Setelah pementasan, Raquello langsung membuka kostumnya, terburu-buru dan berlari ke arah sang ayah tercinta, Marcel. Ia merentangkan kedua tangannya ke arah pria itu. Marcel tersenyum melihat putranya bahagia. Ia pun memeluk tubuh Raquello dengan penuh kasih sayang.
Bi Ani yang sedari tadi menemani Raquello, mengikuti langkahnya di belakang sambil membawa kostum yang di lempar oleh Raquello, sembarang.
"Tuan muda sudah menunggu anda dari tadi, pak"
"Hhah.. iya. Aku datang terlambat karena ada sedikit urusan di kantor yang harus aku selesaikan." jawab Marcel sembari mengecup kening putranya.
Mata bi Ani tertuju pada wanita muda yang duduk di sebelah Marcel. Tatapannya tampak bingung dan kagum pada gadis itu. Karena menyadari dirinya sedang di tatap oleh bi Ani, Dyana langsung memperkenalkan dirinya pada bi Ani.
"Saya Dyana Permata. Sekretaris baru pak Marcel. Salam kenal bi" sapa Dyana.
"Oh.. nona asisten pak Marcel rupanya. Saya kira, anda pacar pak Marcel"
"Haha.. tidak, bi"
Mendengar kata "pacar pak Marcel", Raquello segera menatap Dyana tajam. Wajahnya bertekuk menjadi tujuh lipatan dengan bibir merah mungil yang juga maju.
"Hei !!! Papa aku tidak suka perempuan seperti kamu, tante ! Jadi, jangan mencoba menggoda papaku, ya !" Teriak Raquello pada Dyana.
Dyana terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut kecil bocah tersebut. Anak ini begitu berani dengan orang asing yang baru ia temui hari ini. Respon tidak suka sangat ditunjukkan olehnya pada Dyana. Seketika, Dyana mematung. Marcel yang mendengar kalimat Raquello segera menggendong putranya dan mencoba untuk menasehatinya.
"Nak! Jaga bicaramu pada orang asing. Dia bukan pacar papa. Dia hanya sekretaris yang baru saja bekerja seminggu yang lalu di kantor papa. "
"Sungguh?"
Marcel mengangguk. "Iya nak. Minta maaf sama tante Dyana."
"Hmm.. okey. Maafkan aku, tante" sambil mengulurkan tangannya.
"Tidak masalah, nak"
Mereka pun segera meninggalkan aula sekolah dan berjalan menuju mobil Marcel. Dyana duduk di kursi belakang bersama bi Ani. Sedangkan, Raquello duduk di kursi depan bersama Marcel yang sedang mengemudi. Cara bicara Raquello begitu sopan kepada ayahnya. Ia bercerita tentang banyak hal selama perjalanan.
Bi Ani melihat anak itu sambil tersenyum dan sesekali ikut nimbrung dengan pembicaraan mereka. Sedangkan Dyana, ia hanya melihat mereka bertiga mengobrol.
Tiba-tiba bi Ani membuka topik pembicaraan pada Dyana. Beliau menanyakan asal usul Dyana. Wanita itu menjawab dengan jujur dan sopan. Bi Ani menilai jika Dyana adalah anak yang baik dan beretika tinggi.
"Saya berasal dari Jogja, bi"
"Wah.. sama dong. Bibi juga orang Jogja. Waduh.. satu kampung rupanya ya.. "
"Hahaha.. iya bi. Aku senang, karena ketemu sama orang satu kampung. Tapi, aku udah lama tinggal di Jakarta ."
"Bibi juga sudah lama tinggal di Jakarta dan bekerja dengan pak Marcel. Sejak tuan Raqi masih kecil"
"Raqi ??" Ulangnya, bingung.
"Iya. Panggilan tuan Raquello kalau di rumah."
"Oh.." sambil mengulas senyum.
Bi Ani mencolek pundak Raquello dan anak lelaki itu menoleh ke belakang.
