Jessica mempererat genggamannya pada tali ransel. Anak laki-laki di balik jendela itu tidak berkedip sama sekali, bahkan ketika Jessica balas menatapnya. Baru saja ia hendak menyenggol lengan Erika, sebuah tangan yang jauh lebih besar muncul dari dalam dan menarik anak itu menjauh. Tirai pun tertutup rapat. Beberapa detik kemudian lampu di rumah itu padam, seakan pemiliknya ingin memastikan tidak ada satu pun yang bisa mereka lihat dari luar.
“Kalian lihat itu?” bisik Jessica.
“Lihat apa?” tanya Rina tanpa menoleh.
“Ada anak kecil yang mengintip kita. Kemudian ada yang menariknya masuk.”
“Mereka hanya takut, Jessy,” sahut Bomi dengan tenang. “Sudah, jangan menoleh-noleh lagi. Kita masih harus naik.”
Jalan setapak menuju Bukit Kemuning ternyata lebih curam dari yang mereka bayangkan. Batu-batu yang menonjol di sepanjang jalan membuat langkah mereka berkali-kali tersandung. Di kanan kiri, rumpun bambu berderit tertiup angin, padahal Dhani berani bersumpah bahwa sedari tadi tidak ada angin sama sekali. Namun yang paling mengganggu justru bukan derit bambu itu, melainkan sesuatu yang tidak ada di sana. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara katak. Tidak ada apa pun, padahal mereka sedang berjalan di tengah kebun dan semak-semak yang seharusnya ramai di malam hari.
“Sinyalku hilang,” gerutu Jessica seraya mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.
“Punyaku juga,” sahut Dio.
Dhani ikut memeriksa ponselnya. Tidak ada satu pun garis sinyal yang tersisa, namun pesan terakhir yang masuk sebelum mereka meninggalkan desa masih terpampang di layar. Pesan dari nomor yang tidak pernah ia simpan.
Kalian masih bisa berbalik. Kumohon berbaliklah.
“Dari dia lagi?” tanya Bomi yang entah sejak kapan sudah berjalan di sampingnya.
Dhani mengangguk. “Sejak di kantin dia terus mengirimiku pesan seperti ini.”
“Sudah kubilang berhati-hatilah dengan anak itu.”
“Tapi bagaimana kalau dia memang hanya ingin memperingatkan kita?”
“Kalau dia benar-benar ingin memperingatkan kita, dia akan datang dan bicara, bukan bersembunyi di balik nomor yang tidak dikenal.” Bomi mempercepat langkahnya, meninggalkan Dhani yang masih menatap layar ponselnya sampai layar itu meredup dengan sendirinya.
Di belakang mereka, Dio berjalan paling lambat. Sedari tadi pemuda itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Erika yang menyadari hal itu pun sengaja memperlambat langkahnya agar sejajar dengannya.
“Kau memikirkan Zito?”
Dio tidak langsung menjawab, hanya mengedikkan bahu. Namun beberapa langkah kemudian ia berbisik, “Dia masuk ke sini dan tidak pernah keluar lagi. Sekarang aku berjalan di jalan yang sama dengan jalan yang dia lewati malam itu.”
“Kita akan mencarinya juga.”
“Jangan menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa kau tepati,” sahut Dio. Kali ini justru ia yang mempercepat langkahnya, meninggalkan Erika yang hanya bisa menghela napas.
Langkah Rina tiba-tiba terhenti di tengah tanjakan. Gadis itu memiringkan kepalanya, seperti orang yang sedang berusaha menangkap suara dari kejauhan.
“Ada apa?” tanya Ziyu.
“Ada yang menghitung.”
“Menghitung?”
“Delapan,” bisik Rina. “Suaranya perempuan. Dari tadi dia hanya mengulang angka delapan.”
Tanpa sadar Tio menghitung jumlah mereka sendiri dengan telunjuknya. Dhani, Bomi, Tio, Dio, Ziyu, Rina, Erika, dan Jessica. Delapan.
“Mungkin dia hanya senang kedatangan tamu,” celetuk Ziyu, berusaha bercanda. Tidak ada satu pun yang tertawa.
Rumah terakhir di lereng itu jauh lebih kecil dari rumah-rumah di bawah. Jendelanya tertutup papan, namun pintunya masih utuh. Baru saja mereka melewatinya, terdengar suara perempuan tua dari balik pintu itu.
“Pulang, Nak. Mumpung masih bisa.”
Tio berhenti dan hendak menghampiri pintu itu, namun Bomi langsung menahan lengannya. “Jangan,” bisiknya. “Kalau mereka mau bicara, dari tadi mereka sudah keluar.”
Sisa perjalanan mereka tempuh dalam diam. Hanya Erika yang beberapa kali menoleh ke sisi kiri jalan, ke arah barisan pohon yang gelap. Ada yang berjalan sejajar dengan mereka di sana, tepat di batas cahaya senter, tidak mendekat dan juga tidak tertinggal. Erika memilih tidak mengatakannya pada siapa pun. Ia hanya menggeser posisinya agar berjalan lebih dekat dengan Jessica.
