungu,
Langkah kaki dewa menyeringai terhenti di sudut jalan dengan tatap mata yang tajam memperhatikan gadis yang berbusana ungu di tepi halte yang gelap.
Seuntai airmata yang menetes di lesung pipi gadis itu membuat Dewa terkesan dan terharu, Dewa ingin segera menolong gadis itu,
Tiba Tiba suara dering handphone Dewa berbunyi, Dewa lalu dengan ragu mengangkat handphone nya, suara ibu Dewa yang meminta Dewa untuk kembali pulang dijawab dengan gumaman oleh Dewa.
Sorot mata para berandal malam itu pun Tiba Tiba mengarah pada Dewa yang berada di sudut jalan yang gelap, salah satu berandal itu berkata, "sial ada orang woy,"
Dengan segera para berandal itu menyoroti Dewa Dengan sorot mata yang tajam, Dewa yang menyadari bahwa para berandal itu sedang menatap nya lalu dengan cepat menutup sambungan handphone nya,
Dewa menatap tajam para berandalan itu dengan tidak bergeming di sudut jalan, sontak para berandalan itu meneriaki Dewa, "woi mau apa lo lihat lihat."
salah satu berandalan mendekati Dewa dengan sepeda motor nya, di ikuti oleh para berandalan yang lain. Dewa melangkah dengan sedikit tergesa menuju para berandal itu,
Suara suara jeritan tajam terdengar keras di tepi jalan, seketika para berandal lan itu meringis kesakitan menghadapi Dewa yang hanya seorang diri.
Darah segar mengalir di sisi jalan, darah merah pekat yang segar merubah warna aspal jalan yang hitam sudut jalan gelap.
Bunyi ringis berandalan malam itu terdengar nyaring memekik,
Dewa lalu berkata dengan suara yang keras bergema, "pergi lah kalian semua sebelum aku berubah Pikiran." dengus Dewa dengan tatapan sadis, para berandal lan itu pun pergi tanpa berpikir lagi dengan desingan suara suara bising motor yang keras menjauhi jalanan yang gelap,
Dewa dengan langkah kaki yang perlahan menghampiri gadis berjubah ungu itu dan lalu berkata, "sudah sudah jangan menangis, aku antar pulang yuk," ucap dewa dengan sedikit berdehem.
Gadis itu pun mengangguk dengan sedikit malu, lalu berkata, "terima Kasih" sahut gadis itu dengan senyuman ttpis di sudut bibir, Dewa lalu berkata, "tidak baik jalan sendirian malam malam," yang dijawab dengan anggukan kepala oleh gadis itu.
Dewa mengantar gadis itu pulang menuju rumah gadis berbusana ungu yang tidak jauh dari jalan itu, dewa berjalan sambil mengingat guru silat nya dan lalu berujar dalam hati, Untung saja aku sudah naik level ke tingkat tiga, kalau tidak aku tidak akan dapat menghadapi puluhan berandal lan itu,
gadis berjubah ungu itu berkata, "terima kasih rumahku di belakang komplek ini, datang lah untuk singgah sebentar," Dewa menjawab, "baik aku aku akan singgah besok ke rumah mu, namun sekarang aku harus kembali karena malam telah larut," ujar Dewa, gadis itu memancarkan aura yang menyejukan saat berhadapan dengan nya,
Dewa lalu menoleh kan tubuh nya dan melangkah pergi, suara yang serak lalu terdengar dari gadis itu, "siapa namamu" ujar gadis itu, "aku Dewa" jawab Dewa dan terus melangkah pergi, gadis itu pun menganggukan kepala dengan senyum yang tipis di sudut bibir nya,
Dewa terus melangkah tanpa menghiraukan gadis yang memakai busana berwarna ungu itu,
Dewa yang terus berjalan di tengah malam merasa gundah, apakah akan kembali ke rumah menemui ibu nya, namun Dewa terus berjalan menyusuri malam di sudut kota.
