Marcel merasa canggung setelah kejadian tadi. Wajahnya tampak malu namun ia tetap memasang raut angkuh. Seolah-olah tidak ada yang terjadi. Ia berpikir, bagaimana bisa resleting celananya rusak?. Lalu, apakah seisi kantor melihatnya dalam keadaan memalukan seperti itu??.
Marcel berjalan mondar-mandir, resah. Sedangkan, Dyana hanya duduk di meja kerjanya sambil menatap layar komputer dan sesekali melirik bos-nya itu. Ia pun merasa canggung dengan situasi ini.
Dyana berusaha memulai obrolan dan memberanikan diri untuk mencairkan suasana.
"Hmm.. pak.. maaf atas kejadian barusan. Saya tidak sengaja.... mmm... melirik...." ucapnya gugup.
Marcel mengusap wajahnya. Ia berusaha merenggangkan otot-otot wajahnya yang tegang.
"Tidak perlu meminta maaf... Hmmm.. "
Suasana kembali canggung. Dyana pun mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh.. iya pak, anda ada rapat hari ini dengan para pemegang saham di ruang audit."
"Astaga.. aku lupa. Ya sudah. Aku segera ke ruang auditorium." ucap Marcel lalu meninggalkan Dyana di ruangannya.
Dyana hanya menatap bosnya yang berjalan keluar. Ruangan berdinding kaca tersebut masih menampakkan punggung Marcel yang berjalan menjauh.
Seketika semangatnya menurun. Padahal, ia baru saja bekerja di perusahaan ternama ini. Namun, kejadian hari ini sudah membuatnya hilang semangat. Ingin rasanya ia membantu. Tetapi, ada hal yang ia tidak ketahui dari Marcel. Yaitu masa lalunya. Mungkin seseorang memiliki dendam terhadapnya dan berusaha menghancurkan Marcel secara sengaja.
Di ruang Auditorium.
Para pemegang saham sudah berkumpul. Ruangan tersebut terdengar riuh. Marcel memasuki ruang auditorium. Namun, baru saja beberapa langkah menuju podium, laki-laki yang tadi menghadangnya di pintu utama menghampirinya dan melayangkan pukulan tepat di wajah Marcel.
Marcel memegang bekas pukulan yang terasa berdenyut dipipinya. Beberapa orang yang melihat kejadian tersebut, mulai menghentikan lelaki tersebut. Seorang pria paruh baya dengan pakaian sangat sederhana tengah melototinya.
"Hey pak !! Saya beli saham kamu pakai uang! Kamu tidak tau.. saya bersusah payah menabung dan membeli sahammu supaya saya memiliki jaminan. Mungkin saham saya tidak banyak. Tetapi, saya sangat bergantung pada saham itu." Teriak pria tersebut dengan lantangnya.
Marcel hanya menatap pria tersebut dan mengusap pipinya yang lebam. Saking kuatnya pukulan itu, rahangnya terasa goyang.
Tiba-tiba seorang pria berkemeja kotak-kotak usianya sekitar 23 tahun berdiri.
"Kamu tidak malu hah ?? Di saat seperti ini, kamu masih saja sombong!! Rendahkanlah sedikit angkuhmu, bapak CEO !!. Wajahmu itu hanya membuat kami tambah marah !!!" Teriak pria berkemeja kotak-kotak tersebut sambil menunjuk-nunjuk Marcel.
Marcel mengambil mic dan mulai angkat bicara.
"Maafkan saya bapak dan ibu sekalian. Kejadian ini di luar kendali saya. Saya berjanji, akan memulihkan harga saham di pasaran. Saya mohon.. maafkan kesalahan yang terjadi saat ini. Permisi." Ucap Marcel lalu beranjak dari podium.
Suasana semakin riuh saat Marcel meninggalkan ruang Auditorium.
*******
Dyana POV
Aku melihat pak Marcel berjalan menuju ke sini. Tetapi, keadaannya terlihat tidak baik-baik saja. Raut wajahnya tidak karuan, rasa cemas dan takutnya tampak jelas disana. Aku terkejut melihat pipinya yang lebam.
