Marcel memacu mobilnya dengan sangat cepat. Setelah mendapatkan kabar tentang adanya kebocoran data, ia panik dan tidak tau harus melakukan apa. Hal pertama yang ia lakukan adalah segera kembali ke kantor dan memeriksa semua kebenarannya.
Dyana yang duduk di samping Marcel pun ikut panik dengan situasi saat ini. Ia memikirkan hal terburuk yang akan terjadi. Pemecatan kepada seluruh karyawan perusahaan. Dyana melihat raut khawatir di wajah Marcel. Dahinya terlihat mengernyit dan sesekali berdecak kesal.
Ia pun memberanikan diri untuk bertanya pada boss super dinginnya tersebut.
"Pak, Apa anda baik-baik saja?"
"bagaimana aku bisa baik-baik saja? Perusahaanku sedang di ambang kebangkrutan dan kamu masih bertanya?"
Ah, ternyata Dyana salah melemparkan pertanyaan. Tetapi ia juga tidak tau harus berbuat apa agar Marcel tenang.
"hmm.. Maafkan saya pak. Saya melihat bapak sangat gelisah dan itu... membuat saya khawatir"
Marcel tidak menjawab ucapan Dyana. Matanya hanya fokus ke arah depan sambil mengemudi dengan sebelah tangan. Sedangkan tangan lainnya, ia sandarkan di tepi jendela mobil dan ia kepalkan tepat di bawah dagunya.
"Oh ya.. tolong kamu cek data-data apa saja yang bocor di leptop saya. Mungkin saja, kita akan tau seberapa banyak data yang telah hilang". Perintah Marcel.
"Baik pak. Akan segera saya periksa"
Dyana mengambil leptop Marcel di kursi belakang dan segera memeriksa semua data yang hilang. Dyana sempat terkejut dan tidak percaya setelah melihatnya.
"Ada apa?" Tanya Marcel.
"Pak... Harga saham kita mulai menurun drastis"
"APPAAA???!!" Teriak Marcel tak percaya.
*******
Dyana POV
Akhirnya aku dan Pak Marcel tiba di kantor. Pak Marcel berlari terburu-buru menuju ruangannya. Sedangkan aku berjalan cepat mengikutinya dari belakang. Tetapi, langkahku terhenti saat melihat seseorang yang sedang berdiri di depan pintu utama kantor. Seorang gadis berambut pendek, berbadan tinggi dan memakai kacamata petak. Aku kenal gadis itu.
"Kak Anna??"
Kak Anna menoleh terkejut saat aku memanggilnya. Ia terlihat sedang memperhatikan situasi di dalam kantor. Ia tak langsung menjawab panggilanku. Ia hanya memperhatikanku dalam diamnya dan mulai menyadari jika aku adalah Dyana, adik kelasnya saat di kampus.
"Dy..? Ngapain kamu disini?"
"aku... kerja disini kak. Baru seminggu yang lalu. Hmm.. kakak, bekerja disini juga?"
"Ooh.. hmm.. tidak. Aku bekerja di perusahaan asing. Aku kesini karena menemui mmm.. sepupu. Iya, sepupuku. Dia bekerja di sini."
"Ohh.. siapa nama sepupu kakak? Mungkin aja, aku kenal."
"ah.. hmm namanya....."
Kak Anna terlihat bingung saat menjawab pertanyaanku. Matanya seperti tidak fokus. Kelakuannya sangat mencurigakan, Pikirku.
"Nama sepupuku itu... Halen."
"hmm... aku tidak kenal."
"ya sudah, aku.. mau kembali bekerja lagi. Aku duluan, ya..."
Kak Anna langsung meninggalkanku begitu saja dan berjalan dengan terburu-buru. Ia terlihat gugup dan sangat aneh. Ah, untuk apa aku ambil pusing. Mungkin, dia memang sedang terburu-buru.
Aku segera berlari ke ruangan pak Marcel dan melihat seisi kantor sedang sibuk masing-masing. Sebagian dari karyawan sedang melayani para pemegang saham yang sudah mulai memenuhi ruang depan kantor untuk memprotes kejadian hari ini. Sisanya, sedang menerima telepon dari para pelanggan dengan hal serupa. Para pelanggan mengeluhkan data-data mereka hilang dan tidak bisa di akses.
