Mereka berkumpul di bawah jam dinding yang jarumnya berhenti di angka dua. Dhani membagi mereka menjadi empat, bukan karena ia yakin itu cara yang paling aman, melainkan karena ia tahu rumah sebesar itu tidak akan selesai mereka periksa sampai pagi kalau mereka berjalan beriringan.
“Aku dengan Ziyu, kami ke lantai atas. Tabi dan Do periksa bagian belakang, dapur dan gudang. Kak Bomi dengan Siel di ruangan-ruangan depan. Erika dan Jessy ambil lorong sebelah kanan.”
“Kenapa aku harus dengan dia?” protes Jessica.
“Karena kalian berdua yang paling berisik. Kalau kalian berdua kupisah, dua-duanya akan berteriak,” jawab Dhani datar.
Erika mendengus, namun tidak membantah. Ia hanya sempat melihat Bomi memutar-mutar cincin di jarinya, kebiasaan gadis itu setiap kali ada sesuatu yang tidak ia katakan.
“Satu jam,” ucap Bomi. “Kita kembali ke sini satu jam lagi. Siapa pun yang tidak datang, kita cari bersama-sama. Tidak ada yang mencari sendirian.”
Lorong sebelah kanan ternyata lebih panjang dari yang terlihat dari pintu depan. Erika membuka pintu bernomor enam. Ruangan itu dulunya kamar anak-anak. Sebuah ranjang kecil masih berdiri di sudut, kasurnya sudah hancur dimakan waktu. Yang membuat Erika berhenti adalah dindingnya. Seluruh dinding di sisi kanan penuh dengan gambar anak kecil, dibuat dengan pensil warna yang sekarang sudah pudar. Gambar rumah, gambar pohon, gambar dua orang berpegangan tangan. Salah satu dari dua orang itu tingginya dua kali lipat dari yang lain, dan di bawahnya tertulis satu kata dengan huruf yang besar-besar dan miring.
Zika.
“Erika, aku tidak suka ruangan ini,” bisik Jessica.
“Sebentar.”
“Sungguh, aku tidak suka. Ayo kita ke ruangan lain saja.”
Erika mengarahkan senternya ke bagian bawah dinding, ke gambar yang terakhir. Di gambar itu tinggal satu orang, yang tinggi, dan di sekelilingnya ada belasan garis pendek yang berdiri berjajar seperti orang mengantre.
Saat itulah terdengar suara tawa anak kecil dari lorong.
Jessica langsung mencengkeram lengan Erika. Namun anehnya, beberapa detik kemudian gadis itu justru melepaskan cengkeramannya dan melangkah keluar.
“Jessy! Jangan ke sana!”
“Sebentar, kurasa itu anak yang tadi mengintip kita.”
“JESSY!”
Erika menyusul keluar. Baru dua langkah ia meninggalkan pintu, senter di tangannya mati. Bukan meredup, tapi mati begitu saja, bersamaan dengan bunyi seperti napas panjang yang keluar dari seluruh dinding di lorong itu. Erika memukul-mukul senternya sampai akhirnya cahaya itu kembali.
Lorong itu kosong. Di lantai, beberapa meter di depannya, sebuah senter menggelinding pelan sampai berhenti membentur dinding. Senter itu masih menyala.
Jessica tidak ada di mana pun.
***
Di bagian belakang rumah, Tio memeriksa gudang dengan langkah hati-hati. Ruangan itu paling luas dan paling bau. Lantainya bukan lagi kayu, melainkan tanah yang dipadatkan, dan di beberapa tempat tanahnya terlihat lebih gelap dan lebih basah daripada yang lain.
“Do, coba lihat ini,” ucapnya tanpa menoleh. “Kurasa dulu ruangan ini yang mereka pakai untuk menaruh jasad-jasad itu.”
Tidak ada jawaban.
“Do?”
Tio berbalik. Pintu gudang masih terbuka lebar seperti saat mereka masuk, hanya saja tidak ada siapa pun di ambangnya. Padahal ia yakin, benar-benar yakin, bahwa beberapa detik yang lalu Dio masih berdiri di sana sambil menyorotkan senternya ke rak paling ujung.
***
Anak tangga menuju lantai atas ada dua puluh empat. Ziyu menghitungnya satu per satu, kebiasaan yang ia lakukan sejak kecil setiap kali ia takut. Yang membuatnya berhenti adalah ketika ia sampai di hitungan dua puluh empat dan menyadari bahwa di depannya masih ada anak tangga lagi.
“Sol, tangganya bertambah.”
Ia menoleh ke belakang. Dhani masih ada di sana, empat anak tangga di bawahnya, dengan senter yang mengarah ke lantai.
“Sol?”
Dhani tidak menjawab. Pemuda itu hanya berdiri, menatap ke arah dinding di sebelah kirinya, seperti orang yang sedang mendengarkan seseorang berbicara dengan suara yang sangat pelan.
“Kak Sol, kau baik-baik saja?”
Kali ini Dhani mendongak dan tersenyum. “Aku baik-baik saja. Naiklah duluan.”
Ziyu menuruti ucapan itu, walaupun ada sesuatu yang membuat perutnya terasa dingin. Ia menaiki tiga anak tangga lagi, kemudian berbalik untuk memastikan Dhani mengikutinya.
Tangga di bawahnya kosong. Bukan hanya kosong, tangganya pun tidak sepanjang tadi. Yang ada di bawah sana hanyalah lantai kayu dan kegelapan.
“SOL!” teriak Ziyu. “KAK SOL!”
Suaranya menggema, kembali padanya, kemudian hilang ditelan sesuatu yang tidak mau mengembalikannya lagi.