Saat pak Marcel mendorong gagang pintu, aku segera menghampirinya. "Pak Marcel. Pipi anda ? Sebentar. Saya akan ambilkan handuk dan air hangat di dapur".
Aku bergegas mengambil handuk kecil dan air panas di dapur dan juga membawakannya secangkir kopi agar ia merasa tenang. Sekembalinya aku dari dapur, Ia tampak meringis menahan sakit dipipinya itu.
"Mau saya bantu pak ?"
Pak Marcel menatapku tajam dan merebut handuk di tanganku. "Bagaimana harga saham kita sekarang ?" Ketusnya, sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
"Hmmm.. masih sama pak"
"Hah.." ia menghela nafasnya. Dan kemudian mengatakan "kamu boleh pergi".
Aku sempat terkejut saat pak Marcel mengatakan hal tersebut. Pergi? Apa maksudnya? Apa aku di pecat ? Astaga. Itu sebuah kalimat yang terdengar rancu.
Aku bertanya kembali padanya. "Maksud bapak ?? Saya .... di.."
"Pulang. Kamu boleh pulang." Potongnya.
"Saya dipulangkan, begitu maksudnya pak?"
Pak Marcel menjitak kepalaku dan itu terasa sakit sekali.
"Auu.. sakit"
"Kamu mau menginap di kantor ?? Ah.. kamu ini ternyata tidak sepintar yang saya pikirkan, Dyana. Nilaimu saja yang tinggi, tapi otakmu tulalit."
Aku mengusap bekas jitakan yang dijitak oleh pak Marcel. What ???. Dia bilang aku tulalit ??
Apakah ini salah satu caranya menghina seseorang ??.
"Ha..haha.. i.. iya pak. Saya tidak mungkin menginap di kantor. Jadi , saya pulang cepat hari ini??" Ujarku dengan nada flat. Tidak tahu harus tertawa atau justru meluapkan kekesalanku padanya. Tapi tidak mungkin aku melakukan keduanya. Bisa-bisa, dia menggorok leherku dengan sadis.
Marcel melirikku tajam. Sorot matanya seperti ingin memakanku habis-habisan. Apa yang salah dengan pertanyaanku?. Pak Marcel tidak menjawab dan dia malah meninggalkanku di depan pintu sedangkan dirinya berjalan menuju meja kerjanya.
"Hari ini kamu bisa santai sejenak. Kamu sudah bekerja sangat baik." Ucap pak Marcel tanpa melihat ke arahku.
"Jadi... beristirahatlah. Besok weekend dan saya ingin kamu ikut ke suatu tempat besok." Lanjutnya.
"Suatu tempat? Kemana pak??"
"Ikuti saja!! Sudah saya bilangkan, jangan banyak tanya atau.... Hahhh... ancaman pemecatan mungkin bukan jurus yang ampuh untuk saat ini. Tetapi, saya akan menunggu kamu di kantor jam 10. Jangan terlambat!"
"Bb.. baik pak. Kalau begitu, saya pulang dulu. Permisi."
Pak Marcel hanya diam sambil menunduk. Beliau hanya memberikan lambaian tangan tanpa menoleh ke arahku seperti orang yang sedang mengusir kucing dari rumahnya. Bedanya, ia tidak mengeluarkan kata "hush hush" saat melambai padaku. Yah.. aku memang bukan kucing. Tetapi, rasanya aku seperti mengekor padanya walaupun aku tidak menginginkannya.
Aku meninggalkan kantor dan segera mencari bus. Langkahku lesu dan wajahku terlihat sangat kusut. Aku yang berusia 24 tahun terlihat 10 tahun lebih tua. Padahal, ini hari pertama aku mendapatkan masalah di kantor. Tetapi, masalah ini terlalu berat.
Tanpa sadar, bus berhenti di halte yang tidak jauh dari rumahku. Aku turun dan berjalan lesu sambil menyeret tas selempangku di jalan.
Aku membayangkan bagaimana rasanya jadi pengangguran. Omaigat.. ternyata persaingan kerja di ibukota sangat mengerikan.
Tin tin..
Aku mendengar suara klakson terus menerus dari sisi jalan. Tetapi, aku tidak memedulikannya. Suara klakson itu terus memburuku bahkan mengikutiku.