Aku yang masih orang baru di kantor ini turut merasakan kewalahan para karyawan lainnya. Setibanya aku di ruang pak Marcel, ia tampak fokus mengotak-atik komputernya. Aku pun segera duduk dikursiku dan aku tidak tahu harus berbuat apa.
"Siapa yang kamu temui tadi di depan kantor?" Tanya pak Marcel, tiba-tiba.
"t.. teman saya pak."
"Temanmu?"
"Iya pak. Dia kakak kelas saya waktu di kampus. Namanya, Gracianna Olive"
Sontak, pak Marcel langsung memandangku saat aku mengucapkan nama kak Anna. Ekspresi wajahnya berubah seketika menjadi kesal dan ia langsung membanting keyboard yang ada dihadapannya.
Aku takut saat ia mulai mengamuk seperti ini. Dia benar-benar mengerikan. Tidak hanya dingin, tetapi ia juga orang yang arogan dan kasar. Aku hanya menundukkan kepala saat ia mulai mengumpat. Sepertinya, pak Marcel mengenal kak Anna. Itu analisisku sementara. Jika beliau tidak mengenal kak Anna, ia tidak akan emosi seperti ini.
*******
Marcel POV
Gracianna Olive. Tidak aku sangka ia akan melakukan hal sejauh ini. Ia benar-benar ingin menghancurkan aku. Ia menyangkut pautkan masalah pribadi dengan urusan pekerjaan. Aku tidak akan tinggal diam. Aku harus menemuinya.
Emosiku masih menggebu hingga aku tidak sadar sudah menghancurkan keyboard yang ada dihadapanku. Dyana tampak ketakutan. Sebenarnya, aku merasa bersalah telah bertingkah seperti ini. Tetapi, aku tidak bisa mengontrol amarahku. Aku segera meninggalkan Dyana diruangan dan keluar untuk mengejar Olive. Semoga saja ia tidak jauh dari sini.
Aku melihat seisi kantor sedang riuh. Beberapa pemegang saham bahkan menghadangku saat mereka melihatku sedang lari terburu-buru. Aku berusaha menerobos kerumunan. Tetapi, tidak berhasil. Akhirnya, aku memutuskan untuk berbicara sebentar dengan mereka.
"bagaimana ini?! Harga saham anjlok !! kamu harus bertanggung jawab pak CEO!" teriak salah satu pria.
"Maaf. Saat ini saya tidak bisa menjelaskan secara detail. Saya akan mencari tahu penyebab kebocoran data dan segera memulihkan harga saham di pasaran"
"Heii !!! dataku juga tidak bisa di akses, bagaimana ini??" teriak seorang ibu paruh baya di depanku.
"Iya, bu, pak. Saya tidak bisa menjelaskannya sekarang. Anda bisa menunggu di ruang auditorium dan kita akan mengadakan pertemuan dadakan di sana. Permisi"
Aku langsung menerobos kerumunan massa dan berlari mencari Olive. Aku harap, ia masih berada di sekitar sini.
Beberapa menit aku mencari Olive, namun, aku tidak bisa menemui Olive di sekitar sini. Aku segera berlari sedikit lebih jauh agar bisa menemuinya. Tiba-tiba, sebuah bus lewat didepanku dan aku melihat Olive di dalam bus tersebut.
*******
Author POV
Marcel berlari mengejar sebuah bus yang sedang melintas didepannya. Bus tersebut tetap melaju dengan cepat walaupun ia mengejar dengan sekuat tenaga. Hingga tiba di sebuah halte, ia segera masuk ke dalam bus tersebut dan menarik salah satu lengan seorang gadis berambut pendek yang mengenakan kacamata.
Nafasnya masih memburu, seluruh jasnya dibasahi oleh keringat yang mengucur deras. Kakinya terasa ingin patah dan tenanganya pun sudah terkuras habis. Ia menarik lengan gadis tersebut keluar terminal dengan wajah kesal dan menahan amarah.
"Keluar sekarang!!!" Perintah Marcel.
"Gak!"
Marcel tidak menghiraukan jawaban gadis itu dan tetap menariknya keluar secara paksa. Gadis itu mau tak mau mengikuti langkah Marcel keluar dari bus dengan sedikit membrontak.
"Lepaskan aku !"