***
“Aku tidak mau ke sana,” ucap Rina untuk yang kesekian kalinya.
“Aku juga tidak menyuruhmu ke sana. Aku hanya bilang kita periksa ruangan yang ada ukiran naganya itu,” balas Bomi.
“Suara-suaranya keluar dari dinding, Kak. Bukan dari orang. Dari dindingnya.”
Bomi berhenti dan menatap Rina. “Apa yang mereka katakan?”
Rina menggeleng. Ia tidak ingin mengulangnya. Sejak mereka masuk ke rumah ini, suara-suara itu tidak berhenti sedetik pun, dan tidak satu pun dari suara itu yang membicarakan kotak hitam. Yang mereka bicarakan hanya satu hal, dan hal itu adalah berapa banyak dari delapan orang yang akan sampai ke pintu depan lagi nanti.
“Siel,” panggil Bomi dengan suara yang lebih lembut. “Lihat aku. Kita sudah masuk. Satu-satunya cara agar kita keluar adalah dengan menemukan benda itu.”
Rina mengangguk pelan, kemudian mengikuti Bomi masuk ke ruangan berpintu kayu tinggi dengan ukiran naga di kedua sisinya.
***
Erika sudah tidak lagi menghitung berapa kali ia memanggil nama Jessica. Suaranya habis, dan tidak ada satu pun pintu yang menjawabnya. Lorong itu tidak juga berakhir, padahal ia yakin dari luar rumah ini tidak sepanjang ini.
Yang menghentikan langkahnya adalah baunya. Bau yang sama dengan bau yang menyambut mereka di pintu depan tadi, hanya saja kali ini jauh lebih pekat, seperti seseorang menumpahkannya tepat di depan wajahnya.
Erika mengangkat senternya.
Sosok itu berdiri sekitar lima meter di depannya, di tengah lorong, menghadap ke arahnya. Tubuhnya jangkung dan kurus, kepalanya hampir menyentuh langit-langit sehingga lehernya harus miring. Rambutnya menutupi seluruh wajahnya. Yang tidak tertutup hanyalah kedua tangannya, dengan jari-jari yang panjang dan kurus, jauh lebih panjang daripada jari manusia.
Erika tidak berteriak. Sejak dulu ia memang tidak pernah berteriak saat melihat mereka. Itu pula alasan Dio dulu memaksanya masuk ke komunitas ini. Ia hanya melangkah mundur, sekali, kemudian sekali lagi.
Sosok itu ikut melangkah maju, dan lorong di belakang Erika terasa menyempit.
“Menjauh dariku,” bisik Erika.
Jari-jari panjang itu terangkat. Detik berikutnya Erika merasakan pergelangan tangan kirinya ditarik ke belakang, padahal sosok itu masih berdiri jauh di sana dan tidak satu pun bagian tubuhnya yang menyentuh Erika. Senternya jatuh dan berputar-putar di lantai kayu, memutar bayangan sosok itu berkali-kali di sepanjang dinding.
Erika mencoba menahan diri dengan kaki, namun lantai kayu itu terlalu licin. Tubuhnya diseret mundur, semakin cepat, sampai punggungnya membentur dinding di ujung lorong. Yang membuatnya benar-benar panik bukanlah benturan itu, melainkan apa yang terjadi sesudahnya. Dinding di belakangnya tidak lagi terasa seperti dinding. Ia melunak, dan Erika bisa merasakan setengah lengannya sudah masuk ke dalamnya, ditarik oleh entah berapa banyak tangan dari sisi yang lain.
Erika memberontak sekuat tenaga. Ia menendang, mencakar, dan menjerit memanggil nama siapa pun yang mungkin masih cukup dekat untuk mendengarnya. Tidak ada yang datang. Napasnya habis, pandangannya mulai menghitam di kedua sisinya, dan yang terakhir ia dengar sebelum semuanya hilang adalah suara perempuan yang menghitung dari angka delapan, mundur.
Kemudian, entah kenapa, semuanya berhenti.
Tarikan itu lepas begitu saja, seakan ada sesuatu di tempat lain yang lebih menarik perhatian mereka. Tubuh Erika jatuh keras ke lantai, dan dinding di belakangnya kembali menjadi dinding biasa yang keras dan dingin. Sosok jangkung itu pun sudah tidak ada di tengah lorong.
Erika terbatuk-batuk, menghirup udara sebanyak yang bisa ia hirup, kemudian merangkak menjauh tanpa berani menoleh ke belakang. Ia meraih senternya dan berlari, membelok di persimpangan pertama yang ia temukan, terus berlari sampai kakinya sendiri yang menyerah.
Ia bersandar di dinding, di lorong yang berjejer pintu bernomor. Tangannya gemetar hebat. Pergelangan tangan kirinya masih terasa dingin, sedingin besi yang ditinggalkan semalaman di luar rumah, dan Erika tidak berani melihat apakah ada bekas di sana atau tidak.
Satu jam. Bomi menyuruh mereka kembali ke jam dinding itu satu jam lagi. Erika bahkan tidak tahu apakah satu jam sudah lewat atau baru berjalan sepuluh menit, karena setiap kali ia memeriksa ponselnya, angka di layar itu selalu sama.
Saat itulah ia mendengar langkah kaki mendekat dari ujung lorong.
Erika mendongak. Cahaya senter mengarah tepat ke wajahnya, membuatnya harus memicingkan mata. Namun ia mengenali sepatu itu, dan mengenali cara pemiliknya berjalan.
“Sol,” bisik Erika, hampir menangis karena lega.