Aku melihat mobil tersebut.
Mobil mewah Lamborghini berwarna putih mengikutiku dari sisi jalan tersebut. Aku melengos.
"Cih.. dasar sombong. Gila kali ya.. lalu lintas macet malah pakai lambor ?"
Klakson terus berbunyi dan aku mulai naik pitam. Dengan gerak cepat, aku membuka sepatu high heels ku dan melemparkannya ke mobil tersebut.
"Berisik !!!" Teriakku pada mobil tersebut.
Suara klakson pun berhenti dan mobil tersebut mematikan mesinnya. Seorang pria berbadan tinggi tegap berjaket hijau tua keluar dari dalam. Ia juga memakai kacamata hitam dan stylenya sangat berkelas.
"Cih.. blagu banget" ucapku pelan saat melihat sekilas pria tersebut.
Aku membuang pandanganku dan melipat kedua tangan. Hari ini aku sedang dalam keadaan mood yang buruk. Di tambah lagi, kelakuan orang sombong ini. Kenapa di ibukota banyak sekali orang sombongnya sih ??. Hah..
"Hey!" Panggil pria kaya tersebut.
Aku tidak melihat ke arahnya. "Apa??! Lo mau pamer gitu sama gue ?? Hah??. Rese banget sih ?!" Balasku jengkel.
Tapi tunggu....
Suaranya sangat tidak asing di telingaku. Mungkin aku mengenalnya.
Aku pun melihat ke arah pria tersebut. Ia membuka kacamatanya dan ternyata...
"Kak Dyno??!!!!" Teriakku histeris.
"Halooo baby.. hug me. Come on!!"
Aku pun loncat ke pelukan kak Dyno dan ia memelukku erat. Sangat erat. Aku tidak menyangka ia akan pulang ke Indonesia. Benar-benar sebuah kejutan.
"Gue kangen sama lo, adik gue yang bawel"
"Kakak.. kenapa gak kasih tau kalau mau pulang sih ??"
"Gue bisa pulang kapan aja semau gue. Dan.. gue ga mau ngerepotin adik yang super pinter ini". Sambil mencubit pipiku. " Tapi sayang, tulalit". Sambungnya sambil mencubit pipiku.
"Auu.. sakit kak!!!"
"Hahaha... jadi... dimana lo kerja sekarang? Betah?"
"Hmmm... lagi ada masalah sih kak.. tapi itu... bisa di bahas nanti-nanti. Jadi, gimana perusahaan kakak di Amrik?"
"Yah.. lancar. Gue udah ngajakin lo buat kerja disana, tapi lo nya gak mau."
Aku terdiam sejenak.
"Kasihan mama kak."
Kak Dyno pun terdiam.
Sebenarnya, kak Dyno adalah kakak tiri ku. Tetapi kami juga bukan saudara dari satu ibu atau ayah.
Ibuku menikah dengan lelaki duda pengusaha kaya beranak satu. Saat itu, ibuku sedang mengandungku dan ayah kandungku, meninggal karena kecelakaan kerja saat proyek pembuatan Fly Over.
Jadi, aku dan kak Dyno bisa dikatakan saudara tiri. Namun, dia sangat baik dan benar-benar menganggapku sebagai adik kandungnya. Bahkan, nama Dyana Permata adalah permberian darinya. Selisih umurku dan kak Dyno tidak terlalu jauh. Hanya enam tahun.
Dia juga menjadi penerus perusahaan papa di Amerika. Sedangkan papa selalu berpindah-pindah. Kadang di Eropa, kadang di Indonesia.
Papa juga sangat menyayangiku. Saat acara wisuda, ia datang ke acara tersebut. Padahal, sehari sebelumnya, ia mengatakan sedang ada perjalanan bisnis ke Australia.
"Dek.. lo ngontrak kan ?"
"Iya kak."
"Ya udah. Gue anterin. Yuk naik"
"Oke !!"
Aku pun masuk ke dalam mobil kak Dyno dengan hati senang dan sedikit bangga.