***
Rumah itu muncul begitu saja di balik tikungan terakhir, seakan sedari tadi bersembunyi dan baru mau memperlihatkan diri setelah yakin tidak ada lagi yang akan berbalik pulang. Dua lantai, jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan. Cat putihnya sudah mengelupas hampir di seluruh permukaan, menyisakan warna kelabu yang lembab. Jendela-jendelanya tinggi dan sempit, sebagian daun jendelanya sudah lapuk dan menggantung miring. Pada pilar di sisi kanan beranda, seseorang pernah memasang plat besi bertuliskan angka 68. Angka itu masih ada, hanya saja warnanya sudah dimakan karat.
Yang membuat Jessica langsung mundur selangkah bukan rumahnya, melainkan halaman belakangnya. Dari tempat mereka berdiri, terlihat sebuah pohon besar yang dikelilingi pagar bambu rendah. Pagar itu masih berdiri rapi, padahal tidak ada satu pun yang merawat tempat itu selama puluhan tahun.
“Di bawah pohon itu,” gumam Dio.
“Apanya?” tanya Jessica.
“Ribuan tulang. Keluarga yang dulu tinggal di sini yang menguburnya di situ.”
Jessica langsung memalingkan wajahnya dan memilih menatap sepatunya sendiri.
Dhani meletakkan ranselnya di tanah, kemudian menghadap teman-temannya. Untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat, wajahnya tidak lagi terlihat gelisah. “Dengarkan aku sebentar,” ucapnya. “Kita hanya mencari kotak hitam itu. Begitu ketemu, kita keluar. Kita tidak sedang mengambil gambar untuk website, kita juga tidak sedang mencari bahan untuk fans kita. Tidak ada yang boleh keluar dari rumah ini sendirian, dan tidak ada yang boleh keluar sebelum jumlah kita lengkap.”
“Seperti kata Bapak di masjid tadi,” imbuh Tio.
“Iya. Kalau kalian tersesat, berhenti di tempat. Jangan berjalan terus. Yang lain yang akan mencari kalian.”
“Dan jangan percaya pada wajah,” imbuh Bomi tiba-tiba. Semua langsung menoleh padanya. “Kalau kalian bertemu salah satu dari kami, tanyakan sesuatu yang hanya kami yang tahu jawabannya. Jangan langsung percaya hanya karena kalian melihat wajah yang kalian kenal.”
Rina menelan ludahnya. “Kak, kau membuatku semakin takut.”
“Lebih baik takut daripada mati.”
Ziyu memejamkan matanya, menghadap ke arah rumah itu. Ia mencoba melakukan hal yang sama dengan yang biasa ia lakukan pada siapa pun yang ingin ia baca. Namun belum genap sepuluh detik, pemuda itu langsung membuka matanya dan mundur beberapa langkah.
“Kenapa?” tanya Dhani.
“Terlalu banyak,” jawab Ziyu dengan napas memburu. “Biasanya aku hanya masuk ke satu kepala. Tadi rasanya seperti ada ratusan yang berteriak bersamaan. Aku tidak bisa memilah satu pun.”
“Ratusan?”
“Mungkin lebih.”
Dhani lah yang pertama menaiki anak tangga beranda. Kayunya berderit, namun tidak satu pun yang patah. Pintu depannya bahkan tidak terkunci. Begitu Dhani mendorongnya, pintu itu langsung terbuka lebar dengan sendirinya, seakan ada yang menariknya dari dalam.
Bau yang menyambut mereka adalah bau yang tidak bisa dijelaskan Jessica dengan kata-kata. Bukan bau tanah basah, bukan pula bau bangkai. Sesuatu yang bercampur, manis dan busuk pada waktu yang bersamaan. Debu setebal itu ternyata tidak menutupi apa pun. Perabotan masih berada di tempatnya. Meja, kursi, bahkan sebuah jam dinding besar yang jarumnya berhenti di angka dua.
Namun yang membuat mereka terdiam adalah lorong panjang di hadapan mereka. Lorong itu berjejer pintu di kanan dan kirinya, dan pada setiap pintu terpasang angka dari kuningan. Satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya sampai angka yang tidak bisa mereka baca dari tempat mereka berdiri.
“Kenapa rumah tinggal punya nomor di tiap pintunya?” bisik Erika.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Dhani mengarahkan senternya ke pintu keempat. Berbeda dari pintu-pintu yang lain, di sebelah kanan pintu itu berdiri sebuah patung setinggi dada orang dewasa. Patung perempuan, dengan kedua mata yang retak memanjang sampai ke pipinya.
“Jangan ada yang masuk ke ruangan nomor empat,” ucap Dhani. “Kecuali kita benar-benar tidak punya pilihan lain.”
“Kenapa?” tanya Jessica.
“Karena kurasa itu labirin yang dimaksud Bapak tadi.”
Belum sempat ada yang membalas ucapan Dhani, pintu depan di belakang mereka menutup sendiri dengan bunyi bedebam yang membuat Rina memekik. Dio langsung berbalik dan menarik kenopnya berkali-kali. Tidak terkunci, hanya saja pintu itu tidak mau bergerak sedikit pun.
Dari celah tirai di ujung lorong, sinar bulan menyusup masuk dan jatuh tepat di lantai kayu di depan pintu nomor empat. Detik itu juga, dari suatu tempat di lantai atas, terdengar geraman panjang yang membuat lampu senter di tangan Jessica bergetar hebat.
Dan geraman itu berhenti tepat ketika Rina berbisik lirih, “Ada yang tidak suka cahaya bulan.”