"Kenapa bi?"
"Tuan Raqi nanti mau di masakin apa?"
Ia tak langsung menjawab. Namun, matanya langsung beralih ke arah Dyana.
"Bibi gak usah masak. Aku pengennya tante itu yang masak." sambil menunjuk ke arah Dyana.
Dyana tersentak dan melotot kaget. "Aku?" Desisnya pelan.
Mata bi Ani pun langsung tertuju pada Dyana sekejap lalu kembali melihat Raquello.
"Ya sudah. Nanti, tante Dy yang masak ya"
"Ok"
*******
Dyana POV
Celemek?
Pisau?
Talenan?
Dan bahan-bahan masak ??
Ah.. ya tuhan. Sudah lama aku tidak memasak. Terakhir kali aku memasak saat aku mengikuti kontes tata boga di SMA dulu. Dan itu, susah berlalu sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu.
Anak kecil ini memintaku memasakkan sesuatu untuk makan siangnya. Dan yang lebih parahnya lagi, dia duduk di depan meja dapur untuk memantau pekerjaanku.
Aku sudah berusaha membujuknya untuk menunggu di kamar. Bi Ani dan pak Marcel pun juga membujuknya. Tetapi, ia bersikukuh untuk duduk di depan meja dapur.
Aku terkejut saat ia memintaku untuk memasak. Hampir saja bola mataku terlepas dari lubangnya. Bahkan, pak Marcel mengatakan, jika ia menyukai masakanku, aku diringankan untuk pekerjaan kantor yang tak ada habisnya itu.
Pilihan yang terlalu sulit. Seperti memilih menelan biji kedondong atau menelan kulit durian.
Hah..
Baiklah. Aku akan mencoba memasak telur dadar dengan campuran sayuran. Bagaimana rasanya, akan kita lihat saja finalnya.
Aku memecahkan beberapa telur dan meletakkan di dalam mangkuk. Percobaan pertama memecahkan telur berjalan tidak mulus. Aku mencoba kedua kali dan ketiga kali, akhirnya telur pecah dengan sempurna. Namun, aku sudah menghabiskan setengah papan.
Mencuci sayur-sayuran dan memotongnya. Terlihat tidak halus, dan berantakan, tetapi setidaknya ini masih bisa di makan.
Mencampurkan sayuran ke dalam telur, memberikan bumbu dan garam, lalu mengaduknya hingga merata.
Yap..
Langkah yang terkahir adalah menggoreng. Hah.. aku takut dengan letupan minyak panas. Setiap orang pasti takut akan suatu hal. Begitu pula aku.
"Dy.." sebuah suara mengagetkan ku.
"Hahh.. bi Ani. Ada apa?"
"Mau bibi bantu?"
"B.. boleh bi."
"Sini.. biar bibi yang menggorengnya, ya" mengambil mangkuk telur dari tanganku
Tiba-tiba, Raquello muncul di tengah-tengah kami dan merebut mangkuk telur tersebut.
"Biii.. kan aku udah bilang. Bibi ga usah masak. Biar tante ini aja yang masak. Bibi kan capek udah nemenin aku dari pagi"
"Tapi tuan..."
"Udah ah.. bibi masuk kamar ajaaaa" ia mendorong tubuh bi Ani menjauhi aku dan kompor.
Aku hanya menatap punggung bi Ani yang mulai menjauh. Menatap nanar seperti seorang kekasih yang ditinggalkan karena orang ketiga.
"Bi.. bantu aku" ucapku lirih pada diri sendiri.
Namun, setelah Raquello mengantar bibi ke kamarnya, ia kembali duduk di kursinya semula dan menatap aku yang masih belum menggoreng telur miliknya
"Ih. Kok diem aja sih tante. Aku udah laperrr... buruan dong.." keluhnya membuatku kasihan sekaligus kesal.
"Sebentar ya. Tunggu minyaknya panas"
Ia tidak menjawab lagi dan masih melihat pekerjaanku.