Sejujurnya, ini pertama kalinya aku naik kendaraan mewah. Karena selama ini, aku dan mama selalu hidup sederhana walaupun aku memiliki seorang papa yang kaya raya dan memiliki segalanya.
Kata mama, jika kita hidup sederhana, berada di atas ataupun di bawah, itu tidak akan menjadi masalah. Karena, hidup sederhana mengajarkan kita bersyukur saat melihat ke bawah. Dan termotivasi saat melihat ke atas.Terima kasih.. mama.
*******
Seperginya Dyana dari kantor, aku pun segera menyusulnya. Semua karyawan aku pulangkan karena aku belum memiliki solusi untuk masalah yang sedang dihadapi saat ini.
Aku mengemudikan mobilku dan aku melihat Dyana dengan seorang pria. Tetapi, Dyana terlihat membentak pria di mobil tersebut dan sempat melempar sepatunya.
Mungkin akan terjadi pertengkaran hebat di antara Dyana dan pria tersebut. Aku tidak memerdulikan mereka dan melewatinya begitu saja.
Sesampainya aku di rumah, aku melihat Raquello sedang membaca buku bersama seorang gadis. Mereka duduk bersama di kursi tamu yang membelakangi pintu masuk.
Aku tidak tau siapa gadis itu dan segera memanggil Raquello.
"Raqi... "
Raquello menoleh. "Papa ?!!! Papa udah pulang!!" Jawabnya sumringah.
Aku tersenyum. "siapa perempuan yang duduk di sebelahmu, nak?"
Raquello menyolek perempuan tersebut dan ia pun menoleh ke arahku.
"Hii Marcel. Apa kabar ?"
"Lee Qwera ??"
"Yeah.. ini gue." Ucapnya sambil merentangkan kedua tangan.
Aku pun menyambut pelukannya. "Astaga.. lo kok... bisa ada di Jakarta??"
"Yah.. gue lagi free. Jadi, gue pulang ke Indonesia buat ngeliat sepupu gue. Si arogan. Roaaarrr !! Hahahaha." Ucapnya sambil mengangkat sepuluh jari bak harimau yang ingin menerkam.
Aku tertawa melihatnya. Qwe masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Rambut bercat warna-warni dan dandanan gothic khas stylenya.
Dia adalah sepupuku. Ibu kami bersaudara dan Qwe tinggal di Korea Selatan bersama paman dan juga bibi.
Bibiku menikah dengan pria Korea dan menetap disana.
Awalnya, pernikahan mereka hanya pernikahan bisnis. Tetapi, siapa sangka, mereka akhirnya jatuh cinta dan memiliki seorang anak perempuan.
"Jadi... gimana perusahaan lo??. Gue denger... kabarnya lagi.. buruk ya?"
Aku duduk di kursi sambil menyuruh Raquello masuk ke kamarnya.
"Ya. Itu benar. Seseorang membocorkan semua data-data gue dan.. yah.. gue lagi di ambang kebangkrutan.."
"Hmmm.. lo tau? Siapa orangnya?"
"Ya. Seseorang dari masa lalu."
"Gue bisa bantu lo."
"Gimana caranya??"
...........
*******
Sesampainya Dyana dan Dyno di kontrakan, mereka pun segera masuk dan bercerita satu sama lain.
Tujuan Dyno ke Indonesia bukan hanya berlibur, tetapi ia mendapat kabar jika perusahaan saingannya sedang di ambang kebangkrutan. Ia pun berencana untuk membeli semua saham dan mengambil alih perusahaan.
Mendengar cerita Dyno, Dyana mulai penasaran. Apakah perusahaan yang di maksud adalah Pratama Jaya Group??.
Ia pun memberanikan diri untuk bertanya pada sang kakak.
"Kak.. hmm.. nama.. perusahaan yang kakak maksud itu... Pratama Jaya Group?"
Dyno tampak terkejut setelah mendengar ucapan Dyana. "K..kok.. kamu tau?"
Dyana pun syok saat mengetahui jika kakaknya adalah saingan dari perusahaan tempat ia bekerja.
"Kak.. sebenarnya.. aku..... bekerja di.. perusahan itu.."
"Hah??? Kamu.. serius...???" Jawab Dyno, syok.