Keadaan menjadi riuh. Seisi bus memandangi mereka yang sedang bersiteru. Marcel melihat sekelilingnya. Seluruh penumpang memandang dengan tatapan risih ke arah mereka berdua. Dengan paksaan, Marcel menarik Olive keluar dari bus tersebut.
"Olive !! Apa yang kamu lakukan?!" Bentak Marcel pada Olive.
"Hah? Memangnya, apa yang aku lakukan?"
Marcel melengos. "aku tau, kamu adalah dalang di balik semua kejadian hari ini".
"kamu......" Olvie menunjuk wajah Marcel. "Kamu lupa hah??. Kamu bisa seperti ini juga karena bantuanku!. Tetapi apa balasanmu?? Kamu meninggalkan aku begitu saja?. Marcel ! Kita sudah lama kenal dan dulu, kamu bilang, kamu mencintai aku!!" teriak Olive pada Marcel.
"Hah... bantuanmu?? Sejak kapan kamu membantuku??. Kamu hanya menghabiskan uangku, berfoya-foya dengan lelaki lain. Cih..."
Olive menitikkan air matanya. "Aku hanya mencintaimu. Aku mengurus Raqi seperti anakku walaupun aku tidak pernah diperlakukan baik olehnya."
"Aku tidak ingin membahas ini. Kembalikan data-dataku yang sudah kamu curi."
"Aku tidak mencurinya. Tetapi, kamu yang sukarela memberikannya padaku."
Marcel meraih lengan Olive dan mencengkranmya sekuat tenaga. "kamu ingin membalaskan dendammu padaku hah??. Okey! Aku tidak akan tinggal diam. Aku berikan kamu pilihan. Kembalikan data-dataku atau... hidupmu akan berakhir di penjara" ia menghempaskan lengan Olive.
Seketika, raut wajah Olive berubah menjadi ketakutan. Ia memegang lengannya yang memerah sambil meringis kesakitan. Ia tahu, jika Marcel lelaki yang sangat arogan dan dingin. Tidak hanya itu, ia juga lelaki yang kasar.
Olive membuka mulutnya. "Lakukan! Aku tidak takut dengan ancamanmu" sambil menyeringai sinis lalu meninggalkan Marcel di Terminal.
Keadaan jalanan lumayan sepi. Kebetulan, bus berhenti di halte yang lumayan jauh dari area perkantoran dan komplek perumahan. Marcel hanya memandang punggung Olive yang mulai menjauh. Ia membuka jasnya dan menyampirkannya di bahu. Lalu, ia melonggarkan kerah leher yang terasa mencekik.
"Hah.. sial !"
Di kantor.
Dyana masih tetap ditempatnya. Matanya menatap layar komputer dan melihat nilai jual saham yang semakin anjlok seperkiandetiknya. Ia khawatir jika perusahaan ini benar-benar akan bangkut. Tiba-tiba, seseorang membuka pintu ruangan.
Ia melihat marcel berjalan sempoyongan dengan keadaan yang sangat miris. Segera ia membantu Marcel berjalan ke kursinya dan mengambil jas di bahu lelaki tersebut. Wajah Marcel tampak pucat. Seluruh badannya basah oleh keringat. Dyana membantu Marcel membuka bajunya dan menggantikannya dengan pakaian yang baru.
"Apa yang baru saja terjadi pada anda, Pak?" Tanya Dyana sambil melepaskan kancing baju Marcel satu per satu.
Marcel menghempas kasar tangan Dyana. "Lepaskan tanganmu dari badan saya!"
Dyana terkejut dan segera berjalan mundur. "Maafkan saya, Pak. Saya hanya ingin membantu"
Marcel tidak menjawab dan melepaskan pakaiannya dihadapan Dyana.
Dyana yang menundukkan kepalanya dan tak sengaja melihat bagian atas celana Marcel. Terlihat sesuatu keluar dari sana berwarna putih. Sedangkan, hari ini Marcel menggunakan setelan jas berwarna hitam.
"Aaaaaaahh" Teriak Dyana nyaring sambil menutup matanya.
"Ada apa?"
"Resleting celana anda, Pak." Sambil menunjuk resleting celana Marcel yang sudah menganga lebar.
"Hah??!"
Marcel terkejut melihat resliting celananya yang sudah menganga seperti siap ingin memangsa. Ternyata resleting itu rusak dan tak bisa mengunci kembali.