Aku menuangkan adonan telur itu ke atas panci berisikan minyak panas dan menggorengnya dengan api sedang.
Menunggu beberapa saat dan membolak-balikan permukaan telur agar cepat matang. Dan, akhirnya selesai. Aku menyajikannya di atas piring hias dan mata Raquello tampak bersinar melihat masakanku.
"Makanannya udah selesai. Yuk! Makan"
Aku membawa piring tersebut ke meja makan dan menyajikan beberapa lauk lainnya di atas meja makan. Pak Marcel dan bi Ani juga ikut makan bersama.
Aku tidak berpikir masakanku enak atau tidak. Bagiku, itu hasil akhir dari mereka yang memakan masakanku.
*******
Marvel POV
Makanan dihadapanku terlihat sangat lezat. Aku menyicipinya sedikit dengan sendok dan... aku kehilangan selera makanku.
Aku lihat Raquelo belum memakan apapun. Ia hanya menatap ku setelah aku memakan sesendok nasi dan lauk yang di masak oleh Dyana.
"Ada apa, nak? "
Ia tidak menjawab dan langsung menatap Dyana dengan tatapan tidak suka.
"Tante! Apa tante bisa masak?"
"Hmmm.. dulu.. aku...... peserta kontes memasak" jawab Dyana terbata-bata.
"Itu bagus. Aku mau tante menyicipi masakan itu"
Aku hampir saja tertawa melihat reaksi gadis itu. Ia tampak tidak percaya saat memakan masakannya sendiri. Ia mencobanya berkali-kali, namun ia terus meminum air setelahnya.
"Enak?" Tanya Raqi pada Dyana.
"Ah.. ternyata.. asin dan terlalu banyak bumbu. Maafkan saya pak. Saya akan memasaknya lagi"
"Tidak perlu. Biar bi Ani memesan masakan dari luar saja agar menghemat waktu"
"Hah... seorang gadis dewasa tidak bisa memasak? Itu memalukan. Aku belajar memasak di sekolah. Sepertinya, rasa masakanku lebih baik dari masakan tante hahaha"
Lagi-lagi, Raquello mengatakan hal yang tidak sopan. Aku tidak tau, apa penyebab anak ini begitu kasar dengan para sekretarisku. Ini sudah kesekian kalinya ia bertingkah seperti ini.
Sebelumnya, Olive mengundurkan diri karena ia tidak tahan menghadapi ulah Raquello yang nakal. Padahal, Olive sangat baik dalam menyelesaikan pekerjaan kantor. Akhirnya, ia memutuskan mengundurkan diri dan memilih bekerja di perusahaan asing yang sedang bersaing dengan perusahaanku.
Aku hanya mengurut keningku melihat sikap anak ini. Sifatnya mirip sekali dengan ayahnya.
"Nak.. jaga bicaramu. " aku sedikit membentaknya agar ia jera.
Ia menundukkan kepala sangat dalam. "Baik, pa."
"Tidak sopan berbicara seperti itu"
"Okay pa. Aku.. minta maaf"
Untuk pertama kalinya, aku menatap Dyana. Ia tampak canggung dan menundukkan kepala. Aku yakin, ia merasa kesal dan juga tidak enak hati padaku.
"Maafkan tingkah Raqi, Dyana"
Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatapku dengan tatapan sayunya. Lalu menganggukkan kepalanya sedikit.
Keadaan berbalik, aku merasa tidak enak dengan Dyana atas sikap Raquelo yang sembrono.
"Baiklah. Sebaiknya, kita segera kembali ke kantor. Jam makan siang sudah hampir selesai"
Aku berdiri dan meninggalkan Raquelo di meja makan bersama bi Ani. Sedangkan Dyana mengikuti langkahku dari belakang.
Saat di dalam perjalanan, seseorang menelponku.
"Ya halo........"
"................"
"Apa katamu??! Kebocoran data??!! Bagaimana bisa ?!!! "