***
Tak terasa matahari telah bersinar redup dengan cahaya kekuning kuningan, menemani langkah kaki Dewa yang telah berjalan semalaman, namun seketika Dewa melintasi jalan besar di sudut trotoar,
Tiba tiba pengendara motor yang tampak berbadan gemuk dengan perut nya yang menyudut, tubuh nya menonjol membuat kaos yang digunakan nya terasa sempit, pria itu menoleh ke arah depan, terlihat kaos oblong yang dipakai menyudutkan tali pinggang celana nya…
Motor itu berhenti di ujung trotoar jalan yang memandang Dewa dengan senyuman yang menyudut di ujung bibir nya, pria gemuk itu menyeringai ketika melihat Dewa dan berkata, "Dewa mau kemana kamu,
"Dewa yang terkejut lalu berkata dengan menatap pria gemuk itu, "om Adi, aku mau..... Ke," lalu pria yang disapa om oleh Dewa itu berkata sebelum Dewa menyelesaikan kalimat nya, "pagi pagi begini,
Kamu berolahraga atau sedang jogging, ayo ikut om ke mall," ujar pria yang dipanggil om oleh Dewa.
Dewa mengangguk kan kepala nya seraya menggaruk garuk kepala. Dewa menelan ludah Dewa, lalu menaiki sepeda motor dan pergi bersama pria gemuk yang dipanggil om oleh nya,
Dewa duduk di sudut tempat duduk sepeda motor berbonceng tubuh Dewa menyasar ke belakang karena sebagian tempat duduk telah diduduki om Adi dengan berat badan yang tidak biasa, Dewa pergi menuju mall di arah kota.
Sepedah motor vespa keluaran lama yang sangat antik itu berhenti di sebuah mall yang besar, pria gemuk yang dipanggil om Adi oleh Dewa itu menepikan motor nya dan memanggil seorang tukang parkir yang memakai kemeja berwarna biru muda di di dekat nya,
Seakan pria tukang parkir yang menggunakan topi dan berkemeja biru muda yang tampak cerah itu telah mengerti dan terbiasa oleh om Adi,
Lalu dengan cepat mendorong vespa antik keluaran lama itu ke halaman parkir seraya menganggukan kepala nya
Om Adi melambaikan tangan nya ke arah tukang parkir itu, dan beranjak melangkahkan memasuki mall yang baru saja dibuka oleh security yang berbadan tegap dan menonjolkan lekuk d**a nya,
Security yang tampak muda itu tersenyum seraya mengucapkan "selamat pagi" pada om Adi,
Om Adi terus melangkah dengan perlahan bersama Dewa menuju toko yang berada di tengah jalan utama mall itu seraya menunjukan senyum tipis nya kepada security penjaga mall yang baru saja membuka gerbang pintu utama mall,
Dengan cepat Dewa segera membuka pintu toko om Adi yang letak nya di jalan utama hall pintu utama mall,
Om Adi yang melihat Dewa membuka toko lalu berdehem dan tersenyum tipis.
Om Adi senang memperhatikan Dewa yang menyusun barang barang di toko itu yang terlihat menarik mata dari sisi pandangan para pengunjung,
Barang barang yang dipajang di toko itu di tata dan dirapih kan oleh Dewa.
Ini bukan kali pertama nya om Adi mengajak Dewa ke toko nya,namun saat Dewa kecil om Adi sering mengajak Dewa ke toko nya dan senang mengajak Dewa berusaha di toko nya,
Suasana mall yang perlahan lahan bising oleh pengunjung yang berdatangan. Jarum Jam di dinding toko menunjuk ke angka sepuluh,
Toko om Adi mulai ramai pengunjung, Dengan sedikit menguap om Adi menawarkan pengunjung toko yang datang dengan menjelaskan beberapa rinci baju yang dipajang dan juga kekurangan nya,